First  < 9 10 11 12 13 >  Last

ASINAN PENYEGAR BADAN

category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-24 00:00:00
ASINAN PENYEGAR BADAN

Bagi warga Jakarta khususnya yang tinggal di sekitar Menteng dan Jakarta Pusat, kalau soal asinan yang paling dikenal adalah asinan pasar Boplo. Sampai sekarang masih bisa kita dapatkan diujung jalan Djaksa. Tetapi dengan transportasi yang makin membaik, membuat jarak Jakarta-Bogor semakin dekat, maka asinan Bogorpun mulai mengalahkan popularitas asinan Boplo. Dengan rasanya yang kecut dan manis, ditambah dengan kerupuk mie dan kacang tanah, panas dan terikknya siang hari menjadi tidak terasa.
Tetapi tidak semua warga Jakarta dan sekitarnya bisa menikmati asinan ditempat-tempat tertentu. Oleh karenanya, seperti halnya berbagai jenis makanan lain, maka berjualan asinan secara berkelilingpun merupakan usaha yang bisa menguntungkan. Seorang ayah dengan dua orang anak asal Sumedang, sejak tahun 2003 telah datang ke Jakarta dan berjualan asinan secara berkeliling. Ia tidak menjual tahu Sumedang yang merupakan ciri khas makanan Sumedang, ?kalau jualan tahu saya hanya jadi pedagang, pak. Tetapi jualan asinan saya harus menyiapkan semuanya sejak awal?, katanya dengan bangga. Mungkin kebetulan juga bagi Pepen, demikian namanya, bahwa ia tidak berjualan tahu, karena sekarang ini harga kacang kedele begitu mahalnya.
Berbagai peralatan yang diperlukan, termasuk gerobak, ia beli seharga 800 ribu rupiah dengan menggunakan uang simpanannya. Berbagai kebutuhan barang jualan, seperti macam-macam buah, kacang dan berbagai macam sayuran dan toge, ia beli setiap pagi hari, harganya rata-rata sekitar 80 sampai 100 ribu rupiah. Setiap hari ia keliling komplek perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan menjual asinan 4000 rupiah untuk satu porsinya, hasil penjualannya bisa mencapai 190 ribu rupiah. ?Tapi rata-rata saya bawa pulang 150 ribu, tapi kalau hari hujan dan rejeki kurang, paling-paling cukup buat makan saja?, ia menjelaskan dengan serius. Ia meninggalkan isteri dan kedua anaknya di Sumedang. Yang besar berusia 17 tahun dan belajar di STM, sedangkan yang kedua masih duduk di SD. ?Saya harus bekerja keras untuk mengongkosi hidup dan sekolah mereka, pak. Jangan seperti saya yang hanya tamat SD?, katanya sambil menunjuk tempat ia tinggal. Ia menempati kontrakan berukuran 3 X 3 meter dengan sewa 250 ribu perbulen. Dengan kerja keras Pepen setiap hari bisa menyisihkan uang antara 70 sampai 90 ribu rupiah. Setiap bulan ia pulang ke Sumedang untuk memberikan hasil kerjanya kepada isteri dan anak-anaknya. ?Paling lama saya tinggal disana hanya 3 hari?, dengan raut muka yang tidak berubah.
Pepen merasa heran, dalam cuaca yang panas dan kering seperti sekarang ini, mengapa omsetnya tetap rendah. Mungkin dia tidak sadar bahwa dengan kenaikan harga BBM dan bahan pangan, membuat daya beli masyarakat menurun. Tetapi ia masih berharap masih dapat membiayai sekolah anaknya sampai selesai. Semoga. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 24 Juni 2008


