< 1 2 3 4 > Last
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:48:23
KULINER KELILING
Banyak yang mengatakan sekarang ini sedang krisis. Tetapi kta amati, mal dan pusat belanja terus dipadati pengunjung. Jam-jam tertentu, restoran, warung, rumah makan, kafe, dan food court atau pujasera, dipenuhi mereka yang tidak sempat pulang untuk makan, atau sengaja mencari makan diluar. Terutama saat ini semua tempat makan semakin ramai, dipadati anak-anak sekolah yang sedang libur.
Tayangan TV dan informasi di media mengenai makanan semakin sering kita jumpai. Sudah menjadi trend sekarang ini yang dinamakan wisata kuliner. Masyarakat berwisata mencari makanan khas dan baru. Lokasi dimanapun sudah tidak terlalu menjadi halanagan. Berbagai jenis makananpun bermunculan, ada mie yang memakai spagethi, rujak eskrim, atau nasi bakar. Makanan tradisionalpun mengalami perubahan dan pembaharuan. Kombinasi berbagai jenis makanan dari beberapa negara dan daerah, banyak kita temukan, disebut fusion.
Selain wisata kuliner, juga penjual makanan keliling atau yang mangkal dengan gerobak, sepeda motor dan mobil, semakin bertambah dan bervariasi. Berjualan makanan ini masih merupakan penghasilan yang lumayan bagi pelaku ekonomi rakyat. Demikianlah yang dilakukan pak Didin, pria tamatan SD asal Garut, yang sudah 4 tahun ini berubah profesi sebagai pedagang keliling makanan. Sebelumnya, pria berumur 40 tahun, yang sudah beristri, berjualan asesoris kebutuhan wanita dengan berkeliling. Ketika usahanya menurun, maka ia merubah dagangannya, menyesuaikan selera masyarakat.
Pak Didin, yang meninggalkan ketiga anaknya di Garut, pada tahun 2005 menyisihkan uangnya 300 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan untuk memulai membuat dan menjual pindang bandeng dan tongkol. Setiap hari ia membeli ikan tongkol dan bandeng di pasar. Perkilonya sekarang rata-rata 12 ribu, dan ia dapat menghabiskan sampai 5 kilo setiap hati. Bersama istrinya, yang lulusan SMP, ia memasak ikan tersebut menjadi pindang. Semua persiapannya ia lakukan dirumahnya yang disewa dengan biaya 200 ribu rupiah setiap bulannya. ?Untungnya tidak banyak, pak. Tapi rejeki tetap saja ada?, ucapnya dengan nada gembira. Dengan raut mukanya yang nampak lebih tua, ia setiap hari berkeliling dibeberapa komplek pemukiman. Setiap hari pak Didin bisa menyisihkan penghasilannya sekitar 50 ribu rupiah, dan diserahkan seluruhnya kepada istrinya.
Pak Didin setiap bulan masih harus mengirim uang ke Garut untuk membiayai dua anaknya yang masih sekolah di SMP dan SD. ?Anak saya yang besar sudah berkeluarga. Tinggal yang dua ini yang masih harus dibiayai?, sambil menerawang jauh. Hari itu ia kelihatan gembira, karena ada ibu yang baru saja memborong pindang tongkolnya. ?Jadi saya tidak usah keliling lagi, pak?. Kemudian iapun berceritra mengenai hidupnya, dan harapan dimasa mendatang, harapan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Apakah para pelaku ekonomi rakyat seperti pak Didin dengan berbagai harapannya ini, tersentuh oleh pemikiran para capres-cawapres? Bagaimana nasib anak-anaknya setelah 2014, 2019, dan 2024?(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 7 Juli 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:46:44
ROTI PANGGANG 1000 RASA
Lulus dan memiliki ijazah SMP bukan garansi bagi banyak anggota masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Demikianlah yang dialami oleh Taslimin, setelah tamat SMP, ia meninggalkan desanya dari Tegal, pergi merantau ke Jakarta mengadu nasib. Setelah berbulan-bulan tidak bisa mendapatkan pekerjaan, kemudian iapun terpaksa menjadi kuli serabutan. Untungnya pekerjaan menjadi kulipun tidak berlangsung terlalu lama. Taslimin kemudian memulai usaha sendiri. Diawali sebagai penjual roti keliling dan akhirnya menjadi tukang penjual bakso. Tetapi penghasilannyapun masih terbatas dan pas-pasan. Bagi Taslimin menjadi penjual keliling, dirasakan upayanya belum maksimal Sebab itu sejak 5 tahun yang lalu ia memulai usaha baru sebagai penjual roti panggang. ?Saya memilih roti panggang, setelah memperhatikan pedagang lain?.
