First  < 3 4 5 6 7 >  Last

EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 18:01:48
PEMBIARAN ATAU TOLERANSI
Minggu yang lalu Pos Kota bersama Polda Metro Jaya mengadakan seminar mengenai masalah kemacetan lalu-lintas di Jabodetabek. Memang masalahnya sangat kompleks. Banyaknya kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan yang terbatas, menciptakan keadaan yang berdesak-desak, semrawut dan berbahaya.
Tiap hari beberapa siaran radio selalu memberitakan keadaan lalulintas, terutama kemacetan yang terjadi. Tetapi setiap hari kita mendengarkan dan merasakan kemacetan yang sama, sepertinya tidak ada usaha untuk memperbaiki.
Yang sering dipersalahkan adalah tidak adanya disiplin dari pengguna jalan, terutama sepeda motor, ojek, bajaj, angkot, metro mini, dan bis kota. Kesemua adalah jenis angkutan yang dibutuhkan para pelaku ekonomi rakyat. Memang perlu diakui bahwa angkutan umum, yang sangat kita perlukan, sering berkendara dan berhenti seenaknya. Sepanjang jalan sudah menjadi halte. Kadang-kadang metromini dan bis menurunkan penumpang ditengah jalan, ataupun di jalan tol, di. Tetapi faktanya semua dibiarkan saja oleh petugas. Walaupun para sopir atau kernet tetap harus menyediakan uang untuk ?mengamankan? pelanggarannya.
Tetapi mengapa mereka berbuat demikian. Ini adalah praktek bisnis biasa penawaran dan permintaan. Kalau semua penumpang, disiplin naik dan turun dari angkutan umum di halte atau terminal yang ditetapkan, mungkin merekapun hanya akan berhenti di tempat yang ditentukan. Tetapi pengguna angkutan umumpun menginginkan kemudahan dan kenyamanan, segan berjalan jauh di trotoar yang berlubang atau harus berjalan di jalan karena trotoar dipenuhi PKL.
PKL yang memadati trotoar dan sekitar halte, stasiun dan terminal mereka adalah pelaku ekonomi rakyat yang mencari sumber penghidupan. Merekapun mencari tempat yang paling strategis, dekat dengan pembeli. Disini juga berlaku praktek bisnis, ada pembeli ada penjual. Para PKL merasa sudah membayar ?uang keamanan?, berarti mempunyai hak walupun melanggar peraturan.
Jadi sebenarnya siapa yang bersalah? Apa letak halte dan terminal yang keliru? Para sopir selalu mengatakan ongkos mangkal diterminal menjadi mahal, ada biaya resmi dan ada biaya ?keamanan?. Di luar terminal hanya membayar biaya ?keamanan?.
Di beberapa lokasi dan ruas jalan, sering diadakan ?pasar kaget? yang diselenggarakan hanya pada hari-hari tertentu atau akhir pekan. Tidak ada yang mengeluh bahwa PKL berjualan sampai ditengah jalan. Masyarakatpun memanfaatkan keberadaan ?pasar kaget? ini. Satu toleransi yang diberikan oleh para pemimpin lokal yang ingin memberikan kesempatan bagi para pelaku ekonomi rakyat. Mereka berjualan dengan bebas pada hari-hari yang ditentukan. Patut disayangkan perhatian terhadap lingkungan belum menjadi tradisi. Mungkin syarat toleransi ini harus dikaitkan dengan keharusan mematuhi kebersihan.
Toleransi lainnya terjadi juga dalam angkutan umum, khususnya sekitar hari-hari raya besar. Toleransi diberikan bagi pengendara sepeda motor, jumlah penumpang untuk bis dan kereta api, sampai toleransi menaikan tarif.
Selain memberikan toleransi untuk mengatasi permasalahan, untuk menegakkan disiplin, pemerintah daerah harus menyiapkan terlebih dahulu solusi dengan memperhatikan peran dan nasib para pelaku ekonomi rakyat dan pembelinya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 18 Mei 2010


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 18:00:01
MAINAN ANAK PINGGIRAN

