ASPEK SOSIAL MEGA PROYEK

Category : Papers
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2004-08-26 00:00:00
File: /Users/st0g1e/bin/eclipse/workspace/cgiserver/data



PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML Basic 1.0//EN"
"http://www.w3.org/TR/xhtml-basic/xhtml-basic10.dtd">
Show Topic

ASPEK SOSIAL MEGA PROYEK





BUDAYA TEKNOLOGI DAN ASPEK SOSIAL EKONOMI MEGA PROYEK:



Suatu tinjauan untuk proyek PLTN





Rahardi Ramelan



Disampaikan pada "SEMINAR ALIH TEKNOLOGI NUKLIR



DALAM MENOPANG PEMBANGUNAN", BATAN, PUSPITEK



Serpong, 5 September 1 995.







PENDAHULUAN





Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatan untuk berbicara dalam Seminar Strategi Alih Teknologi Nuklir Dalam Menopang Pembangunan ini.





Kepada saya dimintakan untuk mengantar Seminar ini dengan bahasan dan pemikiranpemikiran di dalam menangani mega proyek yang menyangkut pemfungsian teknologi, dengan segi-segi sosial ekonomi yang melingkupinya.





Walaupun saya sadar saat ini sedang berbicara di depan kalangan yang lebih pakar dalam bidang teknologi, tapi saya memberanikan diri untuk memberikan wawasan seperlunya sesuai dengan topik yang diharapkan oleh penyelenggara. Ini mengingat pentingnya persoalan yang dihadapi, sehingga dengan makin banyak buah pikiran yang terlibat, makin baik bagi pengambilan keputusan yang sangat penting ini.







PERENCANAAN, TEKNOLOGI, DAN INDUSTRI





Untuk mencapai berbagai tujuan pembangunan, maka diperlukan strategi pencapaian melalui perencanaan yang berkesinambungan. Perencanaan pembangunan tidak diselenggarakan dalam ruang hampa dan dalam lingkungan yang bebas nilai. Perencanaan dipengaruhi oleh budaya masyarakat serta sistem, aspirasi dan budaya politik. Perencanaan bukan tujuan, tetapi alat untuk mencapai tujuan.





Hendaknya disadari sepenuhnya, dalam hubungan dengan pembangunan nasional, perencanaan kita masih menghadapi berbagai kendala dan masalah. Sedikitnya ada dua masalah pokok, di antara banyak masalah lainnya, yang masih kita hadapi dalam kebijakan perencanaan pembangunan nasional masa sekarang.





Pertama, penetapan prioritas dan pengalokasian sumber daya akan makin sulit, oleh karena keinginan dan tuntutan yang makin meningkat dan tidak senantiasa dapat diikuti dengan peningkatan sumber daya.





Kedua, data dan informasi belum sepenuhnya tersedia, baik jenis maupun keandalannya. Masih banyak data dan informasi yang kita butuhkan untuk pengambilan keputusan, tetapi tidak sepenuhnya kita miliki, dan bagi yang ada acapkali kurang akurat.





Dengan segala keterbatasan perencanaan yang kita miliki, maka jika kita membicarakan dan melakukan perencanaan alih teknologi dan industrialisasi, jelas harus mengacu kepada asumsi keterkaitan teknologi dengan budaya masyarakat yang sedang dibangun. Adalah tidak bijaksana apabila kita berpikiran bahwa budaya teknologi tertentu bisa dicangkokkan begitu saja ke dalam tubuh masyarakat tertentu yang belum bertradisi teknologi.





Hal yang sering dibicarakan adalah teknologi yang dialihkan atau ditransformasikan. Hakekatnya sama, yaitu mengambil teknologi dari luar untuk kita gunakan dan kita kembangkan di masyarakat kita. Jawabannya sebetulnya sama jika pertanyaan itu diajukan kepada dokter yang akan memindahkan organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Tubuh si penerima harus dapat menerimanya. Dalam hal ini, agar alih teknologi atau transformasi teknologi berhasil dikembangkan untuk akhirnya tumbuh kokoh di masyarakat, ia harus didukung oleh sikap masyarakat atau budaya yang sesuai.





