1 2 3 >  Last

EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:41:03
GONG XI FA CAI

Menjelang perayaan Hari Raya Imlek, warna merah mendominasi Jakarta dan sekitarnya. Lampion merah bergantungan dimana-mana. Pohon cherry yang sebetulnya bukan tanaman khas negara tropis juga menghias pusat belanja dan mal, serta hotel. Suasana yang penuh keceriaan.
Disisi lain kita disuguhi berita dan foto mengenai kehidupan bangsa yang semakin memprihatikan. Pertikaian dan saling menyalahkan antara mereka yang menamakan wakil rakyat, pemerintah yang memimpin dan berkuasa, serta jajaran penegak hukum, terus berlangsung. Sebuah kursi yang diperuntukan bagi mereka yang mengatur anggaran bernilai sampai 24 juta rupiah. Renovasi istana ratusan miliar rupiah. Penyelesaian hukum penyimpangan uang rakyat dan korupsi yang jumlahnya trilyunan tidak juga ada ujungnya.
Gambar yang menyedihkan datang dari Lebak, Banten. Jembatan gantung yang roboh masih dipakai oleh murid-murid sekolah untuk bisa pergii sekolah. Mereka harus menghadapi bahaya. Tetapi resiko tetap diambil demi masa depan. Jadi pintar. Gambaran mengenai keadaan jembatan di Lebak ini sudah menjadi berita dunia. Sungguh memilukan.
Kemudian kita juga menjadi sangat miris, gara-gara yang katanya mencuri sebuah sendal, seorang anak harus diadili dan dinyatakan bersalah. Mungkin biaya proses pengadilan lebih mahal dari harga sendal itu sendiri. Apa sebetulnya yang dicari oleh penegak hukum? Kebenaran atau keadilan?
Sungguh tidak jelas mengapa bangsa ini menjadi begini. Sepertinya kita kehilangan nurani kita. Kehilangan harga diri.
Kalau kita percaya angka-angka, katanya ekonomi kita membaik. Memang bisa kita lihat pusat-pusat belanja dan mal yang selalu dipadati pengunjung. Restoran, rumah makan, dan warung juga dipenuhi pengunjung. Masing-masing mempunyai bagiannya. Bagi yang kecil dan dibawah bagiannya selalu lebih kecil. Masalah pengurangan subsidi BBM, yang seharusnya dimaksudkan agar anggaran untuk kaum miskin lebih banyak tidak kunjung dilaksanakan. Katanya mulai 1 April akan diterapkan. Kita tunggu saja bagaimana jadinya, karena pemerintah sudah terlalu lama mempertimbangkan berbagai cara, tapi kita tidak apa hasilnya. Siapa takut? Kebanyakan pemakai roda dua atau sepeda motor sudah mempergunakan BBM non subsidi. Antrean kendaraan roda empat atau mobil di SPBU justru masih mengisi premium yang disubsidi. Kita lihat saja nanti bagaimana 1 April akan berubah gambarannya.
Semoga pemerintah berhasil, sehingga jembatan segera diperbaiki, tidak ada lagi sekolah bocor, jalan di pedesaan disemen atau dibeton. Pungutan resmi dan tidak resmi diharapkan berkurang. Jangan uang yang ada dipakai lagi untuk beli kursi mahal para pejabat dan wakil rakyat, atau renovasi gedung dan istana.
Berhentikanlah semua program gedung, istana, renovasi, pagar, dan kursi. Pengurangan subsidi BBM adalah uang untuk rakyat. Rakyat sangat menanti keputusan itu. Kita tunggu.
Hujan yang masih terus mengguyur, bagi saudara kita merupakan pertanda akan kehidupan yang lebih makmur ditahun ini. Semoga keceriaan saudara kita etnis Tionghoa pada Hari Raya Imlek ini, akan memberikan angin segar bagi masyarakat lainnya.
Gong Xi Fa Cai (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:40:06
BIRUNYA KOLAM RENANG

