< 1 2 3 4 5 > Last
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:33:33
PATILO -MANILO
Selamanya sekitar Hari Raya Imlek bumi kita selalu diguyur hujan. Mungkin itu juga yang membuat tanah kita subur. Tetapi kesuburan karunia Tuhan tersebut tidak menjadikan makmur para pengolah tanah didesa. Petani kita tetap saja harus mencari pekerjaan atau usaha lain untuk menyambung hidupnya. Walaupun harga hasil-hasil pertanian meningkat, tetapi keuntungannya dinikmati pada pedagang atau pemilik lahan yang luas. Kalau harga turun petanilah yang paling menderita.
Hujan juga telah mendatangkan kemuraman bagi produsen patilo alias pati dari telo atau singkong. Semacam tepung dari singkong, yang sering juga disebut manilo. Ada juga yang dijual sudah dalam bentuk krupuk atau reginan yang sudah digoreng. Usaha inilah yang digeluti oleh Mas Sarijo di desa Sumbergiri ? Gunung Kidul. ?Empat tahun yang lalu, saya kena PHK. Anak yang sudah tamat SMU-pun masih menganggur sampai sekarang?, dengan raut wajah penuh protes. Bagaimana tidak, ia sendiri tamat SMK, istrinya SMU dan demikian juga anaknya, tetapi kehidupan mereka tidak membaik. ?Bagaimana tidak mangkel pak. Sesuai anjuran pemerintah kita mendidik anak sampai SMU, tapi tidak ada pekerjaan?, masih terus menggrutu dengan nada protes.
Sejak di PHK tahun 2004, dengan modal simpanan seadanya, Mas Sarijo memulai usaha patilo, dibantu oleh istrinya. Setiap hari ia membeli singkong dari masyarakat sekitar atau pasar. Rata-rata ia mengeluarkan uang sekitar 90 ribu rupiah setiap hari untuk membeli berbagai kebutuhan lainnya. Sekarang ini singkong harganya 1000 rupiah satu kilo. Kalau sudah jadi patilo dijual dengan harga 6000 ribu rupiah. Selain menjual patilo dalam kemasan 1 dan setengah kilo, Mas Saridjo juga menjual dalam bentuk krupuk dan reginan. ?Tetapi kebanyakan hanya membeli patilo saja, pak. Lalu mereka yang membuat berbagai jajanan?, sambil menyelesaikan rokok kreteknya.
Penghasilan Mas Saridjo setiap hari mencapai 150 ribu rupiah, dan bersih diserahkan kepada istrinya sekitar 40 ? 45 ribu rupiah. ?Cukup tidak cukup, ya harus dicukupkan?, katanya sambil ketawa. Kalau musim kemarau banyak yang menanam singkong, harganyapun jadi murah. ?Sekarang sedang sepi, dan kalau hujan susah mencari singkong. Juga susah menjemur patilo?, katanya sambil melihat kesekeliling. ?Apa setelah pemilu dan pilpres hidup kita akan lebih baik pak?? Sayapun tersentak dan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Sekilas terbayang dimata saya baliho-baliho raksasa di Yogya dengan macam-macam warna, yang menampilkan calon-calon anggota DPR dan DPRD, yang katanya akan mewakili rakyat. Papan-papan reklame raksasa mengalahkan reklame HP, motor dan sabun. Apa mereka juga akan untung seperti jualan HP, motor, dan sabun? Bagaimana caranya mereka bisa untung? Mudah-mudahan harapan Mas Sarjito dan harapan jutaan masyarakat Yogya bisa terkabul, untuk hidup lebih baik.
Semoga di tahun kerbau kita bisa lebih baik. Gong Xi Fat Choi! (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 3 Feb 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:32:17
NASI UDUK GN KIDUL
Saya masih berada di Yogya, serta mengagumi keuletan masyarakat disekitar Yogya dalam menghadapi kehidupan yang serba susah. Banyak sekali warga Gunung Kidul yang merantau ke Jabodetabek untuk mengadu nasib, mencari penghasilan bagi keluarganya. Keluarga, istri dan anak ditinggalkan. Kadang-kadang hanya dua bulan sekali menjenguk pulang. Bukan hanya itu, kehidupan bersosialisasi dengan lingkungan dan dengan budaya mulai juga tercerabut. Tetapi ada juga yang mencari tambahan dengan memanfaatkan peluang di Gunung Kidul atau Yogya dan sekitarnya.
