PAYUNG MURAH
Category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:10:17
PAYUNG MURAH
Hujan sudah mulai mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya. Genangan air muncul dimana-mana. Masyarakat pinggiran kali sudah mulai was-was, menunggu datangnya banjir. Proyek Kanal Banjir Timur, yang direncanakan sejak zaman Belanda dulu, belum juga selesai. Apa masalahnya? Beberapa mantan guberbur dan gubernur DKI sekarang mungkin bisa menjawabnya. Hujan deras turun, lalu lintaspun macet, kolong jembatan dan kolong flyover jadi tempat pilihan berteduh pengendara motor dan pedagang gerobak dorong. Halte bis dipenuhi orang dan pedagang. Anak-anak penjaja ojek payung mengais kesempatan. Jalan-jalan yang baru diperbaiki sudah mulai berlobang lagi, pasir dan sirtunya terbawa arus, maklum aspalnya diirit atau dikorup. Itulah gambaran Jakarta diawal musim hujan di abad 21.
Berbagai jenis payung mulai disiapkan oleh para ibu rumah tangga. Payung hadiah dari toko, perusahaan, partai politik yang sudah lama tersimpan mulai dikeluarkan lagi. Tas dan mobil dilengkapi juga dengan payung. Tumpukan payung rusak banyak dibuang, diganti dengan payung baru. Pembantu rumah tangga mengumpulkan payung rusak untuk dijual. Lumayan masih laku. Bagi yang keuangannya terbatas, menunggu pak Kadanah lewat.
Pak Kadanah asal Cirebon, dikenal sebagai tukang payung. Sudah hampir delapan tahun menekuni pekerjaannya, membeli payung-payung rusak, memperbaikinya dan kemudian menjualnya lagi. Setiap hari ia berkeliling dijalan-jalan sempit di Jakarta, dengan membawa pikulan yang berisi selain payung rusak dan payung bekas, juga berbagai peralatan kerjanya seperti gunting, tang, jarum, gergaji kecil, kikir dan peralatan tukang lainnya. ?Peralatan dan pikulan itu saya beli 350 ribu?, kata laki-laki asal Cirebon yang berumur 49 tahun ini. Ia meninggalkan isteri dan dua anaknya yang masih sekolah di SMU di Cirebon. ?Sekarang ini sedang banyak kerjaan pak. Payung bekaspun laku keras?, katanya tersenyum. Untuk servis sebuah payung dikenakan biaya 2000 rupiah, sedang payung bekas dijual 5000 sampai 7000 rupiah tergantung keadaannya. ?Dijamin tidak bocor?, tegasnya. Ia keluar dari rumah kontrakannya pukul 8 pagi dan baru pulang sekitar pukul lima sore. Bersama dengan 3 kawannya mereka menempati rumah kontrakan, dan masing-masing harus membayar sewa 200 ribu setiap bulannya. Ketiga kawannya juga berasal dari sekitar Cirebon dan Indramayu. Memang didaerah tersebut ekonomi tidak berkembang, sehingga penduduknya harus mencari nafkah dikota-kota besar.
Dari hasi jerih payahnya, setiap hari ia mendapatkan penghasilan 60 ribu rupiah. Sebagian harus disisihkan untuk membeli tambahan material kerja seperti kawat dan benang, serta sebagian lagi untuk sewa rumah.
Dimusim pancaroba dan awal musim hujan, pak Kadanah selalu bermuka ceria. Angin membuat banyak payung rusak, yang kadang-kadang ia temukan dijalan. Anak-anak disekitar tempat pondokan sering mengantar payung rusak dengan minta sekedar upah. ?Mudah-mudahan bulan ini saya bisa membawa uang lebih kekampung. Untuk membeli baju sekolah?, katanya pasrah. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 4 Nov. 2008