First < 8 9 10 11 12 > Last
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 03:56:32
LULUS SMP KEMANA?
Wajib belajar 9 tahun terus didorong untuk dilaksanakan diseantero nusantara. Anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN tahun depan akan dilaksanakan sepenuhnya. Kalau tidak berarti presiden melanggar hukum. Akibatnya akan lebih banyak lagi anak-anak kita yang akan menikmati wajib belajar 9 tahun. Tetapi setelah itu mereka harus kemana? Kenyataannya banyak pelaku ekonomi rakyat, termasuk dalam rubrik ini, adalah mereka yang telah dengan susah payah menyelesaikan pendidikan SMP. Bagi mereka, keadaan ekonomi yang tidak kunjung membaik sejak krisis, mengharuskan mereka bekerja serabutan untuk bisa meneruskan hidupnya bahkan menghidupi keluarganya.
Demikian juga yang dihadapi oleh Pak Sali bersama dua orang temannya, sama-sama lulusan SMP, harus bekerja keras mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi keluarganya. Sesudah kehilangan pekerjaan 6 tahun yang lalu, Bang Sali akhirnya harus bekerja sebagai tenaga kebersihan, persisnya sebagai pengumpul sampah, disebuah komplek perumahan. Bekerja sebagai tukang sampah bukan cita-citanya sewaktu masih sekolah dulu. Tentu bukan juga rencana dan tujuan pemerintah mewajibkan sekolah 9 tahun kalau akhirnya mereka jadi pengumpul sampah. Lalu kenapa ini terjadi? ?Dulu saya bekerja dipabrik, pak. Lalu kena PHK bersama kawan-kawan lain?, ceritanya sambil istirahat didepan sebuah rumah mewah. Ia bersama dua orang temannya menjadi tugas kebersihan disebuah komplek. Tugasnya masing-masing harus mengambil sampah dari 10 rumah dan membersihkan jalan sekitarnya. Peralatan berupa gerobak, sapu, garpu dan pengki sudah disediakan oleh pengelola komplek tersebut.
Dikomplek tersebut, setiap rumah harus membayar restribusi untuk kebersihan, dan uang inilah yang dipakai untuk membayar petugas kebersihan seperti Bang Sali dan kawan-kawannya. Setiap bulan masing-masing menerima honor sekitar 450 ribu rupiah. ?Sayapun mendapat tambahan dengan cara mencuci beberapa buah mobil milik penghuni. Lumayan pak, dapat tambahan rata-rata 200 ribu rupiah setiap bulannya?, katanya sambil mengisap rokok kereteknya. Dengan penghasilannya tersebut Pak Sali bisa membayar kontrak rumahnya di Depok dan membiayai 3 orang anaknya yang masih duduk di SD dan TK. ?Mudah-mudahan keadaan akan membaik ya pak?, ucapnya lemas, ?semoga anak-anak saya bisa hidup lebih baik?. Bagi Pak Sali dibulan puasa selalu membawa rejeki tambahan, maklum banyak keluarga menyelenggarakan buka puasa bersama dan selalu memberikan tambahan uang. ?Tapi kalau musim hujan, pekerjaan jadi susah. Sampahnyapun menjadi bau dan berat?, sambil berdiri dan mulai menarik gerobak sampahnya.
Semoga pemerintah memikirkan dan menyediakan pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh pemegang ijazah SMP. Janganlah generasi tamatan SMP yang akan datang senasib dengan Pak Sali. Semoga.
Selamat menuaikan ibadah puasa. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 2 September 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 03:36:01
KURSI BAMBU
Akahir-akhir ini, partai politik beramai-ramai menjaring calon legislatif untuk memperebutkan kursi di DPRD dan DPR. Tahun 2009 yang akan datang macam-macam kursi akan jadi perebutan. Mulai dari presiden sampai kepala desa. Tidak ketinggalan perebutan ketua RT dan RW. Tetapi kursi yang satu ini tidak pernah diperebutkan, kursi bambu hitam. Kursi inipun sudah tersingkir dari pusat-pusat perdagangan furniture, tidak mampu masuk dalam pameran, dan tidak diminati masuk rumah dan apartemen mewah. Selain kayu dan logam, banyak bahan-bahan lainnya, seperti plastik dan serat kaca, telah menggantikan peran bambu.