JAUHKAN OBAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-17 00:00:00
JAUHKAN OBAT
Banyak warga Wonogiri yang merantau ke Jakarta dan sekitarnya. Mereka pekerja dan pengusaha yang ulet, meninggalkan sanak saudara dikampung termasuk anak-anak mereka untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak di Jakarta. Selain untuk mencukupi biaya hidup, melainkan juga untuk membiayai sekolah anak-anak mereka agar bisa hidup lebih baik. Banyak sekali sudah diungkap dalam rubrik ini mengenai kegiatan para pelaku ekonomi rakyat ini. Mereka tidak mengharapkan mendapatkan BLT, tetapi yang mereka harapkan bagaimana mendapatkan biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan yang lebih murah dan dapat diandalkan.
Itulah kehidupan yang dijalani oleh mbak Juli bersama suaminya. Dengan berbekal ijazah SLTP, perempuan berumur 34 tahun ini, sejak tahun 2001 berjualan jamu keliling. Setiap pagi mulai pukul 7, ia sudah berkeliling dengan gendongannya yang khas dengan berbagai jenis jamu dalam botol, dalam bentuk sachet dan telur. Sambil menjijing ember yang berisi air dan gelas minum. Pagi hari biasanya dilakukannya sampai pukul 11, dan siang mulai lagi pukul 2 sampai pul lima sore hari. ?Saya pulang siang hari untuk istirahat sebentar, dan menambah dagangan?, katanya santai. Suaminya juga berprofesi sejenis yaitu penjual mie ayam keliling. ?Kita berdua harus bekerja. Kalau tidak penghasilan kita pas-pasan saja?, sambil mengkerutkan dahinya. Mereka terpaksa meninggalkan kedua anaknya didesa, yang besar duduk di SLTP, sedangkan adiknya masih di SD. ?Mereka lebih pintar dari saya, pak. Mudah-mudahan saya dan bapaknya bisa terus membiayai mereka?, ujarnya datar.
Untuk kebutuhan dagangannya mbak Juli setiap hari megeluarkan uang 20 sampai 30 ribu rupiah. Keuntungan bersihnya setiap hari sekitar 30 ribu rupiah. ?Saya tidak mengambil untung banyak,pak, yang perlu punya langganan?. Jamu pahit dan jamu kunir asam haganya 1000 rupiah, sedangkan jamu pegel linu memakai telur 6000 rupiah. Jamu dalam sachet dibeli dengan harga 2000 rupiah, dan dijual 2500. ?Bagaimana sih pak, koq harga-harga terus naik, telur sebutir saja sekarang sudah 2000 rupiah. Belum yang lain-lain?, mukanya kelihatan kesal menghadapi gejolak harga-harga sekarang ini. Obat-obat begitu mahalnya sehingga harus dijauhi pemakaiannya.
?Modal saya hanya kemauan, pak. Sedikit uang untuk membeli bakul dan botol-botol. Kalau tidak salah habis 200 ribu rupiah?. Mbak Juli bisanya berjualan disekitar lokasi proyek pembangunan gedung. Katanya selalu banyak pembelinya. Tetapi rupanya pekerja bangunan sama dengan beberapa anggota DPR yang tergiur dengan muka manis dan genit. ?Yang menggoda ada saja, pak. Tetaoi saya harus bisa tersenyum, perlu langganan?, dengan senyum manisnya. Terkadang ada hari-hari yang kurang menyenangkan, kalau para pembeli hanya membeli jamu pahitan atau kunyit asam. ?Kapan sih pak, kehidupan kita akan lebih baik?? Mudah-mudahan apa yang dikatakan SBY ?Indonesia Bisa? menjadi kenyataan bagi mbak Juli-mbak Juli. Jangan hanya sekedar menjadi slogan-slogan lainnya yang bertebaran sekarang ini menjelang Pilkada dan Pemilu. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 17 Juni 2008