Bu Tris, yang hanya tamat SD, dan suaminya yang lulusan SMP, adalah petani di Gunung Kidul. Kedua anaknya, dengan ijazah SMU dan SMP, sudah beberapa tahun merantau ke Tanggerang, seperti banyak pemuda lainnya dari kampungnya. Bu Tris, yang sekarang berusia 52 tahun, harus tetap tinggal di kampungnya, karena diserahi menunggu dan mendidik 2 orang cucucnya. ?Saya senang momong cucu. Mereka lucu-lucu?, katanya gembira. Itulah kehidupan kita, tidak ada nenek yang tidak senang kalau dititipi cucunya. Tetapi yang jadi masalah Bu Tris dan suaminya, adalah menurunnya penghasilan sebagai petani. ?Saya heran, pak. Kalau dengar tivi, katanya ekonomi membaik. Tapi nyatanya, hidup kita dikampung makin repot?, ucapnya dengan mata yang melebar.
Sebab itu sejak dua tahun yang lalu Bu Tris, dengan memanfaatkan gardu pos ronda yang kosong disiang hari, memulai berjualan makanan dan jajanan untuk anak-anak sekolah. Kebanyakan anak-anak dipedesaan pergi kesekolah tidak membawa bekal makanan, dan juga belum makan pagi atau sarapan. Dengan keterampilan yang dimiliknya sebagai ibu rumah tangga, Bu Tris berjualan nasi uduk, nasi kuning dan es dawet. Kalau di Yogya dikenal dengan nasi kucing yang harganya 1000 rupiah, demikian juga Bu Tris berjualan nasi uduk dan nasi kuning seadanya dibungkus daun pisang. Dijual dengan harga 500 rupiah untuk satu bungkus. Sedangkan es dawet 200 rupiah. Kalau hanya minum air es dengan sirup harganya 100 rupiah. Disamping makanan dan minuman tersebut, Bu Tris juga berjualan macam-macam jajanan dalam bungkusan yang sedang digemari anak-anak. Pengaruh tayangan tivi. Selain anak sekolah, banyak juga pembeli lainnya.
?Sekarang lumayan, pak. Sekolah sudah mulai lagi?, sambil terus melayani anak-anak sekolah dengan seragam putih-merah, yang tampak sudah pudar. Sewaktu libur sekolah, Bu Tris terpaksa kembali membantu suaminya bertani dikebun. Dari usaha dagangnya setiap hari diperoleh 120 ribu rupiah. Sebesar 80 ribu rupiah disisihkan untuk belanja besok harinya. ?Saya berjualan hanya sampai pukul 12. Kemudian pulang ngurus cucu lagi?, katanya ringan. Untuk mempersiapkan dagangannya ia dibantu oleh suaminya. ?Kalau dia tidak perlu dibayar?, sambil ketawa terkekeh dengan menutup mulutnya.
Ribuan mungkin jutaan masyarakat kita yang bernasib seperti Bu Tris dan suaminya. Janganlah kita melupakan mereka dalam Pemilu dan Pilpres, karena suara mereka nilainya sama dengan seorang konglomerat, Ketua Partai ataupun Menteri. Tapi bagaimana nasib mereka setelah itu? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 27 Jan 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:30:45
BAKPIA
Saya sudah berkunjung kembali ke Yogya, inilah oleh-olehnya.
Hampir semua wisatawan domistik atau yang sering disebut wisnus, kalau berkunjung ke Yogja sering mencari oleh-oleh makanan khas Yogya. Bukan hanya gudeg atau buah sukun, tetapi antara lain juga bakpia. Selain dipusat belanja oleh-oleh, kita juga bisa langsung ke daerah lingkungan produksi dan pengrajin bakpia. Menyusuri sebuah jalan di Pathok ? Yogya, berderet toko penjual dan produsen bakpia, mereka hanya dibedakan dengan penggunaan angka yang berbeda, seperti Bakpia 25, Bakpia 55 ataupun Bakpia 77 dan masih banyak angka lainnya. Angka-angka tersebut kebanyakan mencermikan nomer rumah atau toko yang ditempati. Karena lokasinya di Pathok tersebut, maka bapia dari Yogya lebih dikenal dengan nama Bakpia Pathok.
Jangan kaget kalau industri bakpia ini sudah meluas kebanyak daerah disekitar Yogya, bukan hanya di Pathok, melainkan antara lain ke Gunung Kidul. Pak Adi sudah sejak tahun 2000 memproduksi bakpia, sebagai industri rumah tangga, dirumahnya di Karang Duwet, Karang Mojo ? Gunung Kidul. Dengan modal sekitar 2 juta rupiah yang ia kumpulkan sewaktu bekerja dipabrik bakpia di Pathok, ia memulai usahanya dan memakai nama ?Barokah?. ?Sebetulnya saya berpendidikan STM, pak. Tapi rupanya bakpia ini yang memberikan berkah?, katanya santai. Anak pak Adi yang besar, 29 tahun, masih kuliah disebuah PTS dan yang kedua umurnya 23 tahun. ?Mudah-mudahan mereka akan bernasib lebih baik?.
