First < 11 12 13 14 15 > Last
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-01-31 00:00:00
SELAMAT DATANG 2008
Mengakhiri tahun 2007 dan memasuki 2008, negara dan bangsa kita dilanda oleh berbagai musibah. Hujan yang terus-menerus mengguyur menyebabkan luapan air sungai terjadi hampir disemua sungai kita. Longsor dan banjir telah mengsengsarakan rakyat diberbagai tempat. Selain rumah yang terendam, juga ribuan hektar sawah telah tergenang air. Penggundulan hutan, yang menjadi penyebab, terus berlanjut, pembalak liar tetap tidak tersentuh hukum. Siapa yang akan menghentikan mereka? Kesedihan yang dihadapi sebagian masyarakat, tidak menyurutkan pesta penyambutan tahun baru, tahun 2008.
Hotel berbintang, tempat-tempat wisata, mal dan pusat perdagangan menyelenggarakan acara mewh secara besar-besaran bagi mereka yang berkantong tebal. Sedang bagi masyarakat umum Jabodetabek pesta kembang api dipusatkan di lapangan Monas. Tetapi bagi sebagian masyarakat Jabodetabek perubahan tahun dirayakan dirumah-rumah atau dilingkungan RT. Perayaan di rumah-rumah dan lingkungan RT tidak kalah semaraknya. Gerobak dangdut menjadi hiburan utama, tentu dengan harga yang spesial. Walaupun hujan terus mengguyur, perayaan terus berlangsung meriah, bermacam-macam terompet dan kembang api ikut meramaikan.
Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh Jarot, lulusan SMA yang berumur 40 tahun, untuk berjualan kembang api keliling. Usahanya sudah dimuali sejak 4 tahun yang lalu dengan dibantu oleh istrinya yang berjualan kembang api dirumahnya. Untuk usahanya, ia membeli sepeda seken, dan melengkapinya dengan rak, terpal dan tas. Sewaktu itu ia mengeluarkan uang sebesar 250 ribu rupiah. “Saya tidak mengambil keuntungan besar pak. Sekitar 2500 sampai 5000 rupiah untuk setiap paknya”, katanya sambil menyusun barang dagangannya di sepeda. Setiap 2 atau 3 hari ia mendatangani pasar Jatinegara untuk membeli keperluan dagangannya. Satu pak kembang api ia beli dengan harga 15 ribu rupiah, dan dijual 17. 500 kadang-kadang 20 ribu. Sedang untuk mercon air mancur, satu paknya ia beli dengan harga 10 ribu, dan dijual 12.500 rupiah. Mercon air mancur yang besar ia beli dengan harga 3500 rupiah dan dijual 5000 rupiah. “Tahun ini agak sepi, pak, maklum banyak hujan”, sambil mulai mendayung sepedanya kembali. Rupanya pembeli banyak menangguhkan pembelian kembang api untuk merayakan tahun baru sampai hari H, yaitu 31 Desember.
Dengan modal 200 ribu rupiah untuk sekali belanja, setiap hari hasil penjualannya sekitar 60 ribu rupiah. Keuntungan bersihnya rata-rata 27.500 rupiah setiap hari, termasuk hasil penjualan istrinya di rumah. Walaupun sepi, tetapi tahun ini Jarot dan istrinya mendapatkan penghasilan lebih dari hari-hari biasa. Pulang kerumah setelah tengan malam, diawal tahun 2008, Jarot dan istrinya bisa duduk sejenak menikmati kopi panas. Ia mengharap tahu-tahun yang akan datang bisa berdagang barang lain yang lebih membawa keuntungan. Banyak Jarot-Jarot, pengusaha mikro, yang memerlukan bimbingan untuk bisa mendapatkan kredit melalui Kredit Usaha Rakyat yang baru saja diluncurkan oleh presiden SBY. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 8 Januari 2008
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-01-09 00:00:00
REJEKI DARI GAS
Di musim paceklik seperti sekarang ini pekerjaan di sentra-sentra produksi padi sangat berkurang. Para buruh tanip tanpa ketrampilan tertentupun menyerbu Jakarta dan kota-kota besar lainnya untuk mencari pekerjaan. Kolong jalan layang, jembatan, dan trotoar menjadi tempat mereka mengadu nasib menunggu pemborong, mandor, atau pengerah tenaga kerja mencari mereka. Ditempat tersebut mereka bukan hanya menunggu pekerjaan, melainkan juga tempat mereka tidur dengan alas seadanya dan berselimut langit. Kalau sedang hujan seperti sekarang ini mereka terpaksa mencari tempat untuk bisa berteduh. Kalau rejeki tiba, secara berkelompok mereka bisa bekerja dan mendapatkan sekedar tempat berteduh. Disepanjang jalan di Pondok Indah contohnya, mereka hanya disediakan tenda sederhana untuk bisa melepas lelah, tetapi ada juga proyek yang menyediakan bangunan yang dijadikan mes sebagai tempat menginap. Beberapa pekerja bangunan yang saya temui, ada juga yang bukan pendatang musiman melainkan penduduk Jabodetabek.
