LULUS SMP KAMANA?

Category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 03:56:32

LULUS SMP KEMANA?

Wajib belajar 9 tahun terus didorong untuk dilaksanakan diseantero nusantara. Anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN tahun depan akan dilaksanakan sepenuhnya. Kalau tidak berarti presiden melanggar hukum. Akibatnya akan lebih banyak lagi anak-anak kita yang akan menikmati wajib belajar 9 tahun. Tetapi setelah itu mereka harus kemana? Kenyataannya banyak pelaku ekonomi rakyat, termasuk dalam rubrik ini, adalah mereka yang telah dengan susah payah menyelesaikan pendidikan SMP. Bagi mereka, keadaan ekonomi yang tidak kunjung membaik sejak krisis, mengharuskan mereka bekerja serabutan untuk bisa meneruskan hidupnya bahkan menghidupi keluarganya.
Demikian juga yang dihadapi oleh Pak Sali bersama dua orang temannya, sama-sama lulusan SMP, harus bekerja keras mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi keluarganya. Sesudah kehilangan pekerjaan 6 tahun yang lalu, Bang Sali akhirnya harus bekerja sebagai tenaga kebersihan, persisnya sebagai pengumpul sampah, disebuah komplek perumahan. Bekerja sebagai tukang sampah bukan cita-citanya sewaktu masih sekolah dulu. Tentu bukan juga rencana dan tujuan pemerintah mewajibkan sekolah 9 tahun kalau akhirnya mereka jadi pengumpul sampah. Lalu kenapa ini terjadi? ?Dulu saya bekerja dipabrik, pak. Lalu kena PHK bersama kawan-kawan lain?, ceritanya sambil istirahat didepan sebuah rumah mewah. Ia bersama dua orang temannya menjadi tugas kebersihan disebuah komplek. Tugasnya masing-masing harus mengambil sampah dari 10 rumah dan membersihkan jalan sekitarnya. Peralatan berupa gerobak, sapu, garpu dan pengki sudah disediakan oleh pengelola komplek tersebut.
Dikomplek tersebut, setiap rumah harus membayar restribusi untuk kebersihan, dan uang inilah yang dipakai untuk membayar petugas kebersihan seperti Bang Sali dan kawan-kawannya. Setiap bulan masing-masing menerima honor sekitar 450 ribu rupiah. ?Sayapun mendapat tambahan dengan cara mencuci beberapa buah mobil milik penghuni. Lumayan pak, dapat tambahan rata-rata 200 ribu rupiah setiap bulannya?, katanya sambil mengisap rokok kereteknya. Dengan penghasilannya tersebut Pak Sali bisa membayar kontrak rumahnya di Depok dan membiayai 3 orang anaknya yang masih duduk di SD dan TK. ?Mudah-mudahan keadaan akan membaik ya pak?, ucapnya lemas, ?semoga anak-anak saya bisa hidup lebih baik?. Bagi Pak Sali dibulan puasa selalu membawa rejeki tambahan, maklum banyak keluarga menyelenggarakan buka puasa bersama dan selalu memberikan tambahan uang. ?Tapi kalau musim hujan, pekerjaan jadi susah. Sampahnyapun menjadi bau dan berat?, sambil berdiri dan mulai menarik gerobak sampahnya.
Semoga pemerintah memikirkan dan menyediakan pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh pemegang ijazah SMP. Janganlah generasi tamatan SMP yang akan datang senasib dengan Pak Sali. Semoga.
Selamat menuaikan ibadah puasa. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 2 September 2008

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register