First  < 8 9 10 11 12 >  Last

TERBANG BEBAS

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-29 00:00:00
TERBANG BEBAS

?Sejak kecil saya ingin bisa terbang. Bisa pergi kemanca negara. Eh, jadinya malah membuat layang-layang yang bisa terbang bebas?, kata Jusuf sambil ketawa kecil dan menentang mata saya. Ditemui didepan Mal Cijantung sambil menjajakan layang-layang hias bentuk kepala burung dan beberapa layang biasa. Karena cita-citanya ingin terbang, selesai SMP iapun melanjutkan pendidikan ke STM. ?Kalau sekolah SMA terus jadi insinyur nggak mampu pak, kasihan orang tua saya?, ucapnya tanpa perasaan menyesal. Begitulah gambaran keluarga kurang mampu yang terbentur akan biaya mahal untuk pendidikan. Siapkah mereka menghadapi persaingan global yang sedang kita hadapi?
Selesai pendidikan STM, Jusuf berupaya mencari pekerjaan disekitar Bogor, Depok dan Jakarta. Sampai akhirnya ia menyerah dan memikirkan apa yang akan dikerjakannya untuk mendapatkan penghasilan. Akhirnya tiga tahun yang lalu, tahun 2005, ia bersama Maman, seorang teman sekolah dan tetangga, memutuskan untuk membuat dan berjualan layang-layang hias. ?Akhirnya sama juga, ya pak, tidak jadi pilot tapi bisa menerbangkan layang-layang?, katanya sambil tertawa. Ia berjualan keliling disekitar Mal Cijantung dan dijalan Raya Bogor.
Dengan modal satu juta rupiah, nernagai peraltan seperti guntimg dan pisau serta keperluan lainnya seperti kain, kertas, benang, bamboo dan lem. Dengan ketrampilan yang mereka miliki, bisa dihasilkan 2 buah layangan hias dari bahan satu meter kain parasit. Layangan hias berbentuk kepala burung dijual dengan harga 20 ribu rupiah. Sedang leyangan biasa terbuat dari ketas dijual dengan harga seribu rupiah. ?Musim kemarau semacam sekaramg ini banyak angin? katanya sambil tersenyum, ?jadinya lumayan penghasilan kita?. Setiap hari bisa terjual sekitar lima sampai sepuluh layangan biasa dan 8 sampai 10 buah layangan hias. Setelah dipotong dengan uang untuk kebutuhan bahan dan makan, setiap hari mereka bisa mendapat penghasilan bersih antara 60 sampai 100 ribu rupiah. Hasil bersih tersebut setiap hari mereka bagi rata. Mereka akan terus berjualan layang-layang sampai ada pekerjaan lain yang lebih baik dan sesuai dengan pendidikan mereka. Kapan? Entahlah.
Dengan umurnya yang sudah menginjak kepala tiga, Jusuf masih bujangan. ?Bagaimana mau berkeluarga pak. Bukan hanya BBM dan listrik yang harganya naik. Lihat saja harga-harga makanan dan angkutan sekarang ini?, ucapnya serius. ?Sudah banyak koruptor yang ditangkap, koq hidup ini masih susah juga?, katanya dengan mata melotot. ?Sebetulnya yang bikin susash hidup kita itu siapa sih pak. Apa para wakil rakyat yang ikut jadi koruptor, atau pemerintah yang tak becus ngurus kita?, katanya sambil terus pergi. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 29 Juli 2008


BEBAN BERAT SEPATU

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-22 00:00:00
BEBAN BERAT SEPATU