Selama bekerja serabutan, ia dapat menabung, dan dengan uang tabungannya dapat membeli gerobak dan berbagai peralatan seharga 2 juta rupiah, untuk usaha barunya sebagai pedagang roti panggang. Setelah mengamati sekeliling, ia memilih tempat mangkal di emperan ruko yang dipakai sebagai Kantor Notaris dan Klinik Dokter. Menempati plataran berukuran 3X4 meter, ia harus membayar kepada pengelola ruko 50 ribu rupiah perbulan, sedangkan untuk listrik 20 ribu.
Dengan memanfaatkan gerobak yang beretalase kaca, ia menyiapkan dagangannya setiap hari. Mempergunakan kompor gas dengan tabung 3 kg, dan penggorengan datar, Taslimin memanggang roti dengan selera bumbu sesuai permintaan pelanggan. Setiap hari ia membelanjakan uang antara 100 sampai 150 ribu rupiah, untuk membeli roti, bermacam rasa sele, beragam rasa bumbu masak yang sudah jadi. Roti panggang dengan bermacam rasa itu, ia jual dengan harga 7 ribu rupiah. Untuk menambah penghasilannya, iapun menjual keripik singkong yang ia beli dari pasar. Keripik singkong ia beli seharga 50 ribu rupiah untuk satu bal, empat kilogram; kemudian di bungkus dalam plastik kecil menjadi 30 bungkus dan dijual dengan harga 3 ribu rupiah. Tabung gas 3 kg, bisa dipakai untuk satu minggu.
Dari usahanya ini, pemuda yang sudah beristeri ini, mendapatkan penghasilan bersih antara 40 sampai 50 ribu rupiah. ?Sebagian uangnya harus saya sisihkan untuk membayar kontrak rumah. Dua juta untuk satu tahun?, katanya tenang. Iapun masih harus menyisihkan untuk keperluan mendadak, seperti sakit atau pulang kampung.
?Sekarang ini masih banyak hujan, penghasilan sayapun lumayan?, sambil mengemasi dagangannya. Kemudian iapun menceritakan pengalamannya baik yang manis, maupun yang pahit. ?Mudah-mudahan presiden yang akan datang, akan lebih memperhatikan kehidupan kita-kita ini, ya pak?, katanya sambil menunjuk keliling, dimana PKL menjual berbagai ragam makanan dan jajanan. Dan apakah lulusan SMP masih harus terus bekerja serabutan atau menjadi PKL?.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 23 Juni 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:45:40
PILPRES DAN EKONOMI RAKYAT
Tiga pasangan capres-cawapres sudah dideklarasikan, merekapun sudah lolos kriteria KPU. SBY masih menjabat presiden, Mega pernah menjadi wapres dan presiden, JK masih menjabat wakil presiden. Mereka sebetulnya pernah berkuasa atau ikut berkuasa menentukan keberadaan ekonomi rakyat. Tetapi mengapa sekarang dalam menghadapi kampanye, masih menekankan perlunya pembangunan ekonomi rakyat? Apa mereka tidak berhasil atau telah mengingkari janji kampanyenya dulu?
Sejak negara kita merdeka tahun 1945, gerakan ekonomi rakyat sudah digelindingkan dan menjadi pernyataan politik yang laku. Semula gerakan ini, tak lain untuk memperkuat kedudukan pelaku ekonomi pribumi, yang dirasakan terbelakang dibandingkan dengan warga lainnya. Tetapi faktanya, ekonomi rakyat menjadi sekedar jargon politik; kebijakan dan pelaksanaannya dilapangan belum membawa hasil memuaskan. Jurang antara ekonomi rakyat dan ekonomi kapitalis semakin lebar. Janji-janji capres-cawapres tidak jelas apa yang ditawarkan, dan bagaimana nanti dalam prakteknya.
Kenyataannya, rakyat kecil atau wong cilik, masih terus harus berjuang mempertahankan hidupnya dan keluarga. Kota-kota besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, masih terus memberikan harapan untuk bisa mendapatkan penghasilan yang ?layak?. Kerja apa saja, serabutan, menghiraukan ijazah yang dimiliki. Kios, gerobak, ruko, kaki lima, terminal, pikulan, sepeda, sepeda motor, menjadi tempat mereka mengadu nasib.
Begitu juga dengan Taslimin, pemuda asal Tegal, telah mengembara selama 20 tahun di Jakarta. Dengan modal ijazah SMP yang tidak bermanfaat, pemuda yang sekarang berumur 33 tahun dengan seorang isteri, semenjak tahun 2002, berjualan bermacam-macam barang, mirip dengan mikro-mart. Dengan menempati sebuah ruko ukuran 3 X 4 meter, yang disewa 50 ribu rupiah perbulan, ia mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah untuk modal awal. Termasuk membeli sebuah gerobak untuk berdagang keliling. Sebelum berdagang, Taslimin bekerja serabutan sebagai kuli harian.