SATE KLATAK

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-10 00:00:00
SATE KLATAK

Masih cerita dari Yogya. Seperti biasa kalau berada di Yogya, kami mencari makanan khas. Selain gudeg, mie Jawa dan soto, saya sering mendengar adanya sate yang khas di Yogya, yaitu sate klatak. Setelah mencari informasi, akhirnya saya bersama isteri merencanakan malam itu untuk makan sate klatak. ?Bukanya baru jam lima pa De?, ucap keponakan saya yang tinggal di Yogya.
Kira-kira pukul 6.30 sore kami menuju Desa Wonokromo arah ke Imogiri. Jalanpun tampak lengang, dan pukul 6.30 di Yogya terasa sudah gelap dibandingkan dengan di Jakarta. Akhirnya kita sampai di depan pasar Jejeran. ?Disini tempatnya pa De, didalam?. Saya melihat beberapa mobil sedan dan minibus parkir didepan pasar. Ada yang dengan nopol AD, AE, dan B, tetapi kabanyakan memakai nopol AB. Memasuki pelataran pasar tradisional yang sudah tutup keadaannya sangat gelap. Dibeberapa tempat kelihatan cahaya redup dari lampu minyak tanah atau dari bara areng. ?Ini tempatnya??, tanya istri saya, ? saya nggak lihat apa-apa?. Memang keadaannya sangat gelap, membutuhkan beberapa waktu sampai mata kita bisa menyesuaikannya. ?Yang sebelah kanan ini langganan saya?, keponakan saya menjelaskan. Dengan meraba-raba lantai dengan kaki kitapun menuju tempat duduk dan dibukakan tikar dipelataran yang disemen. Mungkin kalau siang hari berjejal disitu penjual sayuran atau ikan asin. Dikejauhan ada lampu listrik menerangi beberapa bagian dari pasar, sehingga bisa terlihat sederetan lemari kayu terkunci dan juntaian tali rapiah dan batang-batang bambu. Kita pun memesan sate klatak polos, sate klatak dengan bumbu kecap, tongseng dan tengkleng. Minuman hanya ada dua jenis, teh panas manis dan jeruk panas manis, dengan memakai gula batu sebagai pemanis.
Pak Zabid, telah memulai usaha sate klatak ini sejak tahun 1990. Semula sepeninggal ayahnya pada tahun 1984 ia memilih menjadi kusir andong. Baru setelah anaknya besar ia memutuskan meneruskan tradisi ayahnya dengan dibantu oleh seorang anaknya. Sate klatak mempunyai keunikan, yaitu sate kambing dengan potongan daging yang besar, menyerupai kebab, yang menggunakan jeruji sepeda untuk tusuknya. Bumbunya sangat sederhana hanya garam dan bawang putih. Kemudian dibakar seperti bisanya sate. Satu porsi terdiri dari dua tusuk harganya 8 ribu rupiah, komplit dengan nasi dan minuman menjadi 10 ribu, dan disajikan dengan kuah gule. Ada juga yang pesan dengan bumu kecap. Tongseng, gule dan tengkleng harganyapun sama.
Setiap hari pak Zabid berjualan sampai pukul 1 dini hari, rata-rata menghabiskan satu ekor kambing. Penghasilannya sekitar 600 ribu setiap malam, dan disisihkan untuk belanja kambing dan lainnya sebanyak 450 ribu. ?Waktu gempa tahun 2006, pasar ini roboh?, ceritanya, ?hari-hari itu saya kadang-kadang menjual sampai 3 kambing, habis banyak orang?.
Tidak jelas darimana asal kata klatak, ada yang mengatakan suara garam terbakar, jeruji besi yang jatuh dimeja, atau buah melinjo yang disebut klatak. Wallahualam. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 10 Juni 2008


BATIK DAN BLT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-03 00:00:00
BATIK DAN BLT

Pertengahan Mei yang lalu saya menyampaikan makalah pada Seminar mengenai batik yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kesempatan berharga untuk berjumpa dengan berbagai pihak yang menggeluti masalah batik di tanah air. Berbagai yayasan, pengusaha, perancang, seniman, dan pengrajin batik, hadir pada seminar itu, termasuk pembicara dari luar negeri.
Batik yang merupakan kebanggan bangsa kita, telah menemukan kembali para penggemarnya. Walaupun kasus diakuinya batik oleh Malaysia menyelubungi kita, disayangkan bangsa ini tidak dapat menyatukan langkah menghadapinya, termasuk menghadapi kasus-kasus ?pencurian? hak-hak kita atas kebudayaan bangsa lainnya.
Batik telah mendapatkan tempat diseluruh lapisan masyarakat kita. Didusun-dusun sampai dikota-kota besar. Dipakai oleh para ibu yang bekerja disawah sampai oleh Ibu Negara. Batik dipakai juga sebagai seragam sekolah, pegawai negeri, organisasi, juga dipakai pada pertemuan resmi kenegaraan.
Bukan saatnya bagi kita memperdebatkan ?batik? printing, cap atau tulis. Biarkan masyarakat memilihnya sendiri dengan kemampuan yang dimilikinya, walaupun hanya dapat memakai tekstil dengan motif batik. Harganyapun bervariasi dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Itulah kelebihan batik bagi kita, terjangkau oleh semua lapisan. Yang penting sekarang ini, bagaimana kita dapat menghargai batik dan agar dunia mengakui batik selalu dikaitkan dengan Indonesia.
Bagaimanakah penghidupan para pengrajin batik didesa-desa atupun dipinggiran kota. Merekalah yang betul-betul melakukan kegiatan untuk mempertahankan karya batik ini. Kebanyakan mereka mendapatkan penghasilan jauh dibawah upah minimum, dibeberapa tempat hanya mendapatkan 5 ribu rupiah sehari, malah ada yang hanya 1.500. Walaupun mereka bisa didaftar sebagai penduduk miskin yang bisa mendapatkan BLT, tetapi mereka bukanlah penduduk miskin ketrampilan. Siapa yang memperhatikan mereka? Itulah penghargaan kita kepada pelaku budaya? Apa diberi BLT saja? Lain halnya dengan para pengrajin pengusaha batik yang berlaku sebagai pemodal, kehidupan mereka memang lebih baik, tetapi dibayangi oleh sistem perdagangan yang dikuasai pengepul dan toko-toko yang memberlakukan sistem konsinyasi. Sistem inilah yang menyebabkan para pengrajin pengusaha batik sering kekurangan modal. Bali dan Pasar Tanah Abang, yang sering disebut ?Jalur Sutera?, bagi pengusaha batik kecil merupakan pasar yang besar. Bom Bali I tahun 2002 dan kebakaran Pasar Tanah Abang tahun 2003, telah melumpuhkan sebagian pasar mereka.
Pasar batik seperi Pasar Klewer di Solo, atau Pasar Bringharjo di Yogya, perlu terus dikembangkan dan dibangun dikota-kota lainnya. Keberadaannya sangat membantu, dan menjadi ujung tombak untuk mencapai konsumen. Kios-kios batik di Pasar Bringharjo misalnya sudah tidak murah lagi, membutukan dana puluhan juta atau ratusan untuk bisa memiliki kios berukuran 2X3 meter. Mereka membutuhkan omset puluhan atau ratusan juta rupiah untuk bisa menutup modal yang telah dikeluarkannya. Mereka mendapatkan batik atau batik garmen dari pengusaha batik, baik secara di beli atau sebagai barang titipan.
Janganlah kita hanya memperhatikan batik-batik wah, yang harganya puluhan juta. Justru batik-batik puluhan ribu rupiah dengan pengrajinnya itulah, yang memerlukan perhatian lebih serius. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 3 Juni 2008