Anak-anak dan remaja masa kini sudah begitu biasa dengan berbagai permainan memakai listrik dan elektronik. Mobil-mobilan listrik memakai baterei, playstation, games, dan komputer sudah menjadi mainan sehari-hari. Mainan bagi mereka generasi, yang di Amerika sana dinamakan generasi Z. Generasi yang lahir setelah tahun 1990. Mungkin dikita sama dengan generasi R (atau generasi Reformasi). Di Indonesia, permainan dan mainan tersebut, banyak digemari mereka yang berasal dari kalangan menengah atau menengah bawah. Bagaimana dengan anak-anak lainnya?
Playstation sudah memasuki desa dan perkampungan disekitar kota besar. Warnet jadi tempat mereka bermain. Mal dan pusat perbelanjaan dengan pusat permainannya seolah-olah menjadi pengganti lapangan bola atau tempat bermain petak umpet.
Berbagai mainan berasal dari Cina membanjiri pasar kita. Bukan saja dijual di toko-toko besar, tetapi juga di kaki lima. Mainan buatan Cina ini menggeser mainan tradisional yang terbuat dari kayu, mainan anak-anak kita waktu yang lalu. Di pinggiran kota Jakarta, sisa-sisa mainan anak-anak kita masih dapat ditemukan.
Salah satunya adalah keong dengan berbagai bentuk rumahnya. Pak Rizal, yang berasal dari Bengkulu, sudah lebih dari 3 tahun memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan keong. ?Masih ada anak-anak yang mencari keong?, katanya sambil menyirami dagangannya dengan air. Ia berjualan di jalan baru Margonda didekat kantor Pemda. Ia berjualan keong merupakan keterpaksaan, karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain. Tiga tahun yang lalu dengan modal sekitar 200 ribu rupiah ia membeli peralatan untuk berjualan keong tersebut.
Setiap hari ia mengeluarkan uang 150 ribu untuk membeli keong dan pakan serta rumah-rumahan untuk keong. Keong Bengkulu dibeli dengan harga 700 rupiah dan dijual 2000 rupiah, sedang keong Lampung dibeli dengan harga 2000 rupiah, dan laku dijual 4000 rupiah. Sedang rumah-rumahan rata-rata dijual 4000 rupiah, sedang pembeliannya seharga 2000. ?Hasilnya lumayan, pak. Setiap hari mendapatkan bersih sekitar 40 ribu?, ucapnya bangga. Ayah seorang anak yang masih duduk di bangku SMP ini, tinggal menumpang di mertua dengan menempati petak 3X3 meter. ?Saya sekolah sampai SMP, tetapi hanya dengan ijazah saja sukar mencari pekerjaan. Ketrampilan khusus saya tidak punya. Jadinya dagang saja?, katanya tidak bersemangat. Rizal, walaupun umurnya baru 35 tahun, tetapi raut mukanya kelihatan lebih tua. Ia kemudian bercerita sewaktu masih bekerja di perusahaan, bekerja serabutan. ?Gajinya lumayan juga pak?.
Ia selalu menunggu musim libur sekolah, banyak anak-anak mencari keong. Terutama yang besar-besar, untuk dilombakan. Lomba kecepatan. ?Pokoknya kalau liburan sekolah hasilnya lumayan?, katanya sambil tersenyum.
Mainan tradisional masih juga digemari oleh anak-anak pinggiran, terutama karena harganya terjangkau. Mainan tradisional kebanyakan buatan usaha kecil atau rumah tangga, yang berarti memberikan penghidupan bagi masyarakat. Semoga saja keong-keong dan mainan tradisional ini tidak akan tersaingi dan tergusur oleh keong atau mainan impor dari Cina. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 4 Mei 2010