Mereka tinggal disebuah rumah kontrakan, dipinggiran kota Depok, dengan harga sewa 350 ribu setiap bulan. Timin pemuda asal Purwokerto, bersama istrinya dan kedua anaknya, beberapa tahun yang lalu datang ke Jakarta dengan harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Akhirnya ia memutuskan untuk berdagang alas kaki, baik sepatu maupun sandal. Lima tahun yang lalu ia mulai usahanya dengan menyewa kios dengan harga sewa 300 ribu rupiah perbulan. Kemudian melengkapi kiosnya dengan berbagai rak dan rak etalase dari kaca, meja dan kursi serta peralatan lainnya. Untuk itu ia harus mengeluarkan uang sebanyak 3 juta rupiah.
?Saya ingin anak-anak bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik pak?, katanya dengan jujur. Timin sendiri lulusan SMP, dan di kiosnya ia dibantu oleh seorang anak berasal dari desanya yang juga tamatan SMP. ?Kalau hanya memiliki ijazah SMP, saya takut nasib anak-anak saya paling tinggi seperti saya?, raut mukanya memperlihatkan penyesalan yang mendalam. ?Pokoknya mereka harus lebih baik dari saya?.
Di kiosnya yang berukuran 3 X 3 meter persegi ia menyusun bermacam model sepatu, sandal, baik untuk pria maupun wanita. Ia menjual juga perangkat lainnya seperti kaos kaki dan tali sepatu. Sudah beberapa lama pembeli di kiosnya sangat sepi, sehingga penghasilannya menurun dan hanya cukup untuk membayar karyawan dan makan saja. ?Tahun ini sih kebangeten pak. Sepi sekali. Kalau dengar di TV dan baca koran, katanya akibat globalisasi. Apa benar begiti sih?, Wajahnya penuh dengan tanda tanya, mungkin iapun tidak mengerti kaitan antara harga sepatu dengan globalisasi. Stok dagangannya sangat minim, karena keterbatasab modal. Untk memulai usahanya ia mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah untuk membeli berbagai macam sepatu, sandal dan kaos kaki. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan dana yang besar untuk membantu usaha mikro, tetapi Timin sama sekali tidak bisa ikut menikmatinya. Yang diperlukan oleh Timin-Timin bukan hanya informasi mengenai dana murah, tetapi juga jaminan dan penyuluhan.
Rata-rata setiap bulan hasil dagangannya sebesar 1,2 sampai 1,5 juta. Setelah dipotong modal, gaji karyawan sebesar 350 rupiah, dan sewa kios, penghasilan bersihnya antara 700 ribu sampai 900 ribu rupiah. ?Saya tidak banyak mengambil keuntungan pak?, katannya datar. Untuk kaos kaki ia hanya mengambil keuntungan 3 ribu rupiah, untuk sandal 5 ribu dan sepatu 10 ribu rupiah.
?Sekarang sih sedang sepi,pak. Insya Allah bulan depan mulai sekolah?. Setiap permulaan tahun pengajaran omset dan keuntungannya bisa sampai dua kali.
Bercermn dari panalaman hidupnya, ia memilih untuk menyekolahkan anak pertamanya ke STM, dan sekarang sudah tahun terakhir. Sedang anak keduanya baru berumur 9 tahun, dan masih duduk di SD. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 22 Juli 2008


BUBUR KACANG HIJAU

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-15 00:00:00
BUBUR KACANG HIJAU

Pak Rame tidak mau menyebutkan umur dan asalnya. Tapi diperkirakan umurnya sudah diatas limapuluh tahun. Pengakuannya tidak tamat SD dan sekarang mempunyai tiga orang anak dan 3 cucu. Anak pertama dan yang kedua sudah berkeluarga, sedang anak ketiga, walaupun sudah lama tamat SMP, sampai hari ini masih menganggur. ?Saya sih pasrah saja pak. Habis mau apalagi. Omongan penggede jauh dari kenyataan bagi kita-kita?, katanya dengan sorot mata yang merah dan tajam. Sayapun memahami apa yang dimaksud dengan kita-kita. Beserta istrinya ia menempati kontrakan 3 X 3 meter dengan sewa 200 ribu rupiah sebulan. Sejak 3 tahun yang lalu ia mulai berjualan bubur kacang hijau secara berkeliling, dan semua persiapannya dilaksanakan dirumah bersama istrinya.
Saat itu dengan uang satu juta rupiah, pak Rame membeli gerobak roda tiga, mangkok dan sendok, serta perlengkapan lain, untuk memulai usahanya. Mereka tinggal di desa Sukatani ? Depok, dan berdagangannyapun hanya disekitar perumahan dan perkampungan disana. ?Kalau seperti hari Minggu begini lumayan pak. Pagi-pagi sudah habis dan bisa pulang?, katanya sambil tersenyum memperhatikan mereka yang sedang berolah raga berjalan kaki. Tetapi ia mengeluh karena hari-hari yang lain terasa sepi. ?Mungkin semuanya pada repot seperti saya, ya pak?. Saya hanya terdiam, karena tidak tahu bagaimana jadinya perekonomian kita kalau harga minyak mentah terus naik.
Untuk belanja kacang hijau, ketan hitam dan santan, pak Rame mengeluarkan uang antara 80 sampai 100 ribu setiap hari. Satu porsi atau mangkok bubur kacang hijau ia jual dengan harga 3000 rupiah. Terkadang ada yang minta dibungkus dengan plastik atau membawa tempatnya sendiri, dan untuk itu dihargai antara 2000 sampai 2500 rupiah. Kalau sedang hari baik seperti hari Minggu atau libur, ia bisa membawa uang pulang sekitar 220 ribu rupiah. ?Inikan sedang libur anak-anak. Jadi lumayan juga pak?, mukanya tampak lebih muda. Setelah menyisihkan uang untuk belanja kacang, ketan hitam, santan dan lainnya, ia dapat menyerahkan kepada istrinya antara 80 sampai 100 ribu setiap harinya.
Peluang berjualan makanan selalu menjadi tumpuan bagi mereka yang tidak mempunyai keahlian apapaun. Pasar dan pembeli kelihatannya masih terbuka lebar, entah sampai kapan. Bukan hanya penjual makanan keliling dan PKL saja, melainkan restoran kelas menengah dan elitpun terus tumbuh. Pusat belanja, mal, supermarket terus dibangun. Kantor pemerintahpun masih terus dibangun. Apa sebetulnya yang terjadi dengan perekonomian kita? Tetapi bagi masyarakat seperti pak Rame, kenyataannya harga-harga barang dipasar tradisional dan mikromarket terus meningkat. Seorang menteri mengatakan bahwa ia ingin kalau harga-harga bisa turun, tetapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Apa memang begitu? (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 15 Juli 2008