HUJAN BAWA BERKAH

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-27 00:00:00
HUJAN BAWA BERKAH

Kita semua ikut berduka atas meninggalnya Sophan Sofian, yang mengalami kecelakaan sewaktu mengendarai sepeda motor di Jawa Tengah. Semoga arwahnya diterima disisi Nya. Amien.
Jalan rusak dan berlubang memang sering membawa petaka bagi pengendara sepeda motor atau pengguna jalan lainnya. Bukan hanya Sophan Sofian yang mengalaminya, tetapi benyak lagi masyarakat yang menjadi korban keganasan kerusakan jalan ini. Semoga apa yang baru saja terjadi pada Sophan Sofian, menggugah dan menyadarkan para pengelola jalan agar segera memperbaiki keadaan ini. Ditambah lagi kalau hujan turun, lubang-lubang telah berubah menjadi kubangan, keselakaanpun bertambah, baik dari jumlah maupun tingkatnya.
Tetapi bagi Trisno, pemuda asal Gunung Kidul, lubang dan hujan membawa berkah dan rejeki tersendiri. Sudah sejak 2 tahun, pemuda yang sekarang berumur 38 tahun ini, memulai usahanya sebagai pencuci sepeda motor. Dengan modal sebanyak 6 juta rupiah, ia membeli berbagai peralatan, seperti mesin diesel, alat cuci dan penyemprot komplit, serta bangku duduk yang panjang. Setibanya di Jakarta, dengan meninggalkan isteri dan dua orang anaknya di desa, iapun mengkontrak tempat usaha yang juga dipakai sebagai tempat tinggalnya dengan sewa 300 ribu perbulan. Dengan dibantu oleh seorang karyawannya yang lulusan SD, setiap hari kerja ia mengerjakan 10 sampai 15 sepeda motor. Ongkos mencuci sebuah sepeda motor adalah 6 ribu rupiah. Selain pekerjaan utamanya mencuci sepeda motor, iapun menjual minuman Teh Botol dengan harga 3000 rupiah, sedangkan ia membelinya dengan harga 1.300 rupiah, sedangkan untuk satu gelas kopi pelanggan harus merogoh kantong 2000 rupiah. Dengan usahanya ini, biasanya dihari kerja I Senin-Jumat, penghasilannya antara 100 dan 150 ribu rupiah. Dari setiap penghasilan untuk sebuah sepeda motor, ia menyisihkan 5 ribu rupiah. Uang itu dikumpulkan untuk dapat membeli berbagai material, seperti sabun cuci dan samphoo, untuk kebutuhan besok harinya. Sabtu dan Minggu merupakan hari keberuntungan, yang mencucikan sepeda motorpun bertambah, sehingga penghasilannyapun naik dan mencapai 175 ribu rupiah. Karyawannya untuk setiiap sepeda motor yang diselesaikannya mendapat upah sebesar 2000 rupiah, jadi setiap hari kerja mendapat sekitar 25 rubu, sedangkan hari Sabtu dan Minggu mendapatkan upah sampai 35 ribu rupiah. Sedangkan bagi Trisno, uang yang dikumpulkan, yang rata-rata mencapai 2,5 juta, dibawa pulang setiap bulan untuk diserahkan kepada isterinya. ?Saya kawin pada usia muda, pak?, katanya sambil terus bekerja, ?jadi anak saya yang paling tua umurnya sudah 18 tahun, dan yang kedua 13 tahun?. Jalan berlubang dan hujan yang masih terus mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya, telah membawa tambahan rezeki dan berkah bagi Trisno. ?Sepeda motor terus tambah, pak. Habis gampang mendapatkan kredit untuk membeli sepeda motor, pekerjaan sayapun bertambah?, sambil memasukan lipatran uang kedalam sakunya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 27 Mei 2008


