TEKNOLOGI DAN PERGURUAN TINGGI

Category : Papers
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2004-08-26 00:00:00
File: /Users/st0g1e/bin/eclipse/workspace/cgiserver/data



PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML Basic 1.0//EN"
"http://www.w3.org/TR/xhtml-basic/xhtml-basic10.dtd">
Show Topic

TEKNOLOGI DAN PERGURUAN TINGGI





MENJEMBATANI KESENJANGAN DUNIA INDUSTRI DENGAN


DUNIA PERGURUAN TINGGI MELALUI KERJASAMA LITBANG


DALAM RANGKA PENGUASAAN TEKNOLOGI


Oleh :


Rahardi Ramelan


I. PENDAHULUAN.


Manusia tidak dapat dipisahkan dari teknologi; teknologi terkandung didalam dirinya dan didalam cara-cara hidupnya dalam masyarakat. Sebaliknya teknologi tidak dapat terlepas dari manusia, teknologi itu hanya ada karena diciptakan oleh manusia. Kemampuan berpikir manusia yang sistimatis, analitis, mendalam dan berjangka panjang menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan melahirkan teknologi, yaitu cara-cara berdasar ilmu


untuk menghasilkan barang atau jasa. Manusia memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan proses-proses nilai tambah yaitu proses-proses merubah bahan mentah dan barang-barang setengah jadi menjadi barang-barang jadi yang memiliki nilai yang lebih


tinggi. Teknologi penting karena merupakan penggerak utama proses nilai tambah tersebut.


Sedangkan proses nilai tambah itu sendiri merupakan proses kompleks yang berjalan terus rnenerus dan hanya dapat dikatakan berhasil jika pemanfaatan mesin-mesin, ketrampilan manusia, dan material sepenuhnya dapat diintegrasi oleh teknologi sehingga menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai lebih tinggi dari nilai material dan masukkan lainnya. Karena sifat integratif inilah maka dalam suatu proses ekonomi apapun juga, teknologi merupakan unsur yang paling menentukan dalam proses nilai tambah.


Semakin effisien dan produktif proses-proses nilai tambah, semakin meningkat taraf hidup masyarakatnya. Taraf hidup manusia yang meningkat melahirkan cara-cara berpikir, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang lebih maju lagi. Dan demikian seterusnya.


Maka lahirlah suatu lingkaran peningkatan antara tingkat perkembangan teknologi karena taraf kehidupan manusia dan taraf kehidupan manusia karena tingkat perkembangan teknologi.


Dengan demikian hadirnya teknologi dalam kehidupan manusia berarti memungkinan peningkatan kemampuan berproduksi dan peningkatan taraf kehidupan dalam masyarakat itu.


Ini berlaku bagi setiap manusia yang bermasyarakat, baik di Eropa maupun di Asia, di Afrika, di Amerika, baik di negaranegara maju maupun di negara-negara sedang berkembang lainnya.


Kunci kesemuanya ini adalah kemampuan mendapatkan serta mengembangkan teknologi. Tanpa kemampuan ini, pemilikan sumber daya alam yang berlimpah-limpahpun tidak akan merupakan harta yang terkuasai. Sedangkan dengan dikuasainya ilmu pengetahuan dan teknologi, langkanya sumberdaya alam tidaklah akan merupakan hambatan yang tidak teratasi.


Perkembangan Teknologi & Industri.


Sejarah peradaban manusia selalu berkembang terus, tetapi dalam perjalanannya masyarakat bangsa timbul dan tenggelam. Masyarakat dan budaya Hellenic, Aztec, Mesopotamia hilang; kerajaan besar Ottoman dan Austro-Hongaria yang runtuh baru 70 tahun yang lalu, sekarangpun banyak yang tidak mengenalnya; bangsa Amerika dan Jepang baru tumbuh dalam 100 tahun ini, sedangkan kerajaan besar Inggris sedang diambang senja.


Kita juga mengenal jaman-jaman kejayaan kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan lain-lain.


