ROTI PANGGANG 1000 RASA
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:46:44
ROTI PANGGANG 1000 RASA
Lulus dan memiliki ijazah SMP bukan garansi bagi banyak anggota masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Demikianlah yang dialami oleh Taslimin, setelah tamat SMP, ia meninggalkan desanya dari Tegal, pergi merantau ke Jakarta mengadu nasib. Setelah berbulan-bulan tidak bisa mendapatkan pekerjaan, kemudian iapun terpaksa menjadi kuli serabutan. Untungnya pekerjaan menjadi kulipun tidak berlangsung terlalu lama. Taslimin kemudian memulai usaha sendiri. Diawali sebagai penjual roti keliling dan akhirnya menjadi tukang penjual bakso. Tetapi penghasilannyapun masih terbatas dan pas-pasan. Bagi Taslimin menjadi penjual keliling, dirasakan upayanya belum maksimal Sebab itu sejak 5 tahun yang lalu ia memulai usaha baru sebagai penjual roti panggang. ?Saya memilih roti panggang, setelah memperhatikan pedagang lain?.
Selama bekerja serabutan, ia dapat menabung, dan dengan uang tabungannya dapat membeli gerobak dan berbagai peralatan seharga 2 juta rupiah, untuk usaha barunya sebagai pedagang roti panggang. Setelah mengamati sekeliling, ia memilih tempat mangkal di emperan ruko yang dipakai sebagai Kantor Notaris dan Klinik Dokter. Menempati plataran berukuran 3X4 meter, ia harus membayar kepada pengelola ruko 50 ribu rupiah perbulan, sedangkan untuk listrik 20 ribu.
Dengan memanfaatkan gerobak yang beretalase kaca, ia menyiapkan dagangannya setiap hari. Mempergunakan kompor gas dengan tabung 3 kg, dan penggorengan datar, Taslimin memanggang roti dengan selera bumbu sesuai permintaan pelanggan. Setiap hari ia membelanjakan uang antara 100 sampai 150 ribu rupiah, untuk membeli roti, bermacam rasa sele, beragam rasa bumbu masak yang sudah jadi. Roti panggang dengan bermacam rasa itu, ia jual dengan harga 7 ribu rupiah. Untuk menambah penghasilannya, iapun menjual keripik singkong yang ia beli dari pasar. Keripik singkong ia beli seharga 50 ribu rupiah untuk satu bal, empat kilogram; kemudian di bungkus dalam plastik kecil menjadi 30 bungkus dan dijual dengan harga 3 ribu rupiah. Tabung gas 3 kg, bisa dipakai untuk satu minggu.
Dari usahanya ini, pemuda yang sudah beristeri ini, mendapatkan penghasilan bersih antara 40 sampai 50 ribu rupiah. ?Sebagian uangnya harus saya sisihkan untuk membayar kontrak rumah. Dua juta untuk satu tahun?, katanya tenang. Iapun masih harus menyisihkan untuk keperluan mendadak, seperti sakit atau pulang kampung.
?Sekarang ini masih banyak hujan, penghasilan sayapun lumayan?, sambil mengemasi dagangannya. Kemudian iapun menceritakan pengalamannya baik yang manis, maupun yang pahit. ?Mudah-mudahan presiden yang akan datang, akan lebih memperhatikan kehidupan kita-kita ini, ya pak?, katanya sambil menunjuk keliling, dimana PKL menjual berbagai ragam makanan dan jajanan. Dan apakah lulusan SMP masih harus terus bekerja serabutan atau menjadi PKL?.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 23 Juni 2009