Tetapi bagi pak Riri, yang berasal dari Garut, sudah sejak dua tahun bambu hitam telah memberikan penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya. Setelah sekian lama mencari pekerjaan disekitar Garut, akhirnya ia mencoba mengadu untung ke Jakarta. Dengan keterbatasan modal dan pengethauan serta ketrampilan yang ia miliki, pak Riri, yang hanya tamatan SD, memulai membuat dan berdagang kursi yang terbuat dari bambu hitam. Terkadang ia membuat kursi sendiri. Dari 5 batang bambu yang dibelinya dengan harga 4 ribu rupiah satu batangnya, dalam tiga hari ia dapat menyelesaikan satu buah kursi besar dan dua kursi kecil. Untuk bisa membuat kursi tersebut berbagai peralatan tukang seperti gergaji, bor, palu dan lainnya, ia beli dengan harga 400 ribu rupiah. Kalau banyak pembeli dan ada yang pesan, pak Riri juga membeli kursi dari tukang lainnya seharga 150 ribu rupiah untuk satu setnya. Dengan cara menjajakan kursi didaerah pemukiman disekitar Cibinong, Ciherang dan Cibubur, ia bisa menjual dengan harga 250 sampai 300 ribu setiap setnya. ?Lumayan pak, untuk membiayai istri dan sekolah anak?, ucapnya dengan polos. Pak Riri meninggalkan istri, dan dua anaknya yang berumur 14 dan 10 tahun. Ia sendiri menempati kamar 2X3 meter dengan sewa 250 ribu setiap bulannya. Kalau uang sudah cukup terkumpul, setiap 15 atau 20 hari iapun pulang kekampung untuk bertemu istri dan anaknya. Biasanya ia tinggal disana selama satu minggu.
?Sekarang agak lesu pembelinya, pak. Habis makin banyak kursi plastik yang dijual. Harganyapun murah?, ia mengeluh dan beberapa kali menyampaikan keluhan tersebut, ?kadang-kadang satu minggu baru dapat menjual satu set?. ?Tapi rejeki tidak usah dicari pak, datang sendiri?, katanya sambil tersenyum. Iapun menceritakan bagaimana kalau sedang ada rejeki, belum pukul 12 siang dagangannya sudah laku.
?Nanti pilih siapa pak yang jadi presiden??, tanya saya bergurau. Ia hanya senyum dan sambil menggelengkan kepalanya. Saya tidak tahu artinya, hanya menebak-nebak saja, apa ia tidak peduli atau akan jadi golput. Kita tunggu saja nanti tahun 2009. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 26 Agustus 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-08-19 00:00:00
MERDEKA!!!
Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!! Teriakan itu masih berkumandang walaupun sudah sayu terdengar. 63 tahun bangsa kita sudah merdeka, secara badaniah dan batiniah, memang kita rasakan kemerdekaan tersebut. Kita bisa berbuat bebas dalam batas-batas kewajaran. Batas-batas kewajaran itulah yang sering menjadi tidak jelas. Banyak diantara kita yang tidak merasakan masa penjajahan Belanda, tetapi mereka merasakan belum bebas dari kemiskinan dan tidak memngerti dan belum menikmati arti kemerdekaan tersebut. Bayi yang lahir pada saat kemerdekaan diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, seandainya mereka masih hidup, tentunya baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 63. Dengan kemerdekaan yang sudah dimiliki bangsa ini, kedua orang tua si bayi pada waktu itu mengharapkan dan membayangkan bahwa anaknya dan cucunya kemudian akan hidup lebih baik dan sejahtera sebagai orang yang merdeka.
Sejalan dengan waktu sibayipun tumbuh menjadi dewasa, dan negara dan bangsa kitapun berkembang. Apakah Negara kita menjadi dewasa? Dimasa kecil dan remajanya ia mengalami Bung Karno sebagai presiden selama 22 tahun, dengan demokrasi terpimpin dan seruannya untuk berdikari. Berdiri diatas kaki sendiri, yang belum tuntas terlaksana. Kemudian dalam kurun waktu sampai 1999, atau 32 tahun selama Pak Harto menjadi presiden, ia menjalani hidup sebagai orang dewasa menjelang tua. Politikpun berubah dengan demokrasi Pancasila dan seruan untuk bisa menjadi bangsa mandiri. Kemandirianpun belum tercapai dan politikpun berubah. Reformasi. Tiga orang presiden yang tidak jelas arahnya berlalu, yang terutama berfokus pada masalah politik. Demokrasi habis-habisan. UUD 1945 di revisi sampai empat kali. Kemudian pada tahun 2004 untuk pertama kali presiden dipilih langsung. Era politik baru lagi harus kita hadapi. Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat, terjepit oleh kekuasaan DPR yang terlalu besar dan munculnya kekuata pemerintahan baru didaerah. Otonomi. Era reformasi SBY pun berjalan dengan seruan ?bersama kita bisa? dan kemudian menjadi ?Indonesia bisa?.