Ia memproduksi bakpia dan menjualnya dalam kemasan kotak doos. Yang berisi 27 buah, ia jual dengan harga 7000 rupiah, sedangkan doos yang agak besar dengan isi 32 buah, harganya 10 ribu rupiah. ?Sekarang ini pembelinya sedang banyak, pak? sambil tersenyum. Dengan dibantu 4 orang karyawan yang semuanya adalah keponakannya sendiri. ?Kasihan mereka, pak. Banyak yang menganggur, sedangkan mereka adalah tamatan SMU, SMK, dan ada yang STM?, katanya sambil menunjuk kesalah seorang dari mereka. Mereka setiap hari masing-masing mendapat upah 15 ribu rupiah, tetapi kalau sedang banyak pekerjaan mereka mendapat uang ekstra.
Setiap hari pak Adi rata-rata mengeluarkan uang 200 ribu untuk membeli berbagai kebutuhan produksi, terutama tepung kacang hijau. Dari hasil penjualan bakpia, ia mendapatkan 450 ribu setiap hari. Kalau sedang musim liburan dan lebaran hasilnya lebih banyak. Sesudah dikurangi ongkos produksi dan lain-lain, pak Adi bisa menyisihkan bersih sekitar 160 ribu rupiah. ?Kadang-kadang ada yang pesan, tetapi tiba-tiba dibatalkan. Sedih kalau begitu, Pak?, katanya lirih. Mudah-mudahan menjelang Pemilu ini partai-partai politik bisa memanfaatkan hasil indutri kecil termasuk bakpia untuk keperluan kampanye. Kabarnya ada partai politik besar dalam rangka kampanye pemilu, yang untuk atribut partainya memesan dari luar negeri. Kemana nurani mereka. Cari partai yang mana, dan partai demikian tidak perlu dipilih. Mereka menghianati perjuangan masyarakat pelaku ekonomi rakyat. (rahardi@ramelam.com)
Dimuat di harian Pos Kota 20 Jan 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:28:49
ONDE-ONDE TERTAWA
Yang tetap bundar bukan hanya bola, tetapi juga onde-onde masih tetap bundar. Selain onde-onde masih banyak jajanan atau snack tradisional yang memiliki penggemar. Kerak telor, arum manis, odading atau bolang baling, kueh cubit, untir-untir dan masih banyak lagi. Ada juga onde-onde versi lain, onde-onde tertawa atau gelek kata orang Semarang. Dengan berkembangnya berbagai toko kue wara laba seperti gurita, banyak jajanan tradisional kita tersisihkan. Waralaba dengan berbagai nama .....bread......., menempati lokasi-lokasi strategis di mal dan pusat perbelanjaan. Para pedagang jajanan tradisionalpun semakin tergerus.
Walaupun demikian Jakarta masih terus mempesona dan menjadi magnet para pendatang dari seluruh penjuru nusantara, terutama dari daerah padat penduduk seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demikian juga dengan Mas Gun, pria asal Brebes, yang sudah beberapa tahun menetap di Desa Sukatani Depok. Bersama seorang istri dan dua orang anaknya yang masih kecil, ia menempati rumah yang dikontraknya 300 ribu rupiah satu bulan. Dua tahun yang lalu ia di PHK dari sebuah pabrik didekat Cibinong. ?Beberapa kenalan saya sekarang juga kena PHK, pak. Sedang krisis rupanya?, mencoba menyakinkan saya.
Sejak di PHK, ia bersama istrinya membuat onde-onde, dan menjualnya dengan menggunakan gerobak dorong. Dengan memanfaatkan uang simpanannya sebanyak 1,5 juta rupiah, Mas Gun melengkapi peralatan usahanya seperti kompor dan wajan termasuk membeli gerobak dorong. Mulai siang hari ia berjualan dikompleks perumahan sekitar Desa Harjamukti dan Sukatani. Sedangkan adonan untuk onde-onde sudah disiapkan oleh istrinya, yang juga berbelanja bahan ke pasar. Onde-onde ukuran kecil dijual dalam kemasan plastik berisi 20 buah dengan harga 2500 rupiah, sedang ukuran besar dengan kemasan berisi 5 buah dijualnya dengan harga 5000 rupiah. Pria yang berpendidikan SMP dan demikian juga istrinya, mengaku bahwa penghasilan kotornya setiap hari sekitar 140 sampai 160 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang sepi, pak. Orang-orang lebih senang pergi ke mal sambil jalan-jalan dan membeli kue?, katanya tidak bersemangat. Biasanya penghasilan Mas Gun akan bertambah, kalau ada ibu-ibu yang menyelenggarakan arisan atau pengajian, mas Gunpun tidak usah mendorong gerobaknya kemana-mana. Iapun berharap akan banyak arisan dan pengajian di tahun 2009 ini.