Dengan adanya proyek pemasangan pipa gas di sekitar Depok, banyak diperlukan tenaga kerja bangunan ini. Rata-rata mereka mendapat pekerjaan sebagai penggali saluran untuk menempatkan pipa gas. Kemudian saya berbincang dengan salah satu dari mereka, Digin namanya. Pemuda berusia 38 tahun ini, sudah 2 tahun bekerja sebagai pekerja galian. Dengan uangnya sebanyak 65 ribu rupiah, Digin yang mengenyam pendidikan SMP, bisa membeli cangkul dan garpu. Dengan peralatan itulah sekarang ini ia mendapat pekerjaan galian bersama 6 orang rekannya. Karena lokasi proyek berada di Depok, pemborong menyediakan mes untuk mereka tidur di malam hari. Diginpun terpaksa menginap di Depok, meninggalkan istri dan seorang anaknya di Cipaku, Bogor.
Upah yang didapat tergantung dari panjangnya saluran yang mereka gali. Di musim kering tanah menjadi keras, sedangkan dimusim dingin sekarang ini mereka harus bekerja dibawah guyuran hujan. “Sekarang ini kita harus bekerja dalam keadaan basah. Kadang-kadang saluranpun dipenuhi air, sehingga sukar mengerjakannya”, keluhnya. Penghasilan mereka tidak menentu, tergantung keadaan tanah yang dikerjakan. Kadang-kadang mereka dihadapkan dengan lapisan beton atau aspal yang keras, sehingga hasilnyapun berkurang. Setiap hari sabtu mereka sebagai kelompok mendapatkan bayaran, dan Digin membaginya rata dengan rekan-rekannya. Rata-rata Digin dan kawan-kawannya menerima upah setiap hari sekitar 45 ribu rupiah. Setelah dipakai untuk kebutuhan untuk makan dan rokok, setiap hari sabtu mereka bisa membawa pulang rata-rata 150 ribu rupiah.
“Kita selalu meunggu hari sabtu, pak, mandor datang dan membawa upah kita”, katanya sambil tersenyum. Dengan adanya proyek pemasangan pipa gas, untuk beberapa bulan kedepan rejekinya jadi aman. Setiap hari sabtu, Digin selalu menyempatkan pulang kerumahnya di Bogor untuk berkumpul dengan keluarganya. Anaknya yang berusia 16 tahun dan duduk di SMP sangat membutuhkan perhatiannya. “Maklumlah pak sekarang ini banyak godaan narkoba”, ucapnya dengan nada sedih. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 18 Desember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-01-09 00:00:00
PASIR PENYAMBUNG HIDUP
Konperensi PBB mengenai perubahan iklim masih belangsung di Nusa Dua. Kitapun tergugah dengan menggerakan program menanam pohon secara beramai-ramai. Upaya pengurangan emisi gas buang terus digulirkan. Tetapi disisi lain untuk, mendukung pembangunan gedung-gedung, mal, dan perumahan, penggalian dan penambangan pasirpun terus berkembang dan makin meluas. Penggalian dan penambangan pasir ini bukan hanya dilakukan oleh penggali pasir kecil, tetapi juga dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan besar dengan mempergunakan peralatan yang canggih. Penggalian dan penambangan pasir inipun dibeberapa tempat sudah merusak alam, tetapi luput dari perhatian dunia dan PBB. Sebagian pasir untuk pembangunan Jakarta berasal dari Bogor dan Sukabumi. Pengangkutan pasir dengan mempergunakan truk-truk besar juga telah merusak jalan, dan mengganggu transpotasi. Saya sering mengunjungi tempat-tempat disepanjang hulu sungai Ciapus dilereng gunung Salak di Bogor, tempat yang sejuk unuk camping.