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:57:04
GITAR DAN BOTOL AQUA

Setelah matahari terbenam jalan Margonda Raya Depok, menjadi tempat dengan seribu rasa. Menjadi pusat kuliner bagi mereka yang bertempat tinggal disekitar Depok. Berbagai macam makanan dengan tingkat rasa, harga dan tempat yang dapat disesuaikan dengan selera dan kantong kita.
Disana saya bertemu dengan Aan dan Anam, yang sedang asyik melantunkan lagu Janji Manismu, yang biasanya dibawakan oleh Nidji. Dengan diiringi gitar yang dipetik oleh Aan, dan dukungan perkusi yang dibawakan Anam dengan memanfaatkan botol Aqua yang diisi pasir. Selesai menyanyikan sebuah lagu, beberapa pelanggan restoran, atau lebih pantas disebut tenda makan, memberikan lembaran ribuan, dan ada juga yang memberikan lembaran dua ribuan.
Aan, yang hanya tamat SD, sudah lebih sari sembilan tahun menjadi pengamen. Datang dari Cihampea Bogor, bersama teman sekampungnya Anam yang lulusan SMP, tinggal disebuah kontrakan dengan sewa 200 ribu rupiah perbulan. ?Tidak jauh dari sini, dan dibagi dua dengan Anam?, katanya sambil menunjuk kearah selatan. Aan, yang sekarang berusia 39 tahun, terpaksa meninggalkan keluarganya di Cihampea, termasuk anak satu-satunya yang sudah tamat SMP dan tidak melanjutkan sekolah lagi. ?Buat apa, pak, sekolah tinggi-tinggi kalau tidak ada pekerjaan. Ia juga nganggur di kampung?, keluhnya dengan nada penyesalan. Demikian juga dengan Anam yang berumur 42 tahun, walaupun tamat SMP tetapi tidak mempunyai ketrampilan apa-apa. ?Saya diajak oleh Aan, bisanya cuma main kecek-kecek saja?, sambil tersenyum menunjukan botol aquanya. Senyum yang mengandung seribu makna.
Aan belajar sendiri bermain gitar yang dibelinya dengan harga seratus ribu, dan suaranyapun lumayan. Ia rajin mengikuti berbagai acara musik di TV dan mendengarkan program radio dan memiliki beberapa buah kaset labu-lagu pop. ?Kalau lagu bahasa Inggris, saya tidak mengerti artinya. Asal kira-kira ucapannya bener aja?, ketawa sambil melengos. Setiap hari mereka berdua memulai bekerja sekitar jam lima dan berakhir sekitar jam 11 malam. ?Kalau malam libur kadang-kadang sampai jam 1 pagi. Hasilnya lumayanlah, pak?, sambil mencoba-coba gitarnya.
Kalau mengamen diwarung tenda, hasilnya agak kurang. Di rumah makan atau restoran sekali menyanyi bisa mendapat 5 sampai 10 ribu. ?Sekarang ini saingan banyak, pak. Maklumlah mencari pekerjaan sedang susah. Repot kita nih jadinya. Janji-janji penggede hanya omdo?, tukasnya dengan raut yang mengeras. Diantara pengamen mereka secara musywarah membagi daerah beroperasi maupun membagi jadwal. Tidak pakai rapat atau komisi pengawas. Itulah demokrasi. Kepercayaan dan keadilan.
Setiap hari Aan dan Anam dapat membawa pulang sekitar 50 ribu, setelah dikurangi untuk makan dan minum. ?Pak itu rata-ratanya. Kadang-kadang lebih, karena ada yang menyodorkan lembaran 5 atau 10 ribu? - katanya datar ??mungkin suara saya bagus ya pak?. Kitapun ketawa keras bersama, dan ia meneruskan lagunya Nidji --- Kini engkau pun pergi. Saat ku jatuh dan sendiri
Mana janji janjimu ------- (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di Harian Pos Kota 20 April 2010


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:55:16
BUMN DAN UKM

Sudah tiga kali Gelar Karya PKBL BUMN yang diselenggarakan setiap tahun dilaksanakan. PKBL atau Program Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN ini dibiayai dengan menyisihkan 4 persen laba bersih BUMN, 2 persen diperuntukan Kemitraan dan 2 persen lagi ditujukan untuk kegiatan Bina Lingkungan. Jumlah uang yang cukup besar.
Berbagagai kegiatan ekonomi dapat dibiayai oleh program ini, pinjaman yang dapat dikatakan mikro berjumlah jutaan atau puluhan juta rupiah untuk setiap usaha, dengan bunga yang rendah 6 persen. Selain itu UKM peserta program ini mendapatkan pelatihan manajemen, khususnya pengelolaan keuangan. Yang paling mereka nikmati adalah diikutkan dalam berbagai pameran didalam atau diluar negeri, sebagai tempat ajang promosi dan pemasaran, serta mengenali pasar. Beberapa UKM bisa mengembangkan usahanya sehingga bisa akhirnya mendapatkan pinjaman perbankan dan menjadi mapan.
PKBL ini masih dikerjakan sendiri oleh BUMN pembina, hampir tidak ada keterkaitan dengan departemen atau intansi pembina teknis ataupun perguruan tinggi. Sinergi masih dirasakan hanya sebagi slogan. Demikian juga gelar tahun 2010 yang bertemakan ?Menuju Indonesia Hijau?, muncul hanya sebagai tema dan pidato maupun jurnal. Bagi pelaku ekonomi rakyat, masalah kehidupan dan kebutuhan ekonomi masih jauh diatas tujuan Indonesia Hijau. Politik sangat jauh dari kenyataan, seperti dalam sektor lainnya.
Kita dapat mengamati dalam gelar ini beberapa perusahaan mapan yang sudah berkali-kali mengikuti berbagai pameran. Bagi mereka keikut sertaan dalam pameran sangat menguntungkan dan dapat melakukan promosi secara intensif. Mengikuti pameran Gelar PKBL BUMN ini, bagi UKM atau perusahaan yang sudah mapan, bukan karena keinginannya saja, melainkan karena diminta oleh BUMN pembinanya. Bagi BUMN pembina ingin menunjukan bahwa UKM hasil binaannya berhasil. Sayangnya keadaan demikian kurang memberikan kesempatan bagi yang lain.
Kita harapkan dalam tahun-tahun yang akan datang PKBL BUMN lebih dapat bersinergi dengan instansi lainnya, untuk membantu UKM kita menjadi perusahaan yang utuh. Banyak program-program yang ditujukan untuk UKM dilakukan sendiri-sendiri secara terpisah oleh masing-masing kementrian atau instansi. Masih banyak kekurangan dan kelemahan UKM kita dalam bersaing di pasar dalam negeri, apalagi menghadapi pasar bebas ASEAN-China ynag sedang kita hadapi. Selain masalah modal dan pemasaran, mereka memerlukan bantuan, pendampingan dan pelatihan dalam proses produksi, disain produk dikaitkan dengan HKI, dan kwalitas produk.
Janganlah juga porsi mereka dalam perekonomian bangsa diambil atau diberikan kepada perusahaan besar dan kapitalis, baik dalam dan luar negeri. Berikanlah mereka tempat pemasaran yang layak, kesempatan diikutkan dalam promosi. Janganlah isi box makanan di penerbangan domistik berisi produk perusahaan besar. Pemihakan kepada UKM harus menjadi jiwa, moral, dan darah daging perusahaan, bukan hanya jadi pemanis bibir saja.
Semoga para pelaku ekonomi rakyat yang bertebaran diseluruh tanah air bisa mendapat kesempatan untuk mengikuti program-program seperti PKBL BUMN ini. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di Harian Pos Kota 6 April 2010


