First < 9 10 11 12 13 > Last
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
SAKAZAKII BAWA SIAL
Pada bulan Februari 2008 yang lalu, ibu-ibu dibuat kebingungan dengan pengumuman Tim Peneliti salah satu perguruan tinggi tentang ditemukannya bakteri Sakazakii dibeberapa susu formula. Masyarakat banyak mempertanyakan mengenai Sakazakii tersebut, apakah bakteri itu berasal dari Jepang. Tidak adanya penjelasan dari pemerintah, ibu-ibupun mulai menghindari pemberian susu formula untuk bayinya. Pemerintahpun terkesan diam dan membisu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah saling tuding diantara berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi. Sepertinya sudah membudaya. Rupanya kepentingan rakyat bukan lagi menjadi prioritas mereka, melainkan yang utama adalah kepentingan instansi atau pribadi. Sungguh satu prilaku yang menyedihkan. Di Amerika kejadian mengenai keberadaan bakteri Sakazakii didalam susu formula pernah juga terjadi ditahun 2002. Akibatnya beberapa jenis susu formula pada waktu itu telah ditarik dari pasar negara paman Sam.
Implikasi masalah pencemaran bakteri Salazakii dalam susu formula, bukan hanya mempengaruhi pasar susu formula dan kebingungan para ibu, melainka juga mempengaruhi penjualan susu murni. Masalahnya pemerintah tidak pernah memberikan penjelasan yang tegas mengenai kasus tersebut. Inilah yang dialami oleh saudara Dodo, asal Klaten, yang sejak tahun 2002 berjualan susu murni dengan berkeliling. “Gara-gara Sakazakii yang beli susu berkurang, tapi untuk sekarang mulai membaik, walaupun belum pulih seperti semula”, sambil mengerutkan dahinya. Dengan beberapa rekannya seprofesi, Dodo yang kini berusia 43 tahun, berjualan susu murni dengan berkeliling. Ia bekerja untuk seorang agen bersama 10 orang rekannya, yang rata-rata tamatan SD atau SLTP. Sepeda becak, box serta peralatan lainnya, disediakan oleh agen. Demikian juga barang dagangan didapat dari agen, susu dengan aneka rasa yang didapat dari agen 1500 rupiah, ia jual 2000 rupiah. Sedangkan susu murni tawar, untuk botol setengah liter ia jual dengan harga antara 3500 dan 4000 rupiah, sedangkan harga agennya 3000 rupiah.
“Modalnya hampir tidak ada, pak. Tekad, tenaga dan kepercayaan hanya itu modalnya”, iapun menjelaskan. Pak Dodo bekerja setiap harinya 12 jam, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore. Omsetnya satu hari rata-rata 120 sampai 140 ribu riah, jadi setelah dipakai untuk makan ia membawa uang pulang sebesar 25 sampai 40 ribu. “Harus dipas-paskan untuk keperluan keluarga”, dan kemudian Pak Dodo menceritakan mengenai keluarganya, dengan 5 anak dan seorang cucu. “Yang tinggal dengan saya tinggal 3 orang yang masih sekolah”.
Kemudian iapun mengeluhkan mengenai harga keperluan sehari-hari yang terus tambah mahal. “Disuruh pindah pakai LPG, LPG menjadi mahal dan menghilang. Musim panen harga gabah di petani anjlok, lucunya harga di pasar naik. Rakyat seperti saya ini jadi bingung pak”, sambil menunduk. “Siapa sih yang pro rakyat”. Sayapun terdiam, sambil mengusap dada, dan semoga penyelesainnya tidak harus menunggu sampai 2009. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 8 April 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
KETOPRAK YANG DIMAKAN
Hari Sabtu pagi, setelah sarapan saya bersama tetangga membersihkan halaman dan jalan desa. Maklumlah hidup disebuah desa pinggiran Jakarta, Depok dan Bogor, gotong royong masih menjadi kebiasaan. Lain halnya dengan kehidupan politik yang saling mengganjal dan menjegal, apalagi menghadapi Pilkada dan Pemilu. Para elit politik sudah enggan memikirkan kehidupan masyarakat yang harus berjuang sendiri menghadapi dan mengakali minyak tanah yang semakin langka dan mahal, harga minyak goreng yang melambung, harga beras yang mulai merayap naik.
Sambil minum dan ngobrol, berbagai tukang makanan menjajakan jualannya dengan berbagai cara, kupat sayur, bubur kacang ijo, juga ketoprak. Kemudian semuanyapun sepakat untuk istirahat sambil menikmati ketoprak.