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
KOMIDI PUTAR



Taman hiburan Ancol dengan berbagai atraksinya, bukan lagi monopoli tempat hiburan di Jakarta. Berbagai tempat rekreasi besar dan mewah, seperti Water Bom sudah banyak disekitar Jakarta. Untuk masuk ketempat rekreasi semacam itu, tarif yang dikenakan, jauh melebihi penghasilan harian para pelaku ekonomi rakyat. Oleh karena itu berbagai macam hiburan keliling di pinggiran kota, selalu dikerumuni anak-anak. Odong-odong, sarimin, komidi putar dan yang lainnya masih merupakan usaha yang dapat memberikan penghasilan untuk bisa melanjutkan hidup.

Demikian juga yang dilakukan oleh Mi., Ma. dan Ya., yang bertetangga di Indramayu, sejak tahun 2001, mereka menyelenggarakan komidi putar keliling. Dengan bermodalkan uang sebesar 3 juta rupiah, mereka membuat peralatan komidi putar mini yang horisontal, dan melengkapinya dengan tape recorder yang memakai accu, untuk memutar lagu-lagu yang digemari. Tergantung dari ramainya anak-anak yang berminat dengan hiburan tersebut, mereka menetap disatu lokasi antara 2 sampai 5 hari. Setiap hari mereka harus membayar sewa lahan untuk menempatkan peralatannya sekitar 20 ribu rupiah. Komidi putar mini yang mereka miliki berdiameter 5 meter, dengan 10 tempat duduk dengan bermacam-macam bentuk.

Berangkat dari rumah yang dikontrak dengan harga sewa 300 ribu rupiah per bulan, mereka mulai bekerja pukul 8 pagi dan baru kembali sekitar pukul 9 malam. Anak-anak pemakai komidi putarnya hanya dipungut biaya seribu rupiah. Dari kerja kerasnya mereka bisa mendapatkan pendapatan antara 120 sampai 150 ribu rupiah setiap harinya. Dari penghasilan tersebut harus disisihkan 20 sampai 40 ribu untuk keperluan mengisi accu dan keperluan makan dan minum hari berikutnya. “Lumayan pak, bisa meyisihkan 30 ribuan setiap hari”, kata Mi sambil terus menghitung uang penghasilannya untuk hari itu.

Setiap bulan mereka bersama-sama pulang kekampungnya untuk membawa hasil pekerjaannya untuk istri dan anak-anak mereka. Mi mempunyai 3 orang anak, Ma dua orang, sedangkan Ya baru mempunyai 1 orang anak. Bisanya mereka tinggal di kampung paling lama 5 hari.

Umur mereka sekitar 40 tahun, hanya Ma. yang berpendidikan SMP, sedangkan dua lainnya berpendidikan SD. “kalau pekerjaannya begini, tidak ada bedanya tamat SD atau SMP”, jelas Mi. sambil melirik kedua kawannya yang mengangguk tanda menyetujuinya. Selain pendidikan, bagi mereka yang lebih penting lagi adalah pekerjaan. Itulah yang dirisaukan juga oleh mereka dalam mendidik anak-anak mereka. “Saya sih kalau mampu dan diberi rejeki inginnya anak-anak bisa jadi sarjana, pak. Supaya penghasilannya bagus, tidak tanggung-tanggung seperti tamatan SMP atau SMA”, kata Ya. menyambung penjelasan kawannya.

Bagi mereka musim liburan yang paling membahagiakan, “Banyak anak-anak yang naik, pak. Sekarang ini sedang sepi”. Apalagi sekarang ini sudah banyak saingan, seperti komidi putar vertikal, yang lebih digemari”, lanjut Ya. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 13 Mei 2008





EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
SARIMIN TERUS BERAKSI



Bulan Nopember 2007 yang lalu, masyarakat Jakarta, menikmati pertunjukan “Sarimin”, monolognya Si Butet Yogya di Taman Ismail Marzuki, yang sebelumnya telah menghibur kota kelahirannya Yogyakarta. Pertunjukan berupa parodi politik ini, khususnya yang menyangkut carut marutnya hukum di negeri tercinta ini, kemudian mendapat larangan pentas di Surabaya, walaupun sebelumnya sempat pentas di kota pahlawan tersebut pada bulan Desember. Berbagai pertunjukan, baik pentas maupun tv, dan tulisan parodi politik, dinegara kita ini, masih sukar diterima oleh para elit politik atau penguasa. Sering diterima sebagai penghinaan atau keritik ngawur. Sarimin adalah nama yang sudah melekat pada pelaku utama pertunjukan topeng monyet, yaitu seekor monyet. Sarimin tunduk kepada perintah bos-nya, dan permainan diatur dan disesuaikan dengan jumlah uang yang diterima atau dijanjikan.