Disanalah saya bertemu dengan Acep, 41 tahun, yang sudah 4 tahun menghidupi keluarganya sebagai penggali batu dan pasir. Dengan bermodalkan uang sebesar 200 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralata seperti pacul, sekop, linggis, pahat dan palu besar atau bodem. Dengan dibantu oleh 3 orang rekannya, pria yang tidak mengenyam pendidikan formal ini, setiap hari menggali batu dan pasir di sungai Ciapus, di desa Pasir Eurih. Setiap hari mereka bisa mendapatkan satu truk pasir dan satu truk batu. Satu truk pasir bisa dijual seharga 150 ribu rupiah, sedangkan untuk batu kali dijual selitar 95 ribu rupiah. Penghasilan penjualan pasir dan batu itu kemudian dibagi rata. Kadang-kadang Acep, yang sudah mempunyai istri dan 2 orang anak, harus mengganti perlatannya yang dipakai. Misalnya pahat praktisnya harus diganti setiap 2 minggu. Setiap harinya masing-masing dapat membawa pulang uang sekitar 40 ribu rupiah.
Pekerja penggali pasir dan batu di sepanjang hulu sungai Ciapus ini ada beberapa kelompok. “Sebenarnya kita sudah dilarang oleh Perhutani, tapi bagaimana lagi Pak, ini penghasilan kita satu-satunya”, katanya sambil mengkerutkan dahi. Acep dan kawan-kawannya menyadari bahwa pekerjaannya tersebut merusak lingkungan. Tetapi buat mereka hidup lebih penting dari memelihara lingkungan. Rupanya cara berpikir Acep ini tidak beda dengan para pengusaha besar yang telah merambah hutan dan mengeruk hasil laut. Merekapun terus melaksanakan pekerjaannya dengan aman.
Kalau sedang musim hujan seperti sekarang ini, mereka tidak bisa bekerja setiap hari, karena jalan menuju tempat kerja menjadi licin. Tetapi disisi lain pasir jadi banyak, karena terbawa air dari hulu. “Kalau kemarau kami lebih mudah menuju ke sungai, tetapi pasirnya tidak terlalu banyak”, ujarnya datar. Kita harapkan pemerintah jangan hanya terpaku dengan masalah dunia pemanasan global, tetapi juga memperhatikan kerusakan lingkungan yang dihadapi oleh kita sendiri di tanah air. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 11 Desember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-01-09 00:00:00
SATE KELILING
Dalam kalangan tertentu kehidupan di Jakarta dan sekitarnya juga menyenangkan, semuanya tergantung dari bagaimana cara kita melihatnya. Coba saja bayangkan, makanan apa yang tidak bisa didapat di sekitar dan di depan rumah kita? Tidak usah mempergunakan telepon untuk memesan, mereka datang sendiri tanpa dipanggil. Bubur ayam, ketoprak, lontong sayur, dan berbagai macam sate. Khusunya sate, kita mengenal bukan saja jenisnya seperti sate ayam dan sate kambing, melainkan juga dari asal daerahnya, seperti sate Tegal, sate Solo, sate Bali, maupun sate Padang.
Berjualan sate Padang itulah yang memberikan penghidupan kepada saudara Fendy yang berusia 24 tahun dan berasal dari Padang Pariaman. Pria yang sudah beristri ini tinggal di kampung Bojong – Tanggerang, dengan mengkontrak rumah seharga 1,5 juta rupiah pertahun. Sudah 4 tahun ia menjual sate Padang dengan cara berkeliling disekitar pemukiman dan beberapa komplek perumahan. Dengan modal sebesar satu setengah juta rupiah, ia membeli gerobak dorong dan berbagai peralatan seperti panci, kompor, pembakar sate sampai lampu petromax.
Kemudian dengan uang sebesar 80 sampai 100 ribu rupiah, setiap hari ia membeli berbagai keperluan untuk jualannya. Bahan sate, bumbu sate, dan ketupat sudah dipersiapkan di rumah. Kemudian ia menjualnya dengan mempergunakan gerobak, dan untuk satu porsi atau bungkus ia jual dengan harga 5 ribu rupiah. “Saya belajar jualan sate dari kakak saya, yang juga berjualan sate Padang”, ungkapnya sambil terus mendorong gerobaknya. Pemuda yang tamat SMP ini, setiap harinya berpenghasilan kotor antara 150 ribu sampai 200 ribu rupiah. Kadang ia mendapatkan pesanan untuk sebuah pesta. “Saya senang kalau diborong begitu, hanya melayani tamu-tamu dan tidak usah keliling untuk menjual sate”, katanya sambil tersenyum. “Tetapi kalau nasib sedang jelek, saya harus pulang dengan membawa sebagian sate. Yah, terpaksa bikin pesta sendiri dirumah”, matanya sambil menerawang jauh. Mungkin membayangkan kampung halamannya di Padang Pariaman. Fendy setiap harinya dapat menyisihkan uang antara 45 sampai 80 ribu rupiah.