Irfan yang sudah dua tahun tinggal dilingkungan desa kita, sejak awal berdagang ketoprak keliling memakai gerobak beroda, yang sekarang ini harganya sekitar 2 juta rupiah. Pemuda berusia 29 tahun, asal Brebes ini sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak. Ia menyelesaikan pendidikannya di sebuah pesantren di jalur selatan Jawa Timur di Glenmor. Dengan uang yang dimilikinya ia menyewa tempat kontrakan 450 ribu rupiah sebulan. “Tempatnya lumayan pak. Ada kamar tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi”, katanya sambil terus menggoreng tahu. “Pakai minyak apa itu, curah ya?”, tanya saya sambil menunjuk kepenggorengan. Sejak awal berdagang ketoprak, Irfan sudah menggunakan minyak goreng kemasan walaupun harganya sekarang mencapai 14.500 untuk satu liter. “Saya memperhatikan rasa pak”, ujarnya. Iapun menceritakan bagaimana ia harus menghadapi harga minyak tanah yang mencapai 7.500 satu liternya. “Ganti saja dengan gas, lebih bersih”, komentar saya. Irfanpun menjelaskan bahwa proses memasaknya tidak memungkinkan memakai gas. Sayapun diam, tidak mengerti bagaimana cara memasak lontong dan tahu untuk ketoprak. “Harga tidak naik,pak. Tapi ganti”, katanya sinis.
Ia menjual ketoprak dengan harga 3000 rupiah untuk satu piring, kalau tambah tahu menjadi 4000 rupiah. Setiap harinya ia belanja bahan makanan dan keperluannya rata-rata 100 ribu rupiah. Kalau laku semua ia mendapatkan penghasilan 300 ribu rupiah. “Saya sih tidak mengeluh pak. Tapi bagaimana pemerintah ini. Rakyat dibiarkan sendiri menghadapi harga yang semakin gila”, mukanyapun berubah. Masyarakat seperti Irfan sangat merasakan beban hidup yang semakin berat. Sebab itu ia berusaha untuk mendapatkan pasar dengan pendekatan pemasaran pintu ke pintu. Ia mengetok pintu rumah langganannya, didaerah Sukatani dan Harjamukti. “Paling susah melayani yang pacaran malam-malam. Pesannya hanya satu piring untuk berdua, tapi makannya lama sekali. “Pak Walikota pernah juga memborong pak. Pesan 1000 porsi dengan harga 4000 satu porsinya. Rejeki pak, saya tidak usah keliling”. Hari yang paling jelek yang pernah ia alami, hanya mendapatkan 150 ribu rupiah. “Sudah paling mentok pak, tetapi syukur saya masih diberi rejeki oleh NYA”, ucapnya dengan logat Tegalnya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 1 April 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
ADUH MAHALNYA TERIGU!
Kalau kita masuk ke mal sering disuguhi semerbak wanginya roti yang merangsang selera kita. Berbagai jenis merek roti bersaing dengan kerasnya, dengan berbagai nama “bread”, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Penjual roti dan kue lokal dan tradisional yang sudah lama dikenal di Jabodetabekpun masih eksis. Sampai-sampai nama “unyil” pun dipakai untuk menarik pembeli. Suburnya berbagai jajanan yang memakai terigu dan meluasnya pemakaian mi, menyebabkan pemakaian tepung terigu terus meningkat. Kita tidak tahu persisnya kapan terigu mulai banyak dimanfaatkan di Indonesia, karena semuanya harus diimpor. Gandum tidak tumbuh di negeri kita. Meluasnya pemakaian terigu dikalangan masyarakat luas, pemerintah menetapkan untuk memanfaatkan terigu sebagai bahan pangan yang mendapatkan asupan mikro gizi, seperti asam folat, zat besi, berbagai macam vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan balita. Dengan meningkatnya harga tepung terigu akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas pemerintah mencabut keharusan memberikan asupan mikro gizi kedalam terigu. Sungguh aneh ketetapan pemerintah tersebut, dikala kita membaca berita puluhan balita menderita kekurangan gizi.
Kegemaran memakan roti dan kue ini, bukan hanya menguntungkan produsen, melainkan juga bagi para pedagang, baik kecil maupun besar. Kita sering melihat penjual roti dan aneka ragam kue baik di hiper- dan supermarket, ruko-ruko, maupun di kios-kios pasar tradisional. Demikian juga dengan bu Tumini asal Klaten yang dibantu oleh seorang keponakannya telah berjualan berbagai jajanan kue dan roti sejak tahun 2001, dengan mengkontrak sebuah kios berukuran 2X3 meter di pasar tradisional yang terletak di Desa Sukatani – Depok.