Pertunjukan topeng monyet keliling ini masih banyak dijumpai di sekitar Jakarta. Mereka menelusuri jalan-jalan sempit, sumpek dan padat, atau beraksi disekitar pasar tradisional dan pusat keramaian seperti terminal bis dan angkot. Merekapun sering berkeliling di komplek perumahan atau disekitar gedung sekolah SD. Dalam keadaan ekonomi seperti sekarang ini, dimana harga serba mahal, dan langkanya lapangan kerja, pekerjaan apapun akan dilakukan untuk dapat mempertahankan hidup.

Demikianlah yang dilakukan oleh Koko bersama 2 orang kawan sekampungnya. Sejak empat tahun yang lalu, mencari penghasilan dari topeng monyet. Dengan modal sekitar 500 ribu rupiah, ketiga pemuda jebolan SMP dan SD ini, membeli berbagai peralatan seperti gamelan, drum, gendang, serta berbagai peralatan mainan. Monyet dibeli dikampung mereka dengan harga 50.000, yang kemudian dilatih selama 3 bulan.

Mereka menempati rumah kontrakan dengan sewa 250 ribu per bulannya. Setiap hari, dengan membawa uang 25 ribu untuk makan dan rokok, mulai dari pagi hari mereka menyusuri jalan-jalan sempit, mengitari komplek perumahan, dan nongkrong di terminal atau pasar tradisional. Kembali kerumah sekitar pukul 6 malam.

Sekali tanggap mereka dibayar antara 15 sampai 20 ribu rupiah, sedangkan kalau saweran, masing-masing membayar 5 sampai 10 ribu rupiah. “Sekarang ini sedang sepi pak”, kata Koko yang ditemui disekitar Pasar Cimanggis. Banyaknya mainan murah buatan Cina, dan adanya tempat-tempat Play Station sampai didesa-desa, menyebabkan penghasilan mereka berkurang. Pendapatan setiap hari dibagi tiga, setelah dikurangi untuk uang jalan besok, serta uang untuk sewa dan makan. Ketiga pemuda yang berumur sekitar 25 tahun dan masih lajang tersebut, masih bisa menyisihkan penerimaan bersih setiap harinya sampai 25 ribu rupiah.

“Kalau ditanggap hasilnya lumayan pak. Kadang-kadang diberi makan lagi. Tetapi kalau lagi saweran, mereka biasanya minta macam-macam, tapi sawerannya pelit. Bikin dongkol, pak”, ungkap Koko dengan diiringi tawa teman-temannya.

Kapankah topeng-topeng monyet dan Sarimin-Sarimin di dunia politik kita akan berhenti beraksi? (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 6 April 2008





EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
SAKAZAKII BAWA SIAL



Pada bulan Februari 2008 yang lalu, ibu-ibu dibuat kebingungan dengan pengumuman Tim Peneliti salah satu perguruan tinggi tentang ditemukannya bakteri Sakazakii dibeberapa susu formula. Masyarakat banyak mempertanyakan mengenai Sakazakii tersebut, apakah bakteri itu berasal dari Jepang. Tidak adanya penjelasan dari pemerintah, ibu-ibupun mulai menghindari pemberian susu formula untuk bayinya. Pemerintahpun terkesan diam dan membisu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah saling tuding diantara berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi. Sepertinya sudah membudaya. Rupanya kepentingan rakyat bukan lagi menjadi prioritas mereka, melainkan yang utama adalah kepentingan instansi atau pribadi. Sungguh satu prilaku yang menyedihkan. Di Amerika kejadian mengenai keberadaan bakteri Sakazakii didalam susu formula pernah juga terjadi ditahun 2002. Akibatnya beberapa jenis susu formula pada waktu itu telah ditarik dari pasar negara paman Sam.

