PATILO
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:33:33
PATILO -MANILO
Selamanya sekitar Hari Raya Imlek bumi kita selalu diguyur hujan. Mungkin itu juga yang membuat tanah kita subur. Tetapi kesuburan karunia Tuhan tersebut tidak menjadikan makmur para pengolah tanah didesa. Petani kita tetap saja harus mencari pekerjaan atau usaha lain untuk menyambung hidupnya. Walaupun harga hasil-hasil pertanian meningkat, tetapi keuntungannya dinikmati pada pedagang atau pemilik lahan yang luas. Kalau harga turun petanilah yang paling menderita.
Hujan juga telah mendatangkan kemuraman bagi produsen patilo alias pati dari telo atau singkong. Semacam tepung dari singkong, yang sering juga disebut manilo. Ada juga yang dijual sudah dalam bentuk krupuk atau reginan yang sudah digoreng. Usaha inilah yang digeluti oleh Mas Sarijo di desa Sumbergiri ? Gunung Kidul. ?Empat tahun yang lalu, saya kena PHK. Anak yang sudah tamat SMU-pun masih menganggur sampai sekarang?, dengan raut wajah penuh protes. Bagaimana tidak, ia sendiri tamat SMK, istrinya SMU dan demikian juga anaknya, tetapi kehidupan mereka tidak membaik. ?Bagaimana tidak mangkel pak. Sesuai anjuran pemerintah kita mendidik anak sampai SMU, tapi tidak ada pekerjaan?, masih terus menggrutu dengan nada protes.
Sejak di PHK tahun 2004, dengan modal simpanan seadanya, Mas Sarijo memulai usaha patilo, dibantu oleh istrinya. Setiap hari ia membeli singkong dari masyarakat sekitar atau pasar. Rata-rata ia mengeluarkan uang sekitar 90 ribu rupiah setiap hari untuk membeli berbagai kebutuhan lainnya. Sekarang ini singkong harganya 1000 rupiah satu kilo. Kalau sudah jadi patilo dijual dengan harga 6000 ribu rupiah. Selain menjual patilo dalam kemasan 1 dan setengah kilo, Mas Saridjo juga menjual dalam bentuk krupuk dan reginan. ?Tetapi kebanyakan hanya membeli patilo saja, pak. Lalu mereka yang membuat berbagai jajanan?, sambil menyelesaikan rokok kreteknya.
Penghasilan Mas Saridjo setiap hari mencapai 150 ribu rupiah, dan bersih diserahkan kepada istrinya sekitar 40 ? 45 ribu rupiah. ?Cukup tidak cukup, ya harus dicukupkan?, katanya sambil ketawa. Kalau musim kemarau banyak yang menanam singkong, harganyapun jadi murah. ?Sekarang sedang sepi, dan kalau hujan susah mencari singkong. Juga susah menjemur patilo?, katanya sambil melihat kesekeliling. ?Apa setelah pemilu dan pilpres hidup kita akan lebih baik pak?? Sayapun tersentak dan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Sekilas terbayang dimata saya baliho-baliho raksasa di Yogya dengan macam-macam warna, yang menampilkan calon-calon anggota DPR dan DPRD, yang katanya akan mewakili rakyat. Papan-papan reklame raksasa mengalahkan reklame HP, motor dan sabun. Apa mereka juga akan untung seperti jualan HP, motor, dan sabun? Bagaimana caranya mereka bisa untung? Mudah-mudahan harapan Mas Sarjito dan harapan jutaan masyarakat Yogya bisa terkabul, untuk hidup lebih baik.
Semoga di tahun kerbau kita bisa lebih baik. Gong Xi Fat Choi! (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 3 Feb 2009