PILPRES DAN EKONOMI RAKYAT
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:45:40
PILPRES DAN EKONOMI RAKYAT
Tiga pasangan capres-cawapres sudah dideklarasikan, merekapun sudah lolos kriteria KPU. SBY masih menjabat presiden, Mega pernah menjadi wapres dan presiden, JK masih menjabat wakil presiden. Mereka sebetulnya pernah berkuasa atau ikut berkuasa menentukan keberadaan ekonomi rakyat. Tetapi mengapa sekarang dalam menghadapi kampanye, masih menekankan perlunya pembangunan ekonomi rakyat? Apa mereka tidak berhasil atau telah mengingkari janji kampanyenya dulu?
Sejak negara kita merdeka tahun 1945, gerakan ekonomi rakyat sudah digelindingkan dan menjadi pernyataan politik yang laku. Semula gerakan ini, tak lain untuk memperkuat kedudukan pelaku ekonomi pribumi, yang dirasakan terbelakang dibandingkan dengan warga lainnya. Tetapi faktanya, ekonomi rakyat menjadi sekedar jargon politik; kebijakan dan pelaksanaannya dilapangan belum membawa hasil memuaskan. Jurang antara ekonomi rakyat dan ekonomi kapitalis semakin lebar. Janji-janji capres-cawapres tidak jelas apa yang ditawarkan, dan bagaimana nanti dalam prakteknya.
Kenyataannya, rakyat kecil atau wong cilik, masih terus harus berjuang mempertahankan hidupnya dan keluarga. Kota-kota besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, masih terus memberikan harapan untuk bisa mendapatkan penghasilan yang ?layak?. Kerja apa saja, serabutan, menghiraukan ijazah yang dimiliki. Kios, gerobak, ruko, kaki lima, terminal, pikulan, sepeda, sepeda motor, menjadi tempat mereka mengadu nasib.
Begitu juga dengan Taslimin, pemuda asal Tegal, telah mengembara selama 20 tahun di Jakarta. Dengan modal ijazah SMP yang tidak bermanfaat, pemuda yang sekarang berumur 33 tahun dengan seorang isteri, semenjak tahun 2002, berjualan bermacam-macam barang, mirip dengan mikro-mart. Dengan menempati sebuah ruko ukuran 3 X 4 meter, yang disewa 50 ribu rupiah perbulan, ia mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah untuk modal awal. Termasuk membeli sebuah gerobak untuk berdagang keliling. Sebelum berdagang, Taslimin bekerja serabutan sebagai kuli harian.
Yang dijual kebanyakan makanan dan bumbu masak. Ada roti, keripik singkong, gorengan, macam-mcam bumbu dalam kemasan, pokoknya yang laku untuk rakyat kecil juga. Setiap hari ia mengeluarkan uang 100 sampai 150 ribu rupiah untuk modal. Penghasilan bersihnya setiap hari bisa mencapai 50 ribu. ?Itupun kalau sedang ada rejeki, pak?, katanya datar. Ia sering melihat tayangan tivi, membaca koran, dan mendengarkan siaran radio, ?saya tidak mengerti yang dimaksud dengan globalisasi. Baik ngga, ya pak, buat kita-kita?, tanyanya dengan mata agak melotot. Walaupun katanya ada krisis, tetapi Taslimin merasakan dalam beberapa bulan ini pelanggannya bertambah. Iapun semakin bingung. Apalagi hujan masih terus mengguyur Jakarta dan sekitarnya, telah menambah omset hariannya.
Kemudian ia menceritakan pengalaman hidupnya, termasuk mengenai pemilu yang lalu. ?Saya bingung, pak. Pokoknya asal nyontreng?, ucapnya masa bodo. Sewaktu saya tanya mengenai pilpres yang akan datang, ?Lihat-lihat dulu, pak. Jangan sekedar janji?.
Mudah-mudahan pengusung ?kerakyatan?, akan betul-betul memperhatikan nasib rakyat. Bukan hanya sisi ekonomi, melainkan kehidupan sebagai rakyat Indonesia seutuhnya. Mari kita cermati ketiga capres-cawapres. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 26 Mei 2009