SUSAHNYA NGURUS PARKIR

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:18:03

SUSAHNYA NGURUS PARKIR

Isu beredar bahwa tarif parkir akan dinaikkan, atas permintaan pengelola parkir di Jakarta, yang swasta. Tidak ada yang tahu persis, berapa persen dari tarif parkir itu yang masuk kocek pemerintah daerah. Ditempat dan lapangan parkir umum, walaupun sudah membayar parkir resmi, kita masih dibayangi oleh preman yang seolah-olah mengatur parkir dan meminta bayaran. Parkir Timur Senayan, JICC, sampai Bandara Sukarno-Hatta masih dikuasai para preman tersebut. Soal parkir di Bandara Su-Ta, walaupun jelas tertulis parkir hanya untuk CD, atau perwakilan asing, tetapi para petugas keamanan takut megusir kendaraan mewah dengan pengemudi dan pengawal berseragam safari hitam. Apalagi menghadapi kendaraan dengan nopol tentara atau polisi, atau menghadapi lembaran puluhan ribu, mereka tidak berdaya. Kadang-kadang kita heran bahwa ditempat jauh dari kesibukan dipinggir jalan, berhenti untuk membeli sesuatu dari PKL, tiba-tiba saja muncul tukang parkir yang meminta uang. Walaupun tidak ada jasa apapun yang mereka kerjakan, hanya bermodal sempritan. Gebrakan Kapolri memberantas preman dan perjudian, sudah dimulai. Preman pasar, preman terminal sudah mulai kena garuk. Kita tunggu kapan preman parkiran bakal kena giliran. Perjalanan Kapolri dengan jajarannya masih panjang, semoga diberi kekuatan, ketangguhan dan stamina menghadapi mereka.
Hampir seluruh tempat parkir umum di Jakarta sudah dikelola oleh swasta. Pusat belanja, mal, perkantoran, hotel, dan gedung-gedung lainnya tidak ada satupun yang terbebas dari ongkos parkir. Pengelola parkir pemda mengurus parkir disekitar jalan-jalan yang padat dengan pengunjung. Sedangkan disekitar pasar tradisional yang masih tersisa di pinggiran kota, kita juga dikenakan biaya parkir baik untuk mobil maupun motor. Hanya tidak jelas siapa pengelolanya dan kemana uang itu mengalir.
Budaya serba bayar untuk parkir, dimanfaatkan oleh Mas Jamhari, asal Tegal, yang sudah sejak tahun 1980 mengelola jasa parkir di pasar Cisalak. Ia bersama isteri dan kedua anaknya yang sudah besar 29 dan 20 tahun, sudah memiliki rumah sendiri dibelakang pasar Cisalak. Dengan memanfaatkan lahan 3 X 12 meter milik Pemda di pasar tersebut, Mas Jamhari mengelola tempat parkir terutama untuk sepeda motor. Dengan lahan tersebut yang dikenakan sewa 25 ribu setiap harinya, bisa menampung 20 ? 25 motor, dengan ongkos parkir 1000 rupiah. ?Kadang-kadang ada mobil kecil juga, pak. Kalau sedang kosong, ya saya terima dan bayarnya 1500 rupiah?, jelasnya sambil memegangi tumpukan kertas bernomor. Untuk keperluan kerjanya ia membuat kertas bernomor yang dilaminat, dan membeli beberapa buah sempritan. Ia dibantu oleh seorang anak muda yang juga berasal Tegal. ?Kalau dia lulusan SMP, pak, sedang saya hanya SD?, sambil ketawa dan melihatkan gigi emasnya. Setelah dipotong setoran sewa, keperluan makan dan upah rekannya, ia bisa membawa pulang uang paling tidak 25 ribu rupiah setiap harinya. ?Sekarang agak aman pak. Premannya sudah menghilang, semoga terus begini?, sambil terus mengatur yang parkir. ?Priiiiiiiiit?. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 9 Des. 2008

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register