IBU-IBU (MASIH) MENANGIS
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:23:33
IBU-IBU (MASIH) MENANGIS
Hari-hari ini banyak masyarakat yang menikmati kegemerlapan kehidupan di Jakarta, terutama menjelang Hari Natal dan Tahun Baru. Berbagai atraksi, sale, obral, dan diskon digelar hampir disemua pusat perbelanjaan mewah. Tetapi keadaan dan suasana tersebut bukan merupakan gambaran kehidupan para pelaku ekonomi rakyat.
Disisi lain, saat ini juga bertepatan dengan hari Ibu yang kita peringati setiap tanggal 22 Desember, dan tahun ini adalah yang ke 80. Hari ibu yang diwarnai oleh antrian ibu-ibu menunggu kedatangan elpiji, dan terjadi hampir diseluruh penjuru negeri. Janji pemimpin kita mengenai ketersediaan elpiji yang diumumkan di media masa, termasuk tivi, beberapa hari yang lalu disambut dengan gembira. ?Hari selasa, kita bisa masak lagi dengan elpiji?, teriak seorang ibu yang bercucuran air mata terkena asap kayu bakar. Hari ini sudah selasa lagi, tetapi elpiji belum kunjung normal. Semua yang bertanggung jawab atas ketersediaan elpiji memberikan pernyataan yang berbeda. Apakah kuping kita semua yang salah dengar? Ujung-ujungnya masyarakat yang disalahkan, katanya pemakaian elpiji yang meningkat tajam. Bukankah Pertamina sudah harus mengatisipasi sebelumnya? Masyarakat menjadi bingung, apa sebetulnya yang terjadi dengan elpiji, dan siapa yang harus didengar.
Keputusan pemerintah menurunkan harga bbm untuk kedua kalinya, disambut ibu-ibu dengan gembira, mereka sangat berharap akhirnya akan ada perubahan bagi hidup mereka. ?Semoga harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan akan turun segera?, seorang ibu berharap. Maklum setiap hari mereka harus mengeluarkan ongkos transport untuk anak-anaknya pergi sekolah. Mengenai tarif angkutan, pemerintah pusat memberikan kebijakan dan arahan, pemda berunding dengan organda, hasilnya belum juga disepakati. Ibu-ibu masih harus terus membayar ongkos transport seperti semula. Sepertinya pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa yang berkuasa dinegara kita ini? Harga bahan pokokpun tetap bertengger seperti semula. Para pedagangpun tidak bisa menurunkan harga, kalau biaya transport tetap tinggi. Kalau begitu siapa yang menikmati penurunan harga bbm tersebut?
Di hari ibu tanggal 22 Desember 2008, seyogyanya ibu-ibu bergembira memperingati awal perjuangan mereka untuk kesetaraan dengan kaum pria. Delapan puluh tahun sudah lewat, tetapi justru mereka harus antri untuk mendapatkan elpiji dan membayar ongkos transport dan harga kebutuhan pokok yang tetap tinggi.
Dengan krisis ekonomi global sekarang ini, PHK menghantui suami-suami mereka. Ibu-ibu harus memikirkan untuk mencari jurus baru mencari tambahan penghasilan mendukung keluarganya. Atau menuruh anak-anak mencari bermacam-macam kaos oblong dengan logo partai politik untuk mengurangi belanja pakaian.
Semoga para pemimpin, bukan hanya memberikan janji dan harapan, melainkan solusi untuk ibu-ibu, agar mereka tidak menangis lagi. Selamat Hari Ibu.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 23 Des. 2008