ASINAN PENYEGAR BADAN

Category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-24 00:00:00

ASINAN PENYEGAR BADAN

Bagi warga Jakarta khususnya yang tinggal di sekitar Menteng dan Jakarta Pusat, kalau soal asinan yang paling dikenal adalah asinan pasar Boplo. Sampai sekarang masih bisa kita dapatkan diujung jalan Djaksa. Tetapi dengan transportasi yang makin membaik, membuat jarak Jakarta-Bogor semakin dekat, maka asinan Bogorpun mulai mengalahkan popularitas asinan Boplo. Dengan rasanya yang kecut dan manis, ditambah dengan kerupuk mie dan kacang tanah, panas dan terikknya siang hari menjadi tidak terasa.
Tetapi tidak semua warga Jakarta dan sekitarnya bisa menikmati asinan ditempat-tempat tertentu. Oleh karenanya, seperti halnya berbagai jenis makanan lain, maka berjualan asinan secara berkelilingpun merupakan usaha yang bisa menguntungkan. Seorang ayah dengan dua orang anak asal Sumedang, sejak tahun 2003 telah datang ke Jakarta dan berjualan asinan secara berkeliling. Ia tidak menjual tahu Sumedang yang merupakan ciri khas makanan Sumedang, ?kalau jualan tahu saya hanya jadi pedagang, pak. Tetapi jualan asinan saya harus menyiapkan semuanya sejak awal?, katanya dengan bangga. Mungkin kebetulan juga bagi Pepen, demikian namanya, bahwa ia tidak berjualan tahu, karena sekarang ini harga kacang kedele begitu mahalnya.
Berbagai peralatan yang diperlukan, termasuk gerobak, ia beli seharga 800 ribu rupiah dengan menggunakan uang simpanannya. Berbagai kebutuhan barang jualan, seperti macam-macam buah, kacang dan berbagai macam sayuran dan toge, ia beli setiap pagi hari, harganya rata-rata sekitar 80 sampai 100 ribu rupiah. Setiap hari ia keliling komplek perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan menjual asinan 4000 rupiah untuk satu porsinya, hasil penjualannya bisa mencapai 190 ribu rupiah. ?Tapi rata-rata saya bawa pulang 150 ribu, tapi kalau hari hujan dan rejeki kurang, paling-paling cukup buat makan saja?, ia menjelaskan dengan serius. Ia meninggalkan isteri dan kedua anaknya di Sumedang. Yang besar berusia 17 tahun dan belajar di STM, sedangkan yang kedua masih duduk di SD. ?Saya harus bekerja keras untuk mengongkosi hidup dan sekolah mereka, pak. Jangan seperti saya yang hanya tamat SD?, katanya sambil menunjuk tempat ia tinggal. Ia menempati kontrakan berukuran 3 X 3 meter dengan sewa 250 ribu perbulen. Dengan kerja keras Pepen setiap hari bisa menyisihkan uang antara 70 sampai 90 ribu rupiah. Setiap bulan ia pulang ke Sumedang untuk memberikan hasil kerjanya kepada isteri dan anak-anaknya. ?Paling lama saya tinggal disana hanya 3 hari?, dengan raut muka yang tidak berubah.
Pepen merasa heran, dalam cuaca yang panas dan kering seperti sekarang ini, mengapa omsetnya tetap rendah. Mungkin dia tidak sadar bahwa dengan kenaikan harga BBM dan bahan pangan, membuat daya beli masyarakat menurun. Tetapi ia masih berharap masih dapat membiayai sekolah anaknya sampai selesai. Semoga. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 24 Juni 2008

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register