Berbagai pendekatan dicobakan untuk menjelaskan apa yang menyebabkan masyarakat bangsa surut dan tenggelam dan apa yang membuatnya tumbuh dan kuat. Pendekatan budaya dan agama, geografi, kemeliteran, sumberdaya alam membuahkan berbagai konsepsi, akan tetapi satu yang berlaku umum adalah bahwa kemampuan inovasi dan kemampuan melakukan akumulasi secara sistematik dari inovasi itu merupakan prasyarat kekuatan.


Peradaban kuno Hellenic memberi sumbangan inovasi elemenelemen mesin seperti tuas, sekrup, roda gigi, yang selanjutnya menyumbangkan kokohnya kebudayaan Yunani yang bertumpu pada pertanian. Kebudayaan India dan Cina meninggalkan kita dengan teknologi pengecoran besi tuang. Kebudayaan Islam melahirkan berbagai inovasi dalam bidang kedokteran, alat ukur dan matematika.


Puncak-puncak kebudayaan ini ditandai oleh inovasi teknologi yang dinyatakan dengan alat-alat yang mempermudah manusia berhadapan dengan alam, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraannya.


Tetapi peradaban itu semua surut dan dengan munculnya abad pencerahan maka inovasi dalam peradaban Baratlah yang kemudian menguasai dunia, dimulai dengan penemuan alat cetak, mesin uap dan seterusnya.


Bobot dan kontribusi inovasi terhadap peradaban dan kemanusiaan diantara kedua periode tidaklah berbeda, tetapi pokok perbedaan diantara keduanya adalah pada kemampuan akumulasi secara sistematik dari inovasi, dan ini merupakan benang merah peran ilmu pengetahuan dalam inovasi teknologi. Tidak lain karena akumulasi merupakan salah satu prasyarat dari sesuatu untuk dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan.


Kalau kita amati lebih dalam dari proses inovasi tersebut, maka dalam alam lingkungan yang demokratis dan toleran-lah penemuan (invention) dapat berkembang dan tumbuh. Tetapi invention sendiri baru merupakan setengah jalan dari inovasi. Pada waktu yang lalu di jaman Yunani Kuno atau Babylonia, invention didapatkan oleh para intelektual yang berpikir maju dan konsisten. Dalam dunia modern ini invention merupakan hasil penelitian yang membutuhkan keahlian, peralatan dan biaya yang besar. Seperti diutarakan semula bahwa invention sendiri baru merupakan setengah jalan dari inovasi. Selanjutnya dari data-data yang kami ketahui hanya 5 - 10 % saja dari hasil invention yang benar-benar bisa memasuki pasar dan berhasil.


Inovasi teknologi pada dewasa ini, merupakan hasil perpaduan dari berbagai disiplin iimu pengetahuan. Hampir tidak ada teknologi yang bersumber hanya dari satu disiplin ilmu pengetahuan saja. Dan ini membutuhkan kerja yang tekun dan konsisten serta berdisiplin dan "team-work" yang kuat.


Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terasa semakin cepat, khususnya sebagai akibat berkembangnya teknologi dalam bidang industri elektronika


dan informatika, dimana daur hidup produk (product life cycle) semakin memendek. Disamping itu pengembangan teknologi dalam bidang tersebut yang ditandai dengan peningkatan kapasitas yang besar, peningkatan kecepatan serta daya miniaturisasi mempengaruhi pula luas ruang lingkup aplikasinya sehingga memberikan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan di sub sektor industri lainnya serta kehidupan kita secara menyeluruh.


Oleh karenanya negara-negara industri di dunia berupaya untuk menguasai dan mengembangkan teknologi dengan meningkatkan kegiatan penelitian & pengembangan (research & development) dalam bidang teknologi manufaktur (manufacturing technology) dan teknologi produk (product technology). Pada umumnya negara industri maju menempuh langkah ini dalam rangka meningkatkan daya saing produknya atau paling tidak untuk mempertahankan daya saing produknya di/memasuki pasaran internasional. (technology pushed production).