Disela-sela ia melayani pembelinya, kamipun berbincang-bincang mengenai berbagai masalah kehidupannya. “Saya tidak mengerti pak, mengapa ada yang ingin agar makanan, seperti rendang supaya dipatenkan. Jadinya semua orang yang membuat rendang jadi susah”, katanya sambil menatap mata saya. Rupanya Fendy rajin membaca koran dan mengikuti perkembangan di tanah airnya. Bagaimana kalau Cina mempatenkan capcay atau bakso, apakah semua restoran dan pedagang capcay dan bakso harus membayar royalty? Bukankah yang penting bagi kita bahwa rendang diakui dan dikenal berasal dari Padang, seperti halnya gudeg dari Yogya dan rujak cingur dari Jawa Timur? Mudah-mudahan pemerintah akan hati-hati menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan hak milik intelektual yang sudah menjadi milik publik. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 4 Desember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2007-12-02 00:00:00
MINYAAAAK …………………..
Dibeberapa tempat di Jabodetabek teriakan penjual minyak tanah yang menjajakan jualannya sudah mulai berkurang. Maklum program konversi minyak tanah ke LPG sudah mulai berjalan walaupun belum merata. Beberapa penghuni RT dan RW disekitar rumah kami di Cibubur, pernah menawarkan tabung LPG 5 kilo untuk saya beli. Bukan karena mereka ingin tetap memakai minyak tanah, tetapi mereka sudah memanfaatkan LPG sejak beberapa tahun. Inilah gambaran penyakit birokrasi kita, jangankan daftar masyarakat yang berhak menerima bantuan program konversi minyak tanah, daftar peserta Pemilu dan Pilkadapun masih amburadul.
Langit yang cerah di hari Sabtu yang lalu telah merangsang saya untuk keliling di jalan-jalan desa di sekitar rumah. Belum jauh saya berjalan kedengaran teriakan “minyaaaaaak”. Karena penasaran saya mendekati penjual minyak tanah keliling yang memakai gerobak. “Kelihatan berat mas gerobaknya”, tanya saya sambil mendekatinya. “Ia pak, masih pagi baru keluar”, jawabnya sambil meratakan napasnya. Gerobaknya berisi 16 jeriken plastik, ada corong dan literan. Saya tidak sempat menanyakan namanya, tapi sebut saja pak Giman, yang berasal dari Tegal. Pak Giman telah menjual minyak tanah dengan pikulan sejak ia tamat SMP, sedangkan umurnya sekarang 35 tahun. Jadi ia sudah menggeluti usaha ini kira-kira 19 tahun. “Sudah lama saya tinggal disini dengan menyewa kontrakan 150 ribu satu bulan”, katanya datar. Kontrakan 150 ribu biasanya hanya satu ruangan dan dibelakang ada kamar mandi yang harus dibuat sendiri. Pak Giman tinggal disitu bersama istri dan dua orang anaknya.
Ia menjual atau menitipkan minyak tanah di warung dan kios, yang menjualnya kepada pembeli dengan harga sekitar 3000 rupiah untuk satu liter. Warung dan kios yang sudah menjadi langganannya cukup banyak. Ada yang setiap hari dikirim, ada juga yang seminggu sekali, tergantung kebutuhannya. Tetapi kalau ada yang beli ngecer juga dilayani. “Namanya juga rejeki, pak, tentu saya layani”, sambil tersenyum. Ia membeli minyak tanah tidak dari satu sumber, kalau jerikennya sudah kosong dimanapun, ia mencari agen minyak untuk bisa mengisi jerikennya lagi.