Uang kontrakan kiosnya satu bulan 200 ribu rupiah. Berbagai peralatan untuk usahanya, seperti meja, nampan, kranjang dan lainnya harus ia sediakan, “waktu itu saya beli sekitar satu juta rupiah”. Bu Tumini berjualan untuk membantu suaminya yang menjadi tukang ojek. Setiap harinya ia membeli berbagai jenis kue dan roti dengan harga 200 sampai 300 ribu rupiah. Kue yang dibeli dengan harga 500 rupiah, ia jual dengan harga 700 rupiah. Sebuah kue tart ulang tahun misalnya, ia jual dengan harga 40 ribu, dan sudah mendapatkan keuntungan 10 ribu rupiah. Sedangkan kue bolu yang dibeli dengan harga 15 ribu rupiah, ia jual dengan harga 20 ribu. “Sekarang lumayan, pak. Rejekinya anak yang masih sekolah”, katanya. Bu Tumini mempunyai 3 orang anak yang sudah besar, dan 2 orang cucu. Dengan usahanya ini ia dapat memberi penghasilan kepada keponakannya 20 ribu sehari. Sedangkan Bu Tumini membawa uang pulang setiap hari sebesar 200 – 250 ribu bersih, sudah menyisihkan modal untuk belanja. Hari-hari baiknya kalau ada pesta atau yang ulang tahun, pesanannya selalu banyak. Selain itu biasanya mereka membayar setengahnya dimuka, jadi modalnyapun bertambah. “Sekarang harga kue dan roti mahal, pak. Katanya terigunya sudah mahal”.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 25 Maret 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-28 00:00:00
REJEKI DARI BURUNG
Flu-burung yang melanda negara kita beberapa tahun yang lalu hampir membangkrutkan usaha Mas Bagyo, yang sejak tahun 2003 berjualan burung dan pakan burung. Sebelumnya berbagai upaya telah dilakukannya dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tetapi perekonomian sekarang ini samasekali tidak berpihak kepada masyarakat wong cilik. Ijazah sekolah umum seperti SLTP hampir tidak mempunyai arti bagi mereka. Demikianlah nasib Mas Bagyo, asal Bantul Yogyakarta, dengan ijazah SLTPnya ia memulai usahanya sebagai penjual burung dan pakannya.
Rumah kontrakan berukuran 3X8 meter, ia jadikan seperti RUKO, untuk jadi tempat usahanya itu. Ia memilih rumah kontrakan dijalan yang strategis di Depok, dengan harga sewa 4 juta untuk satu tahun. Dengan uang tabungan dan hasil penjualan perhiasan yang dimilikinya ia membeli berbagai peralatan seperti etalase dan rak dari aluminium, bok tempat jangkrik, dan berbagai jenis sangkar burung, semuanya seharga 3 jta rupiah. “Sekarang penjualannya lumayan, pak. Mungkin banyak yang stress”, katanya. Benar juga pendapat Mas Bagyo, yang terpaksa meninggalkan istri dan dua anaknya di Bantul, bahwa banyak orang yang stress mencari obat penenang dengan memelihara burung. Ia, dengan dibantu oleh seorang juga datang dari Bantul, memanfaatkan ruangan 3X4 meter untuk usahanya ini.
Yang paling banyak dibeli pelangganannya ialah pakan burung. Merek “Top Son” yang dibeli dengan harga 3.800 dan merek “Fantasy” 3.500 rupiah, ia jual dengan harga 5000 rupiah. Biasanya ia membeli jangkrik satu box yang berisi 100 ekor jangkrik besar, kemudian dijual dengan harga 1000 rupiah untuk setiap 15 ekor. “Lumayan untungnya kalau jualan jangkrik”, ucapnya gembira. Yang banyak dicari juga kroto, yang dibelinya dengan harga 70 ribu rupiah untuk satu kilonya dan dijual seharga 90 ribu. Selain pakan burung Mas Bagyo juga menjual sangkar burung berbagai ukuran. Tetapi persediaannya terbatas, yang ukuran kecil ia jual dengan harga 30 ribu dan ukuran besar 40 ribu rupiah. “Saya mengambil keuntungan dari penjualan sangkar ini antara 10 sampai 15 ribu rupiah”.