Di lain pihak negara-negara berkembang saat ini semakin menyadari bahwa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari pembangunan nasionalnya, sehingga negara-negara berkembang saling berpacu dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya yang mereka lakukan saat ini lebih ditekankan kepada peningkatan daya saing dalam rangka membuka akses menuju pasar internasional. (market pull production)


Sejalan dengan persaingan yang makin ketat antar industri melalui perkembangan teknologi tersebut ternyata sistem perekonomian duniapun mengalami- pergeseran menuju kearah terbentuknya sistem ekonomi global. Sebagaimana kita ketahui


5vA bahwa implementasi dari sistem globalisasi ini akan terwujud melalui terbentuknya pasar tunggal baik di Amerika bagian utara, Eropa dan Asia-Pasifik. Implementasi dari sistem pasar tunggal ini disatu sisi meningkatkan volume permintaan dan menimbulkan perluasan pasar, akan tetapi disisi lain juga menuntut persaingan yang semakin ketat antar produsen dalam memasuki pasar tersebut. Dengan lain perkataan bahwa hanya produk yang kompetitif saja yang mungkin memasuki pasar tersebut untuk meraih pangsa pasarnya.


Globalisasi sistem perekonomian tersebut mau tidak mau akan memberikan dampak tersendiri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dan canggih tadi. Dengan demikian untuk menghasilkan produk yang kompetitif dari segi harga, mutu dan waktu penyerahan yang lebih populer dikenal dengan istilah "Quality, Cost and Delivery Time (QCD) tentu memerlukan dukungan kegiatan dan fasilitas penelitian & pengembangan yang tangguh pula. Sebagai akibatnya biaya penelitian dan pengembangan semakin lama semakin mahal pula.


Oleh karena itu upaya peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai bagian dari upaya peningkatan kemampuan dalam penguasaan teknologi pada umumnya dan peningkatan daya saing pada khususnya telah mengarah kepada pembentukan pusatpusat keunggulan teknologi (Center of Exellence).


Keadaan tersebut merangsang perusahaan-perusahaan besar di dunia untuk mengambil sikap menghadapi skenario baru dalam perdagangan dan pemasaran. Penggabungan (merger) dan pembelian (acquisition) antar perusahaan terus berlanjut untuk bisa mencapai kapasitas dan kemampuan yang penuh sehingga sebagai satu perusahaan bisa memiliki "massa yang cukup/critical mass" yang nantinya bisa bergulir sendiri. Massa kritis yang ingin dicapai ini meliputi besarnya pangsa pasar serta produk dan teknologi yang lengkap. Demikian pula kerjasama lainnya dalam bentuk aliansi strategis (strategic alliance) terus berkembang pada produk-produk dan teknologi canggih seperti pesawat terbang, kendaraan bermotor, semi konduktor dan lain-lain, yang pada dasarnya memerlukan baik dana maupun kemampuan teknologi yang sangat besar yang tidak dapat dipikul hanya oleh satu perusahaan ataupun tidak dapat ditunjang oleh satu negara saja.


Gejala atau kecenderungan ekonomi menuju sistim global ini ternyata memberi dampak balik terhadap kegiatan pengembangan teknologi karena sistim tersebut mau tak mau akan menuntut dilakukannya rasionalisasi produk yang sejenis. Jika telusuri lebih mendalam maka rasional isasi produk tersebut pada dasarnya dapat dipandang sebagai peluang ke arah peningkatan produktivitas pemanfaatan dana-dana penel itian & pengembangan (R&D) baik yang d i sed i akan o l eh peme r i ntah maupun o l eh swasta .


Negara-negara industri maju yang telah memiliki dukungan dan prasarana 1 itbang yang lengkap dan modern serta telah berpengalaman dan memiliki akumulasi kemampuan dalam melakukan penelitian dasar (basic research) terus saling berpacu dalam melakukan penel itian & pengembangan untuk teknologi masa yang akan datang.


Berdasarkan pengamatan kami kecenderungan perkembangan industri di masa datang akan mengarah/terpusat pada tiga bidang utama kegiatan penelitian & pengembangan yaitu :


- Teknologi elektronika untuk "Office Automation Industry";


- Teknologi Bioteknologi dan


- Teknologi Material.


Di sisi lain kalau kita lihat negara-negara maju melakukan upaya penguasaan teknologi melalui kegiatan litbang dengan mengerahkan segenap kemampuannya baik itu prasarana sarana dana maupun tenaga - tenaga ahli yang ada di perguruan tinggi industri dan lembaga penelitiannya. Dengan demikian upaya penguasaan teknologi di negara-negara maju dapat berjalan sebagaimana mestinya.