Teknologi modern pada umumnya adalah hasil dari sebuah proses yang panjang, dan yang sekarang ini sudah sulit dapat dibatasi asal muasalnya. Ia bisa dicetuskan di suatu negara,



dikembangkan di negara lain, dibuat di negara lain dan diadaptasikan oleh negara lain. Oleh karena itu, kita juga tidak perlu ragu untuk tidak mulai dari penemuan roda, tetapi mulai di tengah, bahkan mungkin di bagian akhirnya. Ini bukan berarti kita tidak perlu mendorong teknologi yang lahir dari pemikiran bangsa sendiri, akan tetapi pertimbangannya kita tidak boleh kehilangan waktu dan kelayakan ekonomi.





Kita harus mengambil dari mana saja kemanfaatan teknologi bisa diperoleh. Dengan demikian, kita menancapkan landasan yang lebih kokoh bagi bangunan bangsa dan negara kita di masa depan. Yang penting kita harus mempersiapkan sumber daya manusia kita untuk dapat menumbuhkannya di dalam masyarakat kita, sehingga akhirnya teknologi itu tidak lagi menjadi sesuatu yang asing (alien), tetapi membudaya dalam masyarakat.





Arus teknologi tinggi, bagi Indonesia, menuntut adanya transformasi budaya untuk menciptakan manusia sebagai pembawa perubahan kebudayaan, bukan hanya sebagai penerima belaka. Lompatan-lompatan teknologi tanpa disertai lompatan budaya yang sepadan, tidak akan lestari bahkan dapat merusak. Teknologi, seperti juga perencanaan pembangunan, tidak berada di ruang hampa melainkan bersentuhan langsung dengan masyarakat berbudaya teknologi. Mengembangkan budaya berteknologi pada dasarnya adalah melakukan transformasi dari masyarakat berbudaya agraris menjadi berbudaya industri.





Di negara berkembang seperti Indonesia, kita melihat berbagai tingkatan masyarakat, mulai dari masyarakat di pedalaman yang masih hidup di budaya zaman pra-agraris sampai ke masyarakat agraris di pedesaan, hingga kepada masyarakat industri bahkan ke masyarakat informasi di daerah kota besar.











Maka jika kita berbicara mengenai transformasi budaya dan teknologi, kita jangan menutup mata akan kemajemukan bangsa kita. Oleh karena sifat yang multi dimensi itu, maka transfommasi teknologipun harus peka terhadap perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga upaya memodemisasi masyarakat dapat berjalan secara efektif dan serentak, meskipun pada tatanan yang berbeda.





Kriteria teknologi yang dapat diterima oleh masyarakat tentu harus menjadi acuan untuk mengukur penerapan teknologi baru. Secara khusus perhatian perlu diberikan kepada upaya memodemisasi masyarakat perdesaan yang merupakan bagian terbesar rakyat. Dengan pengenalan teknologi yang sederhana dan tepat, kita dapat meningkatkan produktivitas masyarakat perdesaan, dan karena jumlahnya besar, maka dampaknya bagi kehidupan nasional juga besar.





Sebaliknya, masyarakat perkotaan serta sektor-sektor yang harus berhadapan dengan persaingan dunia dalam era globalisasi, harus menerapkan teknologi canggih yang sesuai untuk memberi daya saing yang memadai. Dengan demikian, kita dapat mengadakan pilihan-pilihan teknologi secara rasional dengan mengindahkan kemampuan sumber daya kita yang serba terbatas, baik dana maupun sumber daya manusia.





Jadi, jelaslah bahwa teknologi adalah wahana, alat atau cara. Ia bukan tujuan yang berdiri sendiri. Kita tidak akan memajukan teknologi hanya semata-mata untuk kemajuan teknologi. Teknologi yang kita majukan haruslah yang membawa manfaat bagi rakyat banyak, yaitu yang mampu menciptakan lapangan kerja, membuka kesempatan usaha, memberi peningkatan pendapatan bagi negara dan masyarakat, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kita miliki, dan mampu meningkatkan ketahanan dan daya saing bangsa kita.







STRATEGI PENGEMBANGAN INDIJSTRI





Strategi pengembangan industri secara tepat sangat diperlukan, agar industri mampu menjadi tulang punggung pembangunan nasional. Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan, dan berdasarkan visi pengembangan industri, maka strategi pengembangan industri nasional diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memperhatikan aspek keseimbangan (balanced growthJ dalam upaya mengatasi kesenjangan yang sifatnya regional, antara Indonesia Bagian Barat dan Indonesia Bagian Timur serta antara desa dan kota; sektoral, antara sektor Pertanian, Industri, dan Jasa; dan sosial, antar golongan ekonomi.