?Semua penghasilan saya serahkan kepada istri saya. Ia belanja setiap pagi ke pasar, membeli terigu, kacang ijo, dan wijen?, melanjutkan ceritanya. Untuk bahan dagangan istrinya mengeluarkan uang setiap hari sekitar 60 ribu rupiah. ?Semoga tahun ini dan seterusnya tambah baik, ya pak. Saya perlu menyekolahkan anak?, ucapnya lirih sambil menata dagangannya. Mungkin Mas Gun tahu bahwa ada krisis yang akan berdampak kepada usahanya, tetapi ia tetap berharap untuk bisa menenangkan gejolak pikirannya. Sayapun berharap bahwa para calon pemimpin yang sedang rebutan kursi sekarang ini, mempunyai gagasan untuk memperbaiki kehidupan para pelaku ekonomi rakyat seperti Mas Gun. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 13 Jan 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:26:41
DUNG, DUNG, DUNG
Dung, dung, dung. Bunyi bonang yang sengaja dipukul dengan keras, terdengar dijalan-jalan sempit dan gang disekitar pemukiman SSSSS, yang penuh dengan rumah petak sewaan. Anak-anak kecilpun berhamburan keluar rumah, mendekati gerobak becak Pak Karso yang berjualan es putar. Anak-anak yang menggunakan beragam jenis dan warna pakaian, ada yang telanjang dada, ada yang ingusan, meramaikam pemandangan. Kebanyakan mereka adalah anak-anak yang belum bersekolah, masih balita. Masa depan bangsa, menjadi modal SDM kita yang produktif di tahun 2030.
Begitulah gambaran kehidupan masyarakat kita di lingkungan pemukiman padat, baik yang direncanakan seperti Rusunami, tapi juga yang tumbuh liar disekitar Jabodetabek. Hampir semuanya memanfaatkan air tanah dengan sumur pompa, PLN kebanyakan sudah menjangkau mereka. Saluran air limbah, tidak jelas bermuara kemana. Didepan rumah dan dijendela-jendela bergantungan jemuran pakaian. Setiap pedagang jajanan lewat, dengan berbagai bunyi dan musik yang dipakainya, akan menarik kelompok anak-anak kecil berlarian keluar rumah mereka. Gang Kelinci seperti yang dilantunkan Lilis Suryani tahun 60-an, sudah berada dimana-mana sekitar kita. Penuh dengan anak-anak seperti anak kelinci. Jakarta sudah penuh sesak dengan anak-anak, pemuda, pengangguran, dan pensiunan yang tidak produktif. Tetapi keadaan demikian tidak menggentarkan para pelaku ekonomi rakyat, bukan pengusaha karena tidak memiliki NPWP, untuk terus menghidupi keluarganya.
Pak Karso, yang penjual es puter atau es dung-dung, sudah 28 tahun menekuni usaha ini. Bersama istrinya, bapak dari tiga anak asal Klaten, menempati kontrakan dibelakang sebuah pasar. Ketiga anaknya sudah dewasa dan bekerja bersama sebuah grup hiburan keliling dibeberapa pasar malam. Demikian juga pak Karso, kadang-kadang untuk mendapatkan tambahan, bekerja ditempat yang sama. ?Lumayan ada tambahan, pak?, sambil terus menyiapkan es puter dirumahnya, yang dikontrak 300 ribu setiap bulannya. Setiap hari ia menyisihkan 100 ribu rupiah dari penghasilannya, untuk membeli berbagai bahan baku es puter, seperti kelapa, hun kue, tepung dan dua macam buah. ?Sekarang ini saya pakai stroberi dan durian, pak?! Menyiapkan jualannya, pak Karso selalu dibantu istrinya, yang tidak pernah mengenyam pendidikan.
Pak Karso, yang tamatan SR, menjual es puternya dengan harga 1000 rupiah untuk gelas kecil dan 2000 rupiah gelas besar. ?Tapi saya kadang-kadang terpaksa menjual 500an, melayani anak-anak yang nangis minta es?, sambil tersenyum. Di komplek perumahan dan bagi yang sedang mengadakan pesta, ia sering melayani pesanan dengan termos. Satu termos dengan isi untuk 300 gelas, dijual dengan harga 300 ribu rupiah, minimum pesan 2 termos. Rata-rata setiap hari ia bisa mendapatkan sekitar 180 ribu rupiah, setelah dipotong modal dan uang rokok, sisanya diserahkan kepada istrinya.