Jakarta dan sekitarnya sudah dipenuhi dengan ?water boom?, tempat bermain dengan bermacam-macam jenis kolam. Tentu karcis masuknya tidak terjangkau oleh masyarakat ekonomi rakyat. Aduuuuh mahalnya ngga karuan. Lebih baik uangnya untuk makan keluarga satu minggu. Demikian juga yumbuhnya kolam-kolam renang di lingkungan perumahan mewah, yang hanya boleh dimanfaatkan oleh penghuni. Rumah-rumah super mewah di Pondok Indah, Bintaro, Putri Hijau, Pluit dan tempat lainnya, dilengkapi dengan kolam renang.
Air kolam-kolam renang tersebut warnanya biru muda sangat menyejukan, lain dengan warna hijau tua atau coklat kali Ciliwung yang juga masih dipakai mandi dan berenang. Ataupun genangan air karena banjir yang dimanfaatkan oleh anak-anak berenang dengan suka citanya.
Kolam renang yang biru menyejukan memerlukan perawatan setiap hari, untuk itu ada perusahaan yang menjual jasa perawatan kolam renang, baik untuk kolam di hotel ataupun rumah. Biayanya pun tidak murah, dan hampir setiap tahun biayanya naik. Demikianlah yang terjadi pada tahun 1996-1997, tiba-tiba harganya melambung. Saat itu muncul gagasan beberapa anak muda yang sudah biasa mengerjakan kolam renang, untuk tidak tergabung dalam perusahaan, melainkan melaksanakan sendiri. Privat begitu.
Demikian juga dengan Udin, bukan nama sebenarnya, pada tahun 1996 mulai menawarkan jasa perawatan kolam renang, dengan harga yang sama tanpa menaikan biaya. Ia mulai dengan beberapa rumah di Bintaro yang selama ini menjadi bagian dari tugasnya. Hampir semua pemilik kolam renang di Bintaro menyetujui usulannya itu. Pengalaman, pengetahuan dan ketrampilannya merawat kolam renang, telah mendapat apresiasi para pemilik. Dari mulut kemulut kabarpun beredar. Berkat telepon selular dan hp yang dimilikinya, langganannyapun bertambah banyak. Setiap rumah dikunjunginya 2 kali dalam seminggu. Langganannya sekarang mencapai 15 rumah. Setiap hari 5 ? 6 rumah harus ia kerjakan. Bermodal hubungan dengan para penjual obat dan peralatan kolam renang, serta memanfaatkan sepeda motor yang dimilikinya, iapun mulai jam 6 pagi sudah meninggalkan rumahnya di Setu.
?Tanggungan saya banyak, pak?, ia memulai ceritanya. ?Ibu saya dirumah, beberapa keponakan dititipkan juga dirumah. Kasihan orang tuanya sedang menganggur?, katanya sambil menundukan kepala. Udin badannya biasa saja, kulitnya hitam. Maklum setiap hari berada disekitar kolam renang. ?Apalagi nantiu kalau mulai tahun pelajaran baru. Kayanya sih pemerintah ngga mikirin kita, ya pak?, ucapnya lirih. Sayapun senyum kecut, sambil menerawang, betul juga ucapan Udin tersebut.
Satu bulan ia mendapat penghasilan sekitar 6 juta rupiah, dipotong obat dan peralatan lainnya dan ongkos perawatan dan bensin sepeda motor sebesart 2 juta rupiah. ?Saya pakai pertamax lho Pak?, katanya bangga. Sebagian dari penghasilannya ia tabung sebagai uang cadangan atau emergency. Biasanya ada pengeluaran tambahan pada waktu Lebaran, ada yang sakit dan uang sekolah.
?Sementara saya begini saja, Pak?, ia menjawab pertanyaan apakah ingin memperluas usahanya dan mempekerjakan seseorang. Semoga Udin terus bisa menjalankan usahanya. (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:37:17
SELAMAT TINGGAL 2011