Setiap hari pak Giman dapat menjual sekurang-kurangnya 100 liter. “Setelah ada program LPG, menjual minyak agak susah, pak”, sambil mendorong grobaknya. Pak Giman menlanjutkan pertualangannya dengan gerobak minyak tanahnya. Setiap liter ia hanya mendapatkan keuntungan sebesar 200 rupiah. Jadi setiap hari, minimum ia mendapatkan penghasilan 20 ribu rupiah. Mungkin lebih kecil dari UMP. Tapi itulah hidup yang harus ia jalani. Bagaimana nasibnya setelah program konversi ke LPG tuntas? Semoga pemerintah melalui program konversi minyak tanah, juga memikirkan nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari penjualan minyak tanah, seperti pak Giman. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 27 Nopember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2007-12-02 00:00:00
GADO-GADO
Makanan seperti salad sebagai makanan pembuka dengan berbagai macam rasa banyak dikenal di kuliner dunia. Tiap negara mempunyai kekhususan saus (dressing) yang dipakainya. Sedang di negara kita, khususnya di pulau Jawa kita mengenal juga makanan seperti salad, seperti pecel di Jawa Tengah dan Jawa Timur, lotek dari Jawa Barat dan gado-gado dari Jakarta dan sekitarnya. Pecelpun mempunyai rasa yang beragam tergantung daerahnya, misalnya pecel Yogya lain rasanya dari pecel Madiun. Sedangkan di Jawa Barat selain lotek ada juga karedok yang memakai sayuran serba mentah.
Bagi orang Jakarta, gado-gado sudah tidak asing lagi. Ada yang sederhana, ada juga yang istimewa dengan tambahan telur rebus dan lontong atau ketupat. Bagi sebagian orang Jakarta yang paling dikenal adalah gado-gado Boplo. Gado-gado yang berasal dari pasar Boplo ini, sekarang sudah mempunyai cabang dimana-mana. Selain gado-gado Boplo ada ratusan penjual gado-gado lainnya di Jakarta.
Satu diantaranya adalah ibu Mina, yang sudah berjualan gado-gado sejak tahun 2001. Untuk usahanya ini ia mengkontrak ruangan 3X3 meter dengan harga 150 ribu rupiah satu bulan. Ibu dengan dua anak ini memulai usahanya dengan uang sebesar 750 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan yang diperlukan untuk memulai usahanya. Ia sudah harus memulai pekerjaannya setiap hari pada malam hari, karena setiap pagi sekitar pukul 8 langganannya sudah mulai datang. Dengan dibantu oleh seorang pekerjanya ia bisa mendapatkan penghasilan kotor setiap hari sekitar 100 – 120 ribu rupiah. “Sekarang ini usaha sedang baik pak, banyak proyek dan bengkel baru berdiri disini”, katanya sambil tersenyum. Setiap hari ibu Mina, yang lulusan SD, harus mengeluarkan uang 40 – 50 ribu untuk belanja barang. Sehingga setiap harinya ia mendapatkan penghasilan bersih antara 45 – 50 ribu rupiah. Sedangkan pekerjanya, yang juga masih keponakannya mendapatkan honor harian sebesar 15 ribu rupiah.
Walaupun harga minyak goreng dan minyak tanah masih tetap tinggi, harga gado-gado ibui Mina tetap 5000 rupiah satu porsinya. “Sekarang ini harga bahan-bahan sudah mendingan kalau dibandingkan dengan sebelum hari raya”, sambil terus melayani pelanggannya. “Program konservasi minyak tanah belum sampai disiini, pak. Tapi minyak tanah sudah langka dan harganya naik”, sambungnya. Dengan adanya beberapa proyek di Cimanggis, seperti pembangunan jalan tol dan pemasangan pipa gas PGN, telah memberikan lapangan kerja yang lumayan bagi para pekerja kontraktor. Disamping itu juga memberikan tambahan penghasilan bagi pelaku usaha makanan dan minuman seperti ibu Mina.
Bagi ibu Mina, yang paling penting, dengan usahanya tersebut dapat membantu suaminya, dan terus menyekolahkan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 20 Nopember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2007-12-02 00:00:00
DONAT UNTUK SEMUA
Saya tidak ingat lagi kapan kue donat menjadi begitu populer di negara kita. Berbagai jenis merek kue donat bersaing ketat di mall dan pusat belanja. Sekarang ini donat bisa didapatkan juga dikios-kios yang berada di pompa bensin atau SPBU. Kita bisa juga mendapatkan kue donat disepanjang jalan, yang dijual di dalam kendaraan. Kue donat ada dimana-mana dan untuk kita semua. Jenisnyapun bervariasi, tapi yang tradisional, yaitu donat dengan serbuk gula, tetap yang paling digemari.
Di mall dan di pusat perbelanjaan kita bisa melihat dari balik kaca, pembuatan donat dengan mesin otomatis. Tapi beberapa merek donat tidak pernah memperlihatkan cara memasaknya, mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan. Lain halnya dengan apa yang dikerjakan oleh ibu Rahayu.