Si bayipun sudah mulai uzur, iapun mengharap anak dan cucunya bisa menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan dan kebebasan yang dilihatnya disekeliling. Segelintir dan sekumpulan saudara-saudaranya kelihatan menikmati kemerdekaan dan kebebasan. Tetapi mengapa ia harus menjalani kehidupan yang lain? Bukankah kita menganut ?kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?. Bukankah kekayaan alam yang kita miliki harus dikelola untuk kesejahteraan kita semua? Pemimpin dan penguasa disetiap era politik selalu mempunyai program ?kerakyatan?. Tetapi masih banyak teman-teman disekelilingnya yang nasibnya sama dengan si ?bayi?. Kemiskinan masih menghantui kita.
Sudah tidak kedengaran lagi semboyan ?AMPERA? ? Amanat Penderitaan Rakyat, yang seyogyanya melandasi kebijakan publik, bagi siapapun yang menjadi presiden. Janganlah Ampera hanya dikenal sebagai nama jembatan, pasar, jalan atau nama toko.
Merdeka-kanlah kita dari penderitaan. Dengarlah dan berjuanglah demi AMPERA.
Dirgahayu Republik Indonesia. MERDEKA!!! (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 19 Agustus 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-08-12 00:00:00
JAKARTAPUN PAKAI MASKER
Asap kebakaran atau pembakaran hutan mulai lagi menjadi isu nasional. Negara tetanggapun khususnya Singapura mulai gerah dengan asap yang datang dari negara kita. Pemerintah daerah dan pusatpun mulai saling tunjuk. Peladang berpindah tradisonal menjadi sasaran empuk tudingan kejam. Bagaimana dengan para pemilik lahan besar? Memang perlu diakui pembukaan ladang atau lahan baru ditanah bekas hutan dengan pembakaran merupakan jalan yang paling mudah dan murah. Akibatnya jadwal penerbangan terganggu, Gangguan kesehatan, khususnya ISPA pun meningkat. Pemakaian masker menjadi salah satu solusinya. Itulah bagian dari polusi yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.
Bukan hanya Sumatera dan Kalimantan, atau Singapura dan Malaysia yang disibukan dengan polusi. Olimpiade Beijingpun pada awalnya terganggu dengan polusi yang disebabkan oleh debu dari gurun Gobi. Beberapa atlet dan turis asing yang datang ke olimpiade ada yang mempergunakan masker. Seperti kabut di Sumatera dan Kalimantan, kabut debu di Beijing sudah merupakan kejadian rutin setiap tahun, bedanya yang kita hadapi adalah ulah manusia sedang di Beijing merupakan kejadian alam.
Lain halnya dengan Jakarta, yang merupakan salah satu kota besar didunia yang paling kotor dengan polusi, masker juga diperlukan terutama untuk pemakai sepeda motor atau polisi Lalin. Selain polusi udara yang disebabkan gas buang kendaraan bermotor, juga disebabkan oleh bertebarannya debu dari proyek-proyek pembangunan perumahan dan jalan. Pabrik-pabrik disekitar Jakartapun merupakan penghasil polusi yang besar.
Pak Is, yang tamatan SD, berasal dari Ciamis sudah 7 tahun memanfaatkan keadaan kota Jakarta ini untuk menyambung hidupnya. Bersama istrinya ia berjualan masker khusus untuk sepeda motor, dan mangkal dijalan raya Bogor yang dipadati pengendara sepeda motor. Menempati rumah petak 3 X 3 meter dengan harga sewa 250 ribu sebulan, mereka tinggal bersama 2 orang anaknya berumur 20 dan 11 tahun. ?Umur saya sekarang sudah 43 tahun. Ingin bisa membiayai anak-anak sekolah, pak?, katanya sambil memandangi istrinya.
Dengan bermodalkan satu juta rupiah, Is membeli berbagai peralatan yang diperlukan untuk bisa berjualan. Meja dan bangku ia letakkan ditempat mangkal yang harus dibayar 3000 rupiah setiap hari. Untuk keamanan katanya. Ia berjualan bermacam-macam masker mulai harga 3 ribu, 5 ribu dan yang paling mahal 15 ribu rupiah. Keuntungan yang diperolehnya antara 1000 sampai 5000 rupiah.
