BAKPIA

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:30:45

BAKPIA

Saya sudah berkunjung kembali ke Yogya, inilah oleh-olehnya.
Hampir semua wisatawan domistik atau yang sering disebut wisnus, kalau berkunjung ke Yogja sering mencari oleh-oleh makanan khas Yogya. Bukan hanya gudeg atau buah sukun, tetapi antara lain juga bakpia. Selain dipusat belanja oleh-oleh, kita juga bisa langsung ke daerah lingkungan produksi dan pengrajin bakpia. Menyusuri sebuah jalan di Pathok ? Yogya, berderet toko penjual dan produsen bakpia, mereka hanya dibedakan dengan penggunaan angka yang berbeda, seperti Bakpia 25, Bakpia 55 ataupun Bakpia 77 dan masih banyak angka lainnya. Angka-angka tersebut kebanyakan mencermikan nomer rumah atau toko yang ditempati. Karena lokasinya di Pathok tersebut, maka bapia dari Yogya lebih dikenal dengan nama Bakpia Pathok.
Jangan kaget kalau industri bakpia ini sudah meluas kebanyak daerah disekitar Yogya, bukan hanya di Pathok, melainkan antara lain ke Gunung Kidul. Pak Adi sudah sejak tahun 2000 memproduksi bakpia, sebagai industri rumah tangga, dirumahnya di Karang Duwet, Karang Mojo ? Gunung Kidul. Dengan modal sekitar 2 juta rupiah yang ia kumpulkan sewaktu bekerja dipabrik bakpia di Pathok, ia memulai usahanya dan memakai nama ?Barokah?. ?Sebetulnya saya berpendidikan STM, pak. Tapi rupanya bakpia ini yang memberikan berkah?, katanya santai. Anak pak Adi yang besar, 29 tahun, masih kuliah disebuah PTS dan yang kedua umurnya 23 tahun. ?Mudah-mudahan mereka akan bernasib lebih baik?.
Ia memproduksi bakpia dan menjualnya dalam kemasan kotak doos. Yang berisi 27 buah, ia jual dengan harga 7000 rupiah, sedangkan doos yang agak besar dengan isi 32 buah, harganya 10 ribu rupiah. ?Sekarang ini pembelinya sedang banyak, pak? sambil tersenyum. Dengan dibantu 4 orang karyawan yang semuanya adalah keponakannya sendiri. ?Kasihan mereka, pak. Banyak yang menganggur, sedangkan mereka adalah tamatan SMU, SMK, dan ada yang STM?, katanya sambil menunjuk kesalah seorang dari mereka. Mereka setiap hari masing-masing mendapat upah 15 ribu rupiah, tetapi kalau sedang banyak pekerjaan mereka mendapat uang ekstra.
Setiap hari pak Adi rata-rata mengeluarkan uang 200 ribu untuk membeli berbagai kebutuhan produksi, terutama tepung kacang hijau. Dari hasil penjualan bakpia, ia mendapatkan 450 ribu setiap hari. Kalau sedang musim liburan dan lebaran hasilnya lebih banyak. Sesudah dikurangi ongkos produksi dan lain-lain, pak Adi bisa menyisihkan bersih sekitar 160 ribu rupiah. ?Kadang-kadang ada yang pesan, tetapi tiba-tiba dibatalkan. Sedih kalau begitu, Pak?, katanya lirih. Mudah-mudahan menjelang Pemilu ini partai-partai politik bisa memanfaatkan hasil indutri kecil termasuk bakpia untuk keperluan kampanye. Kabarnya ada partai politik besar dalam rangka kampanye pemilu, yang untuk atribut partainya memesan dari luar negeri. Kemana nurani mereka. Cari partai yang mana, dan partai demikian tidak perlu dipilih. Mereka menghianati perjuangan masyarakat pelaku ekonomi rakyat. (rahardi@ramelam.com)
Dimuat di harian Pos Kota 20 Jan 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register