Sejak tahun 2003, ibu Rahayu memulai usahamya dengan membuat kue donat dirumahnya. Rumah di Cilangkap Depok yang dikontrak dengan harga 200 ribu rupiah setiap bulan. Di dalam ruangan dengan ukuran 3X6 meter, yang sekaligus tempat tinggalnya, ibu Rahayu yang sekarang berusia 37 tahun, memulai uasahanya ini. Bermodalkan uang sebesar 500 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralataan seperti penggorengan dan kompor. Dibantu oleh suami dan anaknya, setiap malam sudah mempersiapkan adonan yang akan dipakai hari berikutnya. Untuk membeli bahan seperti terigu, gula, minyak goreng dan minyak tanah ia menyediakan anggaran sebesar 70 sampai 80 ribu rupiah. Sampai hari ini ia masih memakai minyak tanah, karena program konversi minyak tanah belum sampai kedaerah tempat ia tinggal.
Donat hasil produksinya, kalau ia jual sendiri, untuk sebuah donat ia hargai 500 rupiah, tetapi kalau ia jual dengan jumlah besar ke warung, maka harganya 400 rupiah. Hasil penjualan setiap harinya antara 130 ribu sampai 150 ribu rupiah. Setelah disisihkan untuk modal pembelian bahan baku untuk hari berikutnya, ia dapat menyisihkan uang antara 50 sampai 80 ribu rupiah. “Sampai saat ini anak saya, yang sudah lulus SMU, belum juga mendapatkan pekerjaan, Sebab itu ia setiap hari bisa membantu usaha donat ini”, katanya sedih. “Mudah-mudahan keadaan akan membaik, sehingga ia bisa mendapatkan pekerjaan”, sambungnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Bagi ibu Rahayu, paling menyenangkan kalau ada rapat atau pertemuan di kantor-kantor sekitarnya. Biasanya mereka pesan donat dengan jumlah yang cukup banyak. Untuk itu ia harus bangun lebih pagi, sehingga donat yang dipesan dapat diselesaikan pada pagi hari. Tetapi kadang-kadang terjadi bahwa donat yang sudah dipesan terpaksa mereka batalkan, karena rapat atau pertemuan ditunda. “Saya harus berjualan keliling untuk menghabiskan donat”, ucapnya dengan senyum kecutnya.
Ternyata donat yang berasal dari Amerika, juga dibuat di Cilangkap. Tidak pernah ada yang meributkan atau mempersoalkan hak patennya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 13 Nopember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2007-12-02 00:00:00
PERLENGKAPAN PESTA
Begitu Idul Fitri berlalu, ramai lagi masyarakat mengadakan berbagai kegiatan upacara selamatan, terutama pernikahan. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kita untuk berbagi kebahagian dengan saudara dan teman dekat. Mulai dengan pertunangan, perkawinan, sampai tujuh bulan kehamilan sering diadakan dengan menyelenggarakan pesta, baik di rumah, hotel, maupun gedung khusus. Demikian juga selamatan dalam bentuk pesta kalau merayakan ulang tahun ataupun ulang tahun perkawinan. Akir-akhir ini khitananpun dipestakan secara besar. Sedang di bulan puasa banyak keluarga mengadakan buka puasa dan shalat taraweh bersama. Kalau diselenggarakan dirumah, maka biasanya diperlukan ruangan tambahan, dan untuk itu diperlukan tenda. Bisnis penyewaan tenda di sekitar Jabotabek banyak berkembang. Buka hanya menyewakan tenda melainkan lengkap dengan meja, kursi, pelaminan dan peralatan pesta lainnya.
Usaha penyewaan tenda inilah yang dilakukan oleh ibu Lia sejak sepuluh tahun yang lalu. Dengan memanfaatkan gudang berukuran 10X122 meter didekat rumah miliknya, usahanya telah berkembang dengan pesat. Bukan hanya tenda, kursi dan meja yang disewakan, tetapi juga pelaminan. Ibu Lia juga melayani penyewaan perlengkapan pesta lainnya, seperti untuk prasmanan, piring, sendok-garpu, alat pemanas makanan dan yang lain. Jika dinilai sekarang, maka harga barang-barang yang dimilikinya berjumlah 40 juta rupiah, termasuk sebuah pick-up. Ibu yang mempunyai tiga orang anak ini, setiap harinya dibantu oleh tiga orang lulusan SD dan SMP. “Saya juga melayani penyewaan tenda secara komplit, selain meja dan kursi, juga berbagai jenis tanaman hias dan bunga”, katanya bergairah. Masih banyak masyarakat tidak mau pusing sehingga pesan tenda kompit, harga paket komplit yang sederhana 4 juta rupiah, tipe sedang 7 juta, sedang yang lengkap dengan tanaman dan hiasan sekitar 10 juta.