Sedangkan bagi Indonesia upaya dalam menguasai teknologi untuk mengejar ketinggalan di bandingkan negara-negara industri masih banyak d i hadapkan oleh berbagai kendala . Mulai dari terbatasnya prasarana dan sarana untuk kegiatan litbang, dana dan sampai kepada terbatasnya tenaga-tenaga ahli baik yang ada di perguruan tinggi, industri maupun di lembaga penelitian.


Sementara itu dalam melakukan kegiatan penelitian & pengembangan yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian kita masih melakukan secara sendiri-sendiri dengan dana pemerintah yang terbatas. Selanjutnya hasil-hasil penelitian tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh industri, karena memang program penelitian yang dilakukan belum sinkron dengan apa yang dibutuhkan oleh industri.


Oleh sebab itu dalam rangka menyusun strategi penguasaan teknologi untuk menunjang pembangunan industrialisasi di Indonesia, perlu adanya suatu pemikiran yang mengarah kepada konsep kerjasama antara industri, perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang saling menguntungkan, saling melengkapi untuk meningkatkan kemampuan di dalam melaksanakan suatu kegiatan litbang. Hal tersebut dimaksudkan selain menjembatani kesenjangan yang terjadi antara dunia perguruan tinggi dengan dunia industri dan lembaga penelitian. Juga agar program kegiatan litbang dapat dilaksanakan secara bersama, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat dimanfaatkan sepenuhnya.


II. STRATEGI PENGUASAAN TEKNOLOGI UNTUK MENUNJANG PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL.


Laju pertumbuhan ekonomi nasional dalam Pelita IV rata-rata mencapai sebesar 5,1% per tahun, sedangkan laju pertumbuhan industri nasional sebesar 13,2% per tahun berdasarkan harga tetap tahun 1983. Selain daripada itu ekspor industri telah berkembang semakin mantap sehingga memberikan sumbangan nyata terhadap total ekspor dan merupakan porsi utama dari nilai ekspor non migas. Peranan ekspor sektor industri terhadap total ekspor meningkat dari 15,2 % pada tahun 1983 menjadi 49,1% pada tahun 1989. Ekspor industri pada tahun 1988 dan tahun 1989 tercatat US$ 9,38 milyar dan US$ 11,06 milyar, sedangkan untuk tahun 1990 dan pada tahun 1993 diperkirakan mencapai sebesar US$ 12,5 milyar dan US$ 19 milyar. Disamping hal tersebut kemampuan rancang bangun dan perekayasaan pabrik secara utuh semakin meningkat, pabrik-pabrik yang menggunakan teknologi canggih seperti pabrik petrokimia, pupuk, semen dan sebagainya. Hal ini jelas akan mendoro-ng pembuatan mesin di dalam negeri.


Perkembangan industri nasional sejak 1985-1988 telah mampu meningkatkan sumbangan industri dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Sesuai dengan pengamatan UNID0 terhadap proses industrialisasi negara-negara berkembang, apabila sumbangan industri telah mencapai sekitar 15 % terhadap PDB maka pada hakekatnya dapat dikatakan bahwa industrialisasi telah mulai memasuki proses perkembangan yang lebih cepat menuju tahap


tinggal landas. Pada tahun 1988 sumbangan sektor industri nasional telah mencapai 18,4% yang berarti sektor industri diharapkan mampu menjadi penggerak utama pembangunan dimasa yang akan datang. Perkembangan juga membuktikan bahwa sektor industri


mampu memanfaatkan peluang-peluang yang terbuka dan mampu berkembang pesat dalam iklim usaha yang wajar tanpa proteksi dan fasilitas yang berlebihan.


Dengan semakin meningkatnya kemampuan para pelaku ekonomi, arah pengembangan industri yang jelas yang umumnya dilandasi oleh studi nasional serta dukungan deregulasi dan debirokratisasi maka sejak akhir pelita IV, perkembangan industri nasional semakin pesat. Hal ini tercermin dalam perkembangan ekspor hasil industri, perkembangan industri hulu dan antara, perkembangan industri permesinan dan elektronika, perkembangan industri kecil serta perkembangan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan baik dalam pembuatan mesin-mesin mesin peralatan pabrik dan pembangunan pabrik secara utuh.


