NASI UDUK
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:32:17
NASI UDUK GN KIDUL
Saya masih berada di Yogya, serta mengagumi keuletan masyarakat disekitar Yogya dalam menghadapi kehidupan yang serba susah. Banyak sekali warga Gunung Kidul yang merantau ke Jabodetabek untuk mengadu nasib, mencari penghasilan bagi keluarganya. Keluarga, istri dan anak ditinggalkan. Kadang-kadang hanya dua bulan sekali menjenguk pulang. Bukan hanya itu, kehidupan bersosialisasi dengan lingkungan dan dengan budaya mulai juga tercerabut. Tetapi ada juga yang mencari tambahan dengan memanfaatkan peluang di Gunung Kidul atau Yogya dan sekitarnya.
Bu Tris, yang hanya tamat SD, dan suaminya yang lulusan SMP, adalah petani di Gunung Kidul. Kedua anaknya, dengan ijazah SMU dan SMP, sudah beberapa tahun merantau ke Tanggerang, seperti banyak pemuda lainnya dari kampungnya. Bu Tris, yang sekarang berusia 52 tahun, harus tetap tinggal di kampungnya, karena diserahi menunggu dan mendidik 2 orang cucucnya. ?Saya senang momong cucu. Mereka lucu-lucu?, katanya gembira. Itulah kehidupan kita, tidak ada nenek yang tidak senang kalau dititipi cucunya. Tetapi yang jadi masalah Bu Tris dan suaminya, adalah menurunnya penghasilan sebagai petani. ?Saya heran, pak. Kalau dengar tivi, katanya ekonomi membaik. Tapi nyatanya, hidup kita dikampung makin repot?, ucapnya dengan mata yang melebar.
Sebab itu sejak dua tahun yang lalu Bu Tris, dengan memanfaatkan gardu pos ronda yang kosong disiang hari, memulai berjualan makanan dan jajanan untuk anak-anak sekolah. Kebanyakan anak-anak dipedesaan pergi kesekolah tidak membawa bekal makanan, dan juga belum makan pagi atau sarapan. Dengan keterampilan yang dimiliknya sebagai ibu rumah tangga, Bu Tris berjualan nasi uduk, nasi kuning dan es dawet. Kalau di Yogya dikenal dengan nasi kucing yang harganya 1000 rupiah, demikian juga Bu Tris berjualan nasi uduk dan nasi kuning seadanya dibungkus daun pisang. Dijual dengan harga 500 rupiah untuk satu bungkus. Sedangkan es dawet 200 rupiah. Kalau hanya minum air es dengan sirup harganya 100 rupiah. Disamping makanan dan minuman tersebut, Bu Tris juga berjualan macam-macam jajanan dalam bungkusan yang sedang digemari anak-anak. Pengaruh tayangan tivi. Selain anak sekolah, banyak juga pembeli lainnya.
?Sekarang lumayan, pak. Sekolah sudah mulai lagi?, sambil terus melayani anak-anak sekolah dengan seragam putih-merah, yang tampak sudah pudar. Sewaktu libur sekolah, Bu Tris terpaksa kembali membantu suaminya bertani dikebun. Dari usaha dagangnya setiap hari diperoleh 120 ribu rupiah. Sebesar 80 ribu rupiah disisihkan untuk belanja besok harinya. ?Saya berjualan hanya sampai pukul 12. Kemudian pulang ngurus cucu lagi?, katanya ringan. Untuk mempersiapkan dagangannya ia dibantu oleh suaminya. ?Kalau dia tidak perlu dibayar?, sambil ketawa terkekeh dengan menutup mulutnya.
Ribuan mungkin jutaan masyarakat kita yang bernasib seperti Bu Tris dan suaminya. Janganlah kita melupakan mereka dalam Pemilu dan Pilpres, karena suara mereka nilainya sama dengan seorang konglomerat, Ketua Partai ataupun Menteri. Tapi bagaimana nasib mereka setelah itu? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 27 Jan 2009