?Sekarang sedang banyak orang hajatan, pak. Rejekipun jadi tambah?. Semoga tahun ini pak Karso penghasilannya bisa bertambah, banyak kampanye partai-partai politik menjelang Pemilau dan Pilpres. ?Pak nanti Pemilu mau memilih apa?, tanya saya iseng. ?Saya tidak tahu, pak. Ikut yang lain aja?, katanya tidak bersemangat. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 6 Jan 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:25:00
ARANG PENGGANTI MINYAK TANAH?
Pak Catong tidak mengerti betul apa yang terjadi di negara tercinta ini. Minyak tanah menghilang, katanya diganti elpiji, tetapi elpiji juga sukar didapat. ?Sudah seminggu kita harus antri?, kata bapak dari tiga orang anak. Memang akhir-akhir ini, arang kayu buatannya banyak dicari oleh para pedagang makanan. Sejak berhenti dari pekerjaannya semula, akhirnya pak Catong 3 tahun yang lalu memutuskan untuk membuat dan menjual arang kayu. Dengan memanfaatkan halaman di rumahnya ia mulai usahanya dengan dibantu oleh seorang pekerja. Sedangkan anaknya sudah besar-besar, yang tertua, 30 tahun, jadi tukang ojek. Sedangkan yang kedua, 25 tahun, bekerja di toko bangunan. ?Anak saya yang kecil masih di SMA. Mudah-mudahan ia bisa bernasib lebih baik?, katanya sedih.
Dengan modal sekitar 1,5 juta rupiah pada waktu itu, Pak Catong membeli berbagai peralatan seperti gergaji kayu, chain saw bekas, kapak, dan drum. Ditambah dengan kebutuhan lainnya seperti karung, kantong plastik dan tali rapiah. ?Saya asli orang sini pak. Bukan pendatang?, katanya tegas. Pak Catong umurnya kini sudah 49 tahun. Biasanya ia membeli kayu langsung yang berasal dari pohon hasil tebangan. Untuk satu buah colt pick-up penuh dengan harga antara 100 sampai 150 ribu rupiah. Dari bahan ini pak Catong bisa menghasilkan 20 sampai 25 karung arang kayu , dengan berat 25 kilogram setiap karungnya. Seluruh ongkos untuk pembuatan arang tersebut, termasuk pembelian kantong plastik dan tali, menjadi sekitar 200 ribu rupiah.
Setiap menjelang tahun baru banyak yang mencari arang kayu untuk pesta kebun, tetapi pak Catong tidak tahu buat apa. ?Tetapi disekitar daerah ini banyak pedagang sate dan tongseng, merekalah langganan besar saya?, sambil terus mengangkat dua buah karung ke dalam becak. Setiap karung arang kayu dijual dengan harga 30 ribu rupiah. Setiap hari bisa terjual sampai 20 sampai 25 buah karung. Penghasilan bersih pak Catong setiap harinya mencapai 300 ribu rupiah. Dengan uang itu ia masih harus membayar pekerjanya sebesar 20 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang banyak pesanan dari warung-warung?, katanya gembira. Banyak rumah tangga yang biasa mempergunakan minyak tanah, kembali memanfaatkan kayu bakar atau arang kayu. ?Saya jadi tidak mengerti pak?, sambil memperhatikan wajah saya, ?kita ini maju atau mundur, pak??. Saya tidak sanggup menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan kelangkaan minyak tanah. Tidak ada gunanya juga menjelaskan mengapa Pemerintah dan Pertamina sampai terseok-seok mendistribusikan elpiji sebagai pengganti minyak tanah. Toh, pak Catong seperti halnya sebagian besar masyarakat lainnya, tidak akan mengerti.
Bagaimana nasib masyarakat ekonomi rakyat di tahun 2009 nanti? Apakah pesta demokrasi bisa mengatasi kelangkaan minyak tanah dan elpiji? Semoga Pemilu dan Pilpres di tahun 2009 membawa kesejahteraan kepada para pelaku ekonomi rakyat, bukan hanya kesejahteraan bagi partai yang menang. Selamat Tahun Baru 2009. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 30 Des. 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:23:33
IBU-IBU (MASIH) MENANGIS
Hari-hari ini banyak masyarakat yang menikmati kegemerlapan kehidupan di Jakarta, terutama menjelang Hari Natal dan Tahun Baru. Berbagai atraksi, sale, obral, dan diskon digelar hampir disemua pusat perbelanjaan mewah. Tetapi keadaan dan suasana tersebut bukan merupakan gambaran kehidupan para pelaku ekonomi rakyat.