Menghadapi perkembangan perekonomian yang makin terbuka, pembangunan di sektor industri tidak hanya diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar, namun perlu dirancang sedemikian rupa (market plus by design) sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan yang tinggi. Dalam hal ini perlu dipilih industri yang diprioritaskan untuk dikembangkan dan diberi bantuan/perlakuan khusus secara transparan, agar dapat berkembang secara cepat.





Kriteria umum pemilihan industri yang diprioritaskan adalah harus benar-benar memiliki keunggulan komparatif maupun kompetitif dan berakar di bumi Indonesia. Industri tersebut harus dapat dikembangkan secara efisien sehingga mampu bertahan dengan tarif bea masuk impor yang rendah serta mampu bersaing di pasar internasional. Dalam rangka memberi arah dan menciptakan iklim yang menunjang bagi pengembangan industri yang memenuhi kriteria, maka beberapa industri tertentu harus didorong pengembangannya. Hal ini perlu dilakukan mengingat ada beberapa tujuan yang terkandung di dalamnya.





Pertama, industri yang strategis untuk kebutuhan dalam negeri dan kehidupan rakyat seperti industri sarana angkutan darat, laut, dan udara mengingat negara kita adalah negara kepulauan yang sangat luas serta sifat geografisnya jelas membutuhkan sarana angkutan yang besar. Selain itu adalah industri yang menunjang pertanian seperti pupuk dan alat pertanian, serta industri yang memenuhi kebutuhan hidup rakyat banyak dan perekonomian pada umumnya, seperti industri pangan, semen, kertas, bahan baku untuk sandang, dan sebagainya.





Kedua, industri ekspor yang pasar ekspornya baik atau mempunyai potensi untuk berkembang dan kita mempunyai keunggulan atau potensi keunggulan yang dapat dikembangkan. Kita harus memperluas dan memperdalam komoditi ekspor kita dan melebarkan jangkauannya.





Ketiga, industri yang menggunakan sumber daya nasional; yaitu sumber daya alam seperti pertanian dalam arti luas serta pertarnbangan, dan sumber daya manusia. Sumber daya alam dan sumber daya manusia kita harus di olah dan di asah agar menghasilkan nilai tarnbah yang setinggitingginya. Sumber daya alam harus digunakan dengan hemat dan dengan menjaga kelestarian lingkungan. Industri yang memanfaatkan tenaga kerja bangsa Indonesia sebanyak-banyaknya harus didorong; disertai dengan peningkatan keterampilan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.





Keempat, industri yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan dan penguasaan teknologi serta berdampak pada pengembangan industri lainnya. Industri-industri seperti industri rekayasa, industri permesinan dan industri komponen merupakan industri yang penting dan harus dikembangkan dengan sungguh-sungguh. Demikian pula industri yang memanfaatkan bioteknologi dalam berbagai bidang. Dalam rangka pengembangan industri yang berteknologi tinggi, kita telah memiliki wahananya yaitu industri industri strategis yang meliputi industri alat angkutan darat, laut maupun udara, industri baja, elektronika, dan lain sebagainya.





Kelima, industri yang dapat mengembangkan kegiatan ekonomi di daerah luar Jawa, terutama di kawasan timur Indonesia. Karena keterbatasan prasarana yang ada, daya tarik kedaerah-daerah agak kurang jika dibanding dengan daerah lain yang telah lebih maju ketersediaan sumber daya manusia dan jaringan prasarananya. Karena itu, pengembangan industri di kawasan terbelakang dan khususnya kawasan timur Indonesia perlu mendapat perhatian dan penanganan secara khusus.





Industri yang memenuhi berbagai kriteria tadi akan diberi prioritas dan harus diberi dorongan serta dukungan. Karena pembangunan industri tidak mungkin dilakukan hanya oleh sektor industri sendiri, maka sektor lainnya yang menghasilkan bahan baku dan prasarana, perdagangan, jasa, kelembagaan dan pendanaan, pendidikan dan pelatihan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu mendukungnya. Di samping itu, mengingat bahwa industrialisasi adalah proses budaya, maka kita harus membangun budaya masyarakat yang memiliki ciri-ciri masyarakat industri seperti kerja keras, hemat, cermat, tanggung jawab, disiplin, menghargai waktu dan tekad untuk menghasilkan yang terbaik.