Untuk meningkatkan daya saing sektor industri maka peranan litbang menjadi sangat penting dan strategis dalam memantapkan dan memacu pertumbuhan industri nasional. Hal ini sangat penting mengingat peranan sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui program ekspor penyerapan tenaga kerja. Demikian pula sebagai basis yang kuat untuk penguasaan teknologi.


PENDEKATAN PENGEMBANGAN INDUSTRI.


Kalau kita berbicara masalah penguasaan teknologi kita perlu berasumsi bahwa teknologi itu identik dengan industri. Oleh sebab itu kalau kita ingin-menguasai teknologi dalam berbagai bidang maka kitapun tidak boleh lupa terhadap perkembangan industrinya sendiri.


Kebijaksanaan pemerintah dalam rangka penguasaan teknologi merupakan alat yang ampuh di dalam mewujudkan program industrialisasi nasional seperti yang telah ditetapkan dalam GBHN dimana pada akhirnya melalui program industrialisasi dan keterampilan yang dimiliki akan dapat menghantarkan bangsa kita ke dalam penemuan-penemuan baru baik "product technology", "manufacturing technology" maupun "production process


technology".


Peranan pembangunan industri yang sangat besar di dalam perkembangan dan pertumbuhan pembangunan selanjutnya maka pembangunan industri haruslah merupakan usaha terpadu termasuk dalam hal penguasaan teknologi, guna memantapkan proses industrialisasi dalam arti seluas-luasnya.


Dalam usaha mengembangkan pemikiran dalam menentukan dan prioritas industri yang akan dikembangkan di Indonesia, maka pangkal tolak yang dipergunakan selain penekanan ke arah sasaran yang telah ditetapkan dalam GBHN, juga memperhatikan persoalan eknomi yang dihadapi saat ini, yaitu : Pertama, kendala kelangkaan sumber daya dana; kedua, mendesaknya penciptaan lapangan kerja produktif bagi angkatan kerja yang semakin bertambah. Oleh karenanya pola pengembangan industri nasional ini dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu pertama industri dalam rangka pembentukan modal, kedua industri yang dikaitkan dengan pembangunan manusia, dan ketiga adalah program-program keterkaitan antar industri dan / atau sektor ekonomi lainnya.


Industri Dalam Rangka Pembentukan Modal


Penekanan yang dilakukan dalam hal ini adalah pembangunan sektor industri yang mengandalkan nilai keunggulan komparatif yang terkandung dalam sumber daya alam yang dimilik bangsa Indonesia. Industri ini dikembangkan pada dasarnya untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam dan hasil-hasil industri primer untuk dijadikan bahan baku, barang setengah jadi atau barang-barang konsumsi. Industri semacam ini telah berkembang baik untuk memenuhi pasaran dalam negeri maupun luar negeri.


Contoh : Industri LNG, minyak, pertambangan, kehutanan dan lain-lain.


Dalam rangka pemupukan dana pembangunan, industri yang bertujuan ekspor tersebut merupakan industri yang memegang peranan penting. Oleh karena itu usaha-usaha pemiliha. teknologi serta efisiensi produksi perlu terus dilakukan dan' dikembangkan agar keunggulan komparatif yang dimiliki oleh sumber daya alam tersebut dapat dikembangkan atau setidak-tidaknya dapat dipertahankan. Teknologi yang diperlukan perlu dipilih dari teknologi-teknologi yang paling mutakhir, efisien dan teruji dari seluruh dunia.


Industri yang Dikaitkan Dengan Pemban,gunan Manusia


Salah satu sumber daya yang kita miliki yang sekaligus juga menjadi tujuan pembangunan kita adalah manusia itu sendiri. Sedangkan pembangunan industri yang didasarkan atas sumber daya manusia itu sendiri dapat dibedakan dari segi kedudukan/fungsinya


yaitu :


- Manusia sebagai konsumen/pemakai hasil industri.