Disisi lain, saat ini juga bertepatan dengan hari Ibu yang kita peringati setiap tanggal 22 Desember, dan tahun ini adalah yang ke 80. Hari ibu yang diwarnai oleh antrian ibu-ibu menunggu kedatangan elpiji, dan terjadi hampir diseluruh penjuru negeri. Janji pemimpin kita mengenai ketersediaan elpiji yang diumumkan di media masa, termasuk tivi, beberapa hari yang lalu disambut dengan gembira. ?Hari selasa, kita bisa masak lagi dengan elpiji?, teriak seorang ibu yang bercucuran air mata terkena asap kayu bakar. Hari ini sudah selasa lagi, tetapi elpiji belum kunjung normal. Semua yang bertanggung jawab atas ketersediaan elpiji memberikan pernyataan yang berbeda. Apakah kuping kita semua yang salah dengar? Ujung-ujungnya masyarakat yang disalahkan, katanya pemakaian elpiji yang meningkat tajam. Bukankah Pertamina sudah harus mengatisipasi sebelumnya? Masyarakat menjadi bingung, apa sebetulnya yang terjadi dengan elpiji, dan siapa yang harus didengar.
Keputusan pemerintah menurunkan harga bbm untuk kedua kalinya, disambut ibu-ibu dengan gembira, mereka sangat berharap akhirnya akan ada perubahan bagi hidup mereka. ?Semoga harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan akan turun segera?, seorang ibu berharap. Maklum setiap hari mereka harus mengeluarkan ongkos transport untuk anak-anaknya pergi sekolah. Mengenai tarif angkutan, pemerintah pusat memberikan kebijakan dan arahan, pemda berunding dengan organda, hasilnya belum juga disepakati. Ibu-ibu masih harus terus membayar ongkos transport seperti semula. Sepertinya pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa yang berkuasa dinegara kita ini? Harga bahan pokokpun tetap bertengger seperti semula. Para pedagangpun tidak bisa menurunkan harga, kalau biaya transport tetap tinggi. Kalau begitu siapa yang menikmati penurunan harga bbm tersebut?
Di hari ibu tanggal 22 Desember 2008, seyogyanya ibu-ibu bergembira memperingati awal perjuangan mereka untuk kesetaraan dengan kaum pria. Delapan puluh tahun sudah lewat, tetapi justru mereka harus antri untuk mendapatkan elpiji dan membayar ongkos transport dan harga kebutuhan pokok yang tetap tinggi.
Dengan krisis ekonomi global sekarang ini, PHK menghantui suami-suami mereka. Ibu-ibu harus memikirkan untuk mencari jurus baru mencari tambahan penghasilan mendukung keluarganya. Atau menuruh anak-anak mencari bermacam-macam kaos oblong dengan logo partai politik untuk mengurangi belanja pakaian.
Semoga para pemimpin, bukan hanya memberikan janji dan harapan, melainkan solusi untuk ibu-ibu, agar mereka tidak menangis lagi. Selamat Hari Ibu.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 23 Des. 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:21:38
GETUK BERSAING DENGAN BBM
Dulu orang mengatakan harus belajar sampai ke Cina. Jalur sutra di sepanjang daratan Asia, bukan yang di BSD, terbentuk karena perdagangan kain sutera, dan permadani. Orang Portugis dan Spanyol datang jauh-jauh dari Eropa sampai ke Maluku mencari rempah-rempah. Sekarang ini pengusaha-pengusaha dari mancanegara menetap dan melakukan kawin kontrak di Bali dan Jepara untuk berbisnis perhiasan, garment dan mebel. Berdagang adalah mencari keuntungan, jumlah keuntungan yang didapat dan jarak yang ditempuh tentu harus dihitung. Tetapi berdagang juga merupakan jalan termudah untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Apalagi dimasa-masa krisis.
Demikian juga di negara tercinta kita ini, Nusantara, arus perdagangan berkembang sejak dahulu. Orang Bugis, Padang, Palembang dan Madura dikenal sebagai pedagang-pedagang tangguh mengarungi laut nusantara dan lautan India, sampai ke benua Afrika. Kita mengenal bagaimana tangguhnya dan uletnya para pedagang dari Tegal, Bantul, Gunung Kidul dan Wonogiri, mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan datang ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya diseantero Nusantara. Dimasa krisis ekonomi seperti sekarang ini, pedagang pendatang ini makin bertambah.
Demikian juga kisah Mas Yono, yang tamatan SMP, sudah 3 tahun ini, harus meninggalkan isteri dan kedua orang anaknya yang masih duduk di SD dan SMP, dan mencari tambahan penghasilan di Jakarta. Isterinya di Wonogiri, masih terus berjualan makanan dan jajanan anak-anak di depan sekolah. Mas Yono menempati petak kontrakan di Depok dengan sewa 200 ribu rupiah untuk satu bulan. Dari informasi yang didapatkan sewaktu di Wonogiri, ia menghubungi kenalannya yang membuat getuk, khususnya getuk lindri. Kemudian iapun memutuskan untuk berjualan getuk lindri. Dengan uang yang ia miliki, ia membeli gerobak beca, radio tape bekas dengan speakernya, dan berbagai peralatan lainnya. ?Kalau tidak salah saya habiskan uang 800 ribu rupiah, pak?, katanya sambil menerawang.
