SUDAH NASIB JADI PEMULUNG

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:43:12

SUDAH NASIB JADI PEMULUNG

Umurnya sudah lebih tua dari republik ini. Perawakannya agak kurus, dan badannya membungkuk. Sorot matanyapun sudah lemah, sedang kulitnya berwarna gelap dan berkeriput, seperti buah sawo yang sudah layu. Sudah lebih dari 49 tahun pak Alimah yang berasal dari Cirebon bertempat tinggal didekat pasar Cisalak. Sekarang dalam usianya yang sudah 71 tahun, ia masih terus menekuni pekerjaannya sebagai pemulung.
?Saya sudah menjadi pemulung sewaktu presiden Bung Karno, pak Harto, sampai sekarang presiden SBY, sayapun masih tetap sebagai pemulung?, katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Pak Alimah sejak tahun 1960 menjalani profesinya sebagai pemulung. Waktu itu, ia keliling kampung untuk mengumpulkan rambut, setelah rambut tersebut dicuci bersih, dan kemudian dijadikan cemara. ?Dulu cemara laku sekali, pak. Harganyapun lumayan. Tetapi sekarang saya mengumpulkan botol dan plastik ?.
Bagi pak Alimah, yang tidak pernah mengenyam pendidikan, sekarang mengumpulkan segala macam barang yang dibuang. Mulai plastik, botol, dan sisa-sisa tekstil. ?Sekarang sudah sukar mendapatkan barang, pak. Banyak persaingan dengan pemulung lainnya?, sambil tersenyum. Sehingga penghasilannya juga banyak menurun, hanya sekitar 15 sampai20 ribu rupiah setiap hari. Sekarang ini keenam anaknya sudah berkeluarga, dan dikaruniai 10 orang cucu. Satu dari anaknya meneruskan profesi ayahnya sebagai pemulung juga. Yang lainnya banyak berdagang disekitar pasar Cisalak. Dibeberapa komplek perumahan kelas menengah, kadang-kadang ada keluarga yang membuang barang bekas sambil memberi uang. ?Memang Tuhan selalu memberi jalan, pak?.
Sudah 49 tahun ia menempati rumah yang sama. Semula ia hanya membayar sewa 10 ribu sebulan, tapi sekarang sudah menjadi 100 ribu. Setiap hari ia mulai kerjanya pukul 8 pagi, dan pulang sekitar pukul 5 sore. Untuk menambah penghasilannya, pak Alimah keliling perumahan sambil menjual mainan anak-anak. Yang paling laku mainan mobil-mobilan plastik yang dibeli dengan harga harga 800 rupiah, dan dijual 1000 rupiah. Kartu gambar dijual dengan harga 2000 rupiah, sedangkan dibeli di pasar dengan harga 1000 rupiah. Keuntungan dari penjualan mainan itu yang dijadikan modal untuk membeli barang bekas. Ia belanja mainan tiga hari sekali, rata-rata menghabiskan modal 30 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang banyak hujan, pak. Kadang-kadang seharian tidak dapat uang?, keluhnya.
Iapun menceritakan pengalamannya mencontreng di Pemilu yang lalu, ?ruwet pak, saya contreng gambarnya saja. Habis tidak mengerti?. Iapun kebingungan menghadapi pilpres yang akan datang. ?Katanya semua partai mikirin ekonomi rakyat dan wong cilik?, katanya dengan nada tinggi. ?Tetapi buktinya, sejak dulu, saya tetap saja jadi pemulung. Anak saya jadi pemulung juga?.
Iapun tidak tahu siapa yang bakal bisa jadi presiden, selain SBY. Apakah nasib wong cilik akan betul-betul diperjuangkan oleh partai politik dan Presiden? Semoga cucu pak Alimah tidak akan meneruskan profesi kakeknya, menjadi pemulung. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 12 Mei 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register