Penekanan yang dilakukan disini adalah pengembangan sektor industri yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat banyak. Jadi industri yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus benar-benar memenuhi syarat bahwa jumlah dan kwalitas- yang memadai serta harga yang terjangkau oleh masyarakat.


Contoh : pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan pendidikan.


- Manusia sebagai tenaga kerja/pelaksana proses produksi.


Penekanan yang dilakukan dalam hal ini adalah pengembangan sektor industri yang mampu menciptakan dan memperluas lapangan kerja (industri padat karya).


Untuk mendorong dan memperluas lapangan kerja tersebut seyogyanya perlu diberikan insentif atau setidak-tidaknya diberi keringanan-keringanan bagi industri yang memerlukan investasi per tenaga kerja yang rendah.


Hal tersebut mengingat tersedianya tenaga kerja yang berlimpah dan relatif murah merupakan salah satu keunggulan komparatif yang kita miliki saat ini. (Aneka Industri)


Contoh : berbagai aneka industri baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor


- Manusia sebagai pembawa teknologi.


Pembangunan industri merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan dalam rangka mencapai sasaran pembangunan jangka panjang yaitu struktur ekonomi yang~ seimbang dimana terdapat kemampuan dan kekuatan industri yang maju yang didukung oleh kemampuan dan kekuatan pertanian yang tangguh.


Dalam rangka mentransformasikan. bangsa dan negara kita akan menjadi negara industri pada era tinggal landas nanti dan dikaitkan dengan fungsi manusia sebagai pembawa teknologi, maka pembangunan industri dimaksud perlu dititik beratkan pada industri rekayasa dan manufaktur. Penekanan yang dilakukan disini ialah pengembangan sektor industri yang tercakup dalam strategi transformasi industri dan teknologi (delapan wahana industri) dalam rangka meningkatkan ketrampilan bangsadan sekaligus menguasai teknologi.


Mengingat penguasaan dan pengembangan teknologi ditentukan oleh manusia itu sendiri, berarti penguasaan dan pengembangan yang dimaksud tak lain adalah usaha pembinaan manusia menjadi lebih terampil dan bermutu. Pada dasarnya penguasaan teknologi ini bukan hanya membutuhkan tenaga terampil saja tetapi juga dana dan waktu.


Keterkaitan antar sektor industri dan/atau sektor ekonomi.


Dalam hal ini penekanannya adalah pengembangan sektor industri yang didasarkan atas keterkaitan antar sektor industri itu sendiri dan / atau sektor ekonomi lainnya. Dalam menyusun komoditi-komoditi secara tegas untuk menentukan pengembangan masing-masing industri, tidak bisa terlepas dari keterkaitan baik antar industri itu sendiri dengan kegiatan ekonomi lainnya.


Contoh :


- Bauxit - Alumina - Aluminium.


- Industri gula dengan sektor pertanian tebu.


Industri gula yang didirikan tersebut tidak melihat kepada kelayakan ekonominya semata-mata tetapi juga untuk melindungi petani tebu yang sudah ada.


Setelah tadi disinggung mengenai pengelompokkan industri di Indonesia, maka dalam rangka strategi transformasi teknologi dan


industri yang merupakan konsep yang menempatkan manusia sebagai


pembawa teknologi, didalam awal pelaksanaannya untuk dapat menguasai teknologi ada dua alternatif yang dapat ditempuh yaitu:


pertama : pengembangah teknologi yang telah ada melalui kegiatan penelitian dan- pengembangan yang dilakukan sendiri, atau


kedua : dengan jalan pintas melalui pen-galihan teknologi dari negara-negara yang sudah maju teknologinya.


Bagi Indonesia menggunakan cara yang kedua yaitu melalui alih teknologi lebih menguntungkan, karena cara yang pertama, selain memerlukan waktu panjang dan biaya yang besar, juga tersedianya tenaga ahli dan terampil masih terbatas.


Alih teknologi sebagai tahapan pertama adalah cara yang paling bijaksana dalam pelaksanaan program industrialisasi bagi pembangunan industri di Indonesia, dan perlu dilaksanakan terus sampai bangsa kita siap dan mampu secara ilmu pengetahuan dan teknologi maupun industri untuk memasuki era penemuan-penemuan baru baik "produk-produk baru", "manufacturing technology" maupun "production process technology".