TIDUR NYENYAK

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-08 00:00:00
TIDUR NYENYAK

Tidak ada kecualinya semua makhluk hidup perlu tidur, tidur nyenyak. Itulah ritmus kehidupan. Kurang tidur, bukan hanya mempengaruhi fisik kita, tetapi juga fikiran dan suasana hati kita terganggu. Pendahulu kita tidur hanya beralaskan tanah atau batu, kemudian kita mengenal balai-balai dari kayu atau bambu. Manusiapun terus mencari jalan agar dapat tidur lebih baik dan nyenyak. Semula kita hanya memanfaatkan tikar, lalu dikenal kasur, Kasurpun terus berkembang mulai memakai kapuk, karet busa, per atau spring bed, dan sekarang memakai lateks dari karet alam.
Dinegara kita tercinta ini, semua alas tidur tersebut masih dipergunakan. Ada saudara-saudara kita yang tidak tersentuh oleh kemajuan, mereka tidak menikmati modernisasi. Mengurangi perbedaan kualitas kehidupan ini yang terus harus diperjuangkan oleh kita semua, dan terutama oleh para pemimpin. Masih ingatkah kita bahwa Ampera itu singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat? Dan bukan hanya sekedar nama jembatan atau pasar.
Kembali kepersoalan tidur. Pemakaian kapuk untuk pengisi kasur dan bantal masih meluas di masyarakat kita. Pemakaiannya masih secara alami seperti dulu. Sebenarnya banyak penelitian di negara maju mengenai kelunggulan kapuk dari bahan-bahan lainnya. Masih luasnya pemakaian kapuk ini terlihat dari masih banyaknya penjualan kasur dan bantal kapuk terutama di kota-kota kecil atau didaerah pinggiran dan pedalaman kota besar. Dari waktu kewaktu bantal atau kasur kapuk harus dijemur, karena kapuk menyerap air. Kalaupun kainnya masih baik, sering juga kapuk isinya harus diganti. Usaha servis kasur dan bantal ini masih banyak dikerjakan, terutama melayani pemakai di daerah pedesaan dan perkampungan.
Usaha inilah yang dilakukan oleh Udik, asal Sukabumi, yang sejak tahun 2000 keliling disekitar Depok menawarkan jasannya untuk mengisi bantal dan kasur. Hanya sempat mengenyam pendidikan SLTP, ia tidak dapat bekerja lain. ?Saya pasrah saja, yang perlu saya berusaha dan halal?, kata pemuda berusia 35 tahun yang telah beristeri yang sedang mengandung. Dari kamar kontrakannya seluas 2 X 3 meter, yang disewa 200 ribu setiap bulan, ia berkeliling sekitar perkampungan di Depok dengan mempergunakan sepeda. Tahun 2000 ia mengeluarkan uang 400 ribu rupiah untuk membeli sepeda dan berbagai peralatan menjahit. Sedang untuk modal kerjanya sebesar 200 ribu rupiah untuk membeli kain kasur dan 5 kg kapuk. ?Sekarang semua naik, pak. Kapuk naik dari 25 ribu menjadi 30 ribu perkilo. Kain kasur juga demikian yang bagus sekarang 80 ribu, sebelumnya 70 ribu?, sambil terus mengeluh dan menyinggung harga-harga lainnya. Setiap mengisi kasut ia mendapatkan keuntungan sekitar 50 ribu rupiah. Rata-rata sebulan masih bisa berpenghasilan sekitar 350 ribu. ?Sekarang sih lagi sepi, pak. Tapi mencari pekerjaan lain rasanya nggak mungkin?. Udik-Udik lain harus berjuang dan berkreasi sendiri mencari pekerjaan untuk meneruskan hidupnya. Apakah ini juga ekonomi kreatif? (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 8 Juli 2008