Yang dijual kebanyakan makanan dan bumbu masak. Ada roti, keripik singkong, gorengan, macam-mcam bumbu dalam kemasan, pokoknya yang laku untuk rakyat kecil juga. Setiap hari ia mengeluarkan uang 100 sampai 150 ribu rupiah untuk modal. Penghasilan bersihnya setiap hari bisa mencapai 50 ribu. ?Itupun kalau sedang ada rejeki, pak?, katanya datar. Ia sering melihat tayangan tivi, membaca koran, dan mendengarkan siaran radio, ?saya tidak mengerti yang dimaksud dengan globalisasi. Baik ngga, ya pak, buat kita-kita?, tanyanya dengan mata agak melotot. Walaupun katanya ada krisis, tetapi Taslimin merasakan dalam beberapa bulan ini pelanggannya bertambah. Iapun semakin bingung. Apalagi hujan masih terus mengguyur Jakarta dan sekitarnya, telah menambah omset hariannya.
Kemudian ia menceritakan pengalaman hidupnya, termasuk mengenai pemilu yang lalu. ?Saya bingung, pak. Pokoknya asal nyontreng?, ucapnya masa bodo. Sewaktu saya tanya mengenai pilpres yang akan datang, ?Lihat-lihat dulu, pak. Jangan sekedar janji?.
Mudah-mudahan pengusung ?kerakyatan?, akan betul-betul memperhatikan nasib rakyat. Bukan hanya sisi ekonomi, melainkan kehidupan sebagai rakyat Indonesia seutuhnya. Mari kita cermati ketiga capres-cawapres. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 26 Mei 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:43:12
SUDAH NASIB JADI PEMULUNG
Umurnya sudah lebih tua dari republik ini. Perawakannya agak kurus, dan badannya membungkuk. Sorot matanyapun sudah lemah, sedang kulitnya berwarna gelap dan berkeriput, seperti buah sawo yang sudah layu. Sudah lebih dari 49 tahun pak Alimah yang berasal dari Cirebon bertempat tinggal didekat pasar Cisalak. Sekarang dalam usianya yang sudah 71 tahun, ia masih terus menekuni pekerjaannya sebagai pemulung.
?Saya sudah menjadi pemulung sewaktu presiden Bung Karno, pak Harto, sampai sekarang presiden SBY, sayapun masih tetap sebagai pemulung?, katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Pak Alimah sejak tahun 1960 menjalani profesinya sebagai pemulung. Waktu itu, ia keliling kampung untuk mengumpulkan rambut, setelah rambut tersebut dicuci bersih, dan kemudian dijadikan cemara. ?Dulu cemara laku sekali, pak. Harganyapun lumayan. Tetapi sekarang saya mengumpulkan botol dan plastik ?.
Bagi pak Alimah, yang tidak pernah mengenyam pendidikan, sekarang mengumpulkan segala macam barang yang dibuang. Mulai plastik, botol, dan sisa-sisa tekstil. ?Sekarang sudah sukar mendapatkan barang, pak. Banyak persaingan dengan pemulung lainnya?, sambil tersenyum. Sehingga penghasilannya juga banyak menurun, hanya sekitar 15 sampai20 ribu rupiah setiap hari. Sekarang ini keenam anaknya sudah berkeluarga, dan dikaruniai 10 orang cucu. Satu dari anaknya meneruskan profesi ayahnya sebagai pemulung juga. Yang lainnya banyak berdagang disekitar pasar Cisalak. Dibeberapa komplek perumahan kelas menengah, kadang-kadang ada keluarga yang membuang barang bekas sambil memberi uang. ?Memang Tuhan selalu memberi jalan, pak?.
Sudah 49 tahun ia menempati rumah yang sama. Semula ia hanya membayar sewa 10 ribu sebulan, tapi sekarang sudah menjadi 100 ribu. Setiap hari ia mulai kerjanya pukul 8 pagi, dan pulang sekitar pukul 5 sore. Untuk menambah penghasilannya, pak Alimah keliling perumahan sambil menjual mainan anak-anak. Yang paling laku mainan mobil-mobilan plastik yang dibeli dengan harga harga 800 rupiah, dan dijual 1000 rupiah. Kartu gambar dijual dengan harga 2000 rupiah, sedangkan dibeli di pasar dengan harga 1000 rupiah. Keuntungan dari penjualan mainan itu yang dijadikan modal untuk membeli barang bekas. Ia belanja mainan tiga hari sekali, rata-rata menghabiskan modal 30 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang banyak hujan, pak. Kadang-kadang seharian tidak dapat uang?, keluhnya.
