GUGUR SATU TUMBUH SERIBU
Category : Opini
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-01-31 00:00:00
GUGUR SATU TUMBUH SERIBU
Oleh: Rahardi Ramelan
“Gugur satu tumbuh seribu” , “esa hilang dua terbilang” maupun “patah tumbuh hilang berganti”, rupanya itulah musuh yang kita hadapi dalam perang sekarang ini. Perang yang rasanya bertambah sulit untuk memenangkannya, yaitu perang memberantas korupsi, menumpas dana non bujeter dan rekening liar, serta membasmi pembalakan liar. Berbagai tim dan institusi untuk menghadapi dan melawan musuh-musuh tersebut sudah dibentuk. Masyarakatpun mendirikan berbagai lembaga pemantau dan pengawasan untuk melakukan tekanan publik dan membantu pemerintah. Gebrakan demi gebrakan dilancarkan, operasi demi operasi digelar, dan proses hukumpun dijalankan. Musuh-musuhpun mulai berjatuhan, tetapi bagi mereka kelihatannya hanya sebagai pengorbanan yang harus diterima. Sepertinya yang kita hadapi adalah kelompok-kelompok militan yang memperjuangkan sebuah ide besar, merusak bangsa kita, dengan keyakinan “gugur satu tumbuh seribu” , “esa hilang dua terbilang” maupun “patah tumbuh hilang berganti”.
Menghadapi ketangguhan dan jiwa juang yang mereka miliki, seolah-olah kita tidak berdaya. Bukankah seharusnya kita yang memiliki jiwa juang lebih besar dari musuh-musuh tersebut? Keuntungan yang lebih besar dari resiko yang dihadapi, membuat musuh dan penyakit masyarakat ini semakin meluas. Meluas seperti penyakit menular yang tidak pandang status sosial. Masyarakat sudah mulai skeptis atas kinerja institusi penegak hukum yang menangani masalah-masalah ini.
Korupsi - Untuk menangani kasus korupsi telah dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi, dan juga pernah dibentuk TimTas TIPIKOR. Kepolisian dan Kejaksaan berebut untuk menangkap dan memproses berbagai kasus. Beberapa pelaku yang dianggap pelaku telah diadili dan dihukum. Tetapi kenyataannya dan itulah yang dirasakan oleh masyarakat, korupsi justru semakin meluas dan menggila. Korupsi terjadi bukan hanya di Jakarta atau di pusat, tetapi didaerah yang melibatkan pejabat Pemda dan anggota DPRD. Korupsi terjadi di perwakilan kita di luar negeri. Kasus-kasus besar tetap berjalan ditempat alias ngambang, tanpa arah yang jelas akan penyelesaiannya. Dirasakan adanya intervensi dari berbagai kekuatan. Tebang pilih dalam proses hukum banyak disorot oleh masyarakat. Ketidak mampuan kita mengatasi perang melawan korupsi ini disebabkan karena kesalahan strategi dan adanya kekuatan serta kemampuan (uang) lawan yang ternyata lebih besar. Tidak dapat dipungkiri juga adanya kolaborator. Kita menghadapi korupsi tidak habis-habisnya, patah tumbuh hilang berganti.
Non bujeter dan rekening liar - Kasus lain yang lebih menyesakkan dada adalah kasus dana non bujeter atau sekarang lebih populer disebut rekening liar. Hukuman pidana telah dijatuhkan kepada beberapa pejabat pengelola dana non bujeter di Bulog dan DKP, yang akhirnya dana atau rekening tersebut telah dilwidasi dan dimasukkan kedalam anggaran pemerintah. Tetapi tdak semua pemakai dana-dana tersebut diproses secara hukum, atau ada juga yang dibebaskan di pengadilan. Banyak yang telah menikmati dana tersebut, tetapi tetap tidak tersentuh atau tidak disentuh oleh hukum. Di penghujung tahun 2007 kita dikejutkan dengan laporan dahsyat Departemen Keuangan dengan ditemukannya ribuan rekening liar, termasuk di lembaga penegak hukum yang pernah menuntut dan menjatuhi hukuman bagi pengelola dana non bujeter. Tetapi belum terdengar apakah para pengelola rekening liar sekarang ini akan dituntut secara hukum seperti waktu yang lalu. Sinyalemen adanya tebang pilih dalam penyelesaian berbagai kasus dana non bujeter dan rekening liar ini, semakin menguat. Rekening liar berbiak terus, esa hilang dua terbilang.
Pembalak liar - Datangnya musim hujan sekarang ini, menjadikan kesengsaraan rakyat semakin meningkat. Banjir dan longsor terjadi dimana-mana, bukan hanya di Kalimantan dan Sumatra, tetapi juga di Jawa dan Sulawesi. Perubahan iklim menjadi sasaran tudingan sebagai penyebabnya. Kita telah sukses menyelenggarakan Konperensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Bali. Tetapi apakah kita sukses mengatasi masalah besar yang kita hadapi ditanah air, yaitu pembalakan dan pembalakan liar. Banjir dan longsor di pulau Jawa terjadi sebagai akibat dari penebangan pohon-pohon yang berada di hutan-hutan yang masih tersisa. Penebangan dan pembabatan yang tidak terkendali, sudah terjadi sejak tahun 2000. Hampir tidak terdengar upaya untuk menangkal meluasnya gejala tersebut. Di pulau Sumatra dan Kalimantan alih fungsi hutan juga secara resmi dilakukan. Sedangkan pembalakan liar terus dilakukan tanpa tanggung jawab, beberapa pelakunya sudah ditangkap, tetapi cukongnya masih bebas berkeliaran. Cukong yang diajukan ke pengadilan, secara kontroversial telah dinyatakan tidak bersalah. Apakah ada kolaborator diantara penegak hukum? Kepolisian dan Kejaksaan terus mengejar mereka. Ibu Negara telah mempelopori dan berkiprah, serta berada dijajaran paling depan, dalam gerakan penanaman pohon. Dihalaman rumah, disepanjang jalan, dan lahan-lahan kosong. Gerakan yang bukan hanya menanam melainkan juga memelihara pohon, memberikan isyarat agar jangan menanam asal-asalan atau sekadarnya tanpa merawatnya, seperti yang terjadi pada masa lalu. Kita harus memelihara dan menunggu puluhan tahun sampai pohon-pohon tersebut bisa berfungsi sebagai penahan longsor dan menjadi bagian dari paru-paru dunia. Tetapi disisi lain pembalakan liar tidak dapat ditahan atau diberantas, ribuan pohon ditebang setiap harinya. Satu pohon ditanam oleh masyarakat, ribuan pohon ditebang oleh para pembalak. Para pembalak liar ini berjuang dengan moto gugur satu tumbuh seribu.
Sepertinya kita tidak berdaya dan tidak bisa melawan mereka, melawan pejuang-pejuang busuk yang mengsengsarakan rakyat, negara dan bangsa ini. Kita harus bersama membersihkan, bukan saja oknum-oknum melainkan juga institusi tempat kolaborator musuh bangsa. Daya juang kita harus ditingkatkan, menjadi gerakkan masyarakat dalam memerangi korupsi, rekening liar, dan pembalak liar. Perjuangan akan membawa korban, tetapi kita yakin bahwa gugur satu tumbuh seribu.
Penulis adalah Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
dan Kepala Bulog.
Dikirim ke Kompas 2.1.2008
Comments
|
Category |