ARANG PENGGANTI MINYAK TANAH?

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:25:00

ARANG PENGGANTI MINYAK TANAH?

Pak Catong tidak mengerti betul apa yang terjadi di negara tercinta ini. Minyak tanah menghilang, katanya diganti elpiji, tetapi elpiji juga sukar didapat. ?Sudah seminggu kita harus antri?, kata bapak dari tiga orang anak. Memang akhir-akhir ini, arang kayu buatannya banyak dicari oleh para pedagang makanan. Sejak berhenti dari pekerjaannya semula, akhirnya pak Catong 3 tahun yang lalu memutuskan untuk membuat dan menjual arang kayu. Dengan memanfaatkan halaman di rumahnya ia mulai usahanya dengan dibantu oleh seorang pekerja. Sedangkan anaknya sudah besar-besar, yang tertua, 30 tahun, jadi tukang ojek. Sedangkan yang kedua, 25 tahun, bekerja di toko bangunan. ?Anak saya yang kecil masih di SMA. Mudah-mudahan ia bisa bernasib lebih baik?, katanya sedih.
Dengan modal sekitar 1,5 juta rupiah pada waktu itu, Pak Catong membeli berbagai peralatan seperti gergaji kayu, chain saw bekas, kapak, dan drum. Ditambah dengan kebutuhan lainnya seperti karung, kantong plastik dan tali rapiah. ?Saya asli orang sini pak. Bukan pendatang?, katanya tegas. Pak Catong umurnya kini sudah 49 tahun. Biasanya ia membeli kayu langsung yang berasal dari pohon hasil tebangan. Untuk satu buah colt pick-up penuh dengan harga antara 100 sampai 150 ribu rupiah. Dari bahan ini pak Catong bisa menghasilkan 20 sampai 25 karung arang kayu , dengan berat 25 kilogram setiap karungnya. Seluruh ongkos untuk pembuatan arang tersebut, termasuk pembelian kantong plastik dan tali, menjadi sekitar 200 ribu rupiah.
Setiap menjelang tahun baru banyak yang mencari arang kayu untuk pesta kebun, tetapi pak Catong tidak tahu buat apa. ?Tetapi disekitar daerah ini banyak pedagang sate dan tongseng, merekalah langganan besar saya?, sambil terus mengangkat dua buah karung ke dalam becak. Setiap karung arang kayu dijual dengan harga 30 ribu rupiah. Setiap hari bisa terjual sampai 20 sampai 25 buah karung. Penghasilan bersih pak Catong setiap harinya mencapai 300 ribu rupiah. Dengan uang itu ia masih harus membayar pekerjanya sebesar 20 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang banyak pesanan dari warung-warung?, katanya gembira. Banyak rumah tangga yang biasa mempergunakan minyak tanah, kembali memanfaatkan kayu bakar atau arang kayu. ?Saya jadi tidak mengerti pak?, sambil memperhatikan wajah saya, ?kita ini maju atau mundur, pak??. Saya tidak sanggup menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan kelangkaan minyak tanah. Tidak ada gunanya juga menjelaskan mengapa Pemerintah dan Pertamina sampai terseok-seok mendistribusikan elpiji sebagai pengganti minyak tanah. Toh, pak Catong seperti halnya sebagian besar masyarakat lainnya, tidak akan mengerti.
Bagaimana nasib masyarakat ekonomi rakyat di tahun 2009 nanti? Apakah pesta demokrasi bisa mengatasi kelangkaan minyak tanah dan elpiji? Semoga Pemilu dan Pilpres di tahun 2009 membawa kesejahteraan kepada para pelaku ekonomi rakyat, bukan hanya kesejahteraan bagi partai yang menang. Selamat Tahun Baru 2009. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 30 Des. 2008

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register