JAUHKAN OBAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-17 00:00:00
JAUHKAN OBAT
Banyak warga Wonogiri yang merantau ke Jakarta dan sekitarnya. Mereka pekerja dan pengusaha yang ulet, meninggalkan sanak saudara dikampung termasuk anak-anak mereka untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak di Jakarta. Selain untuk mencukupi biaya hidup, melainkan juga untuk membiayai sekolah anak-anak mereka agar bisa hidup lebih baik. Banyak sekali sudah diungkap dalam rubrik ini mengenai kegiatan para pelaku ekonomi rakyat ini. Mereka tidak mengharapkan mendapatkan BLT, tetapi yang mereka harapkan bagaimana mendapatkan biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan yang lebih murah dan dapat diandalkan.
Itulah kehidupan yang dijalani oleh mbak Juli bersama suaminya. Dengan berbekal ijazah SLTP, perempuan berumur 34 tahun ini, sejak tahun 2001 berjualan jamu keliling. Setiap pagi mulai pukul 7, ia sudah berkeliling dengan gendongannya yang khas dengan berbagai jenis jamu dalam botol, dalam bentuk sachet dan telur. Sambil menjijing ember yang berisi air dan gelas minum. Pagi hari biasanya dilakukannya sampai pukul 11, dan siang mulai lagi pukul 2 sampai pul lima sore hari. ?Saya pulang siang hari untuk istirahat sebentar, dan menambah dagangan?, katanya santai. Suaminya juga berprofesi sejenis yaitu penjual mie ayam keliling. ?Kita berdua harus bekerja. Kalau tidak penghasilan kita pas-pasan saja?, sambil mengkerutkan dahinya. Mereka terpaksa meninggalkan kedua anaknya didesa, yang besar duduk di SLTP, sedangkan adiknya masih di SD. ?Mereka lebih pintar dari saya, pak. Mudah-mudahan saya dan bapaknya bisa terus membiayai mereka?, ujarnya datar.
Untuk kebutuhan dagangannya mbak Juli setiap hari megeluarkan uang 20 sampai 30 ribu rupiah. Keuntungan bersihnya setiap hari sekitar 30 ribu rupiah. ?Saya tidak mengambil untung banyak,pak, yang perlu punya langganan?. Jamu pahit dan jamu kunir asam haganya 1000 rupiah, sedangkan jamu pegel linu memakai telur 6000 rupiah. Jamu dalam sachet dibeli dengan harga 2000 rupiah, dan dijual 2500. ?Bagaimana sih pak, koq harga-harga terus naik, telur sebutir saja sekarang sudah 2000 rupiah. Belum yang lain-lain?, mukanya kelihatan kesal menghadapi gejolak harga-harga sekarang ini. Obat-obat begitu mahalnya sehingga harus dijauhi pemakaiannya.
?Modal saya hanya kemauan, pak. Sedikit uang untuk membeli bakul dan botol-botol. Kalau tidak salah habis 200 ribu rupiah?. Mbak Juli bisanya berjualan disekitar lokasi proyek pembangunan gedung. Katanya selalu banyak pembelinya. Tetapi rupanya pekerja bangunan sama dengan beberapa anggota DPR yang tergiur dengan muka manis dan genit. ?Yang menggoda ada saja, pak. Tetaoi saya harus bisa tersenyum, perlu langganan?, dengan senyum manisnya. Terkadang ada hari-hari yang kurang menyenangkan, kalau para pembeli hanya membeli jamu pahitan atau kunyit asam. ?Kapan sih pak, kehidupan kita akan lebih baik?? Mudah-mudahan apa yang dikatakan SBY ?Indonesia Bisa? menjadi kenyataan bagi mbak Juli-mbak Juli. Jangan hanya sekedar menjadi slogan-slogan lainnya yang bertebaran sekarang ini menjelang Pilkada dan Pemilu. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 17 Juni 2008


