GETUK BERSAING DENGAN BBM
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:21:38
GETUK BERSAING DENGAN BBM
Dulu orang mengatakan harus belajar sampai ke Cina. Jalur sutra di sepanjang daratan Asia, bukan yang di BSD, terbentuk karena perdagangan kain sutera, dan permadani. Orang Portugis dan Spanyol datang jauh-jauh dari Eropa sampai ke Maluku mencari rempah-rempah. Sekarang ini pengusaha-pengusaha dari mancanegara menetap dan melakukan kawin kontrak di Bali dan Jepara untuk berbisnis perhiasan, garment dan mebel. Berdagang adalah mencari keuntungan, jumlah keuntungan yang didapat dan jarak yang ditempuh tentu harus dihitung. Tetapi berdagang juga merupakan jalan termudah untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Apalagi dimasa-masa krisis.
Demikian juga di negara tercinta kita ini, Nusantara, arus perdagangan berkembang sejak dahulu. Orang Bugis, Padang, Palembang dan Madura dikenal sebagai pedagang-pedagang tangguh mengarungi laut nusantara dan lautan India, sampai ke benua Afrika. Kita mengenal bagaimana tangguhnya dan uletnya para pedagang dari Tegal, Bantul, Gunung Kidul dan Wonogiri, mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan datang ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya diseantero Nusantara. Dimasa krisis ekonomi seperti sekarang ini, pedagang pendatang ini makin bertambah.
Demikian juga kisah Mas Yono, yang tamatan SMP, sudah 3 tahun ini, harus meninggalkan isteri dan kedua orang anaknya yang masih duduk di SD dan SMP, dan mencari tambahan penghasilan di Jakarta. Isterinya di Wonogiri, masih terus berjualan makanan dan jajanan anak-anak di depan sekolah. Mas Yono menempati petak kontrakan di Depok dengan sewa 200 ribu rupiah untuk satu bulan. Dari informasi yang didapatkan sewaktu di Wonogiri, ia menghubungi kenalannya yang membuat getuk, khususnya getuk lindri. Kemudian iapun memutuskan untuk berjualan getuk lindri. Dengan uang yang ia miliki, ia membeli gerobak beca, radio tape bekas dengan speakernya, dan berbagai peralatan lainnya. ?Kalau tidak salah saya habiskan uang 800 ribu rupiah, pak?, katanya sambil menerawang.
Setiap pagi ia mengambil getuk dagangannya dari agen dan menjajakannya keliling Depok. ?Kadang-kadang ada yang memborong, pak. Senang juga rasanya, tidak usah keliling?, sambil membuka-buka kotak gerobaknya. Setiap hari ia bisa menjual getuk sampai 150 buah, unuk itu dibutuhkan modal sekitar 50 ribu rupiah setiap harinya. Rata-rata setiap harinya Mas Yono mendpat penghasilan bersih sekitar 30 ribu rupiah. ?Setiap bulan saya pulang ke Wonogiri mengirim uang, dan kangen sama isteri?, katanya sambil senyum. ?Saya kan laki-laki, pak?, seolah-olah minta pengertian saya.
Walaupu berbagai jenis makanan ?modern? seperti roti dan kue sudah banyak dijual, tetapi rupanya jajanan tradisional tetap saja mempunyai tempat. Sampai sekarang getuk dan jajanan tradisional digemari dan masih bisa terjangkau oleh masyarakat bawah. Kita tidak tahu bagaimana nantinya kalau upaya pemerintah mencari pengganti BBM akan memanfaatkan singkong sebagai bahan bakunya. Semoga para akhli sudah memikirkan ini. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 16 Des 2008