Tidak ketinggalan ia juga menjual burung, untuk ini modalnya agak besar. Untuk seekor burung jalak suren ia harus mengeluarkan uang sampai 425 ribu rupiah, tetapi keuntungannya bisa mencapai 50 ribu rupiah. Untuk perkutut lokal yang dibelinya dengan harga sekitar 250 sampai 300 ribu rupiah, Mas Bagyo mendapatkan keuntungan sekitar 50 ribu. Sedangkan untuk perkutut Bangkok, ia bisa mendapatkan keuntungan sampai 200 ribu rupiah setiap ekornya. “Perkutut Bangkok seperti yang disana, harganya satu juta lebih pak”, sambil menunjuk sangkar besar dipojok ruangan.
Hasil penjualannya pada hari Sabtu dan Minggu mencapai 1,2 samapi 1,5 juta, sedangkan hari kerja biasa sekitar 600 ribu rupiah. Penghasilan bersihnya rata-rata setiap hari sekitar 300 ribu rupiah, sedangkan karyawannya mendapat upah bulanan sebesar 350 ribu rupiah. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 11 Maret 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-28 00:00:00
ADUH MAHALNYA TERIGU!
Kalau kita masuk ke mal sering disuguhi semerbak wanginya roti yang merangsang selera kita. Berbagai jenis merek roti bersaing dengan kerasnya, dengan berbagai nama “bread”, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Penjual roti dan kue lokal dan tradisional yang sudah lama dikenal di Jabodetabekpun masih eksis. Sampai-sampai nama “unyil” pun dipakai untuk menarik pembeli. Suburnya berbagai jajanan yang memakai terigu dan meluasnya pemakaian mi, menyebabkan pemakaian tepung terigu terus meningkat. Kita tidak tahu persisnya kapan terigu mulai banyak dimanfaatkan di Indonesia, karena semuanya harus diimpor. Gandum tidak tumbuh di negeri kita. Meluasnya pemakaian terigu dikalangan masyarakat luas, pemerintah menetapkan untuk memanfaatkan terigu sebagai bahan pangan yang mendapatkan asupan mikro gizi, seperti asam folat, zat besi, berbagai macam vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan balita. Dengan meningkatnya harga tepung terigu akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas pemerintah mencabut keharusan memberikan asupan mikro gizi kedalam terigu. Sungguh aneh ketetapan pemerintah tersebut, dikala kita membaca berita puluhan balita menderita kekurangan gizi.
Kegemaran memakan roti dan kue ini, bukan hanya menguntungkan produsen, melainkan juga bagi para pedagang, baik kecil maupun besar. Kita sering melihat penjual roti dan aneka ragam kue baik di hiper- dan supermarket, ruko-ruko, maupun di kios-kios pasar tradisional. Demikian juga dengan bu Tumini asal Klaten yang dibantu oleh seorang keponakannya telah berjualan berbagai jajanan kue dan roti sejak tahun 2001, dengan mengkontrak sebuah kios berukuran 2X3 meter di pasar tradisional yang terletak di Desa Sukatani – Depok.
Uang kontrakan kiosnya satu bulan 200 ribu rupiah. Berbagai peralatan untuk usahanya, seperti meja, nampan, kranjang dan lainnya harus ia sediakan, “waktu itu saya beli sekitar satu juta rupiah”. Bu Tumini berjualan untuk membantu suaminya yang menjadi tukang ojek. Setiap harinya ia membeli berbagai jenis kue dan roti dengan harga 200 sampai 300 ribu rupiah. Kue yang dibeli dengan harga 500 rupiah, ia jual dengan harga 700 rupiah. Sebuah kue tart ulang tahun misalnya, ia jual dengan harga 40 ribu, dan sudah mendapatkan keuntungan 10 ribu rupiah. Sedangkan kue bolu yang dibeli dengan harga 15 ribu rupiah, ia jual dengan harga 20 ribu. “Sekarang lumayan, pak. Rejekinya anak yang masih sekolah”, katanya. Bu Tumini mempunyai 3 orang anak yang sudah besar, dan 2 orang cucu. Dengan usahanya ini ia dapat memberi penghasilan kepada keponakannya 20 ribu sehari. Sedangkan Bu Tumini membawa uang pulang setiap hari sebesar 200 – 250 ribu bersih, sudah menyisihkan modal untuk belanja. Hari-hari baiknya kalau ada pesta atau yang ulang tahun, pesanannya selalu banyak. Selain itu biasanya mereka membayar setengahnya dimuka, jadi modalnyapun bertambah. “Sekarang harga kue dan roti mahal, pak. Katanya terigunya sudah mahal”.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 18 Maret 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-28 00:00:00
LELE DUMBO
Ikan air tawar yang kita makan pada waktu yang lalu, terbatas pada ikan mas, nila, mujair dan gurame. Sedangkan di warung-warung dan kaki lima sering kita disodori dengan menu lele goreng atau pecel lele. Jenis ikan tawar sekarang ini tambah bervariasi, seperti ikan patin, bawal, dan lele dumbo. Sebelumnya bermacam ragam ikan ini hidup bebas dikali, didanau maupun diempang dan setu, tetapi sekarang ini sebagian besar sudah diternakkan dengan berbagai cara. Kegiatan peternakan ikan ini ada yang mengusahakan secara besar, tetapi kebanyakan diusahakan oleh peternak-peternak skala kecil, pelaku ekonomi rakyat. Selain peternak yang membesarkan ikan, ada juga peternak yang khusus hanya menyediakan bibit ikan.