Uraian di atas menunjukkan bahwa keseluruhan strategi pengembangan industri kita, selain berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi, amat erat kaitannya dengan upaya pemerataan dalam seluruh dimensinya (antarwilayah, sektor, maupun golongan). Seluruh daya dan dana yang ada pada pemerintah harus diperhitungkan penggunaannya, sehingga tidak melenceng dari seluruh strategi pengembangan industri yang dimaksud. Teknologi yang digunakan pun harus merupakan pilihan yang berdimensi luas (broad-based technology).





Oleh karena itulah, maka selain membicarakan jenis produk dari industri yang bersangkutan, tak boleh luput adalah pembicaraan mengenai skala dari suatu industri yang akan dibangun. Walaupun akhirnya berbagai jenis skala industri diharapkan menghasilkan produk unggulan, namun membicarakan produk unggulan yang dihasilkan oleh sebuah industri berskala kecil dan menengah, tentu saja berbeda dengan membicarakan produk unggulan yang dihasilkan oleh sebuah proyek mega bernilai triliunan rupiah.








PERSPEKTIF SOSIAL EKONOMI MEGA PROYEK





Selain membawa kemajuan, kemanfaatan teknologi yang ingin didapat adalah teknologi yang membawa kemandirian kita sebagai bangsa. Kemandirian adalah hakekat dari kemerdekaan. Kemerdekaan yang sejati adalah kemandirian; tidak tergantung kepada orang lain, nasib di tangan kita sendiri (dengan ridho Tuhan YME tentunya).





Kemandirian pada hakekatnya dapat dikatakan sebagai kemampuan manusia atau suatu bangsa untuk bertahan dalam lingkungan yang berubah, baik lingkungan alam, masyarakat ataupun lingkungan antarbangsa. Kemandirian tidak hanya dapat diterapkan sebagai kondisi dinamis bangsa dan negara, tetapi juga dapat berlaku untuk masyarakat yang lebih kecil maupun untuk individu. Dengan demikian kemandirian dapat merupakan sekaligus konsep sosio-kultural di samping konsep sosio ekonomis.





Posisi sosio kultural dari kemandirian teknologi sudah jelas seperti diuraikan di atas. Karena pencipta dan pengguna teknologi adalah manusia, maka keberadaannya dalam suatu proyek industri tertentu, harus memperhatikan kondisi budaya masyarakat yang bersangkutan. Budaya masyarakat agraris, tentu tidak serta merta siap dengan jenis teknologi nuklir, misalnya, yang padat informasi, teknologi, dan modal, tanpa ada proses pengenalan tertentu. Kalau tidak demikian, maka akan ada kejutan budaya yang bersifat negatif. Dan yang amat penting adalah, kita harus memutuskan bahwa kemandirian teknologi juga terutama berarti bahwa riset dan pengoperasian serta penggunaan barang dan jasa yang berhubungan dengan pembangunan sebuah mega proyek sebanyak mungkin menggunakan sumber-sumber dalam negeri.





Selain itu yang penting dikemukakan adalah, secara politik pilihan pembangunan proyek mega, seperti proyek pengadaan energi nuklir, akan banyak berpengaruh pada tatanan sosial secara luas. Di masyarakat yang makin terbuka saat ini, suatu keputusan penting yang berdampak pada kepentingan orang banyak di masa depan, mestinya dibicarakan secara terbuka pula. Suasana kebebasan dan keterbukaan akan makin mendorong orang untuk menyatakan pendiriannya dalam meyampaikan kepentingannya.





Pada saat kita mau tidak mau harus memutuskan pembangunan PLTN, seluruh pertimbangan hendaknya sudah memperoleh masukan seluas-luasnya dari masyarakat. Secara politik masyarakat modern sudah makin sadar akan hak-haknya, dan juga makin lengkap informasi yang mereka peroleh. Sumber informasi mengenai energi nuklir, misalnya, tidak lagi hanya dipunyai oleh lembaga resmi pemerintah, melainkan juga sudah tersebar luas di kalangan masyarakat. Masyarakat tahu persis, bahwa selain keperluan dan kemanfaatan yang besar dari sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir, juga ada hal lain seperti apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaannya, malapetaka yang bisa terjadi juga amat besar, yaitu berupa kerusakan pada manusia dan lingkungan hidup. Masyarakat mendapat informasi tentang PLTN di luar negeri yang mengalami kecelakaan, dengan akibat-akibat yang cukup mengerikan. Kekhawatiran demikian tentu tak bisa diabaikan begitu saja dalam pengambilan keputusan penting semacam ini.