Tahun 2011 kita tinggalkan dengan perasaan yang campur aduk. Walaupun penilaian berbagai institusi dunia menyatakan bahwa ekonomi kita baik dan kuat, tetapi yang dirasakan rakyat kelas bawah tetap saja tidak beranjak maju.
Kemajuan ekonomi lebih dirasakan oleh golongan menengah keatas, serta para elit politisi. Lihat saja penuhnya pusat-pusat belanja dan restoran. Jalan di Jakarta tambah macet dengan terus bertambahnya mobil dan motor. Mobil mewah memenuhi jalan-jalan kota yang mulus, halaman dan tempat parkir hotel, dan gedung para wakil rakyat. Iklan bank yang memamerkan kemewahan hidup. Iklan proyek pemukiman yang super mewah. Hanya membuat para pelaku ekonomi rakyat, golongan bawah, hanya bisa melongo dan mengelus dada. Atau malah mencibir sambil memaki.
Berbagai infrastruktur dan fasilitas mewah terus dibangun dan diperbaiki. Pusat belanja super mewah terus dibangun, diisi toko-toko wah, dan restoran waralaba asing. Pusat-pusat hiburan dengan tema air tumbuh di mana-mana, dengan tiket masuk hampir tidak terjangkau oleh golongan bawah.
Jalan-jalan rute angkot tetap saja berlubang malah semakin parah. Pinggir jalan sudah menjadi tempat pembuangan sampah. Bagi angkot tidak ada halte yang dibangun. Penumpang menunggu dipinggir jalan yang kebanyakan tidak ada trotoarnya. Kalaupun ada trotoar, pejalan kaki harus bersaing dengan pedagang kaki lima atau PKL, sepeda motor, dan pot bungan. Toko bahan bangunan, bengkel mobil dan motorpun telah menjarah hak pejalan kaki. Anehnya petugas hanya mengejar-ngejar PKL, toko bahan bangunan dan bengkel motor dibiarkan saja.
Apakah ada harapan di tahun 2012 bagi masyarakat bawah? Masyarakat kurang mampu? BBM bersubsidi yang katanya untuk mereka yang tidak mampu, secara terbuka telah dijarah oleh mobil-mobil mewah, termasuk mobil milik negara. Siapa yang tidak mampu? Pemilik mobil dan negara? Berbagai peluang bisnis dalam perdagangan kebutuhan sehari-hari sudah jadi rayahan supermarket ataupun minimarket waralaba nasional ataupun asing.
Semoga saja tahun 2012, para pengusaha ekonomi rakyat dan golongan bawah diberi lebih peluang untuk bisa tumbuh dan berkembang. Mengguritanya waralaba minimarket sampai di desa dan wilayah RW/RT harus segera dihentikan. Warung-warung tradisional harus diberi tempat di pusat-pusat belanja. Trotoar yang dibangun harus memperhitungkan PKL untuk dapat berusaha. Semoga tidak ada lagi kuli sindang yang tidur di jembatan-jembatan kota. Polisi dan jaksa supaya lebih fokus menangaini kejahatan yang besar, jangan hanya menghukum pencuri sandal. Satpol PP jangan asal main gusur dan gebuk.
Kita mengharap Presiden, gubernur, bupati/walikota, lurah/kepala desa pemimpin yang telah dipilih langsung oleh rakyat, lebih mau melihat kebawah. Memperhatikan kebutuhan masyarakat yang berada di jalan-jalan berlubang, lingkungan kumuh. Jangan lagi untuk memperjuangkan hak, mereka harus berdemonstrasi. Harus menjait mulut. Ataupun membakar diri. Jangan biarkan masyarakat menjadi masabodo atau apatis, ataupun menjadi tidak mempercayai pemimpin ataupun sinis.
Selamat Tahun Baru 2012, semoga memberikan perbaikan dan perdamaian. (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:24:13
SEGON

Di tahun 1950an, saya sering mendengar ibu saya menyebut beras ?segon?. Maksudnya beras impor dari Vietnam dengan Saigon kotanya yang terkenal. Saigon pernah menjadi kota perdagangan terkenal dan terkemuka di Asia Tenggara. Kemudian nama kota Saigon, sejak selesainya perang Vietnam pada tahun 1975, dirubah menjadi Ho Chi Min City (HCM City) untuk menghormati pemimpin Vietnam yang mereka hormati dan banggakan Ho Chi Min.
Awal bulan Desember yang lalu, saya datang ke Ho Chi Min City untuk beberapa hari. Bukan untuk mencari asal usul kata ?segon?, tetapi untuk melihat kehidupan bangsa pejuang yang baru saja menyelesaikan perang dengan kemenangan pada tahun 1975. Negara dan bangsa yang pernah terbelah dua, dan kemudian bersatu kembali. Yang menjadi perhatian saya adalah jumlah sepeda motor. Pagi dan sore hari sepeda motor memenuhi jalan-jalan kota, disimpang jalan keadaannya seperti khaos. Klakson saling bersahutan. Tetapi selama beberapa hari disana saya tidak melihat ada kecelakaan sepeda motor. Menurut informasi populasi sepeda motor mencapai 5,5 juta, dan penduduk HCM City seluruhnya 7,5 juta. Memang tidak mengherankan, karena angkutan umum masih belum berkembang. Mirip keadaan Jakarta 20 tahun yang lalu. Seorang pemandu wisata, menceritakan bahwa banyak anak muda yang mempunyai dua buah sepeda motor. Satu untuk pergi bekerja dan biasanya sepeda motor tua atau murah. Sedang sebuah lagi yang bagus dan mulis dipergunakan untuk berkencan dengan pacar atau untuk gaul.
Satu hal yang menarik ialah disiplin pengendara. Semua sepeda motor meluncur di bagian jalan yang diperuntukan, walaupun pembatas hanya marka jalan. Semua pengendara memakai helm, walaupun masih helm sederhana sekadar penutup kepala. Sebagian wanita muda mengendarai sepeda motor dengan menutup hampir seluruh wajahnya, bukan saja karena polusi, tetapi menutup wajahnya dari sengatan matahari agar tetap putih.
Sepeda motor bukan saja di dalam kota, tetapi juga di jalan-jaln besar antar kota. Tetapi tetap disiplin, mamanfaatkan jalurnya. Yang menarik sepanjang jalan kita melihat tempat istirahat sederhana bagi pengendara sepeda motor. Deretan kursi dan tempat tidur gantung terbuat dari jaring atau kain, buaian atau hammock dapat kita temui di sepanjang jalan. Buaian ini bukan saja berada di warung-warung, melainkan juga berada diantara pepohonan rindang. Buaian ini menjadi ciri khas di Vietnam, yang juga dimanfaatkan oleh para pejuang kemerdekaan untuk beristirahat. Pejuang Vietnam yang telah membebaskan negerinya dari penjajah Perancis dan akhirnya mengusir intervensi Amerika.
Kita temui banyak jenis makanan berbasis singkong dan beras. Padi yang tumbuh subur dengan pupuk yang diimpor dari Indonesia. Sedang kita sekarang sudah mengimpor kembali beras dari Vietnam, yang produktivitasnya lebih tinggi dari kita.
Kesederhanaan dengan orientasi memberikan peluang dan kenyamanan lebih besar pagi pelaku ekonomi rakyat dan lapisan bawah, perlu dipelajari oleh kita, yang masih menamakan sebagai bangsa pejuang. (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:23:17
MIRAS