Peternakan dan pembibitan ikan, banyak kita temui di daerah Parung, Bogor. Ditanah seluas 100 meter persegi di Parung, pak Emen membangun 3 buah kolam pembibitan dengan ukuran 2 X 3 meter. Ia mulai usaha pembibitan ikan ini 5 tahun yang lalu, dengan modal satu juta rupiah. Selain untuk pembuatan kolam, ia juga membeli keperluan lainnya seperti ijuk, plastik dan sepasang induk atau biang lele. Pak Emen, yang sekarang berumur 34 tahun, belajar usaha pembibitan dari beberapa pengusaha yang ada di Parung. Diawali dengan biang lele yang ia beli seharga 20 ribu rupiah, ia mnenyuntiknya dan ditunggu samapai bertelur. Sungguh mengagumkan bawa sekali bertelur bisa menghasilkan bibit ikan sebanyak 10 sampai 15 ribu ekor. Dengan dibantu seorang yang masih terikat keluarga, ia merawat bibit ikan itu sampai siap dijual. Ia harus mengeluarkan uang 150 sampai 200 ribu rupiah, untuk memelihara bibit ikan tersebut dan sudah termasuk pembelian pakan. “Saya hanya tamat SD pak, jadi saya belajar dari pengalaman orang lain saja”, seraya menengok wajah saya. Untuk mengurangi resiko dan pengeluaran untuk pakan ikan yang terus melambung harganya, pak Emen yang sudah beristri ini, menjual bibit ikannya yang hanya berumur 1 sampai 10 hari, dengan harga 75 sampai 100 ribu untuk setiap kolam. Biasanya setiap kolam berisi antara 5000 ekor bibit ikan lele. Kadang-kadang ia menjual bibit yang berumur antara 10 dan 20 hari dengan harga untuk setiap kolamnya 150 sampai 175 ribu rupiah.
Dari 3 buah kolam, pak Emen rata-rata setiap 15 hari atau setiap panen bisa mendapatkan penghasilan 450 sampai 500 ribu dan bersih 200 sampai 250 ribu rupiah. Untuk karyawannya yang juga lulusan SD memberikan upah sekitar 80 ribu untuk setiap panennya.
Musim hujan seperti sekarang ini, hasil pembibitannya agak berkurang, banyak yang mati. “Bukan hanya saya yang terkena, tetapi pembibit ikan yang lain juga, pak”, katanya agak lesu. Matahari yang sudah mulai menampakkan wajahnya disekitar Jabodetabek, mudah-mudahan memberikan rejeki kepada pak Emen dan reka-rekannya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 11 Maret 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-28 00:00:00
ES KRIM SEPEDA
Menjalani hidup dalam keadaan ekonomi seperti sekarang ini, serba susah. Bagi masyarakat bawah, dari hari kehari, beban hidup terus bertambah dengan melejitnya berbagai harga bahan pokok makan. Kita sering disebut dengan bangsa tempe, karena tempe harganya murah. Tetapi sekarang tempepun sudah mahal, ditambah lagi dengan harga minyak goreng yang meroket, serta terigu yang dibebaskan untuk tidak memakai tambahan zat gizi. Entah siapa yang mengatur negara kita ini?