Iapun menceritakan pengalamannya mencontreng di Pemilu yang lalu, ?ruwet pak, saya contreng gambarnya saja. Habis tidak mengerti?. Iapun kebingungan menghadapi pilpres yang akan datang. ?Katanya semua partai mikirin ekonomi rakyat dan wong cilik?, katanya dengan nada tinggi. ?Tetapi buktinya, sejak dulu, saya tetap saja jadi pemulung. Anak saya jadi pemulung juga?.
Iapun tidak tahu siapa yang bakal bisa jadi presiden, selain SBY. Apakah nasib wong cilik akan betul-betul diperjuangkan oleh partai politik dan Presiden? Semoga cucu pak Alimah tidak akan meneruskan profesi kakeknya, menjadi pemulung. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 12 Mei 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:42:11
MENEKUNI PROFESI
Pak Tukiyo sekarang usianya sudah 65 tahun. Keempat anaknya sudah berkeluarga dan semuanya merantau ke Jakarta. Cucunya sudah 7 orang. ?Anak-anak saya semua sekolah sampai SMP, lain dengan saya yang hanya tamat SR?, katanya lesu. Pak Tukiyo memutuskan untuk tetap tinggal di Gunung Kidul, melewati hari-hari tuanya.
Sebagai buruh tani dengan penghasilan terbatas, untuk menambah penghasilannya, sejak 29 tahun yang lalu, ia membuat tempat penitipan sepeda dan sepeda motor dihalaman rumahnya. Memanfaatkan lahan seluas 10 X 15 meter disamping rumahnya, ia membangun dengan biaya 2 juta rupiah, tempat yang bisa menampung 10 sepeda motor dan 20 sepeda. Ia beruntung, karena lokasi rumahnya didekat terminal bis dan angkutan umum lainnya, serta dekat dengan beberapa sekolah dan pasar. Pelanggannya biasanya mereka yang akan bepergian kekota lain dengan menumpang bis, dan kemudian menitipkan sepeda motornya. Untuk sebuah sepeda motor, dikenakan biaya penitipan sebesar 2 ribu rupiah. Banyak pelajar yang menitipkan sepeda motornya, walaupun sekolahnya dekat. Mereka takut terjaring razia polisi, karena motornya bodong atau tanpa STNK resmi. Sebagian merekapun tidak memiliki SIM. Untuk sepeda, ongkos penitipan sebesar 1000 rupiah. Penitip merasa aman menitipkan sepeda atau sepeda motornya di tempat pak Tukiyo. Selain mendapatkan tanda penitipan dengan nomor urut, juga semua sepeda motor dan sepeda dirantai dan digembok.
Hari-hari biasa, tempat penitipannya, maksimum hanya bisa diisi dua kali. Sehingga penghasilannyapun terbatas, sekitar 40 ribu rupiah. Kalau tempatnya sudah penuh, ia bisa beristirahat santai dirumahnya. Tempat penitipan kemudian dijaga oleh seorang keponakannya yang ikut membantu pekerjaannya. Untuk itu, setiap hari keponakannya mendapat honor 10 ribu rupiah.
Bagi pak Tukiyo, hari-hari libur justru menjadi kepedihan. Tempat penitipannya sepi, hanya diisi satu-dua sepeda motor saja. Kalau sepi demikian ia menyuruh keponakannya pulang, karena tidak sanggup membayar honor. Lain halnya dihari-hari pasaran, setiap pon dan legi, tempat penitipannya selalu penuh. Ia terpaksa menampung sampai 40 sepeda motor, melebihi kapasitas tampungnya. Merekapun menitipkan hanya untuk waktu yang pendek. Hari-hari pasaran bagi pak Tukiyo bisa mendapatkan hasil sampai 150 ribu rupiah. Iapun membagi kebahagiannya dengan menambah honor keponakanya yang sudah bekerja keras. Selain hari-hari pasaran, bagi pak Tukiyo, juga segala macam keramaian selalu membawa rejeki. Termasuk masa kampanye pemilu yang lalu. ?Saya senang sekali pak. Bisa membelikan mainan untuk cucu. Nanti kalau mereka datang mudik saya berikan?, katanya dengan penuh senyum. Paling sedikit keempat anaknya dan cucunya pulang kampung dua kali setahun.