Tenda disewakan dengan harga anatara 20 ribu sampai 40 ribu setiap meter persegi. Kursi antara 1.500 sampai 2000 rupiah. Kursi lipat dengan sarungnya 5 ribu rupiah. Meja makan dengan taplaknya 20 ribu – 30 ribu rupiah. Pelaminan komplit, kursi dengan gebyoknya dihargai 1,5 sampai 2 juta.
“Sekarang ini pasar sedang baik, pak. Banyak yang mengadakan selamatan”, sambil terus melayani pelanggan. Kalau setiap minggu hanya ada dua kali pemasangan tenda, maka penghasilan setiap bulannya rata-rata antara 10 dan 11 juta rupiah. Pekerjanya di bayar dengan cara borongan, yaitu setiap pemasangan honornya 125.000 rupiah perorang. Setiap hari ibu Lia juga harus menyiapkan berbagai bunga dan tanaman hias.
Selain pesta atau selamatan dirumah-rumah, juga melayani acara di kantor dan perusahaan-perusahaan. “Melayani kantor pemerintah ruwet, pak. Banyak tidak jelasnya”, katanya sambil senyum. Ibu Lia mengharapkan tahun 2008 dan 2009 banyak partai politik yang akan membutuhkan tenda untuk kampanye. Semoga harganya cocok. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 6 Nopember 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2007-11-02 00:00:00
NASI UDUK ASLI SRAGEN
Lebaran dan libur panjang telah berlalu. Hiruk pikuk mudikpun sudah surut. Jakartapun kembali menjadi normal, macet dan pengap. Mal dan pusat perbelanjaan sudah dipenuhi oleh pengunjung. Lorong-lorong kecil sudah dipenuhi kembali oleh anak-anak yang bermain. Tukang sayuran keliling sudah melayani kembali semua pelosok kota Jakarta. Restoran dan warung makan yang tadinya sepi atau tutup selama bulan puasa, kini telah ramai dikunjungi kembali oleh para pelanggannya.
Tadinya saya selalu mengira bahwa nasi uduk adalah makanan khas Betawi. Di seantero kota kita bisa mendapatkan nasi uduk dengan mudah, di restoran, di warung, maupun di warung tenda serta pedagang makanan keliling. Ternyata ada juga nasi uduk bukan asli Betawi, nasi uduk Sragen. Di desa Harjamukti, Depok, pak Hayati sejak tahun 2003 telah membuka warung makan nasi uduk dan lontong sayur. Dengan mengkontrak ruangan 2X2,5 meter dengan sewa 250 ribu rupiah perbulan, ia dibantu anaknya yang ketiga, berumur 19 tahun yang dengan tekunnya melayani para pelanggan. Sedang dua anak lainnya telah bekerja secara mandiri. Pak Hayati yang sekarang ini berusia 45 tahun, dan hanya bermodalkan pendidikan SD, menjalankan usahanya ini dengan modal sebesar 4,5 juta rupiah. Dana sebesar itu, selain untuk membeli peralatan masak dan restoran, juga untuk modal kerja awal. “Alhamdulillah, sampai sekarang berjalan lancar”, katanya dengan raut wajah yang gembira. Nasi uduk ia jual dengan harga 3000 rupiah, nasi uduk dengan telor 4 ribu, sedangkan untuk lontong sayur 3000 rupiah.
Warungnya selalu penuh dikunjungi pelanggan terutama pada hari-hari Senin sampai Kamis, sedang pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu pengunjungnya agak berkurang. Dengan usaha nasi uduknya ini, penghasilan kotornya setiap bulan antara 1,7 sampai 1,9 juta, dan penerimaan bersihnya antara 800 sampai 900 ribu.