MIRAS atau minuman keras begitu ?bebas? beredar di tanah air kita ini. Sepertinya tidak ada batasan. Kita sering melihat anak-anak remaja teler, terutama di malam hari. Perkelahian dan tawuran biasanya disebabkan karena remaja dibawah pengaruh alkohol. Tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Sebetulnya yang diatur peredaraannya adalah minuman yang mengandung alkohol. Peraturannya sangat ketat, bukan saja bagi tempat-tempat yang diijinkan untuk menjual alkohol, tetapi juga siapa yang diijinkan mengkonsumsi alkohol. Pada dasarnya minuman yang mengandung alkohol hanya diijinkan untuk dijual secara eceran kepada mereka yang sudah berumur 21 tahun. Tetapi sayang, sepertinya tidak ada yang memperhatikan dan mengawasi. Minimarket dan warung-warung kecil banyak yang menjual minuman berakohol. Kadang-kadang mereka buka 24 jam. Pernahkah remaja kita diperiksa KTP untuk membeli atau pesan minuman beralkohol?
Banyak sekali tempat ?mangkal? anak remaja kita. Di sekitar minimarket yang buka 24 jam, warung-warung tenda di trotoar. Malam minggu remaja dari golongan bawah, yang tidak mampu untuk ?clubing? yang menjadi sedang tren bagi remaja yang berduit. Tempat-tempat itu dijejali penuh remaja dan mereka bebas menegak minuman beralkohol, sampai-sampai terjadi penusukan hingga mati di salah satu klab di Kemang. Tempat mangkal bagi remaja yang tidak mampu di malam minggu, banyak berkembang di Jakarta dan sekitarnya. Murah, hawa sejuk, bintang berkilau (kalau tidak hujan). Taman Monas, Bundara HI, banyak lagi taman-taman kota lainnya, sampai ke depan pintu masuk TMII. Tempat-tempat tersebut dipenuhi remaja dengan uang pas-pasan. Segala macam makanan tersedia, bubur ayam, mie, ketoprak, sampai makanan ala Jepang. Demikian juga minuman, para pedagang bukan saja memanfaatkan gerobak, melainkan juga digendong atau dijinjing. Minuman beralkoholpun tersedia. Apa ada yang mengawasi? Kadang-kadang satpam atau Satpol-PP berkeliling, tetapi semua diselesaikan dengan cara ?damai?.
Apa yang terjadi di klab dan kafe di gedung mewah dan mal yang wah? Siapa yang berani menghadapi sekuriti yang tegar-tegar? Satpam resmi dan Satpol-PP keberaniannya menciut, menghadapi kegemerlapan tempat-tempat mewah dengan pengamanan para sekuriti yang tegar-tegar. Kejadian di klab malam di Kemang yang membawa korban remaja, tidak menggugah para penegak hukum untuk berbuat sesuatu. Yang diurus hanya soal pembunuhannya, tetapi soal peredaran alkoholnya seperti dibiarkan.
Mari kita saja sendiri yang mengawasi peredaran dan pemakaian alkohol disekitar kita. Warung-warung, kios-kios, minimarket yang ada disekitar kita, agar tidak menjual alkohol. Demikian juga warteg, rumah makan Padang, warung mie dan yang lainnya agar bebas dari alkohol. Pemerintah dan penegak hukum sudah tidak peduli, mari kita sendiri yang peduli, dalam lingkungan kita, RT dan RW, mushola dan mesjid.
Kasihan anak-cucu kita, mereka harus lebih baik dari kita. Mari kita sama-sama peduli, untuk ikut mengamati tempat-tempat mangkalnya remaja kita. Semoga saja pemerintah dan para penegak hukum ikut peduli, jangan membiarkan kerusakan remaja kita terus terjadi. (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:22:10
KOTOR, KUMUH, KEMISKINAN