Setiap hari penghasilan bersihnya sekitar 70 ribu rupiah. ?Sekarang ini musim kering, pak. Penghasilan jadi lumayan?, sambil mengusap keringat didahinya.
Dirumah petaknya tersebut ia harus berbagi kamar mandi dengan 3 penghuni petak lainnya. Diakhir pertemuan, iapun mengeluhkan betapa susahnya hidup dan mencari pekerjaan. Anak sulungnya yang sudah selesai SMU sampai sekarang masih menganggur. ?Bagaimana nasib anak-anak saya nanti, pak. Katanya harus sekolah, sudah selesai lalu bagaimana??, keluhnya. Ini bukan hanya keluhan Pk Is, melainkan keluhan jutaan rakyat Indonesia. Kepada siapa mereka harus mengeluh? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 12 Agustus 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-08-05 00:00:00
ROTI PENYELAMAT
Wajahnya menunjukan bahwa ia masih anak-anak. Tidak pantas rasanya harus menghidupi dirinya sendiri. Beberapa bulan yang lalu Cecep bergembira karena telah lulus SMP didesanya. Tetapi keberadaan orang tuanya tidak memungkinkan ia melanjutkan sekolah dan iapun pergi ke Jakarta dan menetap bersama kakaknya disebuah rumah kontrakan di Kali Cimanggis. Ke Jakarta dengan penuh harapan untuk bisa meneruskan sekolah. Tetapi ternyata penghasilan kakanyapun pas-pasan, sehingga Cecep diharuskan ikut membayar kontrak rumah yang 250 ribu setiap bulannya. ?Saya harus mencari uang, pak. Apa saja asal halal?, katanya dengan nada rendah.
Keadaan itulah yang mendorong Cecep menjadi pedagang roti keliling. ?Ada kenalan yang menunjukan caranya dan membantu saya membeli peralatan?, ia melanjutkan ceritanya. Dengan uang 500 ribu rupiah dibelinya kotak roti, pikulan dan berbagai keperluan lainnya seperti jepitan roti, kertas bungkus dan kantong plastik. Setiap hari ia mulai tugasnya sejak pukul 5 pagi, dan bergegas mendatangi pabrik roti untuk membeli berbagai jenis roti. ?Modal saya biasanya sekitar 60 sampai 70 ribu rupiah setiap harinya?. Roti tawar yang dibelinya dengan harga 5000 dijual 6 ? 7 ribu rupiah. Sedangkan roti dengan beragam rasa seperti coklat, keju, kelapa atau susu harganya dipabrik 1000 rupiah, dan dijual 1500 sampai 2000 rupiah. Biasanya pukul 10 dagangannya sudah habis, dan iapun pulang kerumah kakanya dengan membawa uang sekitar 100 sampai 110 ribu rupiah. Setelah disisihkan untuk modal keesokan harinya, sisanya ia simpan. Siang hari biasanya Cecep kemudian membantu kakaknya.
Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai Cecep, ia baru empat bulan menjalankan pekerjaan ini. ?Memang susah pak hidup sekarang ini. Itulah nasib dan sejeki saya. Kadang-kadang ada pembeli yang tidak mau menerima kembaliannya, mungkin merasa kasihan melihat saya?, cerita Cecep yang umurnya menjelang 16 tahun. Tetapi kalau rejeki sedang menjauhi, dagangannyapun tidak habis. ?Sekarang pembeli agak berkurang, katanya banyak beredar roti yang sudah kedaluarsa. Mereka selalu menanyakan apa rotinya baru?, dengan raut wajah yang sedih.
Persaingan perdagangan roti ini makin mencuat, seolah-olah tidak ada batasnya antara pemodal besar dan pemodal kecil. Pembuatan roti yang langsung dikerjakan di Mal dan Pusat Perdagangan lebih banyak digemari. Selain itu pedagang roti asonganpun berada dimana-mana. ?Kadang-kadang saya harus bekerja sampai sore hari, pak?, ucapnya sedih.