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:06:30
LISTRIK DAN NASI

Rupanya falsafah hidup kita berkembang seperti menghitung bunyi toke. Tidak menentu dan tunggu nasib. Ribut-ribut kenaikan atau tidak kenaikan harga listrik TDL, tidak ada yang berani memastikan. Maklumlah pemimpin pun sedang menunggu toke yang berbunyi.
Listrik sekarang ini, sudah merambah kemana-mana. Berbagai jenis peralatan listrik juga bermunculan. Gemerlapan lampu di mal dan hotel menunjukan kemewahan bangsa ini, tentu hanya untuk sebagian kecil masyarakat. Orang kaya. Industri kita juga memanfaatkan listrik, termasuk industri dan usaha kecil. Peralatan rumah dan dapurpun sudah banyak memanfaatkan listrik, apalagi bagi mereka yang tinggal dikota dan di apartemen. Bagi rumah sederhana setidak-tidaknya kipas angin dan pemasak nasi atau rice cooker. Terkena giliran pemadaman listrik jadi kelimpungan, bisnis genset melonjak tajam.
Tetapi sebagaian masyarakat kita, yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya, untuk memasak mereka masih memanfaatkan elpiji dan kayu bakar. Kebutuhan utamanya ialah memasak nasi. Memasak nasi cara tradisional, memakai langseng atau dandang. Walaupun banyak sudah dandang modern dari aluminium buatan pabrik, tetapi dandang tradisional tetap digemari.
Kebiasaan masyarakat itulah yang menjadi sasaran pak Kasim asal Cirebon. ?Rasanya dari dulu enggak berubah, pak?, menjawab pertanyaan. Karena sejak tahun 1975 sudah memproduksi dandang dari tembaga dan aluminium. Memanfaatkan rumah tinggalnya yang berukuran 3X4 meter sebagai tempat kerja, pria berumur 63 tahun ini masih konsisten melakukan pekerjaannya. Sewaktu mulai usahanya di tahun 70an, mempekerjakan 3 orang. Dengan adanya elektrifikasi pesanan terus menurun, sekarang ia bekerja sendiri. ?Tetapi sekarang anak-anak sudah besar, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sekolah mereka?. Pak Kasim mempunyai 3 orang anak, 3 cucu dan seorang cicit.
Selain dandang tembaga pak Kasim juga membuat dandang dari bahan aluminium. ?Harganya lebih murah, dan membuatnya juga lebih mudah?, katanya bangga menunjukan ketrampilannya. Sebuah dandang tembaga dijual dengan harga 350 ? 400 ribu, sedangkan dari aluminium 130 ? 150 ribu rupiah. Setiap bulan ia masih bisa membuat 75-100 dandang. Untuk dandang orderan dengan bentuk dan besar yang khusus ia hanya meminta ongkos kerja 15 ribu. ?Dari jualan dandang, penghasilan saya cukup. Bersih mendekati 1 juta rupiah setiap bulan. Sekarang ini orderan sedang lumayan, pak?, sambil tertawa.
Selain membuat dandang yang sudah ditekuninya selama 35 tahun, ia pun melakukan kerja sampingan, jual-beli sepeda motor bekas. ?Saya kan tambah tua, satu hari nanti saya tidak punya tenaga lagi bikin dandang?. Meningkatnya pemakaian sepeda motor dilingkungannya, rumahnya yang sudah jadi miliknya sendiri, dimanfaatkan untuk berjualan sepeda motor bekas.
Hampir setiap Idul Fitri, pak Kasim dan keluarganya pulang kampung ke Cirebon. Meneruskan tradisi. Sampai sekarang istrinya masih memasak nasi dengan mempergunakan dandang. Listrik hanya dimanfaatkan untuk penerangan, radio, dan televisi, serta charger ponselnya.
Semoga bagi mereka TDL tidak akan dinaikkan. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 23 Maret 2010