Kotor sering dijadikan alasan mula terjadinya kekumuhan. Sedangkan keadaan dan lingkungan yang kumuh dikaitkan dengan kemiskinan. Itulah gambaran yang ada hampir diseluruh dunia. Lingkungan yang kumuh bukan saja berada di kota besar atau sekitar kota besar, melainkan juga terjadi di pelosok serta di pedesaan. Demikian juga rumah-rumah pun kelihatan kumuh. Kemiskinan membuat mereka berbuat seadanya, karena mereka dibatasi oleh kemampuan. Sampah dibuang seenaknya, bukan saja tidak ada tempat sampah, melainkan juga tidak ada pengetahuan dan kesadaran mengenai lingkungan. Rumah yang rusak dibiarkan, atau hanya diperbaiki seadanya, karena keterbatasan dana. Yang akhirnya menciptakan lingkungan kumuh.
Di Jakarta dan sekitarnya, kita temui kekumuhan di bantaran sungai, sepanjang rel kereta api. Di belakang deretan gedung tinggi, perkantoran, pusat perbelanjaan dan apartemen, tumbuh juga lingkungan kumuh. Halte angkot, pangkalan ojek, setasiun, toilet umum, terminal bis juga menjadi kotor dan terkesan kumuh. Lingkungan kumuh seolah-olah dibiarkan, menjadi sasaran para preman ataupun oknum petugas mencari penghasilan. Memang masalah kemiskinanlah yang sering dikaitkan dengan kekumuhan dan kotor. Miskin bukan karena kehendak mereka, tetapi kemiskinan karena tidak ada kesempatan. Kemiskinan karena keterbatasan kemampuan. Kemiskinan ragawi dan kebendaan.
Di Jakarta, yang Ibu Kota Negara kita, kotor kita temui juga di jalan-jalan protokol Jakarta. Pagar jalan tol dipenuhi tali dan potongan bambu bekas bendera partai politik berkampanye atau merayakan rapimnya atau kongres. Tiang listrik dan telpon dipenuhi lilitan tali bekas spanduk yang tidak dibersihkan, tidak ada petugas Dinas Kebersihan yang risi melihat itu. Trotoar dipenuhi PKL dan barang dagangan dari toko-toko. Sampah dimana-mana, di pekarangan sekolah, pekarangan Lapas, pekarangan Kelurahan, sampai di pekarangan tempat ibadah. Itulah gambaran kekumuhan Ibu Kota Jakarta. Pertanyaannya apakah petugas partai politik yang meninggalkan kekotoran itu miskin? Apakah mereka yang memasang spanduk itu miskin? Belum lagi di gerbang jalan tol, karcis dibuang begitu saja oleh pengendara mobil. Apa mereka juga miskin?
Tidak dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat kita yang miskin dalam arti kata sebenarnya. Atau sopannya disebut tidak mampu. Seperti contohnya bahan bakar premium adalah bagi mereka yang tidak mampu. Mereka memang miskin yang sebenarnya. Ragawi dan kebendaan. Mungkin juga miskin kesadaran. Tetapi mereka tidak memakai premium. Tetapi bagaimana dengan pengendara mobil yang membuang karcis tol, atau para petugas Dinas Kebersihan. Atau mereka yang memasang bendera partai politik dan sepanduk di jalan-jalan. Kita yakin se yakinnya bahwa mereka tidak termasuk miskin ragawi dan kebendaan. Mereka miskin hatinya, miskin kepeduliannya, dan miskin pemikirannya. Kemiskinan mereka yang membuat pikiran dan otak mereka kumuh. Perbuatan dan ucapannya menjadi kotor. Itulah yang menyebabkan kesemerautan yang ada.
Marilah kita yang ada di lapisan bawah berupaya untuk membersihkan rumah kita, memperbaiki lingkungan yang kumuh. Berupaya untuk memerangi kemiskinan. Tapi bagaimana membersihkan mulut yang kotor, pikiran dan otak yang kumuh, dan memerangi kemiskinan hati? (rahardi@ramelan.con)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:21:22
SABLON