Pemerintah mengwajibkan pendidikan 9 tahun. Tapi tidak mempersiapkan kelanjutan dari hasil program tersebut. Kita seolah-olah membiarkan anak-anak kita, umur 15-16 tahun, tamatan SMP, untuk berjuang sendiri mengatasi nasib dan hidupnya. Janganlah fokus kita hanya kepada anggaran pendidikan belaka, tetapi melupakan bagaimana dengan nasib mereka selanjutnya. Semoga masih ada yang memikirkan nasib anak-anak kita. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 5 Agustus 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-29 00:00:00
TERBANG BEBAS
?Sejak kecil saya ingin bisa terbang. Bisa pergi kemanca negara. Eh, jadinya malah membuat layang-layang yang bisa terbang bebas?, kata Jusuf sambil ketawa kecil dan menentang mata saya. Ditemui didepan Mal Cijantung sambil menjajakan layang-layang hias bentuk kepala burung dan beberapa layang biasa. Karena cita-citanya ingin terbang, selesai SMP iapun melanjutkan pendidikan ke STM. ?Kalau sekolah SMA terus jadi insinyur nggak mampu pak, kasihan orang tua saya?, ucapnya tanpa perasaan menyesal. Begitulah gambaran keluarga kurang mampu yang terbentur akan biaya mahal untuk pendidikan. Siapkah mereka menghadapi persaingan global yang sedang kita hadapi?
Selesai pendidikan STM, Jusuf berupaya mencari pekerjaan disekitar Bogor, Depok dan Jakarta. Sampai akhirnya ia menyerah dan memikirkan apa yang akan dikerjakannya untuk mendapatkan penghasilan. Akhirnya tiga tahun yang lalu, tahun 2005, ia bersama Maman, seorang teman sekolah dan tetangga, memutuskan untuk membuat dan berjualan layang-layang hias. ?Akhirnya sama juga, ya pak, tidak jadi pilot tapi bisa menerbangkan layang-layang?, katanya sambil tertawa. Ia berjualan keliling disekitar Mal Cijantung dan dijalan Raya Bogor.
Dengan modal satu juta rupiah, nernagai peraltan seperti guntimg dan pisau serta keperluan lainnya seperti kain, kertas, benang, bamboo dan lem. Dengan ketrampilan yang mereka miliki, bisa dihasilkan 2 buah layangan hias dari bahan satu meter kain parasit. Layangan hias berbentuk kepala burung dijual dengan harga 20 ribu rupiah. Sedang leyangan biasa terbuat dari ketas dijual dengan harga seribu rupiah. ?Musim kemarau semacam sekaramg ini banyak angin? katanya sambil tersenyum, ?jadinya lumayan penghasilan kita?. Setiap hari bisa terjual sekitar lima sampai sepuluh layangan biasa dan 8 sampai 10 buah layangan hias. Setelah dipotong dengan uang untuk kebutuhan bahan dan makan, setiap hari mereka bisa mendapat penghasilan bersih antara 60 sampai 100 ribu rupiah. Hasil bersih tersebut setiap hari mereka bagi rata. Mereka akan terus berjualan layang-layang sampai ada pekerjaan lain yang lebih baik dan sesuai dengan pendidikan mereka. Kapan? Entahlah.
Dengan umurnya yang sudah menginjak kepala tiga, Jusuf masih bujangan. ?Bagaimana mau berkeluarga pak. Bukan hanya BBM dan listrik yang harganya naik. Lihat saja harga-harga makanan dan angkutan sekarang ini?, ucapnya serius. ?Sudah banyak koruptor yang ditangkap, koq hidup ini masih susah juga?, katanya dengan mata melotot. ?Sebetulnya yang bikin susash hidup kita itu siapa sih pak. Apa para wakil rakyat yang ikut jadi koruptor, atau pemerintah yang tak becus ngurus kita?, katanya sambil terus pergi. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 29 Juli 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-22 00:00:00
BEBAN BERAT SEPATU
Mereka tinggal disebuah rumah kontrakan, dipinggiran kota Depok, dengan harga sewa 350 ribu setiap bulan. Timin pemuda asal Purwokerto, bersama istrinya dan kedua anaknya, beberapa tahun yang lalu datang ke Jakarta dengan harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Akhirnya ia memutuskan untuk berdagang alas kaki, baik sepatu maupun sandal. Lima tahun yang lalu ia mulai usahanya dengan menyewa kios dengan harga sewa 300 ribu rupiah perbulan. Kemudian melengkapi kiosnya dengan berbagai rak dan rak etalase dari kaca, meja dan kursi serta peralatan lainnya. Untuk itu ia harus mengeluarkan uang sebanyak 3 juta rupiah.