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:04:35
RM PADANG DARI SRAGEN

Pengalaman, keberanian dan usaha yang keras telah mulai membuahkan hasil bagi pak Sarwo, Salmo dan Anto, tiga orang kepala keluarga yang berasal dari Sragen. Seperti halnya dengan para pendatang dari segala pelosok tanah air, datang ke Jakarta dan sekitarnya untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan lebih layak.
Pak Sarwo yang datang ke Jakarta, sebelumnya telah bekerja di sebuah rumah makan Padang sebagai juru masak selama 10 tahun. Bekerja keras dan keinginan belajar, kemudian ia telah membenarikan untuk membuka rumah makan atau RM Padang. Walaupun mereka berasal dari Sragen, tetapi restorannya diberi nama mirip RM makan Padang lainnya, ?Rumah Makan Tigo?.
Dengan mengambil tempat strategis di jalan Raya Bogor di dekat kantor Pemda, mereka bertiga mengkontrak sebuah kios berukuran 3X3 meter dengan harga 2 juta pertahun. Tempat itu juga dipakai untuk tempat tinggalnya. Maklum istri-istri mereka ditinggal di Sragen. Empat bulan yang lalu, ketika mereka memulai restorannya, mereka bersama mengumpulkan uang sebesar 10 juta rupiah. Uang tersebut dipakai untuk membeli berbagai perlengkapan dan peralatan yang diperlukan untuk menjalankan restoran kecilnya.
Setiap harinya mereka membelanjakan uang sebesar 150 sampai 250 ribu rupiah, untuk keperluan membeli berbagai bahan seperti, daging, telor, bumbu dan elpiji. Dengan pengalamannya di RM Padang sebelumnya pak Sarwo yang bertindak sebagai juru masak. Sedang Pak Salmo dan Anto mengurusi pelayanan dan bertindak sebagai kasir.
?Nasi rendangnya terasa banget, pak?, kata seorang pengunjung yang sedang menikmati makan di RM Tigo. Nasi rendang dan nasi ayam dihargai 6 ribu rupiah, sedangkan nasi telor 4500 rupiah. Teh pahit tidak ditarik biaya, untuk es teh manis harganya 1500 rupiah. Kalau tambah sayur, harganya lain.
Walaupun baru mulai buka 4 bulan, tetapi pelanggannya, terutama pegawai kantor dan pemilik toko disekitarnya sudah lumayan banyaknya. ?Kita gembira juga, pak. Hasilnya sudah baik saat ini. Insya Allah kita akan diberi rejeki oleh NYA?, kata pak Sarwo yang diiyakan oleh kedua rekannya. RM Tigo pun sudah mempekerjakan dua pemuda lulusan SLTP.
Dengan kerja keras, sekarang ini setiap hari mereka dapat menyisihkan penghasilan rata-rata sebesar 150 ribu rupiah. ?Masih kecil pak, pas-pasan untuk membiayai keluarga. Semoga saja akan tambah baik?, jelas pak Anto sambil terus melayani pelanggan. Mereka bertiga, yang sekrang berumur sekitar 40 tahun, sudah berkeluarga dan mempunyai anak, yang semuanya tinggal di Sragen.
Sekarang ini tumbuh semakin marak berbagai restoran, rumah makan, warung makan, baik yang berada di pusat-pusat perbelanjaan, maupun yang berada di ruko atau tenda pinggir jalan dan kaki lima. Berbagai jenis makanan dari berbagai daerah dan makanan internasional. Makanan Jepang, burger dan steak ada juga di kaki lima. Nasi goreng gila, sambel oncom, rawon, dan pepes ikan peda bisa didapatkan di restoran di pusat belanja.
Perut dan lidah manusia Indonesia tidak ada bedanya. Yang beda hanya tebalnya kantong. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kora 2 Maret 2010