Setiap pagi ia mengambil getuk dagangannya dari agen dan menjajakannya keliling Depok. ?Kadang-kadang ada yang memborong, pak. Senang juga rasanya, tidak usah keliling?, sambil membuka-buka kotak gerobaknya. Setiap hari ia bisa menjual getuk sampai 150 buah, unuk itu dibutuhkan modal sekitar 50 ribu rupiah setiap harinya. Rata-rata setiap harinya Mas Yono mendpat penghasilan bersih sekitar 30 ribu rupiah. ?Setiap bulan saya pulang ke Wonogiri mengirim uang, dan kangen sama isteri?, katanya sambil senyum. ?Saya kan laki-laki, pak?, seolah-olah minta pengertian saya.
Walaupu berbagai jenis makanan ?modern? seperti roti dan kue sudah banyak dijual, tetapi rupanya jajanan tradisional tetap saja mempunyai tempat. Sampai sekarang getuk dan jajanan tradisional digemari dan masih bisa terjangkau oleh masyarakat bawah. Kita tidak tahu bagaimana nantinya kalau upaya pemerintah mencari pengganti BBM akan memanfaatkan singkong sebagai bahan bakunya. Semoga para akhli sudah memikirkan ini. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 16 Des 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:18:03
SUSAHNYA NGURUS PARKIR
Isu beredar bahwa tarif parkir akan dinaikkan, atas permintaan pengelola parkir di Jakarta, yang swasta. Tidak ada yang tahu persis, berapa persen dari tarif parkir itu yang masuk kocek pemerintah daerah. Ditempat dan lapangan parkir umum, walaupun sudah membayar parkir resmi, kita masih dibayangi oleh preman yang seolah-olah mengatur parkir dan meminta bayaran. Parkir Timur Senayan, JICC, sampai Bandara Sukarno-Hatta masih dikuasai para preman tersebut. Soal parkir di Bandara Su-Ta, walaupun jelas tertulis parkir hanya untuk CD, atau perwakilan asing, tetapi para petugas keamanan takut megusir kendaraan mewah dengan pengemudi dan pengawal berseragam safari hitam. Apalagi menghadapi kendaraan dengan nopol tentara atau polisi, atau menghadapi lembaran puluhan ribu, mereka tidak berdaya. Kadang-kadang kita heran bahwa ditempat jauh dari kesibukan dipinggir jalan, berhenti untuk membeli sesuatu dari PKL, tiba-tiba saja muncul tukang parkir yang meminta uang. Walaupun tidak ada jasa apapun yang mereka kerjakan, hanya bermodal sempritan. Gebrakan Kapolri memberantas preman dan perjudian, sudah dimulai. Preman pasar, preman terminal sudah mulai kena garuk. Kita tunggu kapan preman parkiran bakal kena giliran. Perjalanan Kapolri dengan jajarannya masih panjang, semoga diberi kekuatan, ketangguhan dan stamina menghadapi mereka.
Hampir seluruh tempat parkir umum di Jakarta sudah dikelola oleh swasta. Pusat belanja, mal, perkantoran, hotel, dan gedung-gedung lainnya tidak ada satupun yang terbebas dari ongkos parkir. Pengelola parkir pemda mengurus parkir disekitar jalan-jalan yang padat dengan pengunjung. Sedangkan disekitar pasar tradisional yang masih tersisa di pinggiran kota, kita juga dikenakan biaya parkir baik untuk mobil maupun motor. Hanya tidak jelas siapa pengelolanya dan kemana uang itu mengalir.
