JAKJAZZ MINUS CIMOL
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:16:22
JAKJAZZ MINUS CIMOL
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu menyediakan waktu untuk keriaan tahunan musik Jakjazz di Jakarta. Tahun inipun demikian juga saya menghadirinya sejak pembukaan. Kadang-kadang saya juga mengunjungi Jakarta Fair, terutama sewaktu masih diselenggarakan di pojok lapangan Monas. Kedua peristiwa itu menunjukan denyut jantung kota Jakarta, lepas dari kesumpekan hidup sehari-hari. Jakjazz tahun ini, terasa sangat dekat dengan masyarakat, menyuguhkan campuran berbagai jenis musik jazz ala gado-gado. Pembukaannyapun dihibur dengan kelompok Gado-gado Jakarta, yang terasa membosankan dan tidak jelas inginnya apa. Tapi toh akan melancong ke Tokyo. Gubernur DKI Jakarta, walaupun diwakili, secara konsisten sejak dulu selalu hadir dan memberikan sambutan. Kali ini masih dalam Visit Indonesia Year 2008, Menteri Budpar turut mengundang pada acara pembukaan, tetapi tidak seorangpun kelihatan mewakili menteri, apalagi memberi sambutan. Mungkin visit ke Senayan tidak ada apa-apanya dibandingkan melancong ke Yogya atau Bali. Tetapi pesta rakyat Festival Jalkjazz yang kesepuluh jalan terus tanpa mereka.
Dalam penyelenggaraannya yang ke sepuluh ini, terasa ada yang istimewa, selain Jakjazz ini konsisten sebagai festival, kali ini juga terasa seperti pasar malam. Selain berbagai jenis musik jazz yang disuguhkan, juga tersedia berbagai jenis makanan. Mulai kopi tubruk asli Indonesia, sampai kopi stabak ala Amerika ada disana. Makananpun tidak ketinggalan, tahu bacem, goreng ayam, sosis, burger, bakso, nasi kucing, spageti, swarma dan kebab. Di Jakarta fair selalu kita dapati pedagang kerak telor, harum manis, dan cimol. Kerak telor ada rupanya sudah menge-jazz juga, sedang harum manis dan cimol belum hadir disana.
Khususnya jajanan cimol ini, sampai sekarang masih menjadi makanan favorit anak-anak sekolah. Bahannyapun bukan terigu yang masih diimpor, melainkan sagu yang merupakan bahan asli Indonesia. Rasanyapun macam-macam, ada rasa sapi dan ayam goreng. Harganyapun masih terjangkau uang saku anak sekolah, 100 rupiah satu buah. Jualan cimol ini ditekuni Mas Kusno bersama isterinya yang asal Tegal, sejak dua tahun yang lalu. Bermodalkan uang 2 juta rupiah, mereka membeli berbagai peralatan yang diperlukan termasuk gerobak. Kusno yang berpendidikan SMP, setiap hari belanja kebutuhan dagangannya dengan modal 100 ribu rupiah, termasuk minyak tanah. Mereka berdua berjualan dengan mangkal di pojok jalan dekat komplek perumahan Departemen Penerangan. ?Saya harus bayar uang kebersihan seribu rupiah setiap hari?, katanya, ?tapi disini cukup ramai pak?, katanya bersemangat. Setiap hari keluarga Kusno mendapatkan penghasilan bersih bisa mencapai 140 ribu rupiah. ?Kita perlu membayar kontrakan rumah 300 ribu setiap bulan, dan membiayai sekolah anak-anak?, ucapnya serius. Penghasilannya sekarang ini cukup baik, tetapi kalau hujan terus menerus penghasilannya juga berkurang.
Semoga Jakjazz tahun depan, Ireng Maulana akan memberikan kesempatan kepada pak Kusno dan isterinya untuk berjualan cimol disana. Sungguh akan membahagiakan mereka medapatkan rejeki tambahan, walau hanya untuk 3 hari, seperti yang dinikmati penjual kerak telor. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos ota 2 Des 2008