DESAK-DESAKAN KE KAMPUS
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:39:17
DESAK-DESAKAN KE KAMPUS
Hampir disemua kota di tanah air, masalah angkutan perkotaan menjadi masalah besar. Apalagi kalau dikaitkan dengan pemukiman RSS yang biasanya jauh dari mana-mana. Di Jakarta janji monorel hanya tinggal janji, berhenti dengan tiang-tiang yang belum rampung dan mulai berkarat, mengotori pemandangan kota. Sedangkan kereta dibawah tanah atau metro belum juga ketahuan ujungnya. Katanya segera dibangun, semoga nasibnya tidak seperti monorel. Solusi busway di Jakarta, sudah membantu masyarakat untuk jalur-jalur tertentu. Sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan angkutan metromini atau bis kota yang lebih pantas masuk kuburan mobil. Untuk jarak dekat banyak beroperasi ojek, walaupun katanya tidak ada dalam sistim angkutan kota, tetapi kenyataanya tetap ada dan diminati. Angkutan legal yang tidak legal, begitulah kira-kira. Sedangkan untuk jarak-jarak menengah banyak beroperasi seperti omprengan, terutama melayani kelompok-kelompok dari pemukiman untuk pergi-pulang kekantor, kampus atau sekolah.
Angkutan kampus, atau yang sering disebut Kampusan, inilah yang digeluti oleh Darno, yang tinggal di Gunung Kidul, semenjak ia di PHK empat tahun yang lalu. Seperti halnya yang terjadi dimana-mana, semangat mengikuti pendidikan tinggi juga merasuk sebagian pemuda di Gunung Kidul. Dengan susah payah mereka harus mencari angkutan untuk bisa mencapai kampus, dan tentu dengan ongkos yang tidak sedikit. Mereka menghabiskan waktu sampai 4 jam setiap hari diatas kendaraan dan di terminal. Walaupun sudah ada Trans Jogya, tetapi angkutan umum di Yogyakarta masih sangat terbatas.
Dengan uang yang ia pernah kumpulkan, Darno yang lulus SMP dan sekarang berusia 35 tahun, ia membeli minibus L 300 yang terkenal paling bandel. Dengan dibantu seorang keponakan, bapak dari 2 orang anak, setiap hari kerja melayani para pelanggan dengan antar dan jemput. Untuk jarak sekitar 4 kilometer, setiap penumpang dikenakan ongkos 4 ribu rupiah untuk antar dan jemput. Mobilnya bisa dimuati 21 orang, kalau dijalan ada yang ikut menumpang dikenakan ongkos 3 ribu rupiah untuk sekali jalan. ?Lumayan, pak. Bisa membiayai anak-anak sekolah?, katanya sambil membersihkan kendaraannya. Setelah tugas antar di pagi hari, Darno masih melayani carteran untuk masyarakat lain, terutama ibu-ibu yang akan belanja atau darmawisata. ?Kadang-kadang saya dapat makan siang juga, itu kalau sedang ada rejeki?.
Rata-rata penerimaan Darno setiap hari sebesar 40 ribu, setelah dipotong untuk bensin dan uang untuk keponakan. Kalau ada carteran tentu penghasilannya bertambah. Tetapi kadang-kadang ada mahasiswa yang membayarnya bulanan, mereka menunggu kiriman uang dari orang tuanya. ?Jadi repot juga buat saya. Harus cari uang untuk membeli bensin?. Sekarang ini pengelola angkutan Kampusan semakin bertambah, jadi merekapun harus tetap merawat kendaraannya dan memberikan pelayanan tepat waktu.
?Mudah-mudahan setelah pemilu dan pilpres, kita akan lebih baik, ya pak?, ucapnya dengan pandangan kosong yang tidak yakin. Saya hanya bisa senyum dingin dan menganggukan kepala. Semoga. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 31 Maret 2009