SATE KLATAK

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-10 00:00:00
SATE KLATAK

Masih cerita dari Yogya. Seperti biasa kalau berada di Yogya, kami mencari makanan khas. Selain gudeg, mie Jawa dan soto, saya sering mendengar adanya sate yang khas di Yogya, yaitu sate klatak. Setelah mencari informasi, akhirnya saya bersama isteri merencanakan malam itu untuk makan sate klatak. ?Bukanya baru jam lima pa De?, ucap keponakan saya yang tinggal di Yogya.
Kira-kira pukul 6.30 sore kami menuju Desa Wonokromo arah ke Imogiri. Jalanpun tampak lengang, dan pukul 6.30 di Yogya terasa sudah gelap dibandingkan dengan di Jakarta. Akhirnya kita sampai di depan pasar Jejeran. ?Disini tempatnya pa De, didalam?. Saya melihat beberapa mobil sedan dan minibus parkir didepan pasar. Ada yang dengan nopol AD, AE, dan B, tetapi kabanyakan memakai nopol AB. Memasuki pelataran pasar tradisional yang sudah tutup keadaannya sangat gelap. Dibeberapa tempat kelihatan cahaya redup dari lampu minyak tanah atau dari bara areng. ?Ini tempatnya??, tanya istri saya, ? saya nggak lihat apa-apa?. Memang keadaannya sangat gelap, membutuhkan beberapa waktu sampai mata kita bisa menyesuaikannya. ?Yang sebelah kanan ini langganan saya?, keponakan saya menjelaskan. Dengan meraba-raba lantai dengan kaki kitapun menuju tempat duduk dan dibukakan tikar dipelataran yang disemen. Mungkin kalau siang hari berjejal disitu penjual sayuran atau ikan asin. Dikejauhan ada lampu listrik menerangi beberapa bagian dari pasar, sehingga bisa terlihat sederetan lemari kayu terkunci dan juntaian tali rapiah dan batang-batang bambu. Kita pun memesan sate klatak polos, sate klatak dengan bumbu kecap, tongseng dan tengkleng. Minuman hanya ada dua jenis, teh panas manis dan jeruk panas manis, dengan memakai gula batu sebagai pemanis.
Pak Zabid, telah memulai usaha sate klatak ini sejak tahun 1990. Semula sepeninggal ayahnya pada tahun 1984 ia memilih menjadi kusir andong. Baru setelah anaknya besar ia memutuskan meneruskan tradisi ayahnya dengan dibantu oleh seorang anaknya. Sate klatak mempunyai keunikan, yaitu sate kambing dengan potongan daging yang besar, menyerupai kebab, yang menggunakan jeruji sepeda untuk tusuknya. Bumbunya sangat sederhana hanya garam dan bawang putih. Kemudian dibakar seperti bisanya sate. Satu porsi terdiri dari dua tusuk harganya 8 ribu rupiah, komplit dengan nasi dan minuman menjadi 10 ribu, dan disajikan dengan kuah gule. Ada juga yang pesan dengan bumu kecap. Tongseng, gule dan tengkleng harganyapun sama.
Setiap hari pak Zabid berjualan sampai pukul 1 dini hari, rata-rata menghabiskan satu ekor kambing. Penghasilannya sekitar 600 ribu setiap malam, dan disisihkan untuk belanja kambing dan lainnya sebanyak 450 ribu. ?Waktu gempa tahun 2006, pasar ini roboh?, ceritanya, ?hari-hari itu saya kadang-kadang menjual sampai 3 kambing, habis banyak orang?.
Tidak jelas darimana asal kata klatak, ada yang mengatakan suara garam terbakar, jeruji besi yang jatuh dimeja, atau buah melinjo yang disebut klatak. Wallahualam. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 10 Juni 2008


BATIK DAN BLT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-03 00:00:00
BATIK DAN BLT