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:02:44
KEMBALI PAKAI TEPLOK

Walaupun minyak tanah sudah sukar untuk didapat, masyarakat kelompok bawah masih terus mencarinya. Mereka bukan lagi membutuhkan untuk memasak, melainkan untuk keperluan pengganti lampu. Maklum mereka mengalami pemadaman listrik yang dilakukan PLN. Kelompok masyarakat menengath atas dan lapisan atas biasanya sudah menyiapkan genset yang akhir-akhir ini merebak diperdagangankan.
Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang telah dicapai dengan meluasnya jangkauan listrik, membuat pemadaman listrik yang akhir-akhir ini sering terjadi telah menyulitkan kebiasaan kehidupannya dimalam hari. Listrik bukan saja berfungsi sebagai sumber penerangan, melainkan juga untuk kebutuhan mengikuti acara televisi dan mengisi batere hp yang sudah merupakan kebutuhan mereka. Jadi bagi mereka dengan penghasilan yang pas-pasan, para pelaku ekonomi rakyat selain memakai listrik, terpaksa memanfaatkan lampu teplok atau sentir yang mempergunakan minyak tanah.
Bagi pak Tukijo, asal Plered Bantul, keadaan ini telah menambah rejekinya. Pak Tukijo, yang sekarang berusia 54 tahun, sejak 9 tahun yang lalu mulai berjualan berbagai kebutuhan rumah tangga, khususnya lampu teplok, sentir dan sumbunya. Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya di Bantul, dan tinggal di rumah kontrakan bersama 2 orang teman sekampungnya. ?Beginilah nasibnya, pak. Pisah sama istri dan anak sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan sekampung?, kata pak Tukijo datar. Selain istri, ia mempunyai tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Walaupun ia tidak pernah sekolah, tetapi pengakuannya bisa membaca. Ketiga anaknya tamat sekolah SMP, SMA, dan SMK, serta sudah bekerja.
Pak Tukijo berdagang dengan pikulan dan keliling dibeberapa lokasi perumahan sederhana dan kampung-kampung. Ia membeli barang dagangannya di pasar setiap minggu. ?Rata-rata saya mengeluarkan uang 300 ribu untuk membeli macam-macam barang. Terutama lampu teplok dan sentir yang sekarang sedang banyak diminati?. Lampu kecil ia beli dengan harga 5 ribi, dan dijual 10 ribu rupiah. Sedang yang besar dibeli 12.500 dan dijual sebuahnya 20 ribu. ?Saya juga jual sumbu lampu, harganya hanya 2.500, pak?, sambil menyususn barang-barang di pikulannya.
Dengan masih banyaknya hujan, listrik disekitar lingkungannya sering mati. Sebab itu, pak Tukijo masih menikmati hasil penjualan lampu teplok dan sentir yang cukup besar. Setiap hari hasil bersih penjualannya mencapai 50 sampai 60 ribu rupiah. Selain untuk makan dan sewa kontrak, ?sisanya saya kumpulkan, untuk dibawa pulang ke Bantul. Juga membeli mainan untuk cucu?, katannya dengan mata yang berkaca-kaca.
Pak Tukijo sudah siap-siap untuk mengganti dagangannya kalau suatu hari, layanan listrik sudah membaik. ?Saya tunggu saja nanti, pak?. Buat pak Tukijo dan kawan-kawannya yang senasib, kwalitas hidup masih hanya sebatas terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kwalitas kehidupan berkeluarga masih jauh dari idamannya. Inilah nasib generasi yang akan datang. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 16 Februari 2010


EKONOMI RAYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:01:11
EKONOMI RAKYAT YANG MANA?

Sebuah Seminar Akbar mengenai kaitan ekonomi kerakyatan dengan budaya nusantara, diselenggarakan di Wonogiri pada tanggal 30 Januari 2010 yang lalu. Yang menarik, bahwa seminar ini diprakarsai antara lain oleh seorang Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi.
Globalisasi dan ekonomi pasar bebas banyak menimbulhan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Ditambah lagi dengan perjanjian dagang bebas ASEAN dan China yang mulai berlaku 1 Januari 2010. Kekhawatiran ini sudah meluas dan semakin lantang di suarakan. Apa yang digembor-gemborkan oleh para politisi sewaktu pemilu dan pilpres, kenyataannya wong cilik tetap cilik atau tambah cilik. Yang besar tambah besar dan menggurita. Yang berupaya mencari isi perut dengan berbuat kriminal kecil ditahan dan dihukum. Para pencoleng uang rakyat dibiarkan berkeliaran, dan terus tertawa.
Di Wonogiri tidak ada pabrik dan tidak ada konglomerat. Kita mengenal Wonogiri mungkin dari tukang baso dari Wonogiri, termasuk baso Lapangan Tembak yang terkenal. Atau penjaja jamu gendong. Gaplek dan tapioka banyak dihasilkan dari Wonogiri. Bupati dengan warga Wonogiri mengembangkan dirinya untuk ekonomi yang mereka perlukan, ekonomi rakyat.
Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal menjadi dasar untuk menentukan dasar dan arah. Koperasi dilakukan berdasarkan kebersamaan di tingkat RT. Dilingkungan kacamatan tidak ada minimarket dan supermarket. Itu haknya rakyat membuka warung dan toko klontong. Pasar tradisional dan pasar ternak terus berkembang, yang sudah menjadi tradisi. Ekonomi tradisional yang bermakna bersilaturahmi dan tawar-menawar mencari kesepakatan.
Menko Kesra dalam sambutan pembukaannya menekankan bahwa kita ekonomi pasar bebas. Masyarakat yang harus siap dan berupaya menghadapinya. Mungkin beliau lupa bahwa masyarakat wong cilik dari dulu sudah terus berupaya. Bebas tanpa arah adalah sangat keliru. Dengan kemampuan dan modal terbatas, pelaku ekonomi rakyat terpaksa berdagang di trotoar atau bahu jalan, dengan membayar restribusi siluman. Razia datang, diusir dan lapak diangkut dan dihancurkan. Toko dan kantor yang berada di lingkungan pemukiman mewah kalau dirazia hanya ditempel bahwa DISEGEL. Tetapi kegiatannya berjalan terus dan tidak dibongkar. Apa itu ekonomi pasar bebas? Dimana letak keadilannya?
Akibat ketidakadilan kolonial, sejak awal kemerdekaan semua sadar bahwa ada sebagian masyarakat kita yang perlu dilindungi dan diberdayakan. Mereka adalah kelompok tertinggal, kelompok tidak mampu dan kelompok miskin. Sampai sekarang kita masih terus berupaya mengatasinya, tetapi kalah cepat dengan yang berorientasi pasar bebas.
Semoga kita semua masih mempunyai nurani untuk mengakui bahwa keadilan masih belum tercapai, sehingga perlu adanya pemihakan dan perlindungan. Dalam perekonomian, kita tidak memerlukan ekonomi pasar yang bebas, melainkan ekonomi pasar yang ber Pancasila, yang didasari falsafah dan budaya bangsa. Ekonomi pasar yang bermoral, manusiawi, nasionalis, demokratis dan berkeadilan sosial.
Kepala daerah dan anggota DPRD sudah dipilih oleh rakyat, sudah saatnya mengabdi kepada rakyat, bukan kepada partai atau atasan. Mari kita mulai dari bawah RT, RW, desa, kecamatan dan kabupaten.
Fenomena Wonogiri perlu ditularkan ke daerah lainnya.
Dimuat di Harian Pos Kota 2 Februari 2010


