KULINER KELILING

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:48:23

KULINER KELILING

Banyak yang mengatakan sekarang ini sedang krisis. Tetapi kta amati, mal dan pusat belanja terus dipadati pengunjung. Jam-jam tertentu, restoran, warung, rumah makan, kafe, dan food court atau pujasera, dipenuhi mereka yang tidak sempat pulang untuk makan, atau sengaja mencari makan diluar. Terutama saat ini semua tempat makan semakin ramai, dipadati anak-anak sekolah yang sedang libur.
Tayangan TV dan informasi di media mengenai makanan semakin sering kita jumpai. Sudah menjadi trend sekarang ini yang dinamakan wisata kuliner. Masyarakat berwisata mencari makanan khas dan baru. Lokasi dimanapun sudah tidak terlalu menjadi halanagan. Berbagai jenis makananpun bermunculan, ada mie yang memakai spagethi, rujak eskrim, atau nasi bakar. Makanan tradisionalpun mengalami perubahan dan pembaharuan. Kombinasi berbagai jenis makanan dari beberapa negara dan daerah, banyak kita temukan, disebut fusion.
Selain wisata kuliner, juga penjual makanan keliling atau yang mangkal dengan gerobak, sepeda motor dan mobil, semakin bertambah dan bervariasi. Berjualan makanan ini masih merupakan penghasilan yang lumayan bagi pelaku ekonomi rakyat. Demikianlah yang dilakukan pak Didin, pria tamatan SD asal Garut, yang sudah 4 tahun ini berubah profesi sebagai pedagang keliling makanan. Sebelumnya, pria berumur 40 tahun, yang sudah beristri, berjualan asesoris kebutuhan wanita dengan berkeliling. Ketika usahanya menurun, maka ia merubah dagangannya, menyesuaikan selera masyarakat.
Pak Didin, yang meninggalkan ketiga anaknya di Garut, pada tahun 2005 menyisihkan uangnya 300 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan untuk memulai membuat dan menjual pindang bandeng dan tongkol. Setiap hari ia membeli ikan tongkol dan bandeng di pasar. Perkilonya sekarang rata-rata 12 ribu, dan ia dapat menghabiskan sampai 5 kilo setiap hati. Bersama istrinya, yang lulusan SMP, ia memasak ikan tersebut menjadi pindang. Semua persiapannya ia lakukan dirumahnya yang disewa dengan biaya 200 ribu rupiah setiap bulannya. ?Untungnya tidak banyak, pak. Tapi rejeki tetap saja ada?, ucapnya dengan nada gembira. Dengan raut mukanya yang nampak lebih tua, ia setiap hari berkeliling dibeberapa komplek pemukiman. Setiap hari pak Didin bisa menyisihkan penghasilannya sekitar 50 ribu rupiah, dan diserahkan seluruhnya kepada istrinya.
Pak Didin setiap bulan masih harus mengirim uang ke Garut untuk membiayai dua anaknya yang masih sekolah di SMP dan SD. ?Anak saya yang besar sudah berkeluarga. Tinggal yang dua ini yang masih harus dibiayai?, sambil menerawang jauh. Hari itu ia kelihatan gembira, karena ada ibu yang baru saja memborong pindang tongkolnya. ?Jadi saya tidak usah keliling lagi, pak?. Kemudian iapun berceritra mengenai hidupnya, dan harapan dimasa mendatang, harapan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Apakah para pelaku ekonomi rakyat seperti pak Didin dengan berbagai harapannya ini, tersentuh oleh pemikiran para capres-cawapres? Bagaimana nasib anak-anaknya setelah 2014, 2019, dan 2024?(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 7 Juli 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register