Pertengahan Mei yang lalu saya menyampaikan makalah pada Seminar mengenai batik yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kesempatan berharga untuk berjumpa dengan berbagai pihak yang menggeluti masalah batik di tanah air. Berbagai yayasan, pengusaha, perancang, seniman, dan pengrajin batik, hadir pada seminar itu, termasuk pembicara dari luar negeri.
Batik yang merupakan kebanggan bangsa kita, telah menemukan kembali para penggemarnya. Walaupun kasus diakuinya batik oleh Malaysia menyelubungi kita, disayangkan bangsa ini tidak dapat menyatukan langkah menghadapinya, termasuk menghadapi kasus-kasus ?pencurian? hak-hak kita atas kebudayaan bangsa lainnya.
Batik telah mendapatkan tempat diseluruh lapisan masyarakat kita. Didusun-dusun sampai dikota-kota besar. Dipakai oleh para ibu yang bekerja disawah sampai oleh Ibu Negara. Batik dipakai juga sebagai seragam sekolah, pegawai negeri, organisasi, juga dipakai pada pertemuan resmi kenegaraan.
Bukan saatnya bagi kita memperdebatkan ?batik? printing, cap atau tulis. Biarkan masyarakat memilihnya sendiri dengan kemampuan yang dimilikinya, walaupun hanya dapat memakai tekstil dengan motif batik. Harganyapun bervariasi dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Itulah kelebihan batik bagi kita, terjangkau oleh semua lapisan. Yang penting sekarang ini, bagaimana kita dapat menghargai batik dan agar dunia mengakui batik selalu dikaitkan dengan Indonesia.
Bagaimanakah penghidupan para pengrajin batik didesa-desa atupun dipinggiran kota. Merekalah yang betul-betul melakukan kegiatan untuk mempertahankan karya batik ini. Kebanyakan mereka mendapatkan penghasilan jauh dibawah upah minimum, dibeberapa tempat hanya mendapatkan 5 ribu rupiah sehari, malah ada yang hanya 1.500. Walaupun mereka bisa didaftar sebagai penduduk miskin yang bisa mendapatkan BLT, tetapi mereka bukanlah penduduk miskin ketrampilan. Siapa yang memperhatikan mereka? Itulah penghargaan kita kepada pelaku budaya? Apa diberi BLT saja? Lain halnya dengan para pengrajin pengusaha batik yang berlaku sebagai pemodal, kehidupan mereka memang lebih baik, tetapi dibayangi oleh sistem perdagangan yang dikuasai pengepul dan toko-toko yang memberlakukan sistem konsinyasi. Sistem inilah yang menyebabkan para pengrajin pengusaha batik sering kekurangan modal. Bali dan Pasar Tanah Abang, yang sering disebut ?Jalur Sutera?, bagi pengusaha batik kecil merupakan pasar yang besar. Bom Bali I tahun 2002 dan kebakaran Pasar Tanah Abang tahun 2003, telah melumpuhkan sebagian pasar mereka.
Pasar batik seperi Pasar Klewer di Solo, atau Pasar Bringharjo di Yogya, perlu terus dikembangkan dan dibangun dikota-kota lainnya. Keberadaannya sangat membantu, dan menjadi ujung tombak untuk mencapai konsumen. Kios-kios batik di Pasar Bringharjo misalnya sudah tidak murah lagi, membutukan dana puluhan juta atau ratusan untuk bisa memiliki kios berukuran 2X3 meter. Mereka membutuhkan omset puluhan atau ratusan juta rupiah untuk bisa menutup modal yang telah dikeluarkannya. Mereka mendapatkan batik atau batik garmen dari pengusaha batik, baik secara di beli atau sebagai barang titipan.
Janganlah kita hanya memperhatikan batik-batik wah, yang harganya puluhan juta. Justru batik-batik puluhan ribu rupiah dengan pengrajinnya itulah, yang memerlukan perhatian lebih serius. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 3 Juni 2008


HUJAN BAWA BERKAH

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-27 00:00:00
HUJAN BAWA BERKAH

Kita semua ikut berduka atas meninggalnya Sophan Sofian, yang mengalami kecelakaan sewaktu mengendarai sepeda motor di Jawa Tengah. Semoga arwahnya diterima disisi Nya. Amien.
Jalan rusak dan berlubang memang sering membawa petaka bagi pengendara sepeda motor atau pengguna jalan lainnya. Bukan hanya Sophan Sofian yang mengalaminya, tetapi benyak lagi masyarakat yang menjadi korban keganasan kerusakan jalan ini. Semoga apa yang baru saja terjadi pada Sophan Sofian, menggugah dan menyadarkan para pengelola jalan agar segera memperbaiki keadaan ini. Ditambah lagi kalau hujan turun, lubang-lubang telah berubah menjadi kubangan, keselakaanpun bertambah, baik dari jumlah maupun tingkatnya.
Tetapi bagi Trisno, pemuda asal Gunung Kidul, lubang dan hujan membawa berkah dan rejeki tersendiri. Sudah sejak 2 tahun, pemuda yang sekarang berumur 38 tahun ini, memulai usahanya sebagai pencuci sepeda motor. Dengan modal sebanyak 6 juta rupiah, ia membeli berbagai peralatan, seperti mesin diesel, alat cuci dan penyemprot komplit, serta bangku duduk yang panjang. Setibanya di Jakarta, dengan meninggalkan isteri dan dua orang anaknya di desa, iapun mengkontrak tempat usaha yang juga dipakai sebagai tempat tinggalnya dengan sewa 300 ribu perbulan. Dengan dibantu oleh seorang karyawannya yang lulusan SD, setiap hari kerja ia mengerjakan 10 sampai 15 sepeda motor. Ongkos mencuci sebuah sepeda motor adalah 6 ribu rupiah. Selain pekerjaan utamanya mencuci sepeda motor, iapun menjual minuman Teh Botol dengan harga 3000 rupiah, sedangkan ia membelinya dengan harga 1.300 rupiah, sedangkan untuk satu gelas kopi pelanggan harus merogoh kantong 2000 rupiah. Dengan usahanya ini, biasanya dihari kerja I Senin-Jumat, penghasilannya antara 100 dan 150 ribu rupiah. Dari setiap penghasilan untuk sebuah sepeda motor, ia menyisihkan 5 ribu rupiah. Uang itu dikumpulkan untuk dapat membeli berbagai material, seperti sabun cuci dan samphoo, untuk kebutuhan besok harinya. Sabtu dan Minggu merupakan hari keberuntungan, yang mencucikan sepeda motorpun bertambah, sehingga penghasilannyapun naik dan mencapai 175 ribu rupiah. Karyawannya untuk setiiap sepeda motor yang diselesaikannya mendapat upah sebesar 2000 rupiah, jadi setiap hari kerja mendapat sekitar 25 rubu, sedangkan hari Sabtu dan Minggu mendapatkan upah sampai 35 ribu rupiah. Sedangkan bagi Trisno, uang yang dikumpulkan, yang rata-rata mencapai 2,5 juta, dibawa pulang setiap bulan untuk diserahkan kepada isterinya. ?Saya kawin pada usia muda, pak?, katanya sambil terus bekerja, ?jadi anak saya yang paling tua umurnya sudah 18 tahun, dan yang kedua 13 tahun?. Jalan berlubang dan hujan yang masih terus mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya, telah membawa tambahan rezeki dan berkah bagi Trisno. ?Sepeda motor terus tambah, pak. Habis gampang mendapatkan kredit untuk membeli sepeda motor, pekerjaan sayapun bertambah?, sambil memasukan lipatran uang kedalam sakunya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 27 Mei 2008


