GUANO RAYA

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:35:53

?GUANO RAYA?

Guano Raya bukan nama sebuah restoran atau kafe di Jakarta, melainkan nama sebuah perusahaan di Gunung Kidul milik Pak Puji. Memang nama perusahaan tersebut terkesan sangat ngetren. Pak Puji sudah beberapa bulan masuk keluar gua di Gunung Kidul. Bukan mencari fosil peninggalan nenek moyang, atau bersemedi mencari wangsit agar lekas kaya. Ia sedang mengembangkan usahanya, menggali dan menjual tanah dari dalam gua. Pak Puji, dengan ijazah SMP yang dimilikinya, sebelumnya mejalankan pekerjaannya sebagai tukang kayu. Tetpi penghasilan sebagai tukang kayu dalam 2 tahun terakhir terus menurun sehingga tidak cukup untuk membiayai keluarganya. Ia sudah berhasil menyekolahkan anaknya, yang pertama sampai di SMU. Tetapi seperti halnya semua pemuda di Gunung Kidul, anak Pak Puji setelah dewasa dan menamatkan sekolah, pergi merantau ke Jakarta. Sedangkan anaknya yang kedua masih duduk di SMP. ?Ongkos sekolah sekarang tambah berat. Bukan hanya bayaran sekolah, melainkan untuk ongkos transpor dan lainnya?, keluh Pak Puji. Itulah potret kehidupan di Gunung Kidul.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Pak Puji memulai usahanya menggali dan menjual tanah hasil galian dari gua. Sudah sejak lama di Gunung Kidul ada beberapa perusahaan yang memproduksi pupuk fosfat dengan cara mengolah tanah gua. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Pak Puji bersama 12 orang kawannya untuk mengusahakan penggalian tanah tersebut. Dengan mempergunakan alat sederhana seperti pacul, garpu dan karung, setiap hari mereka menggali tanah gua. Setiap hari bisa menghasilkan sampai 2 ton tanah. Merekapun harus menggunakan obor untuk masuk ke gua yang gelap. Tanah gua tersebut dibeli oleh pengepul dengan harga 60 ribu rupiah untuk satu ton. Sore hari mereka membagi rata hasil penjualannya.
Kalau sedang hujan seperti sekarang ini, mereka tidak dapat bekerja setiap hari. Kalaupun mereka menggali, hasilnya akan kurang. ?Kalau sudah begitu, pusing pak. Harus pinjam uang kesana-sini, untuk bayar pekerja, makan dan ongkos sekolah?, katanya dengan muka muram. Di hari-hari baik Pak Puji dan kawan-kawannya dapat menghasilkan tanah gua lebih dari 2 ton. Itupun masih tergantung pengepul yang datang untuk membeli tanah gua hasil kerja mereka. Pak Puji yang sekarang berumur 46 tahun, tidak tahu harus kerja apa lagi kalau tanah gua sudah habis atau tidak laku lagi. ?Kita membutuhkan bimbingan, pak. Jangan biarkan kami mencari-cari sendiri?, katanhya berharap.
Mungkin Pak Puji dengan kawan-kawannya tidak mengetahui adanya krisis. Untuk mereka yang penting mendidik anak-anaknya. ?Itu pak, kawan-kawan kerja saya, hanya berpendidikan SD. Sebab itu anak-anak saya harus lebih baik?, ucapnya dengan tegas. Pak Pujipun berharap anak keduanya bisa menamatkan SMU, atau kalau mungkin lebih. Pemerintah dan DPR jangan hanya mengurusi anggaran pendidikan yang 20 persen dari APBN. Yang perlu, dimana mereka akan bekerkja setelah tamat sekolah. Apakah ijazah bagi mereka mempunyai arti lebih, dan memiliki nilai tambah dalam mencari pekerjaan? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 3 Maret 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register