Krisis yang sudah sepuluh tahun, tetap dijadikan alasannya. Demikianlah krisis yang menimpa nasib Satino, terkena PHK dari sebuah pabrik. Setelah tidak berhasil mencari pekerjaan di pabrik, akhirnya pada tahun 2000 Satino yang waktu itu berumur 29 tahun, memutuskan untuk mulai berdagang. Karena tidak memiliki modal, iapun menghubungi agen penjual es krim dan menjadi penjaja keliling. Di Citeureup agen tersebut mempekerjakan 10 orang penjaja yang rata-rata lulusan SLTA. Mereka dilengkapi dengan sepeda beserta sound system dan terompet mobil, tempat es krim, serta pakaian seragam. Setiap hari ia mengayuh sepeda puluhan kilometer, pagi hari disekitar pasar, dan sore hari menelusuri komplek-komplek perumahan. Satino berjuang keras untuk bisa menghidupi keluarganya serta mendidik 2 orang anaknya yang berumur 8 dan 4 tahun. “Sekolah sekarang mahal, pak. Saya harus terus bekerja, agar anak saya bisa sekolah lebih dari SLTA”, sambil melayani beberapa pemilik kios dipasar Citeureup. Kita semua heran mengapa seorang lulusan SLTA hanya menjadi penjual es krim keliling. Siapa yang salah?
Satino dan penjaja es krim lainnya, mendapatkan komisi dari penjualannya dan keuntungan kalau ia dapat menjual dengan harga yang lebih mahal. Es krim kecil dijual dengan harga 2000 rupiah, sedangkan dari agen harganya 1750 rupiah. Untuk kemasan yang satu liter dengan harga 30 ribu rupiah ia mendapatkan komisi 2000 rupiah. “Hujan yang terus-terusan ini bikin saya repot juga, jadi harus banyak mangkal”. Satino pun mengelukhan jalan yang berlubang dan digenangi air dimana-mana. “Sekarang ini tidak ada aturannya pak, jalan sempit saja dilewati bis dan truk besar”, keluhnya. “Pokoknya bayar kepada preman atau pak Ogah, polisinya tidak tahu kemana”, dengan suaranya yang mendongkol. Kedongkolan Satino mewakili kita semua, melihat kesemrawutan lalulintas hampir disemua pelosok negara ini.
Dengan jerih payahnya, ayah dua anak ini bisa membawa penghasilan antara 40 sampai 50 ribu rupiah setiap harinya, berasal dari keuntungan dan komisi agen. Bagi pekerja harian seprti Satino, selain tekad yang penting adalah sehat, sakit berarti tidak ada penghasilan. Negara ini tidak mengenal jaminan sosial bagi Satino.
Satino dan kawan-kawannya masih mempunyai harapan bahwa tahun ini dan tahun depan akan banyak hiburan dalam rangka Pilkada, Pemilu dan Pemilihan Presiden yang biasanya banyak memberikan keuntungan. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 4 Maret 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-01 00:00:00
IKAN PENOLAK STRESS
Ada yang dinilai dan dihargai karena bentuknya, tapi ada juga karena warnanya. Bukan hanya itu, kelangkaan dan bentuk sisiknyapun menjadi penentu harga. Tetapi bagi yang menggemari tarung, mereka menyenangi ikan yang penuh keberanian untuk bertarung. Banyak sekali jenis ikan hias yang diburu oleh para penggemarnya. Salah satu pusat perdagangan ikan hias di jalan Barito, sudah rata dengan tanah. Perlawanan para pedagang kecil, menjadi tidak berarti melawan Satpol PP yang tidak jelas profesionalismenya. Barito hilang, untung masih ada tempat-tempat lainnya seperti di jalan Sumenep - Menteng, jalan Johar Baru – Kramat, dan sepanjang kali didekat Pasar Baru. Ikan hias bukan saja dicari oleh penggemar didalam negeri, melainkan juga oleh penggemar di manca negara. Untuk pedagang besar dan pengusaha pengekspor ikan hias, di Rancamaya - Bogor sudah ada Pusat Lelang ikan hias.
Semakin meluasnya penggemar ikan hias, juga bermunculan usaha kecil yang menjual berbagai macam ikan, pakan ikan, dan berbagai macam peralatan aquarium. Demikian juga yang dikerjakan oleh Pepen bersama kawannya yang tinggal di Desa Sukatani, Depok, dengan menyewa kontrakan dengan harga 250 ribu setiap bulannya. Usahanya sebagai penjual ikan hias sudah dilakukannya selama 7 tahun, dengan menyewa sebuah ruangan berukuran 2X3 meter, dengan sewa bulanan 200 ribu rupiah. Untuk melengkapi tempat usahanya itu, Pepen, 30 tahun yang masih bujangan, mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah. Di tempat usahanya ia dibantu oleh seorang temannya yang sama-sama tamatan SMA. Modal yang pergunakan untuk usahanya tersebut juga berasal dari kawan akrabnya itu.