Dan dalam konteks ini telah ditetapkan industri-industri yang akan menjadi "pusat keunggulan" dalam bidang-bi.dang industri alat-alat transportasi baik udara, darat maupun laut, industri telekomonikasi dan elektronika, industri pembangkit energi, industri perekayasaan, industri alat dan mesin pertanian, dan industri pertahanan.


Pemilihan industri dan teknologi tersebut didasarkan atas kebutuhan bangsa kita yang berpenduduk sekitar 200 juta orang pada awal abad yang akan datang dan melingkupi wilayah seluas 5.193.250 km2 yang meliputi wilayah daratan dan wilayah lautan. Dari segi kesiapan, telah juga dibangun laboratorium-laboratorium di PUSPIPTEK Serpong yang dapat menunjang proses penguasaan teknologi tersebut.


Disamping mempersiapkan sarana-sarana fisik tersebut diatas, pemerintah juga memberikan perhatian yang cukup serius dalam pengembangan perundang-undangan dan peraturan, yang erat kaitannya dengan penguasaan dan pengembangan teknologi antara


lain :


- Dewan Riset Nasional (DRN) tahun 1984;


- Dewan Standardisasi Nasional (DSN) tahun 1984;


- Undang-Undang Hak Cipta tahun 1982 dan telah disempurnakan pada tahun 1987;


- Undang Undang Paten tahun 1989;


- Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tahun 1990.


DANA KEGIATAN LITBANG


Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sejarah telah membuktikan bahwa sumber daya alam yang berlimpah ruah tanpa ditunjang oleh kemampuan menguasai teknologi tidak lagi dapat dijadikan andalan bagi suatu bangsa dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya. Namun menyadari akan besarnya biaya yang diperlukan dalam melakukan penelitian & pengembangan serta adanya tantangan yang diakibatkan oleh globalisasi ekonomi serta kecepatan perkembangan teknologi yang mengakibatkan "life cycle" dari teknologi itu semakin memendek, maka timbul kecenderungan untuk melaksanakan kegiatan penelitian & pengembangan secara bersama (joint research).


Tiap-tiap negara mempunyai keinginan yang berbeda dalam menguasai teknologi untuk kepentingan sendiri. Baik sebagai "leader" dalam teknologi tertentu ataupun untuk bisa menguasai teknologi untuk kepentingannya sendiri karena teknologi tersebut tidak dikembangkan oleh negara lain. Sebab itu Pemerintah dari negara tertentu memberikan anggaran yang cukup untuk kepentingan litbang pada teknologi tertentu saja. Sedangkan teknologi teknologi lainnya diserahkan kepada industri untuk mengembangkannya sendiri.


Sebagai contoh di beberapa negara maju, ratio pengeluaran pemerintah terhadap total investasi untuk kegiatan penelitian & pengembangan pada tahun 1985, yaitu :


- Jepang 19,4 %


- Jerman Barat 39,6 %


- Inggris 42,6 %


- Amerika Serikat 46,8 %


- Perancis 53,5 %


Sedangkan kalau dilihat dana pengeluaran untuk kegiatan n penelitian & pengembangan terhadap GNP di beberapa negara, yaitu:


- Jepang (1986) 2,74 %


- Amerika Serikat (1986) 2,70 %


- Jerman Barat (1985) 2,80 %


- Korea (19853 1,77 %


- Indonesia (1983) 0,45 %


- Malaysia (1984) 0,66 %


- Thailand (1985) 0.,30 %


Di lain pihak dalam suatu kelompok (group) perusahaan besar baik yang tergolong "multi bussiness" ataupun yang tergolong "multi national corporation", terdapat kecenderungan bahwa semakin besar biaya proyek penelitian yang diperlukan maka semakin sentral pula penanganannya. Dengan perkataan lain bila dibuat klasifikasi kegiatan penelitian yang dapat dilakukan mulai dari tingkat perusahaan, group, sampai tingkat "corporate", maka jelas terlihat bahwa penelitian dasar ("basic research") hanya layak dilaksanakan pada tingkat "corporate" saja.


