ONDE-ONDE TERTAWA
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:28:49
ONDE-ONDE TERTAWA
Yang tetap bundar bukan hanya bola, tetapi juga onde-onde masih tetap bundar. Selain onde-onde masih banyak jajanan atau snack tradisional yang memiliki penggemar. Kerak telor, arum manis, odading atau bolang baling, kueh cubit, untir-untir dan masih banyak lagi. Ada juga onde-onde versi lain, onde-onde tertawa atau gelek kata orang Semarang. Dengan berkembangnya berbagai toko kue wara laba seperti gurita, banyak jajanan tradisional kita tersisihkan. Waralaba dengan berbagai nama .....bread......., menempati lokasi-lokasi strategis di mal dan pusat perbelanjaan. Para pedagang jajanan tradisionalpun semakin tergerus.
Walaupun demikian Jakarta masih terus mempesona dan menjadi magnet para pendatang dari seluruh penjuru nusantara, terutama dari daerah padat penduduk seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demikian juga dengan Mas Gun, pria asal Brebes, yang sudah beberapa tahun menetap di Desa Sukatani Depok. Bersama seorang istri dan dua orang anaknya yang masih kecil, ia menempati rumah yang dikontraknya 300 ribu rupiah satu bulan. Dua tahun yang lalu ia di PHK dari sebuah pabrik didekat Cibinong. ?Beberapa kenalan saya sekarang juga kena PHK, pak. Sedang krisis rupanya?, mencoba menyakinkan saya.
Sejak di PHK, ia bersama istrinya membuat onde-onde, dan menjualnya dengan menggunakan gerobak dorong. Dengan memanfaatkan uang simpanannya sebanyak 1,5 juta rupiah, Mas Gun melengkapi peralatan usahanya seperti kompor dan wajan termasuk membeli gerobak dorong. Mulai siang hari ia berjualan dikompleks perumahan sekitar Desa Harjamukti dan Sukatani. Sedangkan adonan untuk onde-onde sudah disiapkan oleh istrinya, yang juga berbelanja bahan ke pasar. Onde-onde ukuran kecil dijual dalam kemasan plastik berisi 20 buah dengan harga 2500 rupiah, sedang ukuran besar dengan kemasan berisi 5 buah dijualnya dengan harga 5000 rupiah. Pria yang berpendidikan SMP dan demikian juga istrinya, mengaku bahwa penghasilan kotornya setiap hari sekitar 140 sampai 160 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang sepi, pak. Orang-orang lebih senang pergi ke mal sambil jalan-jalan dan membeli kue?, katanya tidak bersemangat. Biasanya penghasilan Mas Gun akan bertambah, kalau ada ibu-ibu yang menyelenggarakan arisan atau pengajian, mas Gunpun tidak usah mendorong gerobaknya kemana-mana. Iapun berharap akan banyak arisan dan pengajian di tahun 2009 ini.
?Semua penghasilan saya serahkan kepada istri saya. Ia belanja setiap pagi ke pasar, membeli terigu, kacang ijo, dan wijen?, melanjutkan ceritanya. Untuk bahan dagangan istrinya mengeluarkan uang setiap hari sekitar 60 ribu rupiah. ?Semoga tahun ini dan seterusnya tambah baik, ya pak. Saya perlu menyekolahkan anak?, ucapnya lirih sambil menata dagangannya. Mungkin Mas Gun tahu bahwa ada krisis yang akan berdampak kepada usahanya, tetapi ia tetap berharap untuk bisa menenangkan gejolak pikirannya. Sayapun berharap bahwa para calon pemimpin yang sedang rebutan kursi sekarang ini, mempunyai gagasan untuk memperbaiki kehidupan para pelaku ekonomi rakyat seperti Mas Gun. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 13 Jan 2009