Bagi pak Tukiyo dan istrinya, kegembirannya berlipat, kalau keempat anak bersama cucu-cucunya dapat berkumpul, dan tempat penitipan ia serahkan kepada keponakannya. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 28 April 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:40:56
PONSEL DAN KOSMETIK
Ia meninggalkan di Garut seluruh keluarganya, seorang istri dan tujuh anak. Anaknya yang terbesar sudah berumur 42 tahun dan sudah berkeluarga, sedangkan yang terkecil baru berumur 9 tahun. Sebut saja namanya Pak Yayat, yang sudah sejak 26 tahun yang lalu datang di Jakarta dan mencari penghasilan dalam kerasnya kehidupan di ibu kota. Pak Yayat, yang sekarang berusia 61 tahun, tidak pernah mengenyam pendidikan, walaupun demikian ia bisa membaca: ?saya bisa membaca sedikit, dulu pernah ikut program belajar membaca?. Awalnya ia mengikuti seseorang datang ke Jakarta, dan sampai sekarang ikut tinggal dengannya di Pasar Minggu, dan ia juga yang kemudian menjadi bosnya.
Sejak permulaan ia tinggal di Jakarta, pak Yayat berjualan berbagai jenis dompet dan kosmetik sederhana. Ia berupaya mempunyai langganan di lingkungan yang luas. Sebab itu setiap minggu ia berjualan dengan berpindah tempat, mulai dari Cimanggis sampai ke Depok, di empat lokasi yang berbeda. Setelah 4 minggu pak Yayat kembali ke lokasi semula, dan biasanya sudah ditunggu oleh para pelanggannya. Dengan cara itu ia bisa menjaring pelanggan yang lebih banyak. Dengan mempergunakan pikulan dan peralatan lainnya, ia berjualan berbagai jenis dompet dan kosmetik. Berkembangnya pemakaian ponsel dimana-mana, sekarang sarung ponsel menjadi dagangan utamanya. ?Pokonya saya sediakan segala bentuk dan warna, pak. Laku sekali dan lumayan untungnya, katanya sambil ketawa.
Untuk sarung ponsel rata-rata ia menjual dengan harga 20 ribu rupiah, sedangkan untuk dompet paling murah 30 ribu rupiah. Dari sarung ponsel dan dompet, rata-rata ia mengambil keuntungan sebesar 5 ribu rupiah. Sedangkan kosmetik yang dijual oleh pak Yayat hanya bedak dan lipstik. Bedak yang leih dikenal dengan nama Ponds, dibeli dari pasar seharga 7 ribu rupiah dan dijual 9 ribu. Sedangkan lipstik ia jual seharga 11 ribu rupiah, setelah ditambah keuntungan sekitar dua ribu rupiah. Sarung ponsel dan dompet ia mengambil dari bosnya, dan baru setelah laku dibayar. Sedangkan untuk kosmetik ia harus mengeluarkan modal sekitar 100 ribu rupiah, untuk belanja barang. Sekarang ini rata-rata penghasilan bersihnya antara 20 sampai 25 ribu rupiah setiap harinya. Sebelum adanya mini market yang tumbuh bagaikan jamur, penghasilan pak Yayat jauh lebih baik. ?Bagaimana pak nanti setelah Pemilu, mungkin kita akan lebih baik??, tanyanya. Rupanya pak Yayat tidak mengetahui adanya krisis ekonomi yang semakin mendalam, serta pengangguran dan PHK sudah mulai terjadi. Sayapun lebih baik diam, dan mulai berbicara masalah lainnya.
Setiap tiga bulan pak Yayat pulang ke Garut untuk bertemu dengan keluarganya. Ketiga anaknya yang besar bekerja sebagai tukang ojek, sedang beberapa orang masih menganggur sampai sekarang, dan yang paling kecil masih sekolah. Setelah beberapa hari berada dirumah ia kembali ke Jakarta. Sepedih apapun kehidupan di Jakarta, tetapi bagi pak Yayat tetap memberikan penghasilan dan harapan. Ia tidak mengeluh dengan nasibnya, walaupun kadang-kadang harus menginap dirumah teman atau menghabiskan malam di masjid atau mushola. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 14 April 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:39:17
DESAK-DESAKAN KE KAMPUS
Hampir disemua kota di tanah air, masalah angkutan perkotaan menjadi masalah besar. Apalagi kalau dikaitkan dengan pemukiman RSS yang biasanya jauh dari mana-mana. Di Jakarta janji monorel hanya tinggal janji, berhenti dengan tiang-tiang yang belum rampung dan mulai berkarat, mengotori pemandangan kota. Sedangkan kereta dibawah tanah atau metro belum juga ketahuan ujungnya. Katanya segera dibangun, semoga nasibnya tidak seperti monorel. Solusi busway di Jakarta, sudah membantu masyarakat untuk jalur-jalur tertentu. Sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan angkutan metromini atau bis kota yang lebih pantas masuk kuburan mobil. Untuk jarak dekat banyak beroperasi ojek, walaupun katanya tidak ada dalam sistim angkutan kota, tetapi kenyataanya tetap ada dan diminati. Angkutan legal yang tidak legal, begitulah kira-kira. Sedangkan untuk jarak-jarak menengah banyak beroperasi seperti omprengan, terutama melayani kelompok-kelompok dari pemukiman untuk pergi-pulang kekantor, kampus atau sekolah.