Selain itu, suatu mega proyek yang tidak memperhitungkan aspek pemerataan pembangunan antarkawasan, akan makin mempertajam kesenjangan. Industri yang terlalu terpusat di pulau Jawa saja, akan membuat kelemahan infrastruktur di kawasan luar Jawa makin jauh tertinggal.





Perbenturan pendapat dalam hal-hal strategis dalam pembangunan kita adalah bagian dari proses memajukan kualitas kehidupan kita bermasyarakat dan bernegara. Perbedaan pendapat apabila dilaksanakan secara baik, tidak akan mengganggu melainkan justru akan mematangkan proses pembuatan keputusan publik, agar secara sosial tidak ada yang dirugikan.





Pembangunan PLTN di sebuah kawasan pertanian misalnya, bukan mustahil berbenturan dengan kepentingan para pemilik tanah. Sumber daya alam yang terbatas, dan penduduk yang makin besar jumlahnya akan mengundang benturan-benturan karena sumber daya alam akan menjadi "rebutan". Masalah tanah akan menjadi persoalan yang rumit di masa depan. Soal tanah banyak juga menyangkut soal sosial. Belum lagi menyangkut prosedur pembuangan sampah radiasi. Ini semua harus dibicarakan secara terbuka dan transparan.





Dunia internasional yang makin terbuka menyebabkan proyek-proyek seperti energi nuklir, menjadi tidak mudah secara politis. Indonesia selama ini tidak dikenal sebagai negara yang kompeten tentang teknologi tinggi ini. Indonesia juga bukan termasuk negara kaya dalam cadangan devisa untuk pengadaan energi nuklir.





Secara luas bisa dikatakan, pembaruan budaya bukan hanya menyangkut budaya berteknologi saja, melainkan juga budaya sosial. Oleh karena itu, perlu juga dikembangkan sikap budaya bangsa Indonesia yang dapat mendukung upaya modernisasi secara keseluruhan. Dengan demikian, pembaruan sosial budaya dan teknologi, pada akhirnya memungkinkan bangsa ini menghasilkan hal-hal yang besar bagi martabat dirinya dan yang berguna bagi kemanusiaan.








Memberikan kesadaran kepada rakyat tentang manfaat masa depan suatu mega proyek tertentu, tentu tidak mudah. Di samping kelengkapan informasi, yang diperlukan juga adalah keterbukaan. Di masa lalu, pemerintah pernah mengambil keputusan besar dalam pengadaan proyek besar dalam bidang informasi dan kedirgantaraan, yakni pengadaan satelit (Palapa) dan pembangunan proyek industri pesawat terbang (IPTN). Resiko politik dari dua proyek itu jelas besar, tapi semua itu sudah diperhitungkan dengan manfaatnya bagi bangsa di kemudian hari. Dua hal ini tampaknya banyak memberikan pendidikan wawasan pembangunan bagi masyarakat, antara risiko kerugian hari ini dengan keuntungan berkelanjutan di masa depan, menjadi sebuah risiko yang bisa dikalkulasikan (calculated risk). Demikian pula dengan penggunaan energi nuklir untuk pengadaan listrik.





Di masa lalu ada kesan seolah kita memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Memang, kita memiliki sumber daya alam yang cukup banyak, tetapi tidak berlebihan apalagi melimpah ruah. Jika dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sumber daya alam kita memadai untuk mendukung pembangunan. Tetapi jika kita keliru menanganinya, sumber daya alam cepat berkurang nilainya. Karena itu pembangunan harus berwawasan lingkungan untuk menjamin pembangunan berkelanjutan (sustainable development).