?Saya ingin anak-anak bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik pak?, katanya dengan jujur. Timin sendiri lulusan SMP, dan di kiosnya ia dibantu oleh seorang anak berasal dari desanya yang juga tamatan SMP. ?Kalau hanya memiliki ijazah SMP, saya takut nasib anak-anak saya paling tinggi seperti saya?, raut mukanya memperlihatkan penyesalan yang mendalam. ?Pokoknya mereka harus lebih baik dari saya?.
Di kiosnya yang berukuran 3 X 3 meter persegi ia menyusun bermacam model sepatu, sandal, baik untuk pria maupun wanita. Ia menjual juga perangkat lainnya seperti kaos kaki dan tali sepatu. Sudah beberapa lama pembeli di kiosnya sangat sepi, sehingga penghasilannya menurun dan hanya cukup untuk membayar karyawan dan makan saja. ?Tahun ini sih kebangeten pak. Sepi sekali. Kalau dengar di TV dan baca koran, katanya akibat globalisasi. Apa benar begiti sih?, Wajahnya penuh dengan tanda tanya, mungkin iapun tidak mengerti kaitan antara harga sepatu dengan globalisasi. Stok dagangannya sangat minim, karena keterbatasab modal. Untk memulai usahanya ia mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah untuk membeli berbagai macam sepatu, sandal dan kaos kaki. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan dana yang besar untuk membantu usaha mikro, tetapi Timin sama sekali tidak bisa ikut menikmatinya. Yang diperlukan oleh Timin-Timin bukan hanya informasi mengenai dana murah, tetapi juga jaminan dan penyuluhan.
Rata-rata setiap bulan hasil dagangannya sebesar 1,2 sampai 1,5 juta. Setelah dipotong modal, gaji karyawan sebesar 350 rupiah, dan sewa kios, penghasilan bersihnya antara 700 ribu sampai 900 ribu rupiah. ?Saya tidak banyak mengambil keuntungan pak?, katannya datar. Untuk kaos kaki ia hanya mengambil keuntungan 3 ribu rupiah, untuk sandal 5 ribu dan sepatu 10 ribu rupiah.
?Sekarang sih sedang sepi,pak. Insya Allah bulan depan mulai sekolah?. Setiap permulaan tahun pengajaran omset dan keuntungannya bisa sampai dua kali.
Bercermn dari panalaman hidupnya, ia memilih untuk menyekolahkan anak pertamanya ke STM, dan sekarang sudah tahun terakhir. Sedang anak keduanya baru berumur 9 tahun, dan masih duduk di SD. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 22 Juli 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-15 00:00:00
BUBUR KACANG HIJAU
Pak Rame tidak mau menyebutkan umur dan asalnya. Tapi diperkirakan umurnya sudah diatas limapuluh tahun. Pengakuannya tidak tamat SD dan sekarang mempunyai tiga orang anak dan 3 cucu. Anak pertama dan yang kedua sudah berkeluarga, sedang anak ketiga, walaupun sudah lama tamat SMP, sampai hari ini masih menganggur. ?Saya sih pasrah saja pak. Habis mau apalagi. Omongan penggede jauh dari kenyataan bagi kita-kita?, katanya dengan sorot mata yang merah dan tajam. Sayapun memahami apa yang dimaksud dengan kita-kita. Beserta istrinya ia menempati kontrakan 3 X 3 meter dengan sewa 200 ribu rupiah sebulan. Sejak 3 tahun yang lalu ia mulai berjualan bubur kacang hijau secara berkeliling, dan semua persiapannya dilaksanakan dirumah bersama istrinya.
Saat itu dengan uang satu juta rupiah, pak Rame membeli gerobak roda tiga, mangkok dan sendok, serta perlengkapan lain, untuk memulai usahanya. Mereka tinggal di desa Sukatani ? Depok, dan berdagangannyapun hanya disekitar perumahan dan perkampungan disana. ?Kalau seperti hari Minggu begini lumayan pak. Pagi-pagi sudah habis dan bisa pulang?, katanya sambil tersenyum memperhatikan mereka yang sedang berolah raga berjalan kaki. Tetapi ia mengeluh karena hari-hari yang lain terasa sepi. ?Mungkin semuanya pada repot seperti saya, ya pak?. Saya hanya terdiam, karena tidak tahu bagaimana jadinya perekonomian kita kalau harga minyak mentah terus naik.
