BERMODAL KREATIFITAS
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:38:00
BERMODAL KREATIFITAS
Sudah sejak kecil Somardi senang bermain dengan pisau dan kayu. Berbagai jenis permainan sederhana dibuat sendiri, kadang-kadang juga untuk teman-temannya. Berbagai bahan yang ada disekitar rumahnya, di desa Ponjong Gunung Kidul, dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis mainan dan hiasan. Daun, pelepah pisang, batu, tanah, rumput, ranting, kayu dan apa saja yang ia temukan, ditangannya berubah menjadi barang yang berguna dan nyeni. Rupanya jiwa seni mengalir didalam darahnya, ditambah lagi keinginannya untuk selalu berbuat sesuatu, telah menumbuhkan kreatifitasnya. Hal itu juga yang mendorong pemuda kelahiran tahun 83 meneruskan sekolahnya ke Sekolah Menengah Kerajinan ? SMK di tempat kelahirannya. Kalau tema-teman sebayanya banyak yang gandrung untuk pergi kekota besar seperti Yogya, Jakarta dan Surabaya untuk mencari pekerjaan, lain halnya dengan Somardi, setelah tamat SMK, ia memilih untuk tetap tinggal di Gunung Kidul. ?Memang rejeki saya disini, pak. Tempat saya lahir dan dibesarkan?, katanya dengan tegas.
Sesudah beberapa lama bekerja serabutan, sejak 3 tahun yang lalu Somardi membuka usaha kayu dan ukir kayu. Memanfaatkan lahan seluas 50 meter persegi, disamping rumahnya, ia mendirikan bengkel sederhana. Iapun melengkapi peralatan tukang kayu seperti gergaji, berbagai jenis pahat, bench-saw. Karena ia ingin juga menerima kerjaan dan menjual kayu ukiran, maka peralatan pengukir kayupun harus dibelinya. ?Saya mengeluarkan uang hampir 3 juta rupiah. Termasuk beli beberapa batang kayu dan beberapa lembar papan?, sambil menunjukkan bengkel kayunya.
Mula-mula banyak pesanan hanya membuat berbagai jenis kusen. Kalau masyarakat setempat, biasanya membawa kayunya sendiri. Ongkos membuat kusen rata-rata 25 ribu. Karena pekerjaan ukir Somardi termasuk halus, dan juga menawarkan berbagai ukiran hasil kreatifitasnya, lama-kelamaan banyak pelanggan datang untuk ukiran kayunya. Untuk pekerjaan kayu ukiran, ia hargai 10 ribu rupiah permeter, belum termasuk harga kayu. ?Jemis dan kwalitas kayu tergantung permintaan. Mereka juga bisa membawa kayu sendiri?, sambil menunjukan beberapa hasil ukirannya. Tetapi untuk ukiran yang rumit dan halus ongkosnya rata-rata 25 ribu rupiah per meter. ?Soalnya memakan waktu lebih lama. Dan harus hati-hati?, tangannya sambil tetap memegang palu dan pahat.
Somardi yang masih bujangan, setiap bulan rata-rata bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar 800 ribu rupiah. ?Ya, cukup untuk makan dan beli pulsa?, ujarnya datar. Ternyata pemakaian ponsel sudah merambah kepelosok-pelosok. Keperluan untuk berkomunikasi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Atau hanya menjadi ciri kemajuan dengan memiliki ponsel sebagai salah satu life style sekarang ini? Sayangnya saya tidak sempat menanyakan kaitan ponsel dengan usahanya, dan berapa uang yang harus ia keluarkan untuk membeli pulsa. Semoga saja keberadaan teknologi komunikasi yang semakin meluas, akan memberikan faedah dan meningkatkan martabat rekan kita di Gunung Kidul atau tempat-tempat lainnya di nusantara. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 17 Maret 2009