EKONOMI RAYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 17:00:53
EKONOMI RAKYAT YANG MANA?

Sebuah Seminar Akbar mengenai kaitan ekonomi kerakyatan dengan budaya nusantara, diselenggarakan di Wonogiri pada tanggal 30 Januari 2010 yang lalu. Yang menarik, bahwa seminar ini diprakarsai antara lain oleh seorang Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi.
Globalisasi dan ekonomi pasar bebas banyak menimbulhan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Ditambah lagi dengan perjanjian dagang bebas ASEAN dan China yang mulai berlaku 1 Januari 2010. Kekhawatiran ini sudah meluas dan semakin lantang di suarakan. Apa yang digembor-gemborkan oleh para politisi sewaktu pemilu dan pilpres, kenyataannya wong cilik tetap cilik atau tambah cilik. Yang besar tambah besar dan menggurita. Yang berupaya mencari isi perut dengan berbuat kriminal kecil ditahan dan dihukum. Para pencoleng uang rakyat dibiarkan berkeliaran, dan terus tertawa.
Di Wonogiri tidak ada pabrik dan tidak ada konglomerat. Kita mengenal Wonogiri mungkin dari tukang baso dari Wonogiri, termasuk baso Lapangan Tembak yang terkenal. Atau penjaja jamu gendong. Gaplek dan tapioka banyak dihasilkan dari Wonogiri. Bupati dengan warga Wonogiri mengembangkan dirinya untuk ekonomi yang mereka perlukan, ekonomi rakyat.
Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal menjadi dasar untuk menentukan dasar dan arah. Koperasi dilakukan berdasarkan kebersamaan di tingkat RT. Dilingkungan kacamatan tidak ada minimarket dan supermarket. Itu haknya rakyat membuka warung dan toko klontong. Pasar tradisional dan pasar ternak terus berkembang, yang sudah menjadi tradisi. Ekonomi tradisional yang bermakna bersilaturahmi dan tawar-menawar mencari kesepakatan.
Menko Kesra dalam sambutan pembukaannya menekankan bahwa kita ekonomi pasar bebas. Masyarakat yang harus siap dan berupaya menghadapinya. Mungkin beliau lupa bahwa masyarakat wong cilik dari dulu sudah terus berupaya. Bebas tanpa arah adalah sangat keliru. Dengan kemampuan dan modal terbatas, pelaku ekonomi rakyat terpaksa berdagang di trotoar atau bahu jalan, dengan membayar restribusi siluman. Razia datang, diusir dan lapak diangkut dan dihancurkan. Toko dan kantor yang berada di lingkungan pemukiman mewah kalau dirazia hanya ditempel bahwa DISEGEL. Tetapi kegiatannya berjalan terus dan tidak dibongkar. Apa itu ekonomi pasar bebas? Dimana letak keadilannya?
Akibat ketidakadilan kolonial, sejak awal kemerdekaan semua sadar bahwa ada sebagian masyarakat kita yang perlu dilindungi dan diberdayakan. Mereka adalah kelompok tertinggal, kelompok tidak mampu dan kelompok miskin. Sampai sekarang kita masih terus berupaya mengatasinya, tetapi kalah cepat dengan yang berorientasi pasar bebas.
Semoga kita semua masih mempunyai nurani untuk mengakui bahwa keadilan masih belum tercapai, sehingga perlu adanya pemihakan dan perlindungan. Dalam perekonomian, kita tidak memerlukan ekonomi pasar yang bebas, melainkan ekonomi pasar yang ber Pancasila, yang didasari falsafah dan budaya bangsa. Ekonomi pasar yang bermoral, manusiawi, nasionalis, demokratis dan berkeadilan sosial.
Kepala daerah dan anggota DPRD sudah dipilih oleh rakyat, sudah saatnya mengabdi kepada rakyat, bukan kepada partai atau atasan. Mari kita mulai dari bawah RT, RW, desa, kecamatan dan kabupaten.
Fenomena Wonogiri perlu ditularkan ke daerah lainnya.
Dimuat di Harian Pos Kota 2 Februari 2010