Menyusuri jalan di Jakarta, saat ini kita dimeriahkan dengan berbagai umbul-umbul dan bendera partai politik, yang jumlahnya ribuan. Ada partai yang sedang ulang tahun, ada yang sedang rapim, atau sekedar memampangkan wajah Ketua Umumnya. Tapi belum untuk Capres 2014, atau masih malu-malu. Belum lagi menjelang pilpres dan pemilu nanti, atau pilkada yang terus menerus berlangsung, pemilihan lurah dan kepala desa, sampai pemilihan ketua RT/RW memerlukan kampanye. Berarti cetak, stiker dan sablon.
Ditambah lagi dengan umbul-umbul dan poster untuk menyambut Sea Games ke 26 di Palembang dan Jakarta. Modo dan Modi muncul dalam berbagai bentuk dan gerak, sekaligus memperjuangkan Komodo menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia.
Berbagai demo, pertunjukan musik, dan gerak jalan, menambah suasana pesta bagi kota Jakarta. Selain umbul-umbul, poster dan spanduk, berbagai jenis kaos T-shirt berwarna warni, menjadi lahan para pengusaha sablon. Memanfaatkan perangkat komputer menjadikan disain menjadi mudah dan beragam. Pembuatanpun dilakukan tidak terbatas sablon, melainkan juga dengan cetak digital.
Pengusaha sablon dan stiker ini berkembang sangat pesat. Anak-anak muda yang penuh dengan imajinasi dan rasa seni, membuat bisnis ini menjadi bagian dari industri kreatif. Mereka kebanyakan pengusaha-pengusaha ekonomi rakyat. Bergerak maju tanpa komando dan bantuan keuangan pemerintah, bank, ataupun lembaga lainnya. Dana dari BUMN melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL-BUMN) dan CSR tidak pernah melirik mereka. Mungkin dianggap bisnis murahan, kampungan dan tidak berseni.
Coba saja kita perhatikan bisnis T-Shirt yang berkembang di Yogya, Bali dan Bandung, sudah mengglobal. Mereka bisa menangani pesanan baik dalam jumlah kecil dan besar. Dasarnya adalah kreatif dan fleksibel.
Sudah saatnya Jakarta mempunyai tempat khusus, bukan di gedung tinggi, mal, atau ITC, melainkan lokasi atau perkampungan, tempat berkumpulnya para ?seniman? sablon, stiker dan T-Shirt. Biarlah para pengusaha muda ekonomi rakyat, berkumpul dan bertukar ide, untuk mengembangkan usaha kreatif. Serta sekaligus menjadi tujuan wisata. Masa Jakarta harus kalah dengan Bandung yang mempunyai jalan Cihampelas, Dago dan Riau. Bung Foke, gubernur kita, tentu mengenal jalan dan gang sempit yang kumuh, dan bisa disulap menjadi pusat usaha kreatif tersebut. Yang sekali gus menjadi tujuan kunjungan wisata. Kita yakin Bung Foke bisa dan mampu. Kita pelaku ekonomi kreatif akan mendukung usaha kearah ini. Lupakan sejenak jalan Thamrin, Sudirman, Mal, ITC, Mangga Dua, maupun Glodok. Masih banyak tempat-tempat, jalan-jalan yang tidak pernah dilalui motor dan kendaraan dengan lampu biru, memerlukan perhatian dan turun tangannya, gubernur, walikota dan kita semua.
Semoga Jakarta akan terus menjadi pusat kegiatan politik, bisnis, musik, pertunjukan, pameran, wisata, dan berbagai jenis event lainnya. Pengusaha sablon memerlukan order dan pekerjaan yang terus-membuat mereka lebih kreatif.
Pak Gubernur dan Bapak dan Ibu Walikota kita menunggu uluran tangan anda. Pasti kita dukung. (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:20:10
LAGI-LAGI IMPOR