Untuk belanja kacang hijau, ketan hitam dan santan, pak Rame mengeluarkan uang antara 80 sampai 100 ribu setiap hari. Satu porsi atau mangkok bubur kacang hijau ia jual dengan harga 3000 rupiah. Terkadang ada yang minta dibungkus dengan plastik atau membawa tempatnya sendiri, dan untuk itu dihargai antara 2000 sampai 2500 rupiah. Kalau sedang hari baik seperti hari Minggu atau libur, ia bisa membawa uang pulang sekitar 220 ribu rupiah. ?Inikan sedang libur anak-anak. Jadi lumayan juga pak?, mukanya tampak lebih muda. Setelah menyisihkan uang untuk belanja kacang, ketan hitam, santan dan lainnya, ia dapat menyerahkan kepada istrinya antara 80 sampai 100 ribu setiap harinya.
Peluang berjualan makanan selalu menjadi tumpuan bagi mereka yang tidak mempunyai keahlian apapaun. Pasar dan pembeli kelihatannya masih terbuka lebar, entah sampai kapan. Bukan hanya penjual makanan keliling dan PKL saja, melainkan restoran kelas menengah dan elitpun terus tumbuh. Pusat belanja, mal, supermarket terus dibangun. Kantor pemerintahpun masih terus dibangun. Apa sebetulnya yang terjadi dengan perekonomian kita? Tetapi bagi masyarakat seperti pak Rame, kenyataannya harga-harga barang dipasar tradisional dan mikromarket terus meningkat. Seorang menteri mengatakan bahwa ia ingin kalau harga-harga bisa turun, tetapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Apa memang begitu? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 15 Juli 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-08 00:00:00
TIDUR NYENYAK
Tidak ada kecualinya semua makhluk hidup perlu tidur, tidur nyenyak. Itulah ritmus kehidupan. Kurang tidur, bukan hanya mempengaruhi fisik kita, tetapi juga fikiran dan suasana hati kita terganggu. Pendahulu kita tidur hanya beralaskan tanah atau batu, kemudian kita mengenal balai-balai dari kayu atau bambu. Manusiapun terus mencari jalan agar dapat tidur lebih baik dan nyenyak. Semula kita hanya memanfaatkan tikar, lalu dikenal kasur, Kasurpun terus berkembang mulai memakai kapuk, karet busa, per atau spring bed, dan sekarang memakai lateks dari karet alam.
Dinegara kita tercinta ini, semua alas tidur tersebut masih dipergunakan. Ada saudara-saudara kita yang tidak tersentuh oleh kemajuan, mereka tidak menikmati modernisasi. Mengurangi perbedaan kualitas kehidupan ini yang terus harus diperjuangkan oleh kita semua, dan terutama oleh para pemimpin. Masih ingatkah kita bahwa Ampera itu singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat? Dan bukan hanya sekedar nama jembatan atau pasar.
Kembali kepersoalan tidur. Pemakaian kapuk untuk pengisi kasur dan bantal masih meluas di masyarakat kita. Pemakaiannya masih secara alami seperti dulu. Sebenarnya banyak penelitian di negara maju mengenai kelunggulan kapuk dari bahan-bahan lainnya. Masih luasnya pemakaian kapuk ini terlihat dari masih banyaknya penjualan kasur dan bantal kapuk terutama di kota-kota kecil atau didaerah pinggiran dan pedalaman kota besar. Dari waktu kewaktu bantal atau kasur kapuk harus dijemur, karena kapuk menyerap air. Kalaupun kainnya masih baik, sering juga kapuk isinya harus diganti. Usaha servis kasur dan bantal ini masih banyak dikerjakan, terutama melayani pemakai di daerah pedesaan dan perkampungan.