Implikasi masalah pencemaran bakteri Salazakii dalam susu formula, bukan hanya mempengaruhi pasar susu formula dan kebingungan para ibu, melainka juga mempengaruhi penjualan susu murni. Masalahnya pemerintah tidak pernah memberikan penjelasan yang tegas mengenai kasus tersebut. Inilah yang dialami oleh saudara Dodo, asal Klaten, yang sejak tahun 2002 berjualan susu murni dengan berkeliling. “Gara-gara Sakazakii yang beli susu berkurang, tapi untuk sekarang mulai membaik, walaupun belum pulih seperti semula”, sambil mengerutkan dahinya. Dengan beberapa rekannya seprofesi, Dodo yang kini berusia 43 tahun, berjualan susu murni dengan berkeliling. Ia bekerja untuk seorang agen bersama 10 orang rekannya, yang rata-rata tamatan SD atau SLTP. Sepeda becak, box serta peralatan lainnya, disediakan oleh agen. Demikian juga barang dagangan didapat dari agen, susu dengan aneka rasa yang didapat dari agen 1500 rupiah, ia jual 2000 rupiah. Sedangkan susu murni tawar, untuk botol setengah liter ia jual dengan harga antara 3500 dan 4000 rupiah, sedangkan harga agennya 3000 rupiah.

“Modalnya hampir tidak ada, pak. Tekad, tenaga dan kepercayaan hanya itu modalnya”, iapun menjelaskan. Pak Dodo bekerja setiap harinya 12 jam, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore. Omsetnya satu hari rata-rata 120 sampai 140 ribu riah, jadi setelah dipakai untuk makan ia membawa uang pulang sebesar 25 sampai 40 ribu. “Harus dipas-paskan untuk keperluan keluarga”, dan kemudian Pak Dodo menceritakan mengenai keluarganya, dengan 5 anak dan seorang cucu. “Yang tinggal dengan saya tinggal 3 orang yang masih sekolah”.

Kemudian iapun mengeluhkan mengenai harga keperluan sehari-hari yang terus tambah mahal. “Disuruh pindah pakai LPG, LPG menjadi mahal dan menghilang. Musim panen harga gabah di petani anjlok, lucunya harga di pasar naik. Rakyat seperti saya ini jadi bingung pak”, sambil menunduk. “Siapa sih yang pro rakyat”. Sayapun terdiam, sambil mengusap dada, dan semoga penyelesainnya tidak harus menunggu sampai 2009. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 8 April 2008





EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
KETOPRAK YANG DIMAKAN



Hari Sabtu pagi, setelah sarapan saya bersama tetangga membersihkan halaman dan jalan desa. Maklumlah hidup disebuah desa pinggiran Jakarta, Depok dan Bogor, gotong royong masih menjadi kebiasaan. Lain halnya dengan kehidupan politik yang saling mengganjal dan menjegal, apalagi menghadapi Pilkada dan Pemilu. Para elit politik sudah enggan memikirkan kehidupan masyarakat yang harus berjuang sendiri menghadapi dan mengakali minyak tanah yang semakin langka dan mahal, harga minyak goreng yang melambung, harga beras yang mulai merayap naik.

Sambil minum dan ngobrol, berbagai tukang makanan menjajakan jualannya dengan berbagai cara, kupat sayur, bubur kacang ijo, juga ketoprak. Kemudian semuanyapun sepakat untuk istirahat sambil menikmati ketoprak.

Irfan yang sudah dua tahun tinggal dilingkungan desa kita, sejak awal berdagang ketoprak keliling memakai gerobak beroda, yang sekarang ini harganya sekitar 2 juta rupiah. Pemuda berusia 29 tahun, asal Brebes ini sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak. Ia menyelesaikan pendidikannya di sebuah pesantren di jalur selatan Jawa Timur di Glenmor. Dengan uang yang dimilikinya ia menyewa tempat kontrakan 450 ribu rupiah sebulan. “Tempatnya lumayan pak. Ada kamar tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi”, katanya sambil terus menggoreng tahu. “Pakai minyak apa itu, curah ya?”, tanya saya sambil menunjuk kepenggorengan. Sejak awal berdagang ketoprak, Irfan sudah menggunakan minyak goreng kemasan walaupun harganya sekarang mencapai 14.500 untuk satu liter. “Saya memperhatikan rasa pak”, ujarnya. Iapun menceritakan bagaimana ia harus menghadapi harga minyak tanah yang mencapai 7.500 satu liternya. “Ganti saja dengan gas, lebih bersih”, komentar saya. Irfanpun menjelaskan bahwa proses memasaknya tidak memungkinkan memakai gas. Sayapun diam, tidak mengerti bagaimana cara memasak lontong dan tahu untuk ketoprak. “Harga tidak naik,pak. Tapi ganti”, katanya sinis.