Para petani kentang berdemo, meminta agar impor kentang dari manca negara diberhentikan. Kita semua terkaget-kaget bahwa salah satu bahan makan yang penting masih bebas diimpor. Menurut Kementrian Perdagangan memang tidak ada pengaturan atau tata niaga perdagangan kentang, termasuk impor. Kebanyakan petani kentang adalah para pelaku ekonomi rakyat. Jadi masyarakat menjadi semakin bingung, merasa tidak terlindungi. Katanya kita akan mandiri pangan, tetapi mengapa kentang yang merupakan bagian dari komoditi pangan tidak diatur?
Sudah lama masyarakat mengeluh mengenai banyaknya jenis barang yang masih diimpor, dengan jumlah dan jenis yang melimpah. Mulai buah-buah, pakaian jadi, berbagai jenis makanan, peralatan listrik, peralatan dapur, obat tradisional, dan lain-lain. Impor ini sudah meresahkan dan menganggu peran industri dan produsen di dalam negeri. Mereka kebanyakan adalah pelaku ekonomi rakyat. Berbagai cara untuk menolak kebijakan sudah dilakukan, antara lain dengan melayangkan surat keberatan dan melontarkan protes, tetapi tidak pernah ada penyelesaian. Hanya dengan cara berdemo, aspirasi para pelaku ekonomi rakyat ini didengar dan diperhatikan.
Ternyata demo para petani kentang tersebut, telah membuka para pejabat dan politisi, bahwa ternyata perdagangan kentang tidak ada yang ngurus. Kementrian Perdagangan dan Kementrian Pertanian berusaha lepas tangan. Bagaimana dengan wakil rakyat di DPR? Suaranya tidak kedengaran. Apakah penyelesaian semua masalah harus dengan cara demo?
Kalau impor berbagai barang ini dibiarkan begitu saja, maka pengangguran akan meningkat. Itulah salah satu sebab mengapa banyak tenaga kerja kita harus mencari pekerjaan di manca negara. Mencari pekerjaan di luar negeripun tidak lepas dari kesulitan dan pungutan. Sebaliknya pasar dalam negeri dibiarkan dipenuhi barang impor. Pemerintah sebaiknya mengkaji berbagai masalah dengan kebijakan impor, terutama yang sangat merugikan para pelaku ekonomi rakyat, dan mengurangi kesempatan kerja. Tidak hanya komoditi hasil pertanian, tetapi juga berbagai produk hasil industri kecil, seperti makanan, minuman dan pakaian serta tekstil.
Pengalaman dengan impor kentang, dan demo petani kentang harus menjadi contoh bagi komoditi-komoditi lainnya, terutama yang berkaitan dengan bahan pangan. Jangan sampai berbagai bahan pangan kita harus terus bersaing dengan barang impor. Pemerintah harus sungguh-sungguh membina dan mendukung industri dan produsen bahan pangan di dalam negeri. Mereka harus disiapkan untuk menghadapi membanjirnya barang impor.
Pemerintah perlu betul-betul memperhitungkan bahwa sebagaian pelaku ekonomi kita adalah pengusaha kecil dan menengah, pelaku ekonomi rakyat. Produsen bahan pokok pangan sebagian besar adalah pelaku ekonomi rakyat. Tetapi mereka juga merupakan konsumen terbesar. Jadi kebijakan yang tepat dan cerdas, perlu dipikirkan. Agar disatu sisi produsen mendapatkan bagiannya dan konsumen mendapatkan haknya. Itu bukan tugas yang mudah.
Semoga saja Presiden SBY tidak menempatkan menteri atau pejabat tingginya yang doyan impor. (rahardi@ramelan.com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:19:18
PEMBATIK ... NASIBMU

Jakarta dan mungkin seluruh Indonesia sedang demam batik. Konperensi dunia, World Batik Summit, diselenggarakan di Gedung Konvensi Senayan. Pameran atau lebih baik disebut bazar juga digelar. Pembeli berjubel, semua tingkat harga tersedia. Satu lembar kain batik harganya mulai puluhan ribu rupiah sampai puluhan juta. Tinggal pilih sesuai kantong. Atau hanya datang untuk melihat-lihat.
Tanggal 2 Oktober pun sudah ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional. Memang batik telah menjadi ciri bangsa kita berpakaian. Batik sudah merupakan bagian dari budaya, khususnya bagi orang Jawa. Pemakai dan penggemar batik sudah meluas keseluruh penjuru nusantara, malahan ke manca negara.
Kita semua sepakat bahwa batik yang dimaksud merupakan bagian dari budaya, dan bukan hanya sekedar sehelai kain dengan motif batik. Sayangnya berbagai intansi berwenang dan peraturannya masih rancu pengertiannya mengenai batik. Pembuatan kain batik dengan proses tradisional menjadikan harga batik menjadi sangat mahal. Itulah yang memberi inspirasi para pengusaha untuk mencari keuntungan lebih besar, dengan membuat tekstil bermotif batik, sehingga dapat membuat ?batik? dengan harga yang murah. Tekstil bermotif batik inilah yang telah membanjiri pasar kita. Bukan saja di pasar tradisional, atau grosir Tanah Abang, berbagai ITC, sampai toko-toko mewah di mal dan pusat belanja. Sebagian masyarakat menggandrungi tekstil motif batik ini tanpa mengetahui bahwa itu sebetulnya bukan batik. Harga yang terjangkau dan warna yang lebih cerah. Berbagai organisasi, kantor pemerintah, kegiatan tertentu membuat seragam dari tekstil bermotif batik ini, semakin memojokan kedudukan batik sebenarnya.
Dengan semakin digandrunginya batik oleh masyarakat kita, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Ditambah sekarang tekstil dengan motif batik semacam ini banyak diimpor dari Cina. Para pengusaha tekstil baik pedagang dan industri tekstil banyak memanfaatkan keadaan ini, termasuk importir dan produsen tekstil dari Cina, merekalah yang semakin kaya. Nasib pembatik kita atau buruh batik di desa-desa, hidupnya tetap saja tidak berubah.
Mungkin untuk kita yang ada di sekitar Jakarta tidak bisa melihat kehidupan pembatik kita. Tetapi kenyataan di sentra batik di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura, sangat memprihatinkan. Dalam Konperensi Batik yang baru saja berlalu, ada dua orang ibu atau lebih tepat disebut nenek, yang sudah berumur diatas 80 tahun, telah mendapatkan penghargaan atas dedikasinya membatik. Walaupun di desanya sudah terjangkau dengan jaringan telepon selular, tetapi desanya tetap saja miskin. Yang paling memilukan, mereka masih tinggal dirumah berlantai tanah. Membatik bukan menggunakan kompor minyak tanah, melainkan masih memanfaatkan kayu bakar ataupun sabut kelapa. Setiap hari mereka harus menghirup udara dengan asap yang keluar dari kayu bakar. Kedudukan mereka masih tetap sebagai buruh batik.
Pemerintah jangan hanya memperhatikan pengusaha dengan berbagi program pembiayaannya, tetapi harus juga memperhatikan keadaan para pembatik kita. (rahardi@ramelan>com)