Setiap hari ia bisa menambah pengetahuannya dengan mendengarkan cerita para pengunjungnya. Dengan muka kesal ia menceritakan bagaimana menghadapi pelanggan yang setiap hari makan di warungnya, tetapi membayarnya seminggu sekali ngutang, dan bayarnya sering tidak tepat waktu, “saya jadi susah, pak, mengatur modal untuk belanja”. Ia mengharapkan proyek jalan tol Cinere-jagorawi akan segera dimulai. “Kalau ada proyek tersebut mungkin omset saya bisa tambah besar”, sambil tersenyum berharap. Anaknya yang membantu di warungnya mendapatkan uang saku. “Walaupun ia lulusan SMU, tapi untuk medapatkan pekerjaan sekarang ini susah sekali”, keluh pak Hayati. Pak Hayati dan kita semua mengharapkan agar pemerintah bukan hanya memikirkan pendidikan, melainkan juga pekerjaan setelah mereka tamat sekolah. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 30 Oktober 2007
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2007-11-02 00:00:00
MUDIK BERTEMU KELUARGA
Fenomena mudik menggunakan sepeda motor di akhir bulan Ramadhan terus menjadi perhatian dan pemikiran kita semua. Mudahnya untuk mendapatkan sepeda motor dengan kredit, menyebabkan jumlah sepeda motor dengan pesat bertambah. Setiap hari kita menyaksikan dominasi sepeda motor di jalan-jalan kota Jakarta dan sekitarnya. Seolah-olah tidak ada peraturan yang berlaku bagi mereka. Untuk menghadapi arus sepeda motor yang mudik, berbagai peraturan dan himbauan telah dikeluarkan. Tidak henti-hentinya pihak yang berwajib telah mengsosialisasikan berbagai aturan keselamatan, tetapi kenyataannya tetap saja seperti terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan hari Idul Fitri, itulah yang didambakan dan menjadi harapan mereka.
Demikian juga yang dilakukan oleh Mas Gimun asal Gunung Kidul, yang telah menetap di Jakarta selama 6 tahun. Selama ini ia sudah empat kali mudik dengan sepeda motor bersama keluarganya. Menjelang perjalanan mudiknya, karyawan dari sebuah pabrik di Cibinong, ia harus mempersiapkan sepeda motornya secara teknis dan menempelkan stiker bertuliskan MUDIK. Perjalanan yang memakan waktu 16 sampai 17 jam memerlukan ketahanan fisik yang luar biasa, bukan hanya bagi Gimun tetapi juga untuk istri dan anaknya yang berusia 4 tahun. “Memang pak, berat sekali, kita istirahat sampai 4 kali”, katanya sekembali dari mudik selama 1 minggu. Untuk membeli bensin ia menghabiskan 65.000 sampai 70.000 rupiah untuk satu kali jalan.
Lain halnya dengan pak Sarwono, yang juga berasal dari Gunung Kidul, setiap tahun ia mudik bersama keluarganya, seorang istri dan 2 orang anak, menggunakan bis umum. Mereka sudah 13 tahun menetap di Depok, dan selama ini sudah 10 kali mudik. Bagi keluarga Sarwono mudik di hari Lebaran menjadi suatu keharusan, bertemu dengan oarang tua, dan saudara-saudara. “Ongkosnya tidak murah, pak. Untuk kelas ekonomi yang biasanya 80 ribu rupiah untuk satu jalan naik menjadi 250 ribu rupiah, kalau karcis ekonomi sudah habis terpaksa dengan bis ber AC VIP dengan ongkos 310 ribu rupiah”, katanya datar. Untuk bisa membiayai kehidupannya, pak Suwarno bekerja di pabrik garmen, sedang istrinya bekerja di pabrik keramik. Beberapa perusahaan bis melayani penumpang dari Jakarta sampai Gunung Kidul, dan ada bis sampai kekampung tempat keluarga Sarwono. Seperti halnya dengan Mas Gimun yang naik sepeda motor, memakai bis umum juga memerlukan waktu antara 16 sampai 18 jam. Selama di perjalanan mereka berhenti 2 kali untuk meluruskan kaki.
Berkumpul dengan keluarga di hari Idul Fitri, merupakan bagian dari budaya kita. Meningkatnya pemakaian sepeda motor, selain merupakan angkutan yang murah serta kemudahan mendapatkannya, juga menunjukan kelangkaan alat angkutan umum didaerah pedesaan. Semoga pihak-pihak yang menangani masalah transportasi, tidak akan menunggu sampai menjelang Idul Fitri yang akan datang, tetapi segera mencari penyelesaian MUDIK yang lebih baik. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di Harian Pos Kota 23 Oktober 2007
First < 11 12 13 14 15 > Last |
Category |