Ia menjual ketoprak dengan harga 3000 rupiah untuk satu piring, kalau tambah tahu menjadi 4000 rupiah. Setiap harinya ia belanja bahan makanan dan keperluannya rata-rata 100 ribu rupiah. Kalau laku semua ia mendapatkan penghasilan 300 ribu rupiah. “Saya sih tidak mengeluh pak. Tapi bagaimana pemerintah ini. Rakyat dibiarkan sendiri menghadapi harga yang semakin gila”, mukanyapun berubah. Masyarakat seperti Irfan sangat merasakan beban hidup yang semakin berat. Sebab itu ia berusaha untuk mendapatkan pasar dengan pendekatan pemasaran pintu ke pintu. Ia mengetok pintu rumah langganannya, didaerah Sukatani dan Harjamukti. “Paling susah melayani yang pacaran malam-malam. Pesannya hanya satu piring untuk berdua, tapi makannya lama sekali. “Pak Walikota pernah juga memborong pak. Pesan 1000 porsi dengan harga 4000 satu porsinya. Rejeki pak, saya tidak usah keliling”. Hari yang paling jelek yang pernah ia alami, hanya mendapatkan 150 ribu rupiah. “Sudah paling mentok pak, tetapi syukur saya masih diberi rejeki oleh NYA”, ucapnya dengan logat Tegalnya. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 1 April 2008





EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-05-25 00:00:00
ADUH MAHALNYA TERIGU!



Kalau kita masuk ke mal sering disuguhi semerbak wanginya roti yang merangsang selera kita. Berbagai jenis merek roti bersaing dengan kerasnya, dengan berbagai nama “bread”, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Penjual roti dan kue lokal dan tradisional yang sudah lama dikenal di Jabodetabekpun masih eksis. Sampai-sampai nama “unyil” pun dipakai untuk menarik pembeli. Suburnya berbagai jajanan yang memakai terigu dan meluasnya pemakaian mi, menyebabkan pemakaian tepung terigu terus meningkat. Kita tidak tahu persisnya kapan terigu mulai banyak dimanfaatkan di Indonesia, karena semuanya harus diimpor. Gandum tidak tumbuh di negeri kita. Meluasnya pemakaian terigu dikalangan masyarakat luas, pemerintah menetapkan untuk memanfaatkan terigu sebagai bahan pangan yang mendapatkan asupan mikro gizi, seperti asam folat, zat besi, berbagai macam vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan balita. Dengan meningkatnya harga tepung terigu akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas pemerintah mencabut keharusan memberikan asupan mikro gizi kedalam terigu. Sungguh aneh ketetapan pemerintah tersebut, dikala kita membaca berita puluhan balita menderita kekurangan gizi.

Kegemaran memakan roti dan kue ini, bukan hanya menguntungkan produsen, melainkan juga bagi para pedagang, baik kecil maupun besar. Kita sering melihat penjual roti dan aneka ragam kue baik di hiper- dan supermarket, ruko-ruko, maupun di kios-kios pasar tradisional. Demikian juga dengan bu Tumini asal Klaten yang dibantu oleh seorang keponakannya telah berjualan berbagai jajanan kue dan roti sejak tahun 2001, dengan mengkontrak sebuah kios berukuran 2X3 meter di pasar tradisional yang terletak di Desa Sukatani – Depok.

Uang kontrakan kiosnya satu bulan 200 ribu rupiah. Berbagai peralatan untuk usahanya, seperti meja, nampan, kranjang dan lainnya harus ia sediakan, “waktu itu saya beli sekitar satu juta rupiah”. Bu Tumini berjualan untuk membantu suaminya yang menjadi tukang ojek. Setiap harinya ia membeli berbagai jenis kue dan roti dengan harga 200 sampai 300 ribu rupiah. Kue yang dibeli dengan harga 500 rupiah, ia jual dengan harga 700 rupiah. Sebuah kue tart ulang tahun misalnya, ia jual dengan harga 40 ribu, dan sudah mendapatkan keuntungan 10 ribu rupiah. Sedangkan kue bolu yang dibeli dengan harga 15 ribu rupiah, ia jual dengan harga 20 ribu. “Sekarang lumayan, pak. Rejekinya anak yang masih sekolah”, katanya. Bu Tumini mempunyai 3 orang anak yang sudah besar, dan 2 orang cucu. Dengan usahanya ini ia dapat memberi penghasilan kepada keponakannya 20 ribu sehari. Sedangkan Bu Tumini membawa uang pulang setiap hari sebesar 200 – 250 ribu bersih, sudah menyisihkan modal untuk belanja. Hari-hari baiknya kalau ada pesta atau yang ulang tahun, pesanannya selalu banyak. Selain itu biasanya mereka membayar setengahnya dimuka, jadi modalnyapun bertambah. “Sekarang harga kue dan roti mahal, pak. Katanya terigunya sudah mahal”.(rahardi@ramelan.com)

Dimuat di Harian Pos Kota 25 Maret 2008





First  < 9 10 11 12 13 >  Last
Category


home  |  rss  |  login  |  Register