Angkutan kampus, atau yang sering disebut Kampusan, inilah yang digeluti oleh Darno, yang tinggal di Gunung Kidul, semenjak ia di PHK empat tahun yang lalu. Seperti halnya yang terjadi dimana-mana, semangat mengikuti pendidikan tinggi juga merasuk sebagian pemuda di Gunung Kidul. Dengan susah payah mereka harus mencari angkutan untuk bisa mencapai kampus, dan tentu dengan ongkos yang tidak sedikit. Mereka menghabiskan waktu sampai 4 jam setiap hari diatas kendaraan dan di terminal. Walaupun sudah ada Trans Jogya, tetapi angkutan umum di Yogyakarta masih sangat terbatas.
Dengan uang yang ia pernah kumpulkan, Darno yang lulus SMP dan sekarang berusia 35 tahun, ia membeli minibus L 300 yang terkenal paling bandel. Dengan dibantu seorang keponakan, bapak dari 2 orang anak, setiap hari kerja melayani para pelanggan dengan antar dan jemput. Untuk jarak sekitar 4 kilometer, setiap penumpang dikenakan ongkos 4 ribu rupiah untuk antar dan jemput. Mobilnya bisa dimuati 21 orang, kalau dijalan ada yang ikut menumpang dikenakan ongkos 3 ribu rupiah untuk sekali jalan. ?Lumayan, pak. Bisa membiayai anak-anak sekolah?, katanya sambil membersihkan kendaraannya. Setelah tugas antar di pagi hari, Darno masih melayani carteran untuk masyarakat lain, terutama ibu-ibu yang akan belanja atau darmawisata. ?Kadang-kadang saya dapat makan siang juga, itu kalau sedang ada rejeki?.
Rata-rata penerimaan Darno setiap hari sebesar 40 ribu, setelah dipotong untuk bensin dan uang untuk keponakan. Kalau ada carteran tentu penghasilannya bertambah. Tetapi kadang-kadang ada mahasiswa yang membayarnya bulanan, mereka menunggu kiriman uang dari orang tuanya. ?Jadi repot juga buat saya. Harus cari uang untuk membeli bensin?. Sekarang ini pengelola angkutan Kampusan semakin bertambah, jadi merekapun harus tetap merawat kendaraannya dan memberikan pelayanan tepat waktu.
?Mudah-mudahan setelah pemilu dan pilpres, kita akan lebih baik, ya pak?, ucapnya dengan pandangan kosong yang tidak yakin. Saya hanya bisa senyum dingin dan menganggukan kepala. Semoga. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 31 Maret 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:38:00
BERMODAL KREATIFITAS
Sudah sejak kecil Somardi senang bermain dengan pisau dan kayu. Berbagai jenis permainan sederhana dibuat sendiri, kadang-kadang juga untuk teman-temannya. Berbagai bahan yang ada disekitar rumahnya, di desa Ponjong Gunung Kidul, dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis mainan dan hiasan. Daun, pelepah pisang, batu, tanah, rumput, ranting, kayu dan apa saja yang ia temukan, ditangannya berubah menjadi barang yang berguna dan nyeni. Rupanya jiwa seni mengalir didalam darahnya, ditambah lagi keinginannya untuk selalu berbuat sesuatu, telah menumbuhkan kreatifitasnya. Hal itu juga yang mendorong pemuda kelahiran tahun 83 meneruskan sekolahnya ke Sekolah Menengah Kerajinan ? SMK di tempat kelahirannya. Kalau tema-teman sebayanya banyak yang gandrung untuk pergi kekota besar seperti Yogya, Jakarta dan Surabaya untuk mencari pekerjaan, lain halnya dengan Somardi, setelah tamat SMK, ia memilih untuk tetap tinggal di Gunung Kidul. ?Memang rejeki saya disini, pak. Tempat saya lahir dan dibesarkan?, katanya dengan tegas.
Sesudah beberapa lama bekerja serabutan, sejak 3 tahun yang lalu Somardi membuka usaha kayu dan ukir kayu. Memanfaatkan lahan seluas 50 meter persegi, disamping rumahnya, ia mendirikan bengkel sederhana. Iapun melengkapi peralatan tukang kayu seperti gergaji, berbagai jenis pahat, bench-saw. Karena ia ingin juga menerima kerjaan dan menjual kayu ukiran, maka peralatan pengukir kayupun harus dibelinya. ?Saya mengeluarkan uang hampir 3 juta rupiah. Termasuk beli beberapa batang kayu dan beberapa lembar papan?, sambil menunjukkan bengkel kayunya.