Usaha inilah yang dilakukan oleh Udik, asal Sukabumi, yang sejak tahun 2000 keliling disekitar Depok menawarkan jasannya untuk mengisi bantal dan kasur. Hanya sempat mengenyam pendidikan SLTP, ia tidak dapat bekerja lain. ?Saya pasrah saja, yang perlu saya berusaha dan halal?, kata pemuda berusia 35 tahun yang telah beristeri yang sedang mengandung. Dari kamar kontrakannya seluas 2 X 3 meter, yang disewa 200 ribu setiap bulan, ia berkeliling sekitar perkampungan di Depok dengan mempergunakan sepeda. Tahun 2000 ia mengeluarkan uang 400 ribu rupiah untuk membeli sepeda dan berbagai peralatan menjahit. Sedang untuk modal kerjanya sebesar 200 ribu rupiah untuk membeli kain kasur dan 5 kg kapuk. ?Sekarang semua naik, pak. Kapuk naik dari 25 ribu menjadi 30 ribu perkilo. Kain kasur juga demikian yang bagus sekarang 80 ribu, sebelumnya 70 ribu?, sambil terus mengeluh dan menyinggung harga-harga lainnya. Setiap mengisi kasut ia mendapatkan keuntungan sekitar 50 ribu rupiah. Rata-rata sebulan masih bisa berpenghasilan sekitar 350 ribu. ?Sekarang sih lagi sepi, pak. Tapi mencari pekerjaan lain rasanya nggak mungkin?. Udik-Udik lain harus berjuang dan berkreasi sendiri mencari pekerjaan untuk meneruskan hidupnya. Apakah ini juga ekonomi kreatif? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 8 Juli 2008
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-01 00:00:00
PLAYSTATION
Yang disebut zaman informasi sudah merambah kesemua pelosok dunia. Juga di tanah air kita. Perkembangannyapun sedemikian pesatnya, sehingga manusia selalu merasa ketinggalan. Siaran televisi sudah dapat dilihat oleh semua penduduk Indonesia, tetapi belum tentu dinikmati. Kadang-kadang hal-hal yang kita tidak senangipun muncul dilayar kaca, seolah-olah kita terpaksa melihatya. Itulah salh satu cirri globalisasi. Berbagai peralatan elektronika berkembang begitu cepat, harganyapun semakin hari terus menurun. Tetapi hampir setiap bulan keluar produk baru dengan teknlogi yang lebih canggih, sehingga kita seakan-akan harus memilikinya, mungkin mereka sudah merancang agar kita selalu membeli yang baru.
Peralatan elektronika juga memasuki dunia hiburan. Ponsel dilengkapi dengan berbagai fitur hiburan, seperti penyimpan musik dan film, videogame, serta kamera. Nada deringpun beragam, sampai pembicaraan teleponpun dijadikan nada dering. Selain CD untuk musik, juga DVD untuk film dan videogame, terus berkembang. Harganya yang murah sangat mempengaruhi peredaran komoditi ini. Disebabkan masih maraknya peredaran CD dan DVD bajakan sampai sekararang. Videogame terus berkembang, bukan saja digemari anak-anak, melainkan juga oleh remaja dan dewasa. Play stationpun terus berkembang dengan pesat dan harganyapun semakin terjangkau.
Sudah lama berkembang tempat menyewakan play station bagi mereka yang tidak memilikinya. Selain itu juga berkembang tempat dimana bisa bermain play staton ini, keberadaannya sampai dipelosok-pelosok desa atau kampung. Dua tahun yang lalu, Heru alias Kuru memulai usahan penyewaan play station ini. Dengan memanfaatkan sebagian ruang rumahnya, ia melengkapi usahanya dengan TV 21 inch, play station, stick serta berbagai macam game. Modal awalnya sebanyak 6 juta rupiah. Heru, lulusan SMU yang sekarang berusia 35 tahun, bersama isterinya mengelola usaha itu dalam ruangan 3 X 4 meter. Bagi mereka yang bermain ditempat itu dipungut sewa 4000 rupiah untuk satu jam. Kadang-kadang ada yang bermain sampai 5 jam, dan untuk itu Heru memberi bonus satu jam. Penghasilan bersihnya setiap bulan berkisar antara 200 sampai 300 ribu. ?Itulah hasil untuk mengembalikan modal, pak. Sudah dipotong untuk keperluan rumah?. Heru, yang sudah mempunyai seorang anak, menjelaskan usahanya itu.
Keberadaan tempat penyewaan play station ini, terkadang juga merepotkan orang tua dengan penghasilan pas-pasan. Anak-anak mereka mulai menggandrungi permainan tersebut. Ada juga yang sampai menggunakan uang sekolah hanya untuk bisa bemain. Selain itu tentu permainan yang mengasyikan ini menyita waktu. Bagi mereka yang memiliki peralatannya dirumah sering mengatur agar anak-anaknya hanya diperbolehkan bermain pada waktu-waktu tertentu. Akhir-akhir ini usaha Heru sering terganggu dengan adanya pemadaman listrik. ?Tarif listrik terus naik, nunggak sedikit terus diancam diputus. Kalau PLN yang salah seperti pemadaman ini, kita tidak diganti?, omelnya dengan nada serius.
?Sekarang ini mulai libur sekolah, saya melengkapi tambahan game? katanya sambil tersenyum. Mudah-mudahan Heru mendapat rejeki tambahan selama libur sekolah tahun ini. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 1 Juli 2008
First < 8 9 10 11 12 > Last |
Category |