PONSEL DAN KOMESTIK
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:40:56
PONSEL DAN KOSMETIK
Ia meninggalkan di Garut seluruh keluarganya, seorang istri dan tujuh anak. Anaknya yang terbesar sudah berumur 42 tahun dan sudah berkeluarga, sedangkan yang terkecil baru berumur 9 tahun. Sebut saja namanya Pak Yayat, yang sudah sejak 26 tahun yang lalu datang di Jakarta dan mencari penghasilan dalam kerasnya kehidupan di ibu kota. Pak Yayat, yang sekarang berusia 61 tahun, tidak pernah mengenyam pendidikan, walaupun demikian ia bisa membaca: ?saya bisa membaca sedikit, dulu pernah ikut program belajar membaca?. Awalnya ia mengikuti seseorang datang ke Jakarta, dan sampai sekarang ikut tinggal dengannya di Pasar Minggu, dan ia juga yang kemudian menjadi bosnya.
Sejak permulaan ia tinggal di Jakarta, pak Yayat berjualan berbagai jenis dompet dan kosmetik sederhana. Ia berupaya mempunyai langganan di lingkungan yang luas. Sebab itu setiap minggu ia berjualan dengan berpindah tempat, mulai dari Cimanggis sampai ke Depok, di empat lokasi yang berbeda. Setelah 4 minggu pak Yayat kembali ke lokasi semula, dan biasanya sudah ditunggu oleh para pelanggannya. Dengan cara itu ia bisa menjaring pelanggan yang lebih banyak. Dengan mempergunakan pikulan dan peralatan lainnya, ia berjualan berbagai jenis dompet dan kosmetik. Berkembangnya pemakaian ponsel dimana-mana, sekarang sarung ponsel menjadi dagangan utamanya. ?Pokonya saya sediakan segala bentuk dan warna, pak. Laku sekali dan lumayan untungnya, katanya sambil ketawa.
Untuk sarung ponsel rata-rata ia menjual dengan harga 20 ribu rupiah, sedangkan untuk dompet paling murah 30 ribu rupiah. Dari sarung ponsel dan dompet, rata-rata ia mengambil keuntungan sebesar 5 ribu rupiah. Sedangkan kosmetik yang dijual oleh pak Yayat hanya bedak dan lipstik. Bedak yang leih dikenal dengan nama Ponds, dibeli dari pasar seharga 7 ribu rupiah dan dijual 9 ribu. Sedangkan lipstik ia jual seharga 11 ribu rupiah, setelah ditambah keuntungan sekitar dua ribu rupiah. Sarung ponsel dan dompet ia mengambil dari bosnya, dan baru setelah laku dibayar. Sedangkan untuk kosmetik ia harus mengeluarkan modal sekitar 100 ribu rupiah, untuk belanja barang. Sekarang ini rata-rata penghasilan bersihnya antara 20 sampai 25 ribu rupiah setiap harinya. Sebelum adanya mini market yang tumbuh bagaikan jamur, penghasilan pak Yayat jauh lebih baik. ?Bagaimana pak nanti setelah Pemilu, mungkin kita akan lebih baik??, tanyanya. Rupanya pak Yayat tidak mengetahui adanya krisis ekonomi yang semakin mendalam, serta pengangguran dan PHK sudah mulai terjadi. Sayapun lebih baik diam, dan mulai berbicara masalah lainnya.
Setiap tiga bulan pak Yayat pulang ke Garut untuk bertemu dengan keluarganya. Ketiga anaknya yang besar bekerja sebagai tukang ojek, sedang beberapa orang masih menganggur sampai sekarang, dan yang paling kecil masih sekolah. Setelah beberapa hari berada dirumah ia kembali ke Jakarta. Sepedih apapun kehidupan di Jakarta, tetapi bagi pak Yayat tetap memberikan penghasilan dan harapan. Ia tidak mengeluh dengan nasibnya, walaupun kadang-kadang harus menginap dirumah teman atau menghabiskan malam di masjid atau mushola. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 14 April 2009