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
KOMIDI PUTAR



Taman hiburan Ancol dengan berbagai atraksinya, bukan lagi monopoli tempat hiburan di Jakarta. Berbagai tempat rekreasi besar dan mewah, seperti Water Bom sudah banyak disekitar Jakarta. Untuk masuk ketempat rekreasi semacam itu, tarif yang dikenakan, jauh melebihi penghasilan harian para pelaku ekonomi rakyat. Oleh karena itu berbagai macam hiburan keliling di pinggiran kota, selalu dikerumuni anak-anak. Odong-odong, sarimin, komidi putar dan yang lainnya masih merupakan usaha yang dapat memberikan penghasilan untuk bisa melanjutkan hidup.

Demikian juga yang dilakukan oleh Mi., Ma. dan Ya., yang bertetangga di Indramayu, sejak tahun 2001, mereka menyelenggarakan komidi putar keliling. Dengan bermodalkan uang sebesar 3 juta rupiah, mereka membuat peralatan komidi putar mini yang horisontal, dan melengkapinya dengan tape recorder yang memakai accu, untuk memutar lagu-lagu yang digemari. Tergantung dari ramainya anak-anak yang berminat dengan hiburan tersebut, mereka menetap disatu lokasi antara 2 sampai 5 hari. Setiap hari mereka harus membayar sewa lahan untuk menempatkan peralatannya sekitar 20 ribu rupiah. Komidi putar mini yang mereka miliki berdiameter 5 meter, dengan 10 tempat duduk dengan bermacam-macam bentuk.

Berangkat dari rumah yang dikontrak dengan harga sewa 300 ribu rupiah per bulan, mereka mulai bekerja pukul 8 pagi dan baru kembali sekitar pukul 9 malam. Anak-anak pemakai komidi putarnya hanya dipungut biaya seribu rupiah. Dari kerja kerasnya mereka bisa mendapatkan pendapatan antara 120 sampai 150 ribu rupiah setiap harinya. Dari penghasilan tersebut harus disisihkan 20 sampai 40 ribu untuk keperluan mengisi accu dan keperluan makan dan minum hari berikutnya. “Lumayan pak, bisa meyisihkan 30 ribuan setiap hari”, kata Mi sambil terus menghitung uang penghasilannya untuk hari itu.

Setiap bulan mereka bersama-sama pulang kekampungnya untuk membawa hasil pekerjaannya untuk istri dan anak-anak mereka. Mi mempunyai 3 orang anak, Ma dua orang, sedangkan Ya baru mempunyai 1 orang anak. Bisanya mereka tinggal di kampung paling lama 5 hari.