Budaya serba bayar untuk parkir, dimanfaatkan oleh Mas Jamhari, asal Tegal, yang sudah sejak tahun 1980 mengelola jasa parkir di pasar Cisalak. Ia bersama isteri dan kedua anaknya yang sudah besar 29 dan 20 tahun, sudah memiliki rumah sendiri dibelakang pasar Cisalak. Dengan memanfaatkan lahan 3 X 12 meter milik Pemda di pasar tersebut, Mas Jamhari mengelola tempat parkir terutama untuk sepeda motor. Dengan lahan tersebut yang dikenakan sewa 25 ribu setiap harinya, bisa menampung 20 ? 25 motor, dengan ongkos parkir 1000 rupiah. ?Kadang-kadang ada mobil kecil juga, pak. Kalau sedang kosong, ya saya terima dan bayarnya 1500 rupiah?, jelasnya sambil memegangi tumpukan kertas bernomor. Untuk keperluan kerjanya ia membuat kertas bernomor yang dilaminat, dan membeli beberapa buah sempritan. Ia dibantu oleh seorang anak muda yang juga berasal Tegal. ?Kalau dia lulusan SMP, pak, sedang saya hanya SD?, sambil ketawa dan melihatkan gigi emasnya. Setelah dipotong setoran sewa, keperluan makan dan upah rekannya, ia bisa membawa pulang uang paling tidak 25 ribu rupiah setiap harinya. ?Sekarang agak aman pak. Premannya sudah menghilang, semoga terus begini?, sambil terus mengatur yang parkir. ?Priiiiiiiiit?. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 9 Des. 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:16:22
JAKJAZZ MINUS CIMOL
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu menyediakan waktu untuk keriaan tahunan musik Jakjazz di Jakarta. Tahun inipun demikian juga saya menghadirinya sejak pembukaan. Kadang-kadang saya juga mengunjungi Jakarta Fair, terutama sewaktu masih diselenggarakan di pojok lapangan Monas. Kedua peristiwa itu menunjukan denyut jantung kota Jakarta, lepas dari kesumpekan hidup sehari-hari. Jakjazz tahun ini, terasa sangat dekat dengan masyarakat, menyuguhkan campuran berbagai jenis musik jazz ala gado-gado. Pembukaannyapun dihibur dengan kelompok Gado-gado Jakarta, yang terasa membosankan dan tidak jelas inginnya apa. Tapi toh akan melancong ke Tokyo. Gubernur DKI Jakarta, walaupun diwakili, secara konsisten sejak dulu selalu hadir dan memberikan sambutan. Kali ini masih dalam Visit Indonesia Year 2008, Menteri Budpar turut mengundang pada acara pembukaan, tetapi tidak seorangpun kelihatan mewakili menteri, apalagi memberi sambutan. Mungkin visit ke Senayan tidak ada apa-apanya dibandingkan melancong ke Yogya atau Bali. Tetapi pesta rakyat Festival Jalkjazz yang kesepuluh jalan terus tanpa mereka.
Dalam penyelenggaraannya yang ke sepuluh ini, terasa ada yang istimewa, selain Jakjazz ini konsisten sebagai festival, kali ini juga terasa seperti pasar malam. Selain berbagai jenis musik jazz yang disuguhkan, juga tersedia berbagai jenis makanan. Mulai kopi tubruk asli Indonesia, sampai kopi stabak ala Amerika ada disana. Makananpun tidak ketinggalan, tahu bacem, goreng ayam, sosis, burger, bakso, nasi kucing, spageti, swarma dan kebab. Di Jakarta fair selalu kita dapati pedagang kerak telor, harum manis, dan cimol. Kerak telor ada rupanya sudah menge-jazz juga, sedang harum manis dan cimol belum hadir disana.
Khususnya jajanan cimol ini, sampai sekarang masih menjadi makanan favorit anak-anak sekolah. Bahannyapun bukan terigu yang masih diimpor, melainkan sagu yang merupakan bahan asli Indonesia. Rasanyapun macam-macam, ada rasa sapi dan ayam goreng. Harganyapun masih terjangkau uang saku anak sekolah, 100 rupiah satu buah. Jualan cimol ini ditekuni Mas Kusno bersama isterinya yang asal Tegal, sejak dua tahun yang lalu. Bermodalkan uang 2 juta rupiah, mereka membeli berbagai peralatan yang diperlukan termasuk gerobak. Kusno yang berpendidikan SMP, setiap hari belanja kebutuhan dagangannya dengan modal 100 ribu rupiah, termasuk minyak tanah. Mereka berdua berjualan dengan mangkal di pojok jalan dekat komplek perumahan Departemen Penerangan. ?Saya harus bayar uang kebersihan seribu rupiah setiap hari?, katanya, ?tapi disini cukup ramai pak?, katanya bersemangat. Setiap hari keluarga Kusno mendapatkan penghasilan bersih bisa mencapai 140 ribu rupiah. ?Kita perlu membayar kontrakan rumah 300 ribu setiap bulan, dan membiayai sekolah anak-anak?, ucapnya serius. Penghasilannya sekarang ini cukup baik, tetapi kalau hujan terus menerus penghasilannya juga berkurang.
Semoga Jakjazz tahun depan, Ireng Maulana akan memberikan kesempatan kepada pak Kusno dan isterinya untuk berjualan cimol disana. Sungguh akan membahagiakan mereka medapatkan rejeki tambahan, walau hanya untuk 3 hari, seperti yang dinikmati penjual kerak telor. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos ota 2 Des 2008
< 1 2 3 4 5 > Last |
Category |