Mula-mula banyak pesanan hanya membuat berbagai jenis kusen. Kalau masyarakat setempat, biasanya membawa kayunya sendiri. Ongkos membuat kusen rata-rata 25 ribu. Karena pekerjaan ukir Somardi termasuk halus, dan juga menawarkan berbagai ukiran hasil kreatifitasnya, lama-kelamaan banyak pelanggan datang untuk ukiran kayunya. Untuk pekerjaan kayu ukiran, ia hargai 10 ribu rupiah permeter, belum termasuk harga kayu. ?Jemis dan kwalitas kayu tergantung permintaan. Mereka juga bisa membawa kayu sendiri?, sambil menunjukan beberapa hasil ukirannya. Tetapi untuk ukiran yang rumit dan halus ongkosnya rata-rata 25 ribu rupiah per meter. ?Soalnya memakan waktu lebih lama. Dan harus hati-hati?, tangannya sambil tetap memegang palu dan pahat.
Somardi yang masih bujangan, setiap bulan rata-rata bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar 800 ribu rupiah. ?Ya, cukup untuk makan dan beli pulsa?, ujarnya datar. Ternyata pemakaian ponsel sudah merambah kepelosok-pelosok. Keperluan untuk berkomunikasi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Atau hanya menjadi ciri kemajuan dengan memiliki ponsel sebagai salah satu life style sekarang ini? Sayangnya saya tidak sempat menanyakan kaitan ponsel dengan usahanya, dan berapa uang yang harus ia keluarkan untuk membeli pulsa. Semoga saja keberadaan teknologi komunikasi yang semakin meluas, akan memberikan faedah dan meningkatkan martabat rekan kita di Gunung Kidul atau tempat-tempat lainnya di nusantara. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 17 Maret 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:35:53
?GUANO RAYA?
Guano Raya bukan nama sebuah restoran atau kafe di Jakarta, melainkan nama sebuah perusahaan di Gunung Kidul milik Pak Puji. Memang nama perusahaan tersebut terkesan sangat ngetren. Pak Puji sudah beberapa bulan masuk keluar gua di Gunung Kidul. Bukan mencari fosil peninggalan nenek moyang, atau bersemedi mencari wangsit agar lekas kaya. Ia sedang mengembangkan usahanya, menggali dan menjual tanah dari dalam gua. Pak Puji, dengan ijazah SMP yang dimilikinya, sebelumnya mejalankan pekerjaannya sebagai tukang kayu. Tetpi penghasilan sebagai tukang kayu dalam 2 tahun terakhir terus menurun sehingga tidak cukup untuk membiayai keluarganya. Ia sudah berhasil menyekolahkan anaknya, yang pertama sampai di SMU. Tetapi seperti halnya semua pemuda di Gunung Kidul, anak Pak Puji setelah dewasa dan menamatkan sekolah, pergi merantau ke Jakarta. Sedangkan anaknya yang kedua masih duduk di SMP. ?Ongkos sekolah sekarang tambah berat. Bukan hanya bayaran sekolah, melainkan untuk ongkos transpor dan lainnya?, keluh Pak Puji. Itulah potret kehidupan di Gunung Kidul.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Pak Puji memulai usahanya menggali dan menjual tanah hasil galian dari gua. Sudah sejak lama di Gunung Kidul ada beberapa perusahaan yang memproduksi pupuk fosfat dengan cara mengolah tanah gua. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Pak Puji bersama 12 orang kawannya untuk mengusahakan penggalian tanah tersebut. Dengan mempergunakan alat sederhana seperti pacul, garpu dan karung, setiap hari mereka menggali tanah gua. Setiap hari bisa menghasilkan sampai 2 ton tanah. Merekapun harus menggunakan obor untuk masuk ke gua yang gelap. Tanah gua tersebut dibeli oleh pengepul dengan harga 60 ribu rupiah untuk satu ton. Sore hari mereka membagi rata hasil penjualannya.
Kalau sedang hujan seperti sekarang ini, mereka tidak dapat bekerja setiap hari. Kalaupun mereka menggali, hasilnya akan kurang. ?Kalau sudah begitu, pusing pak. Harus pinjam uang kesana-sini, untuk bayar pekerja, makan dan ongkos sekolah?, katanya dengan muka muram. Di hari-hari baik Pak Puji dan kawan-kawannya dapat menghasilkan tanah gua lebih dari 2 ton. Itupun masih tergantung pengepul yang datang untuk membeli tanah gua hasil kerja mereka. Pak Puji yang sekarang berumur 46 tahun, tidak tahu harus kerja apa lagi kalau tanah gua sudah habis atau tidak laku lagi. ?Kita membutuhkan bimbingan, pak. Jangan biarkan kami mencari-cari sendiri?, katanhya berharap.