Berbicara mengenai sumber daya alam orang akan berbicara mengenai ragam dan jumlahnya, artinya sumber daya alam apa saja yang dimiliki suatu negara atau potensi untuk ditemukan, dan berapa banyak tersedia. Sumber daya alam dengan demikian harus dihitung sebagai sesuatu yang konstan dalam pembangunan. Artinya yang ada tidak bertambah, yang bisa bertambah adalah jumlah yang diketahui, diketemukan atau yang dapat dimanfaatkan manusia dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya sumber daya manusia adalah faktor yang dinamis, yang tak akan berkurang bahkan makin sering dipakai makin bertambah nilai dan manfaatnya. Nilai tambah dihasilkan oleh transformasi benda yang berasal dari alam menjadi benda lainnya dengan kekuatan tenaga atau fikiran manusia.






Jumlah manusia di dunia terus bertambah, ketersediaan sumber daya alam untuk pangan dan energi bagi kebutuhan seluruh umat manusia, tetap akan menjadi persoalan dan tantangan di masa depan. Satu hal jelas, yakni modemisasi berjalan sesuai dengan ketersediaan energi. Industrialisasi harus didukung oleh energi yang memadai dan secara ekonomis dapat diperoleh. Padahal tidak semua sumber energi tersedia secara lestari. Semua kemungkinan harus diperhitungkan sedini mungkin, sehingga krisis yang fatal tidak akan terjadi.





PENUTUP






Dalam penutup ini, beberapa hal yang perlu dikemukakan yang berhubungan dengan dampak sosial dan ekonomis dari suatu penerapan teknologi dalam menopang pembangunan nasional serta industrialisasi kita di masa depan.






Pertama, persoalan sumber daya manusia dan kebudayaan teknologi. Teknologi nuklir, misalnya, adalah teknologi tinggi dan berukuran mega proyek, yang menurut sebagian kalangan hanya bisa dikuasai dengan baik apabila kita sudah melewati beberapa tahap penguasaan teknologi sebelumnya. Ia menyangkut disiplin teknologi dan budaya teknologi tinggi, yang tidak hanya bersangkutan dengan lingkungan industri dan teknologi yang bersangkutan, melainkan juga pendidikan masyarakat secara luas.





Perkembangan ekonomi, industrialisasi, arus informasi, dan perkembangan iptek yang pesat makin menuntut sumber daya manusia yang tinggi kualitasnya. Setiap skala pengembangan industri membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.





Kedua, persoalan ketersediaan sumber-sumber dana negara atau devisa. Pembangunan sebuah mega proyek biasanya merupakan upaya menyediakan infrastruktur bagi pengembangan strategi industri hilir. Pengalokasian devisa untuk pembangunan sebuah mega proyek hendaknya sudah memperhitungkan seluruh faktor efisiensi ekonomis bagi keberadaannya. Di sinilah perlu kemitraan antara pemerintah dan swasta, baik dalam tahap perencanaannya, pembiayaan riset, pembangunan maupun pengoperasiannya, sehingga keterbatasan satu pihak bisa diisi oleh yang lainnya untuk sebesar-besar kemanfaatan masyarakat.





Penggunaan teknologi tertentu dalam rangka menopang pembangunan pada akhirnya harus memperhitungkan biaya sosial dan budaya, serta secara moral dan etis tidak diragukan kebenarannya. Suatu mega proyek harus diabdikan sekaligus kepada pertumbuhan, pemerataan serta stabilitas nasional serta tidak menimbulkan kontradiksi-kontradiksi yang merugikan. Hal-hal yang menyangkut pembangunan mega proyek harus memperhitungkan pendapat masyarakat secara luas, tidak hanya memperhitungkan masukan-masukan yang terbatas sifatnya.





Ketiga, persoalan sumber daya alam dan lingkungan. Pembangunan proyek pembangkit energi listrik berteknologi tinggi semacam PLTN, misalnya, tentu berkaitan dengan kelayakannya dari segi fungsinya dengan sumber daya alam. Besarnya skala proyek PLTN dari sisi teknologi, biaya dan manfaatnya, membuat pertanyaan akan keperluan pembangunannya dibandingkan dengan ketersediaan sumber daya alam bagi pembangkit energi lain sebagai pilihan-pilihan. Belum terlambat untuk meneliti secara lebih mendalam persoalan ini. Teknologi nuklir tetap merupakan pilihan terakhir dalam penyediaan energi kita, dan harus diabdikan bagi upaya malaksanakan pembangunan berkelanjutan.










Comments

Category


home  |  rss  |  login  |  Register