Tergantung dari jenis dan harganya, ia mengambil keuntungan antara 1000 sampai 10 ribu rupiah untuk setiap ekor ikan. Misalkan ikan yang ia beli dengan harga 5000 rupiah, dijual sampai 7000 rupiah. Demikian juga dengan pakan ikan, bungkusan kecil 1000 rupiah dan bungkusan besar 7000 rupiah, sudah termasuk keuntungan Pompa sirkulasi dijual dengan harga 30 ribu rupiah, untuk itu Pepen sudah mendapatkan keuntungan sebesar 5000 rupiah. Dengan modal tetap sekitar 700 ribu, omset hariannya mencapai 150 ribu. Dari hasil penjualannya tersebut ia mendapatkan keuntungan sekitar 70 ribu rupiah, dan kemudian dibagi dua dengan kawannya.
“Rupanya sekarang ini sedang banyak yang stress, pak. Penghasilan saya jadi lumayan, lebih dari rata-rata”, sambil tersenyum. Kadang-kadang ada yang membeli secara borongan dengan pakan dan berbagai peralatannya, dan hal demikian sangat menggembirakannya. “Kalau sudah kehabisan oksigen, saya jadi rugi, pak. Tapi begitulah nasib orang kecil”, sambil menundukkan kepalanya. Sekarang ini musim adu ikan cupang, Pepenpun mempunyai stock yang cukup banyak. Rupanya bukan saja masyarakat kita yang senang berkelahi dan bertarung antar sesama, melainkan juga dimasyarakat ikan. Lebih buaskah kita daripada ikan cupang? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 26 Februari 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-01 00:00:00
Tuuuuuuut ……..”Putu”
Bertanya kekiri dan kekanan, tidak seorangpun dapat menjelaskan dari mana asalnya makanan putu ini. Pejualnyapun sangat beragam, ada yang dari Tegal, Sumatera Barat, tetapi ada juga yang dari Wonogiri. Ada yang berjualan dengan mangkal bersama makanan lainnya, ada juga yang berkeliling dengan menggunakan pikulan.
Sudah menjadi kenyataan bahwa bagi sebagaian besar masyarakat kita yang hidup di pedesaan, sangat sukar untuk mencari pekerjaan untuk dapat menghidupi keluarganya. Kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah sekitarnya, Jabodetabek, selalu menjadi tujuan pencari nafkah dari berbagai daerah. Media koran dan televisi yang mereka tonton di desanya, selalu memberikan gambaran dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di kota besar. Ditambah lagi dengan saudara atau kenalannya yang pulang mudik untuk lebaran, selalu menunjukan kelebihan “status ekonomi”-nya dibandingkan dengan mereka yang tinggal di desa.
Demikianlah yang terjadi dengan pak Padmo K, ia meninggalkan desanya untuk mencari rejeki di Jakarta. Delapan tahun yang lalu ia meninggalkan istri yang baru melahirkan dan anak laki-lakinya yang pada waktu itu berumur 7 tahun. Sejak itu pak Padmo berjualan kue putu dengan berkeliling disekitar Depok.
Dengan modal sebesar 300 ribu rupiah, ia membeli perlengkapan seperti pikulan, kompor, jengkok, gerbak dan peralatan lainnya. “SD saja saya tidak tamat, jadi saya berusaha apa adanya”, katanya sambil memandang dagangannya. “Anak saya sekarang sudah berumur 15 tahun dan di SMP, sedang yang kedua berumur 8 tahun dan masih di SD”, ucapnya bangga. Walaupun keadaan ekonominya yang paspasan pak Padmo tetap memperhatikan keluarganya di desa Paci, Wonogiri. Ia berusaha setiap dua bulan pulang kedesanya untuk bertemu dengan istri dan kedua anaknya.
Sekarang ia menempati sewaan di Depok, yang harus dibayarnya 150 ribu rupiah setiap bulannya. “Kalau sedang hujan begini agak susah, terpaksa mangkal. Pembelipun agak berkurang”, sambil membetulkan kompornya. Kemudian ia mengeluh keadaan ekonomi yang semakin jelek. “Cari minyak tanah saja susah, kalaupun ada harganya mahal sekali”, gerutunya.
Untuk usahanya ini setiap hari ia mengeluarkan uang 60 ribu rupiah, yang dipakai untuk membeli beras, kelapa, gula merah dan minyak tanah. Mulai subuh ia sudah mempersiapkan berbagai bahan, dan sore hari mulai berkeliling menelusuri rumah-rumah diberbagai kawasan pemukiman. Beberapa pembeli sudah merupakan langganannya. Kadang-kadang iapun dipanggil borongan untuk sebuah pesta. “Bahagia rasanya, pak”. Iapun berharap selalu ada keriaan atau keramaian lainnya seperti pasar malam, supaya tidak usah keliling. Dengan harga sebuah putu 500 rupiah, dan kalau dagangannya habis, pak Padmo bisa mengantongi 130 ribu rupiah. Sesudah menyisihkan untuk modal dan uang sewa, ia dapat menyimpan uang antara 50 sampai 60 ribu setiap harinya.