EKONOMI RAKYAT

category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2012-01-31 21:18:16
.... YANG TIDAK MAMPU

Di beberapa SPBU sekitar Jabodetabek, terpampang spanduk besar dengan tulisan ?PREMIUM ADALAH BBM BERSDUBSIDI, HANYA UNTUK GOLONGAN TIDAK MAMPU. Terimakasih telah menggunakan BBM Non Subsidi? . Itulah bunyi spanduk yang dikeluarkan oleh Kementrian ESDM. Stiker kertaspun ditempel di tiang-tiang SPBU dengan slogan yang sama. Selain itu ada petunjuk panah ?BBM Subsidi? dan ?BBM non subsidi?.
Pengamatan yang saya lakukan, dengan langsung mengamati selama 2 jam di sebuah SPBU di Cibubur, jalan yang dilalui oleh Presiden SBY kalau pulang ke Cikeas, hasilnya sungguh mencengangkan. Saya dapatkan Mercedes Benz E 320, BMW 525, hampir semua kendaraan SUV, Minibis berbagai merek semuanya mengisi BBM Premium. Saya pun penasaran, dan kemudian menghampirii dan berbincang dengan seprang petugas SPBU.
?Habis pemerintahnya hanya bisa menganjurkan, tidak ada sanksinya?, katanya bersemangat. ?Alphard pak, itu mobil mewah juga mengisi Premium disini, kita tidak bisa melarangnya?. Sedang asyiknya ngobrol, sebuah angkot dengan nomer plat kuning datang mengisi bensin. ?Sepuluh ribu aja?, kata supir sambil menyerahkan uang ribuan yang sudah lecek. Kemudian ada beberapa buah sepeda motor yang mengisi Premium, tetapi ada juga sepeda mengisi Petramax. ?Mobil-mobil keren itu sih ngisinya paling sedikit 40 liter, pak!, kata petugas SPBU setelah selesai mengisi sepeda motor. Rupanya ada tren juga bahwa sepeda motor memanfaatkan Petramax. Menurut mereka lebih irit dan bertenaga.
Menjawab pertanyaan saya, iapun menjelaskan berbagai hal. ?Paling takut saya menghadapi mobil yang nomor plat nya BxxxxRFS?, jelasnya sambil melihat kekiri-kekanan. ?Supir dan pengawalnya yang berbaju hitam, galak-galak, pak?. ?Mobil pake nomor plat RFS kan pejabat tinggi?, saya menyela , sambil berpikir apa mereka termasuk yang tidak mempu. Kemudian ia menambahkan mobil-mobil plat merah, nomor plat TNI dan POLRI, juga memakai Premium. Kemudian sayapun teringat sekarang ada nomor plat baru dari Kementrian Pertahanan.
Jadi menurut pemerintah siapa yang di katagorikan sebagai ?Yang tidak mampu?? Apakah pemerintah, baik pusat maupun daerah, dikatagorikan tidak mampu? Tayangan iklan dari Kementrian ESDM dan Ditjen MIGAS, tentu memanfaatkan anggaran yang berasal dari pajak. Tetapi kenyataannya pemerintah sendiri ikut melanggarnya.
Saya kira baik pemerintah, TNI, POLRI dan masyarakat yang memiliki dan mempergunakan kendaraan roda 4, harus dikatagorikan sebagai masyaralkat mampu. Jadi tidak memfaatkan BBM Premium. Seyogyanya pemerintah serta semua lembaga seperti DPR, KPK, Kejaksaan Agung, Pemda, DPRD, TNI dan POLRI, termasuk BUMN dan Bank pemerintah, harus menjadi contoh dan mempelopori untuk tidak mamakai BBM Premium. Bukankah subsidi adalah uang negara? Pemakaian uang negara yang tidak sesuai dengan peruntukannya, dapat dikatagorikan sebagai tindak korupsi. Kita serahkan kepada pemimpin tertinggi Republik Kita tercinta ini.
Beranikah Presiden SBY menyatakan, pemakaian BBM Premium oleh jajaran pemerintah dan lembaga negara adalah perbuatan korupsi? Kita tunggu! (rahardi@ramelan.com)


 1 2 3 >  Last
Category


home  |  rss  |  login  |  Register