Umur mereka sekitar 40 tahun, hanya Ma. yang berpendidikan SMP, sedangkan dua lainnya berpendidikan SD. “kalau pekerjaannya begini, tidak ada bedanya tamat SD atau SMP”, jelas Mi. sambil melirik kedua kawannya yang mengangguk tanda menyetujuinya. Selain pendidikan, bagi mereka yang lebih penting lagi adalah pekerjaan. Itulah yang dirisaukan juga oleh mereka dalam mendidik anak-anak mereka. “Saya sih kalau mampu dan diberi rejeki inginnya anak-anak bisa jadi sarjana, pak. Supaya penghasilannya bagus, tidak tanggung-tanggung seperti tamatan SMP atau SMA”, kata Ya. menyambung penjelasan kawannya.

Bagi mereka musim liburan yang paling membahagiakan, “Banyak anak-anak yang naik, pak. Sekarang ini sedang sepi”. Apalagi sekarang ini sudah banyak saingan, seperti komidi putar vertikal, yang lebih digemari”, lanjut Ya. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 13 Mei 2008





EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
SARIMIN TERUS BERAKSI



Bulan Nopember 2007 yang lalu, masyarakat Jakarta, menikmati pertunjukan “Sarimin”, monolognya Si Butet Yogya di Taman Ismail Marzuki, yang sebelumnya telah menghibur kota kelahirannya Yogyakarta. Pertunjukan berupa parodi politik ini, khususnya yang menyangkut carut marutnya hukum di negeri tercinta ini, kemudian mendapat larangan pentas di Surabaya, walaupun sebelumnya sempat pentas di kota pahlawan tersebut pada bulan Desember. Berbagai pertunjukan, baik pentas maupun tv, dan tulisan parodi politik, dinegara kita ini, masih sukar diterima oleh para elit politik atau penguasa. Sering diterima sebagai penghinaan atau keritik ngawur. Sarimin adalah nama yang sudah melekat pada pelaku utama pertunjukan topeng monyet, yaitu seekor monyet. Sarimin tunduk kepada perintah bos-nya, dan permainan diatur dan disesuaikan dengan jumlah uang yang diterima atau dijanjikan.

Pertunjukan topeng monyet keliling ini masih banyak dijumpai di sekitar Jakarta. Mereka menelusuri jalan-jalan sempit, sumpek dan padat, atau beraksi disekitar pasar tradisional dan pusat keramaian seperti terminal bis dan angkot. Merekapun sering berkeliling di komplek perumahan atau disekitar gedung sekolah SD. Dalam keadaan ekonomi seperti sekarang ini, dimana harga serba mahal, dan langkanya lapangan kerja, pekerjaan apapun akan dilakukan untuk dapat mempertahankan hidup.

Demikianlah yang dilakukan oleh Koko bersama 2 orang kawan sekampungnya. Sejak empat tahun yang lalu, mencari penghasilan dari topeng monyet. Dengan modal sekitar 500 ribu rupiah, ketiga pemuda jebolan SMP dan SD ini, membeli berbagai peralatan seperti gamelan, drum, gendang, serta berbagai peralatan mainan. Monyet dibeli dikampung mereka dengan harga 50.000, yang kemudian dilatih selama 3 bulan.

Mereka menempati rumah kontrakan dengan sewa 250 ribu per bulannya. Setiap hari, dengan membawa uang 25 ribu untuk makan dan rokok, mulai dari pagi hari mereka menyusuri jalan-jalan sempit, mengitari komplek perumahan, dan nongkrong di terminal atau pasar tradisional. Kembali kerumah sekitar pukul 6 malam.

Sekali tanggap mereka dibayar antara 15 sampai 20 ribu rupiah, sedangkan kalau saweran, masing-masing membayar 5 sampai 10 ribu rupiah. “Sekarang ini sedang sepi pak”, kata Koko yang ditemui disekitar Pasar Cimanggis. Banyaknya mainan murah buatan Cina, dan adanya tempat-tempat Play Station sampai didesa-desa, menyebabkan penghasilan mereka berkurang. Pendapatan setiap hari dibagi tiga, setelah dikurangi untuk uang jalan besok, serta uang untuk sewa dan makan. Ketiga pemuda yang berumur sekitar 25 tahun dan masih lajang tersebut, masih bisa menyisihkan penerimaan bersih setiap harinya sampai 25 ribu rupiah.

“Kalau ditanggap hasilnya lumayan pak. Kadang-kadang diberi makan lagi. Tetapi kalau lagi saweran, mereka biasanya minta macam-macam, tapi sawerannya pelit. Bikin dongkol, pak”, ungkap Koko dengan diiringi tawa teman-temannya.

Kapankah topeng-topeng monyet dan Sarimin-Sarimin di dunia politik kita akan berhenti beraksi? (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 6 April 2008





First  < 8 9 10 11 12 >  Last
Category


home  |  rss  |  login  |  Register