SNACK JAWA
Category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:34:41
SNACK JAWA
Pak Tukino sudah berhasil mendidik ketiga anaknya, bahkan melebihi anjuran pemerintah. Dua orang selesai pendidikan SMU dan seorang lagi selesai SMP, walaupun ia sendiri dan istrinya hanya menyelesaikan SR atau SD sekarang. Ketiga anaknya, semua merantau ke Bakasi dan Tanggerang, seperti halnya kebanyakan anak muda dari desa Ponjong ? Gunung Kidul. Bagi saya Gunung Kidul selalu menjadi inspirasi tentang keuletan dan ketangguhan masyarakat untuk berjuang dan melanjutkan hidup. Mereka menjadi pedagang atau produsen dan merantau hampir diseluruh pulau Jawa. Mereka yang tertinggal di desa biasanya hanya wanita, anak-anak dam laki-laki yang sudah mulai tua dan berprofesi petani.
Demikianlah nasib pak Tukino, yang kini berusia 58 tahun, pekerjaan sehari-harinya adalah petani. Tetapi sejak 5 tahun yang lalu, terpaksa mencari penghasilan tambahan, karena dari tani penghasilannya terus merosot. ?Kalau dari tani sudah cukup, saya kan tidak bikin emping, pak?, katanya tegas. Dengan wajah yang penuh dengan kerutan, tetapi kelihatan tegar dan sehat, ia hidup bersama istri dan cucunya. Sejak tahun 2003 ia membuka usaha membuat emping melinjo dibantu oleh istrinya. Bermodalkan uang 700 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi emping.
Ia mulai usaha emping ini karena melinjo mudah didapatkan di Gunung Kidul. Jumlah pengrajin emping dari tahun ketahun terus bertambah. Melinjo mentah ia beli dengan harga 3000 rupiah untuk satu kilo. Dari 3 kilo melinjo bisa dihasilkan 1 kilo emping. ?Kalau hujan begini, agak repot, pak. Sukar menjemur, empinya tidak kering-kering?, katanya sambil menata emping di tampah, serta melihat kearah matahari yang tertutup awan tipis. ?Mudah-mudahan hujannya malam saja?. Emping yang sudah kering ia jual dengan harga 24 ribu rupiah satu kilo untuk kwalitas super. Sedangkan untuk kwalitas biasa dijual dengan harga 20 ribu. ?Baca dikoran dan mendengar di tivi katanya ada krisis, ya pak. Pantesan pembeli sepi sekali?, keluhnya. Setiap hari pak Tukino mengeluarkan 100 ribu rupiah untuk membeli melinjo dan kayu bakar. ?Sejak kapan bapak pakai kayu bakar, pak?, tanya saya. ?Orang memang sekarang ribut memakai kayu bakar lagi, saya dari dulu sudah pakai kayu bakar. Jadi biasa-biasa saja?, katanya sambil tersenyum. ?Hanya harga kayu bakar sekarang jadi naik, sudah 10 ribu rupiah untuk satu pikul?, ucapnya dengan rasa penyesalan. Setiap harinya pak Turino dapat menjual melijo sampai 120.000 rupiah. Setelah dikurangi untuk modal, sisanya sekitar 30 ribu rupiah, ia serahkan kepada istrinya.
Dalam persaingan dengan berbagai makanan ringan atau snack, emping masih mendapatkan konsumennya. Bukan saja bertambah variasi sebagai snack, melainkan juga sebagai penambah sedap beragam makanan seperti gado-gado, lotek, soto, dan yang lain. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 17 Feb 2009