PLAYSTATION
Category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-01 00:00:00
PLAYSTATION
Yang disebut zaman informasi sudah merambah kesemua pelosok dunia. Juga di tanah air kita. Perkembangannyapun sedemikian pesatnya, sehingga manusia selalu merasa ketinggalan. Siaran televisi sudah dapat dilihat oleh semua penduduk Indonesia, tetapi belum tentu dinikmati. Kadang-kadang hal-hal yang kita tidak senangipun muncul dilayar kaca, seolah-olah kita terpaksa melihatya. Itulah salh satu cirri globalisasi. Berbagai peralatan elektronika berkembang begitu cepat, harganyapun semakin hari terus menurun. Tetapi hampir setiap bulan keluar produk baru dengan teknlogi yang lebih canggih, sehingga kita seakan-akan harus memilikinya, mungkin mereka sudah merancang agar kita selalu membeli yang baru.
Peralatan elektronika juga memasuki dunia hiburan. Ponsel dilengkapi dengan berbagai fitur hiburan, seperti penyimpan musik dan film, videogame, serta kamera. Nada deringpun beragam, sampai pembicaraan teleponpun dijadikan nada dering. Selain CD untuk musik, juga DVD untuk film dan videogame, terus berkembang. Harganya yang murah sangat mempengaruhi peredaran komoditi ini. Disebabkan masih maraknya peredaran CD dan DVD bajakan sampai sekararang. Videogame terus berkembang, bukan saja digemari anak-anak, melainkan juga oleh remaja dan dewasa. Play stationpun terus berkembang dengan pesat dan harganyapun semakin terjangkau.
Sudah lama berkembang tempat menyewakan play station bagi mereka yang tidak memilikinya. Selain itu juga berkembang tempat dimana bisa bermain play staton ini, keberadaannya sampai dipelosok-pelosok desa atau kampung. Dua tahun yang lalu, Heru alias Kuru memulai usahan penyewaan play station ini. Dengan memanfaatkan sebagian ruang rumahnya, ia melengkapi usahanya dengan TV 21 inch, play station, stick serta berbagai macam game. Modal awalnya sebanyak 6 juta rupiah. Heru, lulusan SMU yang sekarang berusia 35 tahun, bersama isterinya mengelola usaha itu dalam ruangan 3 X 4 meter. Bagi mereka yang bermain ditempat itu dipungut sewa 4000 rupiah untuk satu jam. Kadang-kadang ada yang bermain sampai 5 jam, dan untuk itu Heru memberi bonus satu jam. Penghasilan bersihnya setiap bulan berkisar antara 200 sampai 300 ribu. ?Itulah hasil untuk mengembalikan modal, pak. Sudah dipotong untuk keperluan rumah?. Heru, yang sudah mempunyai seorang anak, menjelaskan usahanya itu.
Keberadaan tempat penyewaan play station ini, terkadang juga merepotkan orang tua dengan penghasilan pas-pasan. Anak-anak mereka mulai menggandrungi permainan tersebut. Ada juga yang sampai menggunakan uang sekolah hanya untuk bisa bemain. Selain itu tentu permainan yang mengasyikan ini menyita waktu. Bagi mereka yang memiliki peralatannya dirumah sering mengatur agar anak-anaknya hanya diperbolehkan bermain pada waktu-waktu tertentu. Akhir-akhir ini usaha Heru sering terganggu dengan adanya pemadaman listrik. ?Tarif listrik terus naik, nunggak sedikit terus diancam diputus. Kalau PLN yang salah seperti pemadaman ini, kita tidak diganti?, omelnya dengan nada serius.
?Sekarang ini mulai libur sekolah, saya melengkapi tambahan game? katanya sambil tersenyum. Mudah-mudahan Heru mendapat rejeki tambahan selama libur sekolah tahun ini. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 1 Juli 2008