Mungkin Pak Puji dengan kawan-kawannya tidak mengetahui adanya krisis. Untuk mereka yang penting mendidik anak-anaknya. ?Itu pak, kawan-kawan kerja saya, hanya berpendidikan SD. Sebab itu anak-anak saya harus lebih baik?, ucapnya dengan tegas. Pak Pujipun berharap anak keduanya bisa menamatkan SMU, atau kalau mungkin lebih. Pemerintah dan DPR jangan hanya mengurusi anggaran pendidikan yang 20 persen dari APBN. Yang perlu, dimana mereka akan bekerkja setelah tamat sekolah. Apakah ijazah bagi mereka mempunyai arti lebih, dan memiliki nilai tambah dalam mencari pekerjaan? (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 3 Maret 2009
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:34:41
SNACK JAWA
Pak Tukino sudah berhasil mendidik ketiga anaknya, bahkan melebihi anjuran pemerintah. Dua orang selesai pendidikan SMU dan seorang lagi selesai SMP, walaupun ia sendiri dan istrinya hanya menyelesaikan SR atau SD sekarang. Ketiga anaknya, semua merantau ke Bakasi dan Tanggerang, seperti halnya kebanyakan anak muda dari desa Ponjong ? Gunung Kidul. Bagi saya Gunung Kidul selalu menjadi inspirasi tentang keuletan dan ketangguhan masyarakat untuk berjuang dan melanjutkan hidup. Mereka menjadi pedagang atau produsen dan merantau hampir diseluruh pulau Jawa. Mereka yang tertinggal di desa biasanya hanya wanita, anak-anak dam laki-laki yang sudah mulai tua dan berprofesi petani.
Demikianlah nasib pak Tukino, yang kini berusia 58 tahun, pekerjaan sehari-harinya adalah petani. Tetapi sejak 5 tahun yang lalu, terpaksa mencari penghasilan tambahan, karena dari tani penghasilannya terus merosot. ?Kalau dari tani sudah cukup, saya kan tidak bikin emping, pak?, katanya tegas. Dengan wajah yang penuh dengan kerutan, tetapi kelihatan tegar dan sehat, ia hidup bersama istri dan cucunya. Sejak tahun 2003 ia membuka usaha membuat emping melinjo dibantu oleh istrinya. Bermodalkan uang 700 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi emping.
Ia mulai usaha emping ini karena melinjo mudah didapatkan di Gunung Kidul. Jumlah pengrajin emping dari tahun ketahun terus bertambah. Melinjo mentah ia beli dengan harga 3000 rupiah untuk satu kilo. Dari 3 kilo melinjo bisa dihasilkan 1 kilo emping. ?Kalau hujan begini, agak repot, pak. Sukar menjemur, empinya tidak kering-kering?, katanya sambil menata emping di tampah, serta melihat kearah matahari yang tertutup awan tipis. ?Mudah-mudahan hujannya malam saja?. Emping yang sudah kering ia jual dengan harga 24 ribu rupiah satu kilo untuk kwalitas super. Sedangkan untuk kwalitas biasa dijual dengan harga 20 ribu. ?Baca dikoran dan mendengar di tivi katanya ada krisis, ya pak. Pantesan pembeli sepi sekali?, keluhnya. Setiap hari pak Tukino mengeluarkan 100 ribu rupiah untuk membeli melinjo dan kayu bakar. ?Sejak kapan bapak pakai kayu bakar, pak?, tanya saya. ?Orang memang sekarang ribut memakai kayu bakar lagi, saya dari dulu sudah pakai kayu bakar. Jadi biasa-biasa saja?, katanya sambil tersenyum. ?Hanya harga kayu bakar sekarang jadi naik, sudah 10 ribu rupiah untuk satu pikul?, ucapnya dengan rasa penyesalan. Setiap harinya pak Turino dapat menjual melijo sampai 120.000 rupiah. Setelah dikurangi untuk modal, sisanya sekitar 30 ribu rupiah, ia serahkan kepada istrinya.
Dalam persaingan dengan berbagai makanan ringan atau snack, emping masih mendapatkan konsumennya. Bukan saja bertambah variasi sebagai snack, melainkan juga sebagai penambah sedap beragam makanan seperti gado-gado, lotek, soto, dan yang lain. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 17 Feb 2009
< 1 2 3 4 > Last |
Category |