(GAMBAR 1)


Disamping itu mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untulc kegiatan "basic research" maka-sumber pendanaan kegiatan dimaksud dapat dipikul bersama oleh industri/perusahaan dan pemerintah bahkan khusus bagi penelitian yang bersifat strategis dan menunjang Icepentingan nasional dapat pula sepenuhnya dibebankan pada pemerintah. Oleh karena itu biasanya pemerintah menetapkan jenis-jenis penelitian yang alcan dibantunya.


Berikut ini disajikan tabel tentang alokasi dana litbang yang dibiayai bersama antara pemerintah dan pihak swasta untuk berbagai Isegiatan litbang di Amerika Serikat.


(TABEL)


Dari data di atas terlihat bagaimana pemerintah di beberapa negara maju menunjang kegiatan penelitian & pengembangan di negaranya masing-masing, di mana untuk penelitian bidang-bidang yang lebih dibutuhkan pemerintah maka sebagian atau bahkan seluruh kebutuhan dana dapat dibiayai oleh pemerintah. Sedangkan untuk bidang-bidang yang dianggap lebih banyak manfaatnya bagi swasta maka pemerintah hanya membiayai/memberikan subsidi sebagian kecil atau bahkan sama sekali tidak.


Salah satu bentuk baru dalam rangka mengefektifkan serta memproduktifkan kegiatan litbang yang meliputi keterbatasan dana, globalisasi pasar dan langkanya tenaga ekspert, maka beberapa industri di dunia melakukan atau menempuh cara : merger, aliansi strategis, acquisition (pembelian). Walaupun cara-cara tersebut bagi orang-orang yang hanya berorientasi pada globalisasi pasar hal ini ditafsirkan sebagai upaya yang menjurus ke arah konglomerasi, namun ditinjau dari segi kegiatan litbang upaya ini nampaknya cukup efektif untuk mendorong perkembangan teknologi.


III. KERJASAMA PELAKU TEKNOLOGI : INDUSTRI - PERGURUAN TINGGI LEMBAGA LITBANG DALAM RANGKA PENGUASAAN TEKNOLOGI. KERJASAMA DALAM KEGIATAN LITBANG.


Pelaksanaan kegiatan litbang dalam rangka penguasaan teknologi, industri tidak melaksanakannya sendiri akan tetapi industri juga harus mengadakan kerjasama dengan lembaga litbang dan perguruan tinggi. Suatu synergy dalam bentuk kerjasama antar pelaku dalam iptek yaitu industri - lembaga penelitian perguruan tinggi, perlu dikembangkan semakin erat serta ditata dan dilibatkan ke dalam program-program yang pelaksanaannya antara lain melalui pendirian apa yang disebut dengan "science based industrial park" atau "technology based industrial park" yaitu mengembangkan pusat-pusat industri di sekitar perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian.


Salah satu gambaran kongkrit yang membuat kita optimis bahwa kita akan berhasil mengantarkan bangsa kita memasuki tahap dapat mengembangkan teknologi sendiri adalah pengalaman yang berhasil dicapai di sektor industri pesawat terbang yaitu dengan diproduksinya CN-235 oleh IPTN dan kini IPTN sedang mempersiapl&lgt;an produk terbarunya N-250 yang merupakan hasil rancang bangun dan rekayasa bangsa sendiri adalah jelas melambangkan bahwa industri tersebut telah memasuki tahapan ketiga dalam proses penguasaan teknologi. Pengalaman dan prestasi ini jelas merupakan hasil kerja keras yang dilakukan dalam bidang penguasaan teknologi dan tidak terlepas dari keterpaduan kerjasama antara industri (IPTN) - lembaga penelitian (LUK & LAGG di Serpong) - perguruan tinggi (ITB).


Interaksi antara IPTN dengan laboratorium-laboratorium tersebut memang terjadi karena pendiriannya mengacu kepada keterpaduan skenario dalam perencanaan pembangunannya dan berwawasan jangka panjang. Interaksi dengan perguruan tinggi yaitu dengan ITB telah dilakukan khususnya dalam mempersiapkan tenaga-tenaga sarjana maupun il







Comments

created by : lukman Agung
created on : 2006-07-08

Artikel bapak bagus aku download ya?
Category


home  |  rss  |  login  |  Register