EKONOMI RAYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-29 16:58:20
DOMPET DAN ROMPI

Barang China semakin merajalela memasuki pasar kita. Mungkin bagi pedagang tidak ada masalah, malah menguntungkan karena dengan modal sama bisa mendapat barang lebih banyak. Tetapi bagi para pengrajin atau industri rumah tangga, kebijakan pemerintah menyetujui pasar babas dengan China, bisa membawa malapetaka. ?Saya sering membaca di koran dan melihat di televisi, mengapa pemerintah harus begitu??, kata pak Bagas menjawab pertanyaan tentang penyebab menurunnya pelanggan yang datang.
Pak Bagas yang berasal dari Cilacap sudah lama tinggal di Jakarta. Sebelum menjadi pengusaha dompet, topi, tas dan rompi, ia mengabdikan dirinya sebagai PNS di salah satu Departemen. ?Setelah pensiun, saya harus mencari penghasilan tambahan untuk membiayai sekolah anak-anak?, katanya lirih. Sejak tahun 1970, pak Bagas mendirikan usaha pembuatan topi dan rompi. Waktu itu banyak sekali pesanan oleh berbagai kelompok perkumpulan. Usahanya terus berkembang dan menambah produknya dengan dompet dan tas. Dengan menempati ruangan sebesar 4 X 6 meter yang terletak disamping rumahnya, pada waktu jayanya pak Bagas mengoperasikan 7 buah mesin jahit dan 2 buah mesin obras, dengan pekerja 7 orang. Pada waktu itu dana yang dikeluarkan sebesar 2,5 juta rupiah. ?Sekarang tinggal sebuah mesin jahit dan sebuah mesin obras. Saya pun hanya dibantu oleh istri saya?, ucapnya dengan wajah lesu.
Pak Bagas dan istrinya mempunyai 6 orang anak. Sedangkan yang tinggal dirumah hanya yang bungsu dan masih sekolah di SMK. Yang lainnya sudah bekerja semuanya. Ia mengerjakan pesanan bersama istrinya. Ongkos menjahit sebuah topi 12 ribu rupiah. Dompet dijual dengan harga 15 ribu rupiah, sedangkan rompi dijual dengan harga 80 ribu. Tetapi sekarang ini bekerjanya hanya berdasarkan pesanan. Kalau ada pesanan, rata-rata setiap hari ia memerlukan modal sebesar 500 ribu rupiah untuk bahan, dan bisa mendapatkan penghasilan bersih sebesar 400 ribu rupiah. ?Kalau tidak ada pesanan, biasanya beli bahan 200 ribu dan menunggu sampai ada pembeli?, dengan mata menatap jauh.
Dengan usianya yang menginjak 63 tahun, pak Bagas bekerja santai. ?Saya tidak ngoyo pak. Sudah mulai capek?, katanya. Ia hanya berharap mendapatkan uang untuk membayar sewa tempat ia bekerja, sebesar 200 ribu setiap bulan. Ia kemudian banyak ceritra mengenai kekhawatirannya bahwa harus menutup usahanya. ?Sudah banyak teman-teman saya menutup usahanya. Pedagang di pasar sudah mendapatkan barang yang lebih murah, sehingga tidak mau menjualkan barang kita?.
Semoga saja pemerintah segera mengambil langkah agar teman-teman pak Bagas masih dapat terus menjalankan usahanya, untuk menghidupi keluarganya. Pak Bagas masih berharap masa jayanya, dengan 7 buah mesin jahit dan 2 mesin obras, dapat kembali. Apakah itu harapan atau impian? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Semoga. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 19 Januari 2010


First  < 3 4 5 6 7 >  Last
Category


home  |  rss  |  login  |  Register