MENEKUNI PROFESI
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:42:11
MENEKUNI PROFESI
Pak Tukiyo sekarang usianya sudah 65 tahun. Keempat anaknya sudah berkeluarga dan semuanya merantau ke Jakarta. Cucunya sudah 7 orang. ?Anak-anak saya semua sekolah sampai SMP, lain dengan saya yang hanya tamat SR?, katanya lesu. Pak Tukiyo memutuskan untuk tetap tinggal di Gunung Kidul, melewati hari-hari tuanya.
Sebagai buruh tani dengan penghasilan terbatas, untuk menambah penghasilannya, sejak 29 tahun yang lalu, ia membuat tempat penitipan sepeda dan sepeda motor dihalaman rumahnya. Memanfaatkan lahan seluas 10 X 15 meter disamping rumahnya, ia membangun dengan biaya 2 juta rupiah, tempat yang bisa menampung 10 sepeda motor dan 20 sepeda. Ia beruntung, karena lokasi rumahnya didekat terminal bis dan angkutan umum lainnya, serta dekat dengan beberapa sekolah dan pasar. Pelanggannya biasanya mereka yang akan bepergian kekota lain dengan menumpang bis, dan kemudian menitipkan sepeda motornya. Untuk sebuah sepeda motor, dikenakan biaya penitipan sebesar 2 ribu rupiah. Banyak pelajar yang menitipkan sepeda motornya, walaupun sekolahnya dekat. Mereka takut terjaring razia polisi, karena motornya bodong atau tanpa STNK resmi. Sebagian merekapun tidak memiliki SIM. Untuk sepeda, ongkos penitipan sebesar 1000 rupiah. Penitip merasa aman menitipkan sepeda atau sepeda motornya di tempat pak Tukiyo. Selain mendapatkan tanda penitipan dengan nomor urut, juga semua sepeda motor dan sepeda dirantai dan digembok.
Hari-hari biasa, tempat penitipannya, maksimum hanya bisa diisi dua kali. Sehingga penghasilannyapun terbatas, sekitar 40 ribu rupiah. Kalau tempatnya sudah penuh, ia bisa beristirahat santai dirumahnya. Tempat penitipan kemudian dijaga oleh seorang keponakannya yang ikut membantu pekerjaannya. Untuk itu, setiap hari keponakannya mendapat honor 10 ribu rupiah.
Bagi pak Tukiyo, hari-hari libur justru menjadi kepedihan. Tempat penitipannya sepi, hanya diisi satu-dua sepeda motor saja. Kalau sepi demikian ia menyuruh keponakannya pulang, karena tidak sanggup membayar honor. Lain halnya dihari-hari pasaran, setiap pon dan legi, tempat penitipannya selalu penuh. Ia terpaksa menampung sampai 40 sepeda motor, melebihi kapasitas tampungnya. Merekapun menitipkan hanya untuk waktu yang pendek. Hari-hari pasaran bagi pak Tukiyo bisa mendapatkan hasil sampai 150 ribu rupiah. Iapun membagi kebahagiannya dengan menambah honor keponakanya yang sudah bekerja keras. Selain hari-hari pasaran, bagi pak Tukiyo, juga segala macam keramaian selalu membawa rejeki. Termasuk masa kampanye pemilu yang lalu. ?Saya senang sekali pak. Bisa membelikan mainan untuk cucu. Nanti kalau mereka datang mudik saya berikan?, katanya dengan penuh senyum. Paling sedikit keempat anaknya dan cucunya pulang kampung dua kali setahun.
Bagi pak Tukiyo dan istrinya, kegembirannya berlipat, kalau keempat anak bersama cucu-cucunya dapat berkumpul, dan tempat penitipan ia serahkan kepada keponakannya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 28 April 2009