Sambil pamitan sayapun membawa 10 buah kue putu yang sudah dibungkus.
Tuuuuuuuuuuut. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 19 Februari 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-03-01 00:00:00
SERAGAM = WIBAWA?
Pakaian seragam sering menjadi ciri identitas seseorang, dan juga membawakan citra dan prilaku pemakainya. Seragam juga dimaksudkan untuk menciptakan disiplin dan rasa kebersamaan. Partai politik, instansi, perkumpulan, militer, satpam, juru parkir, sekolah dan universitas, serta organisasi selalu dilengkapi dengan pakaian seragam. Perkawinan dan berbagai jenis peringatan biasanya disertai dengan keharusan memakai pakaian seragam. Tetapi sering juga seragam dimanfaatkan untuk menunjukan kewibawaan, seperti tentara dan polisi, gubernur, hansip dan pegawai pemda, satpol pp dan tramtib, satpam dan pengawal. Tetapi kadang-kadang dimanfaatkan juga untuk menunjukan kekuasaan, kekuatan, kesangaran, dan kegarangan. Sisi inilah yang banyak menjadi inspirasi atau menjadi trend anak muda, atau yang merasa muda, untuk memakai pakaian mirip seragam mereka.
Army Look atau seragam mirip tentara, misalnya, banyak digemari oleh anak muda sekarang ini. Bukan hanya mirip seragam TNI, tetapi juga mirip seragam tentara Amerika, Rusia sewaktu masih Uni Sowiet, RRC era Mao Tse Tung, dan Jepang sewaktu perang dunia II. Sekarang mulai muncul juga pakaian Scout Look mirip Pramuka, ataupun mirip pakaian tahanan atau narapidana. Yang berkembang dengan seragam mirip ini ternyata lebih berorientasi untuk menunjukan kekerasan. Dalam bisnis pakaian jadi, berkembang juga trend yang disebut distro, mengembangkan pakaian dengan ciri-ciri khas anak jalanan dan biker, lengkap dengan asesorisnya.
Tapi yang akan saya ceritakan sebetulnya bukan seragam mirip, melainkan bisnis seragam yang sebenarnya, bisnis Kaporlap – Kelengkapan Perorangan Lapangan untuk TNI, Polisi, Satpam, Hansip, Korpri dan yang lainnya. Usaha inilah yang telah ditekuni selama 23 tahun oleh seorang pensiunan TNI, AR, yang sekarang sudah berusia 71 tahun. Dengan memanfaatkan ruangan seluas 4X4 meter di jalan Cibinong, yang dikontraknya dengan harga 13 juta setahunnya, ia berusaha untuk menghidupi keluarganya. “Saya tidak mengambil keuntungan besar, pak. Yang perlu agar pembeli menjadi pelanggan saya”, dengan penuh senyum di raut mukanya yang dihiasi kerut usianya. Untuk sepasang sepatu yang dibeli dengan harga 125 ribu, ia jual 130 ribu, macam-macam atribut misalnya dibeli 17,5 ribu dijual 20 ribu. Sedangkan untuk stelan satpam ia jual dengan harga 160 ribu, hanya mengambil keuntungan 10 ribu. Kalau tanda nama yang dibuat oleh pegawainya dijual dengan harga 15 ribu rupiah. Setiap bulannya pak AR harus membeli barang dagangannya sejumlah 40 sampai 50 juta rupiah.
Dengan usahannya ini, pak AR yang dikurniai 4 orang anak dan 9 cucu, bisa mendapatkan penghasilan bersih setiap harinya sampai 400 ribu rupiah. Dari hari kehari usaha pak AR terus berkembang dan pelangganpun terus bertambah, sehingga saat ini ia mempekerjakan 6 otang tamatan SLTP dan 6 orang lagi tamatan SLTA. Setiap minggunya mereka masing-masing mendapatkan gaji antara 40 sampai 50 ribu rupiah.
Dengan matanya yang berkaca-kaca ia menceritakan kenangannya sebagai prajurit TNI yang pernah menjadi ajudan almarhum Jenderal M. Jusuf. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 12 Februari 2008
First < 9 10 11 12 13 > Last |
Category |